
Nara kembali ke musholla, saat tim dokter dan para perawat melakukan tindakan terakhir terhadap Yoga, suaminya.
Dia tidak diijinkan mendampinginya dan melepaskan kepergian Yoga. Dokter Danu memintanya keluar dan mengikhlaskan suaminya.
Wanita itu terus berlalu dari ruangan di mana sang suami menutup mata dengan senyuman, sesaat sebelum dia melepaskan tangannya dan mulai menjauh.
Tidak ada yang berani menghalangi langkah pelannya, dengan tatapan mata yang kosong tanpa setitik pun sinar pengharapan lagi.
Hanya Ardi yang masih bisa memaksanya berhenti, walau tetap tanpa reaksi apa pun dari wanita yang tengah larut dalam kesedihan mendalam itu.
"Nara, dengarkan aku!"
Terpaksa dengan menggunakan sedikit bentakan, akhirnya dokter sahabat Yoga itu berhasil membuat Nara menahan langkahnya.
"Maaf, aku tak bermaksud berkata kasar padamu. Tapi tolong, jaga emosimu, Ra. Jangan sampai kamu terlalu hanyut dalam rasa kehilangan, kemudian kamu melupakan hal penting lainnya dalam hidupmu."
Nara diam, mendengarkan tanpa ingin menjawab perkataan Ardi yang masih berdiri menghadang jalannya.
Ardi tahu, percuma mengajak Nara berbicara untuk saat ini. Menghela nafas panjang, akhirnya dia memberikan sesuatu kepada wanita berpandangan mata kosong itu.
"Bawa ini. Saat kembali ke rumah tadi, Pak Budi menemukan ponselmu dan ponsel Yoga di sofa kamar kalian. Bukalah dan cari tahu, mungkin ada sesuatu yang penting yang dia tinggalkan di dalamnya."
Nara masih terdiam. Ardi mengambil tangan kanan wanita itu lalu meletakkan dua buah ponsel yang dimaksud ke dalam genggamannya.
"Ingat, Ra. Ada Raga di rumah yang menunggumu dan membutuhkanmu."
Setelah mengucapkannya, Ardi bergeser dan menepi, membiarkan Nara melanjutkan langkahnya dengan gontai.
.
.
.
Menyendiri di sudut belakang, Nara terus memanjatkan segala doa yang dia bisa untuk sang suami juga untuk dirinya sendiri.
Mencoba menenangkan hati dan berpasrah diri, menyatukan kembali kekuatannya di tengah kelemahan yang mengungkung perasaannya.
Nara menatap ponsel Yoga yang dia letakkan di hadapannya, sejajar dengan ponsel miliknya sendiri.
Selama ini sekali pun dia belum pernah membuka ponsel Yoga karena dia menghormati privasinya, meskipun suaminya tidak pernah melarangnya sama sekali.
Dia ingin mengambilnya tapi masih ragu. Akhirnya dia meraih ponselnya sendiri dan membuka kunci layarnya. Terlihat foto mereka bertiga bersama Raga, sama seperti yang ada di dalam bingkai yang dipegang Yoga lalu pecah terjatuh lepas dari tangannya.
__ADS_1
Dia menangis lagi mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di kamar mereka. Kejadian yang mungkin akan meninggalkan luka terdalam di hatinya.
Setelah meredakan isak tangisnya, Nara membuka beberapa pesan baru yang masuk di ponselnya. Salah satunya ada nama Yoga di sana.
Segera dibukanya pesan tersebut dengan hati berdebar dan semakin gelisah saat membaca isi pesan tersebut.
"Aku mengrimkan surat cinta terakhirku untukmu. Buka dan bacalah, Sayang. Aku mencintaimu."
Surat cinta? Nara langsung paham setelah melihat notifikasi email baru di bagian atas layar ponselnya.
Hati Nara semakin risau. Pikirannya mulai bercabang, meskipun keseluruhannya hanya tentang Yoga seorang.
Mungkinkah isinya adalah pesan terakhir dari sang suami untuknya? Nara kembali teringat pada Yoga, dan lagi-lagi air matanya tumpah sebelum dia membuka dan membaca isi surat dari Yoga.
"Mengapa harus sekarang, Ga? Mengapa harus hari ini? Mengapa di hari bahagia kita, kamu justru menorehkan kesedihan teramat dalam seperti ini?"
