
Menikmati makan malam dalam hening, Ardi dan Alya berusaha untuk menghabiskannya meski tak lagi berselera untuk itu. Keduanya masih tenggelam dalam pikiran masing-masing, tentang apa yang baru saja Ardi ceritakan padanya dengan panjang lebar.
"Maaf, Al. Karena aku, makan malam kita jadi terasa tidak nyaman seperti ini." Akhirnya mereka berdua bisa menghabiskan nasi goreng yang sudah dipesan, kendati membutuhkan waktu yang lebih lama.
Alya menggeleng pelan tanpa menatap Ardi yang selalu memperhatikan dirinya. Masih terbersit rasa bersalah di hatinya sebab telah membuat lelaki di sampingnya turut merasakan apa yang selama ini dia alami.
"Aku juga minta maaf karena tanpa sengaja telah membuatmu merasakan ketidaknyamanan sekian lama. Maaf ...." Alya menunduk dengan penuh rasa sesal.
Mengapa lelaki itu harus ikut menanggung sakit akibat derita yang dia terima dari mantan suaminya, sementara dia tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah rumah tangganya dulu. Bahkan dia sendiri pun hanya menjadi korban dari kebencian Riko yang sampai sekarang tidak ada yang tahu apa penyebab sebenarnya.
"Untuk apa kamu minta maaf padaku, sedangkan bukan kamu yang melakukannya. Dengarkan aku, Al. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa mulai sekarang, ada aku di sini. Kamu tidak akan merasa sendiri lagi karena ada aku bersamamu."
Ingin rasanya dia merengkuh wanita itu untuk meyakinkan perasaannya. Namun dia menyadari batasannya dan terus menahan diri untuk tidak menyentuh Alya sama sekali.
"Kamu tidak bersalah, Al. Tidak sama sekali. Jangan mengingat-ingat lagi kejadian buruk itu. Aku pastikan semua itu tidak akan pernah terjadi lagi."
Alya menatap Ardi untuk mencari kejujuran dari ucapannya. Dia takut Ardi hanya ingin menenangkannya, sementara hatinya sudah telanjur percaya dan mulai menggantungkan harapan kepada lelaki itu.
"Apakah kamu sungguh-sungguh, Di? Atau hanya ingin menyenangkan hatiku saja?"
Alya tidak peduli jika dirinya mulai berani dan telah lepas kendali. Dia terus menatap Ardi tanpa henti, mencari kejujuran itu di kedalaman netra teduh yamg masih terus menatapnya lekat-lekat.
Ardi mengulurkan tangannya ke arah Alya dan berhenti tepat di atas kepala wanita itu tanpa menyentuhnya. Alya segera memejamkan mata, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya tanpa kuasa dia menolaknya.
"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, apalagi dengan perasaanku. Apa yang aku ucapkan dan aku lakukan, itulah perwujudan dari perasaanku kepadamu yang sesungguhnya, sejujur-jujurnya dari dalam hatiku."
Alya mendengarkan ketegasan yang disampaikan Ardi dengan lancar dan lantang. Lelaki itu terus menatapnya dengan penuh percaya diri. Sedangkan Alya masih meresapi satu per satu kalimat yang diucapkan lelaki yang sangat dicintainya dalam hati.
"Aku akan menjaga dan melindungi dirimu dari siapa pun yang ingin menyakiti dan melukai hatimu. Siapa pun dia, dia akan berhadapan langsung dengan aku, dan aku pastikan dia tidak akan bisa mendekati dan menyentuhmu sama sekali!"
Alya membuka matanya dan mendapati tangan Ardi masih terulur di atas kepalanya.
"Aku akan menunggumu, Al. Aku akan menunggumu sampai kamu siap sepenuhnya untuk membuka hatimu dan menerimaku. Aku akan terus menanti sampai kamu mengizinkan aku masuk kembali dan tidak akan pernah pergi lagi dari sana."
Tanpa sadar Alya mengangguk dan tersenyum membalas tatapan Ardi yang semakin lekat dan dalam.
__ADS_1
"Aku percaya padamu, Ardi. Beri aku sedikit waktu untuk menyiapkan hatiku sepenuhnya."
