CINTA NARA

CINTA NARA
3.51. UNTUK AURA


__ADS_3

Rendy memperhatikan kedatangan mobil putih Alya dari dalam mobilnya yang sudah terparkir lebih dulu di sisi kiri halaman rumah sakit.


Mobil yang terus diperhatikannya itu berhenti tak jauh dari teras luas di luar lobi. Biasanya Pak Arif hanya akan berhenti sebentar untuk menurunkan Alya, kemudian kembali melajukan mobil dan memarkirnya di sisi kanan, tak jauh dari tempat berkumpul para sopir yang menunggu dengan bercengkerama bersama.


Mengapa mobil Alya diparkir di sana? Apakah dia tidak bertugas dan akan pergi lagi setelah ini?


Rendy sudah bersiap untuk turun dan akan menghampiri Alya. Dia selalu menunggu dokter berhijab anggun itu datang untuk diajaknya memasuki gedung rumah sakit bersama-sama, hingga mereka sampai di ruang pemeriksaan.


Seketika niatnya urung dilakukan dan tetap duduk di tempatnya, saat dia melihat Ardi turun dari pintu kemudi dan bergegas menuju ke pintu sebelah kiri. Dengan penuh perhatian dan sikap melindungi, lelaki itu menyambut Alya turun dari mobil dengan menggendong Aura dalam dekapannya.


Ternyata kamu sudah ditemani lagi oleh dia. Pasti kamu sangat bahagia saat ini. Walaupun itu yang aku harapkan, tapi tetap saja aku merasakan sakit di hatiku.


Setelah Ardi mengunci pintu mobil, lelaki itu menjajari langkah Alya dan berjalan bersama memasuki lobi. Rendy menghela nafas kasar dan mulai menenangkan hatinya yang masih terasa bergemuruh.


Kalian sudah seperti keluarga kecil yang sangat bahagia. Di satu sisi aku bahagia karena melihat bahagiamu, tapi di sisi lain aku sedih karena akan kehilanganmu dari hari-hariku.


Rendy mencoba mengabaikan perasaannya. Dia tersenyum dan menata hati, lalu meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja setelah ini.


Keluar dari mobil dengan wajah tegak dan penuh senyuman, Rendy ingin menunjukkan bahwa dirinya tegar dan kuat. Dokter nan ramah dan bersahaja itu tetap menunjukkan pesonanya, meski di dalam hati masih setengah lara dan kecewa.


Aku harus ikhlas melepasnya dan menutup buku cerita harianku bersamanya. Cukup sampai di sini, sebelum nantinya akan semakin sulit bagiku untuk melupakan begitu banyak kenangan tentang dirinya.


.


.


.


"Aku sudah membawa hasil pemeriksaan darah dari laboratorium dua hari yang lalu, Al. Kata dokter, Aura tetap harus rutin menjalani transfusi darah agar kondisi tubuhnya tidak semakin menurun."


Alya menemani ayah dan anak itu ke ruang pemeriksaan dokter anak, sebelum menuju ke ruangannya sendiri.


"Al, pasienmu sudah menunggu. Pergilah ke ruanganmu dan mulailah bertugas. Biar Aura bersamaku menunggu panggilan masuk di sini."


Tanpa ingin menerima bantahan, kedua tangan Ardi sudah terulur dan mengambil alih sang putri yang masih lelap ke dalam pelukannya.


"Tapi Aura ...?"


"Aku tidak ingin tugasmu terganggu karena keberadaan kami di sini. Percayalah padaku, kami berdua bisa. Segeralah ke ruanganmu sekarang."

__ADS_1


Hanya bisa mengangguk dan menuruti permintaan lelaki itu, akhirnya Alya berbalik dan meninggalkan mereka untuk menuju ke ruangannya.


Ardi duduk dan menyamankan posisi Aura dalam pangkuannya. Setelah itu dia kembali memperhatikan langkah Alya yang semakin menjauh dan menghilang saat telah masuk ke ruangannya.


Aku memang merindukanmu dan ingin terus bersamamu. Tapi tanggung jawab pekerjaanmu tetap menjadi kewajiban utamamu saat ini. Selamat bertugas, Alya.


Tak lama setelah itu, terdengar panggilan untuk Aura. Ardi dengan sedikit kerepotan berdiri menggendong Aura dan membawa tas perlengkapan Aura, juga berkas kesehatan milik putrinya.


Beruntung perawat yang melihat segera membantu membawakan tas dan berkas dari tangannya.


Sampai di dalam, Ardi membaringkan putri kecilnya di atas brankar yang dilapisi sprei bermotif kartun warna-warni kesukaan anak-anak. Seluruh bagian dinding ruangan pun dihiasi dengan gambar tempel yang memanjakan mata penuh harapan para malaikat kecil kesayangan orangtuanya.


Setelah dilakukan pemeriksaan umum, dokter mulai membuka dan mempelajari hasil yang dibawa Ardi dari laboratorium di kotanya. Sudah dua kali Aura menjalani transfusi darah di sana dengan donor dari pihak keluarga Bunga yang bergolongan darah sama.


Sama seperti yang disampaikan oleh dokter anak di sana, dokter paruh baya yang sudah dua kali menangani Aura di kota ini juga mengatakan bahwa Aura tetap harus menjalani transfusi darah, seperti yang sudah dijalaninya selama tiga bulan terakhir.


