
"Ada yang harus kamu tahu tentang Yoga, Ra."
Setelah satu minggu berlalu tanpa kabar baik yang dinanti, malam ini Ardi memutuskan untuk memberitahu Nara tentang kondisi suaminya.
Tidak semuanya akan dia jelaskan, tapi setidaknya Nara harus tetap tahu tentang ketidaksadaran Yoga saat ini.
"Yoga? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"
Seminggu ini hatinya merindu, terus mencari kabar tentang lelaki itu. Hatinya tidak bisa tenang, karena meskipun buah hati mereka ada di dekapannya namun sang suami tak ada bersamanya.
Ardi meminta ijin pada Bapak dan Ibu yang menunggui Nara, untuk membawa wanita itu pergi menemui Yoga.
Setelah mendapatkan ijin, Ardi dibantu Bapak membantu Nara turun dari tempat tidur dan duduk di atas kursi roda yang sudah disiapkannya.
Mendorong kursi roda dengan perlahan keluar, Ardi mengarahkan lajunya menuju sebuah ruangan khusus yang masih berada satu lantai dengan ruang perawatan Nara.
Sampailah mereka di depan ruang perawatan khusus yang hanya ditempati oleh seorang pasien di dalamnya.
Seorang perawat membukakan pintu dari dalam, lalu mempersilakan Ardi membawa Nara masuk dan mendekati pembaringan di mana Yoga tergolek lemah tak sadarkan diri.
Air mata Nara tak terbendung lagi melihat kondisi suami yang sekian hari dia nantikan kabar keadaannya. Sekarang dia sudah bertemu dengan Yoga dan bisa melihatnya, tapi dalam keadaan Yoga yang membuatnya semakin pilu.
Berbagai peralatan medis terpasang di seluruh tubuh Yoga, terutama di bagian dadanya yang dipenuhi alat bantu untuk bertahan hidup sementara waktu.
Seluruh peralatan itu terhubung dengan dua layar monitor di samping dan di atas pembaringan Yoga, juga sebuah mesin yang lebih besar yang diletakkan di samping meja.
Ardi memberi tanda pada perawat untuk meninggalkan mereka. Perawat pun segera mundur lalu melangkah keluar dan menutup pintu ruangan dari luar.
"Yoga ...."
Nara memanggil lirih suaminya dengan nafas tertahan dan hati yang hancur. Dia tidak menyangka akan bertemu lelaki itu dalam keadaan seburuk ini.
Ardi membantu Nara pindah ke kursi yang lebih nyaman dan lebih dekat dengan Yoga. Lalu dia berdiri mendampingi di sebelahnya.
Sekali lagi Nara menatap pilu seluruh tubuh Yoga. Banyaknya peralatan yang menempel di dadanya menutupi bekas sayatan operasi yang selama ini selalu disembunyikannya.
"Kamu ingin mengetahui kondisi Yoga, bukan? Dan seperti inilah keadaannya sekarang, Ra."
__ADS_1
Yoga bisa melihat kesedihan yang begitu mendalam dirasakan oleh Nara yang kian berurai air mata.
Tangan Nara terus menggenggam erat tangan dingin Yoga. Lewat sentuhannya dia berusaha memberitahu sang suami bahwa dirinya telah datang, ada di sampingnya dan melihat keadaannya.
"Sudah berapa lama dia tak sadarkan diri seperti ini?" tanya Nara sembari membersihkan wajahnya yang penuh air mata. Meskipun setelahnya, wajah itu kembali basah oleh tangisan yang baru lagi.
"Sejak pertama kali dia dibawa kemari dan ditangani, kondisinya sudah kritis," jawab Yoga apa-adanya.
Nara semakin terisak. Tangisannya kini menggema memenuhi ruangan yang sebelumnya hanya terdengar bunyi teratur indikator medis dari layar monitor.
Kejadian kecelakaan yang menimpa mereka berdua pagi itu, kembali terbayang nyata di pikiran Nara saat ini, membuatnya semakin dipenuhi rasa bersalah pada suaminya.
