CINTA NARA

CINTA NARA
2.5. AKU SELALU BERSAMAMU


__ADS_3

"Apa maksudmu, Mas?"


Yoga ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Nara, tapi dia tetap harus menceritakan semuanya.


Dia berharap di sana Beno bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, sebelum lelaki itu kembali mengusik ketenangan dan kebahagiaan istrinya.


"Mas?" Nara sudah tak sabar lagi.


"Marcell menyukaimu. Bukan hanya menyukai, dia terobsesi padamu dan ingin memilikimu."


Yoga bisa menangkap gurat keresahan di wajah Nara yang masih terkejut mendengar kenyataan tentang Marcell.


"Marcell, Mas? Tapi ... selama mengenalnya dan bekerja bersamanya, dia tidak menunjukkan sikap yang seperti itu. Dia layaknya teman-teman yang lain, Mas. Bahkan dia juga tahu hubunganku dengan ..., emm hubunganku saat itu."


Yoga terus menatap istrinya dan merubah posisi mereka menjadi duduk berhadapan.


"Kamu tahu mengapa dia keluar dari pekerjaannya dan menghilang setelah itu?"


Nara menggeleng. Yang dia ingat, Marcell berhenti dari pekerjaannya waktu itu dengan alasan ada keperluan penting di negara asal ayahnya. Kepada teman-teman kantornya, lelaki blasteran itu tidak mengatakan alasan tepatnya.


"Dia dikeluarkan karena kesalahan yang dilakukannya. Dan kesalahannya adalah, melakukan perbuatan yang hampir saja mencelakai Alan dan dirimu"


Nara membulatkan kedua matanya tak percaya.


"Apa yang dia lakukan, Mas?"


"Yang aku tahu, dia beberapa kali menyuruh orang untuk menabrak Alan dan mencelakainya dengan berbagai cara."


Nara ingat satu kejadian yang sepertinya sama dengan foto yang tadi dilihatnya. Saat itu, Alan menjemputnya di kantor untuk makan siang bersama. Ada Marcell saat itu yang melihat mereka di lobi dan menyapa Alan.


"Setelah itu, aku dan ... emm kami pergi makan siang di salah satu kafe. Foto itu tadi, sepertinya foto saat aku akan diantar kembali ke kantor."


Yoga mengangguk membenarkan apa yang diingat oleh Nara. Dan kejadian setelah itulah, yang membuat Marcell menghilang setelahnya.


"Dia membayar orang untuk menabrak Alan dengan sepeda motor yang melaju kencang saat Alan akan membuka pintu dan masuk ke dalam mobil."


Nara juga mengingat itu. Sempat ada seorang pengendara sepeda motor yang melaju kencang dan hampir menabrak Alan kalau saja tidak dicegah oleh beberapa orang yang ada di sana.

__ADS_1


"Anak buah Beno yang ada di sana waktu itu. Mereka menghalangi niat pemotor itu untuk menabrak Alan dengan berjalan di samping Alan dan melindunginya saat motor itu hampir menabraknya."


"Mengapa Marcell ingin mencelakai dia, Mas?" Nara masih belum bisa memahami semua cerita Yoga karena selama ini dia merasa semuanya baik-baik saja.


"Karena dia terobsesi padamu. Dia tidak suka ada lelaki lain yang dekat denganmu apalagi sampai memilikimu. Dia ingin menguasai dirimu Sayang."


"Dia tergila-gila padamu sampai berani melakukan apa pun untuk menyingkirkan orang-orang yang ada di dekatmu."


Saat itu, Yoga tidak tinggal dia dengan laporan yang diberikan oleh Beno dan tim keamanannya. Tanpa ada yang mengetahuinya, dia menemui pimpinan perusahaan tempat Nara bekerja dan melaporkan semua perbuatan Marcell dengan bukti-bukti yang lengkap.


Yoga meminta Marcell dikeluarkan dari pekerjaannya atau jika tidak, dia akan melaporkannya pada pihak kepolisian dan imbasnya tentu nama perusahaan akan terbawa-bawa.


Demi menjaga nama baik perusahaan dan dengan menunjukkan semua bukti yang ada, akhirnya Marcell dikeluarkan dari perusahaan.


"Setelah itu dia kembali ke Bali, ke tanah kelahirannya juga rumah orangtuanya. Di sana, dia tersandung kasus narkoba yang membuatnya dipenjara selama tiga tahun."


