CINTA NARA

CINTA NARA
Sang mantan


__ADS_3

Pagi dini hari. Papa Dina terbang dari Singapura menuju Indonesia. Transit di bandara Sukarno Hatta terlebih dahulu untuk melanjutkan penerbangan ke Bengkulu.


Tiba di kota Bengkulu kurang lebih jam 10. 30 Wib. Suasana bandara sangat ramai. Papa Dina sengaja mengambil penerbangan di hari minggu.


Seseorang telah menunggunya di depan pintu kedatangan. Seorang pria yang menjadi detektif pencarian ibu kandung Dina.


Tak banyak yang papa Dina kenal dari sosok Ardi. Seorang polisi muda yang ia kenal dari bapak kapolda Bengkulu. Pak kapolda inilah yang merekomendasikan polisi berpangkat sertu itu.


"Pagi komandan. Saya Ardi. Siap melaksanakan tugas, " ucap Ardi tegas sambil mengangkat tangan kanan setinggi lengan ditekuk dan jari - jari rapat menyentuh pelipisnya.


Kemudian Pak Donnie Prambudya membalas hormat juga dan menjabat tangan Ardi.


"Pak, dari Pak kapolda saya diminta untuk menjemput bapak ke rumah kediamannya, " ucap Ardi.


" Oh, ya makasih. Pak kapolda adalah sahabat saya waktu pendidikan Akpol di Magelang, " ucap Pak Donnie memberi penjelasan.


Pak Donnie dan Ardi kemudian naik mobil dinas sang bapak kapolda. Ardi duduk di samping supir pak Kapolda. Sedangkan Pak Donnie duduk di belakangnya.


"Maaf Pak. Bapak kapolda tidak bisa menjemput langsung. Ada keluarganya tadi pagi baru datang dari Jawa, " ucap Ardi.


" Iya, gak apa - apa. Saya justru mengucapkan terimakasih sudah di jemput, " jawab Pak Donnie.


Pak Donnie Prambudya duduk di dalam mobil dinas sang kapolda. Matanya memandang kanan kiri jalan. Jalanan yang sudah lama ia tinggalkan. Ia ingat betul semua yang terjadi di kota kecil ini.


Setelah menikah Pak Donnie tinggal di kota ini. Kota yang awalnya memberi kebahagian dan ketentraman kini menjadi tempat perpisahannya bersamanya.


Banyak yang di korbankan Ayana waktu menikah dengan Donnie. Perbedaan akidah yang membuat mereka berdua memutuskan untuk menikah di tempat kediaman orang tua Donnie di Magelang.


Malah petaka itu datang, di saat Donnie muda dan Ayana memiliki bayi kecil yang cantik.


Seseorang merenggut istrinya dari tangannya.


Menghancurkan semua mimpi dan harapannya.


Perselingkuhan Ayana dengan supir pribadinya sendiri membuatnya menceraikan Ayana di kala itu.


Ayana bersikukuh kalau ia dan supirnya tidak mempunyai hubungan apa - apa. Tapi bukti - bukti yang di dapat Donnie justru membuat darahnya mendidih.


"Tak ada tempat bagi si penghianat cinta. Aku tak bisa menerimamu lagi, " hardik Donnie pada istrinya.


"Aku bersumpah demi agama yang kuyakini sekarang. Aku tak pernah melakukan perbuatan yang kau katakan itu, " tantang Ayana.


Semua kenangan yang ingin di lupakan itu menyeruak di sini. Tergambar jelas di kota ini. Walau kota ini sudah berbeda dari 25 tahun yang lalu.


Lima belas menit kemudian tibalah Pak Donnie di rumah Pak Kapolda. Dia diantar Ardi masuk menemui teman lamanya itu.


"Makasih ya Ardi, " ucap Pak Kapolda sambil menepuk lembut pundak bawahannya itu.


"Iya Pak, " jawab Ardi sambil berlalu meninggalkan ruangan.


"Assalamualaikum Gus? kamu tak tampak usia 55 tahun, " sapa ramah Donnie.


"Kamu bisa aja Don. Kamu juga terlihat muda di usiamu, " jawab Agus sambil memeluk erat sahabatnya.


"Aku sudah tua Gus. Rambut ini tak bisa membohonginya. Sudah penuh uban, kalau tidak di semir. Hahaha ... , " kelakar Donnie.


Pertemuan dua sahabat yang hampir 25 tahun lebih tidak bertemu. Ada saja bahan yang bisa membuat mereka berdua tertawa lepas. Menghilangkan semua beban Donnie di dalam dadanya.


"Gus, aku di Bengkulu tidak lama ya ! Aku harus bertemu orang di masa laluku. Demi anakku satu - satunya, Dina.


"Aku tahu permasalahanmu. Ardi sudah menemukan di mana keberadaan mantan istrimu. Semoga ia mau membantu anaknya sendiri, " ucap Agus.