Masih dia ingat dengan jelas, saat Yoga berlari cepat menolong dan menggantikan posisi bahayanya. Lelaki itu menyelamatkan dirinya dengan mendorong tubuhnya untuk menjauh, hingga Yoga sendiri yang akhirnya menjadi korban, tertabrak mobil tepat di depan matanya.
Nara menjatuhkan kepala di tepi pembaringan, menyembunyikan wajahnya yang semakin merah padam dan basah oleh air mata. Dia meluapkan tangisannya yang semakin menjadi-jadi. Tangis penyesalan dan rasa bersalah yang begitu besar terhadap suaminya.
"Mengapa kamu melakukannya, Ga? Mengapa harus kamu?" Suara Nara terputus-putus di sela tangisannya yang semakin kencang.
"Karena dia mencintaimu. Dia sangat mencintaimu, juga bayi yang saat itu masih ada di dalam kandunganmu. Dia tidak mau terjadi hal buruk pada kamu dan bayi kalian."
"Apa pun akan dia lakukan untuk istri dan anaknya. Dia sangat mencintai kalian berdua. Dia tidak akan pernah membiarkan hal buruk terjadi pada kalian. Sekali pun dan sekecil apa pun itu!"
"Siapa pun pasti akan melakukan hal yang sama, mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan orang yang begitu dicintainya."
Kalimat demi kalimat yang disampaikan Ardi semakin membuat Nara diliputi rasa bersalah yang sangat besar.
Betapa Yoga sangat mencintainya hingga rela mengorbankan nyawanya demi dirinya. Sementara dia, bahkan dia sendiri belum yakin dengan perasaannya pada lelaki itu.
"Meskipun berharap, tapi dia ingin memaksakan perasaanmu kepadanya. Dia sadar diri, cintamu bukan untuk dirinya, dan mungkin tidak akan pernah ada untuk dirinya."
Ucapan Ardi begitu tajam menusuk sanubarinya. Tak pernah dia merasakan hal yang sesakit ini. Ucapan dokter itu bagai sindiran halus yang tertuju untuknya, dan sungguh terasa sangat melukai hatinya.
Bukan sakit karena amarah maupun kebencian. Akan tetapi rasa sakit lantaran tak bisa membalas cinta tulus penuh pengorbanan yang dimiliki Yoga untuk dirinya.
(Benarkah aku tidak bisa membalas perasaannya padaku? Ataukah aku hanya tidak bisa mengartikan perasaanku padanya selama ini?)
"Bisakah Dokter tinggalkan kami? Aku ingin berdua saja dengannya ...."
__ADS_1
Nara mengangkat kepala dan menegakkan lagi wajahnya, lalu menatap Ardi dengan pandangan penuh permohonan. Dia ingin menemani suaminya.
Ardi mengangguk dan mengabulkan permintaan Nara. Inilah yang juga diinginkannya, agar Nara bisa dekat dengan Yoga dan memberi kekuatan untuk sahabat kecilnya yang sudah berada di akhir waktu kehidupannya.
"Aku akan menunggu di luar bersama perawat. Jika membutuhkan sesuatu, tekan saja tombol hijau di samping monitor atas."
Ardi menunjukkan sebuah tombol panggilan darurat yang ada di atas pembaringan Yoga. Nara segera mengangguk tanda mengerti.
Sejenak Ardi menatap ke arah Yoga, dengan sebaris doa yang diucapkannya dalam hati.
"Aku percaya, kehadiran Nara di sampingmu adalah kekuatan luar biasa yang akan memberimu semangat baru. Tetaplah bertahan sampai aku bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan untuk kesembuhanmu!"
Lalu dokter itu pun melangkah pelan menjauh dari pembaringan dan keluar dari ruangan tersebut.
Nara mencoba berdiri dengan hati-hati dan bergeser agar lebih dekat dengan wajah tampan lelaki itu.
Dia meraih lagi tangan lemah itu, menggenggamnya dengan erat dan mendekapnya di atas dadanya. Dengan hati bergetar dia mencoba mengalirkan kehangatan melalui sentuhan lembutnya.
Nara mendekatkan wajahnya ke wajah Yoga dan berbisik lirih di telinganya.
"Aku di sini, Ga. Bangun dan lihatlah aku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
.
__ADS_1