"Kondisi fisiknya memang terlihat cukup kuat dan baik. Akan tetapi dari hasil pemeriksaan darahnya, putri Anda masih membutuhkan penanganan seperti sebelumnya. Selain itu kemungkinan proses ini akan terus berlangsung dalam waktu yang tidak bisa ditentukan ke depannya. Tergantung perkembangan dari pertumbuhan selanjutnya nanti."


Dokter mencoba menjelaskan kembali apa yang sudah pernah disampaikannya dulu, tentang penyakit bawaan yang diderita oleh Aura dan pilihan proses pengobatan yang bisa dijalani sesuai usianya.


Riwayat penyakit yang diturunkan oleh ibunya, mengakibatkan hemoglobin dalam darah Aura selalu rendah dan di bawah ambang normal. Jika kondisi tersebut diialami berturut-turut, maka dikhawatirkan akan mempengaruhi proses pertumbuhan bayi cantik itu dan bisa membatasi kegiatannya sehari-hari.


Selain menyarankan untuk segera dilakukan transfusi darah, dokter juga meminta agar Aura dijauhkan dari aktivitas berat atau berlebihan yang bisa membuatnya lebih cepat kelelahan. Tubuhnya pun sangat rentan untuk terkena infeksi dan mudah mengalami perdarahan.


Ardi menatap sendu putri kecilnya yang masih tertidur di atas brankar. Kondisi sehari-hari Aura memang tak jauh berbeda dengan bayi lain pada umumnya. Hanya saja bayi cantiknya itu memang lebih sering mengalami demam dan mudah tertidur setelah beraktivitas beberapa saat lamanya.


"Jika Bapak ingin melakukan prosesnya di sini seperti dulu, kami bisa mulai mempersiapkan kebutuhan darahnya. Atau jika akan menggunakan darah dari pendonor baru, prosesnya bisa disegerakan dari sekarang." Dokter memberikan pilihan untuk Ardi.


Tanpa diketahuinya, di ambang pintu yang telah terbuka, Alya sudah menyimak beberapa penjelasan dokter yang terakhir disampaikan.


"Biar darah saya saja yang diambil untuk proses transfusinya, Dok."


Suara lembut dokter berhijab anggun itu mengagetkan Ardi yang langsung membalikkan badan dan mendapati Alya sudah berdiri tak jauh darinya yang duduk membelakangi pintu.


"Al ... kamu? Pasienmu?" Ardi kembali terpana saat melihat penampilan Alya yang semakin mempesona dengan mengenakan jas putih kebanggaannya.


"Aku hanya ke sini sebentar." Alya melanjutkan ucapannya dengan berbicara kepada dokter di hadapan Ardi.


"Tolong dipersiapkan proses perawatannya, Dok. Setelah ini biar darah saya diambil agar bisa segera diolah terlebih dahulu untuk mendapatkan sel darah merah yang nantinya akan ditransfusikan ke tubuh Aura."

__ADS_1


Seperti tiga bulan yang lalu, Alya mengajukan diri sebagai pendonor untuk Aura. Dia merasa lebih tenang jika transfusi darah yang dilakukan pada Aura berasal dari pendonor baru, daripada mengambil dari persediaan yang sudah ada di bank darah.


Lagipula, golongan darah dan rhesusnya sama dengan Aura yang juga menurun dari Bunga ibunya, sehingga tingkat kecocokan mereka juga sangat besar.


"Baiklah, kalau begitu. Sambil menunggu proses pengolahan darahnya, kami akan menyiapkan ruang perawatan untuk Aura. Sedangkan pelaksanaan transfusi darah bisa dilakukan sore nanti, setelah sel darah merah yang dibutuhkan siap."


Alya menyetujui keputusan dokter anak tersebut, kemudian pamit untuk kembali ke ruangannya, sebelum meminta jeda waktu pemeriksaan pasien, untuk diambil darahnya lebih dulu.


"Di, aku kembali ke ruanganku. Jika ada yang kamu butuhkan, hubungi saja aku atau meminta perawat untuk menemuiku."


Pandangan mereka bertemu lagi untuk beberapa detik. Ardi menatap Alya dalam-dalam dan bersyukur dalam hati. Keberadaan wanita itu selalu membuatnya terharu karena Alya selalu ada bersamanya di saat dia membutuhkan dukungan dan kekuatan untuk menjaga putri kecilnya.


Mengangguk dan tersenyum dengan haru, Ardi melepaskan kepergian Alya dari ruangan itu.


"Terima kasih, Alya."


.


.


.


Sekali lagi penulis mohon maaf karena update belum bisa sebanyak biasanya sebab masih ada beberapa tugas negara di rumah yang menumpuk untuk diselesaikan...πŸ™πŸ™


Selain itu, penulis juga harus mempersiapkan riset kecil-kecilan guna memberikan tulisan yang lebih bermakna dan sarat informasi bermanfaat, sehingga menjadikan pembaca lebih puas karenanya...😍😍


Insyaallah secepatnya akan update rutin 2-3x sehari menjelang berakhirnya kisah indah dalam novel ini...πŸ₯ΊπŸ˜­


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2