"Iya Gus. Aku termakan sumpahku sendiri di kala itu. Aku tak kan membutuhkan mantan istriku lagi. Tapi kini aku yang justru mencarinya. Demi anak kami, " ucap Donnie sedih.


"Gak apalah Don. Memang suratan takdir perpisahanmu dengan sang mantan. Hilangkan ego, demi anakmu sendiri, " ungkap Agus Bramantio.


Pak Donnie mengangguk saja setelah sahabat lamanya menasehatinya. Tempat kediaman sang kapolda ini terlihat asri. Pohon - pohon rindang di depan rumah tampak tumbuh subur. Hamparan rumput gajah mini yang tertata rapi menambah hijau taman kecil di depan rumah sang pemilik.

__ADS_1


"Don, kamu makan siang dulu ya. Istriku sudah menyiapkan semua, " ajak Agus sembari menarik tangan kanan Donnie ke ruang makan.


Lalu 2 orang sahabat ini makan dengan lahap.


"Gus, istrimu kok gak ada di rumah , " selidik Donnie di sela makannya.


"Istriku lagi pergi Don. Saudaranya dari kampung datang pagi ini. Makanya jalan - jalan dulu, katanya mau lihat pantai panjang, " jawab Agus sambil menikmati makan siangnya.


Kedua sahabat itu selesai makan lalu dilanjutkan dengan sholat berjamaah.


"Gus, aku siang ini langsung mau ketemu dengan mantan istriku, " ucap Donnie.


"Nanti aku temani kamu ke rumahnya, " ucap Agus menawarkan diri.


"Iya, makasih ya Gus."


"Iya, sama - sama Don.


Kedua sahabat lama itu akhirnya pergi menemui mantan istri Donnie, Ayana.


Dengan mobil pribadinya sendiri, Pak Kapolda ini yang memegang kendali mobil. Mobil itu melaju menuju rumah sang mantan.Ternyata selama ini mantan istri Donnie tinggal masih di dalam kota Bengkulu. Tinggal di sebuah komplek perumahan.


Semakin mendekati rumah tujuan mereka. Pak Donnie merasa sedikit gugup. Ada rasa malu menyelimuti hatinya. Mengingat sumpah serapahnya 25 tahun yang lalu.


Sumpah itu pula yang membawanya kembali pada sang mantan. Memohon kemurahan hatinya untuk membantu anaknya sendiri. Semoga semua harapannya bisa terkabul, demi kesembuhan Dina.


Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah sesuai dengan foto yang di kirim Ardi , sang detektif pencarian ibu kandung Dina.


"Aku saja yang masuk ke dalam rumahnya Gus. Kamu tetap berada di dalam mobil, " pinta Donnie.


"Baiklah, aku tetap di dalam mobil, " jawab Agus.


Donnie melangkah membuka pagar rumah yang tidak terkunci. Di bukanya pelan dan di tutup kembali. Donnie masih terus melangkah menuju pintu rumah sang mantan istri.


Tok ... tok ... tok ...


Masih terlintas di dalam memorinya waktu itu. Ayana muda menangis meminta hak asuh anaknya. Tetapi tidak di gubris oleh Donnie waktu itu. Semua akses bagi Ayana untuk bertemu dengan anaknya di tutup sama sekali.


Setiap hari Ayana mendatangi rumah Donnie untuk bertemu Dina kecil. Hanya suara tangis Dina yang menyayat terdengar di balik tembok rumahnya memanggil ibunya untuk kembali.


Ayana tak pernah bisa bertemu dengan anaknya. Donnie telah berpindah rumah dan menikah dengan sahabat Ayana sendiri.


Begitu kejamnya Donnie memisahkan sang anak dengan ibu kandungnya.


Dan ... sekarang. Donnie datang pada wanita yang telah memberikannya seorang anak itu.


Meminta belas kasihannya, demi sang anak. Dina.


Seorang perempuan paruh baya berusia 55 tahun itu keluar. Begitu terkejutnya ia melihat Donnie ada di hadapannya. Ia langsung berbalik badan dan ingin menutup pintu kembali. Tapi ... tangan Donnie langsung mencekal wanita itu.


"Aku mohon Ayana. Dengarkan penjelasanku terlebih dahulu, " pinta Donnie.


"Apa yang kau inginkan dariku. Aku sudah melupakanmu. Kau dan anakmu sudah ku anggap mati. Aku tak ingin kau mengusik kehidupanku lagi, " hardik Ayana.


Tapi anakmu masih hidup Ayana. Hanya kau yang bisa membantunya. Ia sakit leukimia. Perlu orang yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang untuknya. Uang yang ku punya tak bisa menyembuhkannya. Aku mohon Ayana, tolong aku. Demi Dina, " isak tangis Donnie.


Ayana terdiam. Dia tak tahu harus berbuat apa. Anak yang sangat dirindukannya itu sekarang membutuhkan uluran tangannya.


Ayana kemudian terduduk di kursi teras rumahnya. Donnie pun duduk mengikuti Ayana.


"Mengapa tidak kau saja yang menyumbangkan sumsum tulang belakangmu, " lirih suara Ayana.