Kali ini Ardi yang mengangguk dengan tegas, membuat Alya tersenyum semakin lebar dan penuh harapan. Lelaki penuh perhatian itu menurunkan tangannya dari atas kepala Alya dan meletakkan di depan dada seolah sedang mengikrarkan sebuah janji. Janji hati untuk menanti wanita terkasihnya.
"Aku akan menunggumu, Alya."
.
.
.
Pagi harinya, Ardi dan Aura sudah berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Pak Budi menuju ke bandara.
Dengan berat hati Yoga meminta maaf karena tidak bisa mengantarkan sahabat kecil dan putrinya secara langsung, dikarenakan ada pertemuan penting di kantornya tepat bersamaan dengan waktu keberangkatan Ardi dan Aura.
Sampai di teras bandara, dengan percaya diri dokter duda itu menggendong Aura dengan erat seraya membawa koper di tangannya dan tas perlengkapan bayi di bahunya.
"Sampai di sini saja, Pak Budi. Terima kasih sudah mengantarkan saya dan Aura. Hati-hati di perjalanan."
Ardi melepaskan kepergian Pak Budi yang kembali melajukan mobil yang selama ini digunakannya untuk pergi menjemput dan mengantarkan Alya bekerja.
"Ardi ...!"
Baru beberapa saat mereka berada di dalam lobi yang belum terlalu ramai, panggilan lembut seseorang dari arah belakang menghentikan Ardi lagi. Lelaki itu berbalik dan melebarkan pandangan saat melihat Alya sudah berdiri tak jauh darinya.
"Alya ...?"
Meski terkejut namun raut bahagia terlihat jelas di wajah dokter duda itu setelah melihat keberadaan wanita yang dikasihinya.
Semalam, dia sengaja meminta Alya untuk tidak mengantarkan mereka berdua ke bandara karena selain tidak ingin merepotkan, Ardi juga takut hatinya akan semakin berat untuk pergi meninggalkan Alya sendiri lagi di kota itu.
"Bu-bu ... Bu-bu ... aaaaa ...."
Aura merengek ingin digendong oleh Alya. Wanita itu berjalan mendekat dan segera mengambil Aura dari dekapan Ardi dan memindahkan ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Setelah puas menciumi wajah bayi cantik kesayangannya, Alya kembali menatap ke arah depan dan mendapati wajah Ardi masih sangat dekat dengannya.
Lelaki itu menatapnya lekat-lekat membuat Alya tertegun dan membalas tatapan teduh dengan sedikit kesedihan itu. Kesedihan karena akan berpisah jauh dari wanita terkasihnya.
"Mengapa kamu datang? Kamu membuatku merasa semakin berat untuk pergi, Al."
Suara lirih Ardi terdengar oleh Alya disertai hembusan napas yang menerpa hangat di wajahnya, karena jarak mereka yang masih sangat dekat.
Wanita itu memejamkan mata seraya merebahkan kepala Aura di bahunya. Dia mencoba meredakan gejolak perasaan yang mulai menyesakkan dada.
"Aku ... aku ingin mengatakan sesuatu."
Parau suara Alya karena terlalu lirih sembari menahan haru yang hampir menjadi sebuah tangisan. Sepasang mata indahnya kembali terbuka dan membalas tatapan Ardi yang masih tak ingin menjauh.
"Apa ...?" Tiba-tiba hati lelaki itu dipenuhi debaran yang terus bertalu-talu dan membuatnya semakin tak sabar untuk mendengarkan jawaban Alya.
Alya memberanikan diri untuk terus menatap Ardi dalam-dalam demi meyakinkan hatinya untuk mengatakan isi hati yang tak bisa lagi ditahannya, sebab mereka akan segera berpisah entah untuk berapa lama.
"Katakan, Alya ...." Ardi semakin tak sabar dan tidak tenang.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Alya mulai meneteskan air mata yang semakin lama semakin deras mengalir membasahi wajahnya yang telah memerah dan sarat kesedihan.
"Aku ... aku menunggumu. Aku akan menunggumu di sini."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.