Yoga menatap wajah Nara yang masih terlihat kaget bercampur takut.


"Dan sekarang dia sudah bebas. Ada kemungkinan dia akan kembali dan mencarimu lagi. Oleh karena itu, aku meminta Beno kembali bertindak dan melakukan antisipasi agar orang itu tidak bisa menemukan jejakmu dan mengusikmu lagi."


Yoga mengakhiri ceritanya dengan memeluk istrinya seerat mungkin. Bukan hanya Nara, dia sendiri pun sangat mengkhawatirkan keselamatan wanita kesayangannya.


Pelukan itu dirasakan Yoga semakin erat di tubuhnya. Dia mendekap Nara dan menciumi kepalanya berkali-kali, mencoba untuk menenangkan istrinya kendati hatinya sendiri diliputi kecemasan.


"Ada aku yang selalu bersamamu, Sayang. Sekarang kamu adalah milikku dan tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku. Tidak akan kubiarkan orang lain siapa pun itu, mengusik kebahagiaan kita!"


.


.


.


Dini hari Nara terbangun. Tidurnya tidak tenang sama sekali. Dia terus memikirkan semua cerita Yoga tentang Marcell dan perbuatannya di masa lalu.


Duduk di atas tempat tidur, wanita itu menoleh ke samping, di mana suaminya masih tertidur pulas dengan senyuman samar di wajahya.


Diamatinya wajah itu dengan seksama, setiap inci lekukannya, setiap bagian yang selalu menawan hatinya untuk terus berlama-lama memandangnya.

__ADS_1


Nara tidak menyangka, betapa lelaki itu sangat menjaganya selama ini. Bahkan di saat dia tahu jika cintanya tak mungkin terbalaskan, dia dengan tulus tetap melindunginya tanpa diketahui olehnya.


"Maafkan aku yang tidak peka dengan semua perhatian dan cinta kasihmu sejak dulu. Maafkan aku yang terlalu mengabaikan sekitarku termasuk dirimu, karena aku telah mengunci kehidupanku hanya untuk melihatnya dan bersamanya saja."


Nara menyentuh lembut wajah suaminya, yang terlihat memejamkan matanya dengan damai. Sudut bibirnya masih terus menampakkan senyuman kecil, menambah pesona alaminya yang selalu memikat dan membuatnya kian terjerat dalam cinta yang begitu dalam dan tak terbatas lagi.


"Aku mencintaimu, Mas. Terima kasih atas apa yang sudah kamu lakukan selama ini untukku. Terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu yang begitu tulus, yang selalu membuatku bahagia dan tersenyum sepanjang waktu."


Nara membungkukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Yoga yang terus terlelap. Perlahan diciumnya kening suaminya dengan hangat dan lama. Dipanjatkannya doa-doa untuk sang suami, untuk cinta mereka dan juga untuk kebahagiaan keluarga kecil mereka.


Ciumannya berpindah ke bawah, menyapa bibir lembut itu dengan bibirnya yang telah merindu. Seketika terasa getaran indah di hatinya, jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada lelaki yang sudah menjadi miliknya untuk selamanya.


"Aku sangat mencintaimu, Suamiku. Kini hatiku telah tunduk seutuhnya pada ketulusanmu dan akan kuserahkan seluruh hidupku hanya untuk mengabdi padamu. Aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaanmu, kebahagiaan kita dan kebahagiaan keluarga kecil kita."


Nara melepaskan ciumannya, tapi sentuhan tangan Yoga di tengkuknya menahan bibirnya tetap menyatu dengan bibir lelaki itu. Dia diam dan menyadari bahwa dia telah membangunkan suaminya.


Seketika seluruh tubuhnya menghangat, disertai gelenyar yang menyeruak seiring desiran halus yang menghanyutkannya pada kenikmatan yang ditawarkan oleh lelaki pemilik seluruh hati dan jiwanya itu.


"Kamu telah memulainya, Sayang. Dan biarkan aku melanjutkannya hingga kita berdua mencapai puncak nirwana."


Bisikan Yoga di telinganya semakin membuat Nara larut dalam gejolak yang telah memantik api gairah di hatinya.


Akhirnya, tanpa rencana, semua terjadi begitu saja. Penyatuan yang indah penuh cinta, yang mereka akhiri dengan bermandikan peluh asmara yang menghadirkan senyum kepuasan di kedua bibir yang masih saling bertautan.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2