"Sumsum tulang belakangku tidak cocok buat Dina. Hanya kau harapanku satu - satunya, " jawab Donnie.


"Apa yang kau inginkan dariku, " timpal Ayana.


"Aku ingin kau ikut bersamaku ke Singapura. Dina sudah hampir 2 bulan dirawat di sana. Butuh donor sumsum tulang belakang untuk ia hidup, " pinta Donnie kembali.

__ADS_1


"Aku ingin lihat foto Dina sedari kecil sampai sekarang. Apakah kau membawa fotonya, " tanya Ayana.


"Ini, aku bawakan fotonya padamu, " Donnie mengambil album foto berukuran sedang dan di serahkan pada Ayana.


Ayana lalu menerima album foto itu. Dibukanya lembar demi lembar album kenangan itu. Sosok kecil yang amat di rindukannya itu tersenyum manis. Sosok kecil itu tumbuh menjadi gadis cantik. Tak terasa luruh embun di kedua sudut mata Ayana.


Isak tangis mulai pecah saat Ayana melihat foto Dina tergolek lemah di RS.


Donnie ikut larut dalam kesedihan yang di rasakan oleh Ayana. Rasa bersalahnya terhadap Ayana. Memutuskan hubungan antara ibu dan anak. Kini kebenaran terungkap. Ayana sangat merindukan anaknya.


Suasana menjadi hening. Hanya suara isak tangis Ayana yang terdengar.


Tak lama dari dalam rumah terdengar suara orang memanggil.


"Bu ... , kamu ada di mana? " tanya seseorang dari dalam rumah.


"Iya, yah. Sebentar, " Ayana menyahut dan beranjak masuk ke dalam rumah.


Tiba di ruang tamu. Ayana menghampiri suaminya yang sedang menonton TV.


"Kamu dari mana saja Bu."


"Ada tamu di teras rumah Ya."


"Kenapa tidak kamu suruh masuk Ibu, " ucap suami Ayana sambil beranjak keluar memanggil tamunya.


"A- yah. Jangan keluar. "


Tapi suami Ayana tidak mengindahkan seruan istrinya. Ia lalu membuka pintu.


Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang ada di hadapannya.


"Bapak ... , Pak Donnie !! " ucap suami Ayana terperangah.


"Iya , saya Indra. Donnie Prambudya. "


Indra terduduk saat melihat sosok Donnie di depan matanya. Ia tak pernah menyangka akan bertemu lagi. Setelah sekian lama ia harus mengakui perbuatan yang tak pernah ia lakukan. Seseorang telah memfitnahnya dengan keji. Perbuatan yang tak pernah ia lakukan dengan Ayana.


"Mengapa bapak kemari. Sudah cukup bapak memfitnah kami berdua. Sekarang apa yang ingin bapak minta pada kami, " hardik Indra.


Sebelum Donnie menjawab. Ayana datang menghampiri mereka.


"Dina sakit leukimia Ayah. Dia butuh donor sumsum tulang belakang. Papanya sendiri tak bisa membantu anaknya, " ucap Ayana.


Indra terdiam. Dina adalah sosok yang di rindukan istrinya selama ini. Ia tertegun. Mulutnya terasa keluh. Ia tak tahu harus berbuat apa.


"Ayah ... , ijinkan aku menemui anakku. Dina lagi di rawat di RS di Singapura. Aku mohon ijinkan aku pergi ke Singapura ya, " pinta Ayana.


Indra menghela nafas sesaat. Kemudian ia tersenyum pada istrinya.


"Baiklah ibu, aku mengijinkannya. Tapi pak Donnie aku harap kau menjaga ibu kandung Dina. Jangan kau sakiti hatinya. Jaga dia baik - baik , " pinta Indra pada Donnie.


"Aku akan menjaganya dan akan mengantarnya pulang ke rumahmu kembali Indra. Terimakasih sudah mengijinkannya, " lirih suara Donnie.


"Aku harus mempersiapkan semuanya mas Donnie. Paling satu minggu lagi aku bisa berangkat. Kau pulanglah ke Singapura. Aku akan menyusulmu setelah pasportku jadi, " ucap Ayana.


Sebelum pulang. Donnie memberi kartu namanya pada Ayana.


"Hubungi aku kalau mau berangkat ke Singapura , " pinta Donnie.


Indra kemudian mengantar Donnie sampai Donnie masuk ke dalam mobil. Lalu Donnie melambaikan tangan pada Indra dan Ayana yang masih duduk di teras.


indra menghampiri istrinya. Lalu memberi tepukan halus di pundaknya.


"Kamu yang sabar ya Bu. Doamu bertahun - tahun di kabulkan Tuhan. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan gadis kecilmu. Aku turut bahagia dan sedih. Semoga ia cepat sembuh dan kamu bisa memeluk erat anakmu, " doa tulus Indra pada istrinya.


"Aamiin. Terimakasih ayah, " lirih suara Ayana.

__ADS_1


__ADS_2