.
.
.
Nara istriku,
Saat kamu membaca surat ini mungkin aku sudah pergi, tidak bisa lagi melihatmu, memelukmu dan menciummu.
Nara cintaku,
Ini adalah surat terakhirku yang pertama kali aku kirimkan kepadamu. Sebenarnya, selama ini aku menulis banyak sekali surat untukmu tetapi tidak berani aku kirimkan kepadamu.
Keadaan kita dulu yang membuatku harus selalu menahan diri untuk tidak menunjukkan perasaan yang aku miliki untuk dirimu. Aku hanya bisa mencintaimu dalam hati, mengagumi dalam diam dan memperhatikanmu dari jauh.
Air mata terus mengalir membasahi wajah Nara. Membaca surat dari suaminya membuatnya merasa bersalah karena dia sering mengabaikan Yoga dan terlambat membalas perasaannya.
Tapi bagaimanapun juga, semua sudah terjadi. Seperti yang disampaikan oleh Yoga, keadaan mereka dulu tidak semudah hubungan mereka saat ini.
Banyak sekali air mata, kesedihan dan kesabaran terlebih dahulu, sebelum mereka berdua bisa tersenyum dan bahagia bersama di beberapa waktu terakhir ini.
Sayang,
Aku tidak ingin berbicara tentang masa lalu lagi. Saat ini aku hanya ingin mengingat setiap detik kebahagiaanku bersama denganmu saja.
Kebahagiaan yang aku rasakan saat kamu menerima cintaku dan membalas perasaanku dengan cinta yang sama. Cinta yang sebelumnya bukan untukku, sekarang telah menjadi milikku seutuhnya.
__ADS_1
Akhirnya kamu mencintaiku. Harapanku telah menjadi kenyataan. Impianku untuk bahagia bersamamu telah terpenuhi dan terwujud nyata. Sungguh aku bersyukur karena semua itu.
Sayang,
Aku minta maaf karena harus pergi tanpa bisa mengulur waktu lagi. Aku ingin tetap bertahan, tapi aku sadar bukan aku yang memiliki kewenangan atas waktu.
Kesempatan yang diberikan kepadaku sudah cukup banyak. Allah sudah memberiku perpanjangan waktu yang tidak sedikit dan berulang kali, sehingga aku bisa merasakan bahagia sebelum aku tutup usia.
Air mata Nara semakin deras mengalir menganak-sungai di permukaan wajahnya. Dia tak kuasa menahan segala perasaannya lagi. Akhirnya, dia menangis keras dan mengeluarkan semua kesedihan yang semula dipendamnya di dalam hati.
Terus menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini untuk menumpahkan seluruh rasa kehilangan dalam dirinya. Separuh jiwanya telah pergi, tak lagi ada di sisinya. Dia telah tiada, meninggalkannya berselimut duka.
Sayang,
Maafkan segala kesalahanku selama ini, agar aku bisa memperoleh maaf dari Sang Maha Pemaaf. Ampuni semua dosaku kepadamu, agar aku pun bisa mendapatkan pengampunan dari Sang Maha Pemberi Ampunan.
Aku titip Raga, buah hati kesayangan kita. Terima kasih telah bersedia mengandungnya, melahirkannya dan merawatnya dengan baik, tulus dan penuh kasih sayang.
Aku merasa tenang meninggalkannya, karena Raga berada dalam asuhan Ibu sepertimu. Wanita terbaik berhati malaikat, yang sangat tulus dan ikhlas dalam menjalani kehidupan yang penuh liku dan ujian.
Sayang,
Aku pamit. Berbahagialah selalu. Cukupkanlah sedihmu untuk saat ini saja. Setelahnya, hanya bahagia yang harus kamu rasakan dan kamu miliki dalam hati dan hidupmu.
Aku mencintaimu, Nara. Aku mencintaimu, istriku. Aku mencintaimu, ibu dari anakku Raga. Aku sangat mencintaimu.
Dari lelaki rapuh yang selalu mencintaimu selamanya,
Yoga.
"Aku juga mencintaimu, Ga. Aku sangat mencintaimu, Sayang. Maafkan aku yang terlalu lama menyadari perasaanku padamu. Maafkan aku yang terlambat mengakui cintaku kepadamu. Aku mencintaimu."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.