
Alya merasa terharu dan bahagia. Setelah sekian lama berjuang untuk melawan trauma dan ketakutannya, akhirnya dia bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Melayani suami tercinta dengan ikhlas lahir dan batin.
"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia, bukan hanya karena kita bisa melakukannya, tapi juga karena kamu berhasil melepaskan diri dari jeratan masa lalu yang selama ini menghalangi kebahagiaanmu."
Ardi mencium lembut kening berpeluh sang istri yang sangat dicintainya. Matanya berkaca-kaca tanda bahagia yang dipenuhi ketulusan dari dasar hati. Dia masih mengungkung tubuh Alya yang berbaring di bawahnya. Memperhatikan wajah lelah kemerahan yang masih basah seperti dirinya juga.
"Aku mencintaimu," lirih Ardi yang disambut dengan senyuman malu Alya seraya menarik selimut kian ke atas untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku juga mencintaimu, Di. Terima kasih sudah sangat sabar menungguku dan terus mendampingiku untuk melawan semua rasa yang tak nyaman. Ke depannya, terus bantu aku untuk melupakan semua hal buruk yang pernah membuatku terpuruk.Aku hanya ingin bahagia bersamamu, bersama Aura putri kecil kita."
"Bersama anak kita nanti, adiknya Aura," tambah Ardi dengan senyuman yang menghiasi wajah bahagianya. Alya mengangguk serta mengamininya dalam hati.
Ardi merebahkan diri di samping tubuh istrinya yang terbungkus selimut. Dia tak ingin memaksakan apa pun. Selama Alya merasa nyaman, dia tidak akan mempermasalahkannya.
Sikap suaminya yang tenang dan terus memandanginya dari samping, membuat Alya merasa begitu disayang. Pelan-pelan dia melonggarkan selimut dan membaginya bersama Ardi.
Dengan senang hati lelaki itu merapatkan tubuh mereka dan menutupinya dengan satu selimut yang sama. Selimut cinta yang telah menjadi saksi bisu penyatuan raga yang pernah terpisah sekian lama, hingga akhirnya kembali bersama dalam rengkuhan bahagia.
.
.
.
Pagi harinya, kamar sepasang dokter kandungan itu telah ramai dengan celoteh riang Aura. Alya mengambilnya dari kamar sebelah lalu memandikan dan memakaikan pakaian berwarna senada untuk mereka bertiga.
Ardi meminta mereka untuk bersiap-siap karena akan mengajak pergi ke suatu tempat yang masih dirahasiakannya.
"Sebenarnya kita akan ke mana, Di?"
Alya yang sudah siap dengan hijab yang menambah anggun penampilannya, sekali lagi bertanya pada sang suami.
Ardi yang sudah menggendong Aura bersama boneka kelinci merah mudanya, hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Sebentar lagi kamu juga akan mengetahuinya, Sayang."
Alya tersipu saat lelaki itu mendekat dan mencuri ciuman singkat di bibirnya. Aura yang melihatnya langsung mengikuti dengan tingkah menggemaskan, mencium ayah dan ibunya bergantian.
"Yayah ... Bubu ... Aya ayang ...."
Alya membalas ciuman putri kecilnya, membuat Ardi pun iri menginginkan hal yang sama. Wajahnya mendekat ke arah istrinya, diam menunggu hingga akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan.
Satu ciuman dari Alya mendarat lembut di pipinya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, wajahnya menoleh hingga ciuman Alya berpindah ke bibirnya.
"Terima kasih, Sayang."
Ardi merasa puas telah membuat istrinya terus tersipu. Sebelum Aura kembali merajuk, dia segera mengajak Alya keluar kamar bergandengan tangan.
Saat mobil mereka melewati rumah Yoga, tampak Raga bermain di halaman di temani Mbak Indah. Ardi menghentikan mobilnya sejenak, karena Aura yang duduk di pangkuan Alya mulai riang memanggil nama Raga.
__ADS_1
Setelah menurunkan kaca mobil sebelah kiri, Raga segera berlari mendekat untuk menyapa Aura kesayangannya. Mbak Indah mengangkat tubuh bocah tampan itu hingga bisa berhadapan dengan Aura yang semakin kegirangan berdiri di atas pangkuan ibunya.
"Maga ... Maga Aya ...."
Tangan Aura meraba acak wajah teman kecilnya. Raga membalasnya dengan mencium pipi bulat yang berona merah muda.
"Maga sayang Aya!"
Setelah ritual sapa-menyapa dua bocah cilik itu, Alya pamit pada Raga dengan tutur lembutnya.
"Aura pergi dulu sebentar, ya. Nanti kalau sudah pulang, Mas Raga boleh datang ke rumah dan bermain lagi bersama Aura."
Raga mengangguk lalu sekali lagi mencium pipi Aura yang tertawa lepas dan ceria.
Mbak Indah mundur dan menurunkan Raga di sampingnya. Putra sulung Nara dan Yoga itu melambaikan tangan, mengantarkan kepergian Aura dengan senyuman termanisnya.
.
.
.
Setengah jam kemudian, Ardi menghentikan mobilnya di halaman sebuah gedung bertingkat yang masih tampak baru. Warna putih mendominasi dinding bangunan tersebut, memberi kesan bersih dan sejuk dengan beberapa pepohonan sebagai peneduh dan taman kecil di bagian samping.
Tanpa banyak kata, Ardi mengajak istri dan anaknya keluar dari mobil. Ardi mengambil alih Aura dari dekapan istrinya, saat pandangan Alya terpaku pada jajaran balok huruf yang menempel pada dinding luar gedung, membentuk rangkaian kata yang membuat dokter kandungan nan anggun itu menutup mulutnya dengan dua telapak tangan.
"Ardi ... ini ...?"
"Ya, Sayang. Ini adalah hadiah pernikahan dariku untukmu. Maaf aku terlambat mempersembahkannya karena masih harus menyelesaikan beberapa hal sebelumnya."
Butiran bening mengalir begitu saja membasahi pipi, memburamkan pandangan Alya yang segera diseka oleh Ardi. Aura yang melihat sang ibu meneteskan air mata, bereaksi dengan merentangkan tangannya, ingin kembali ke dalam pelukan Alya.
"Bubu ... anis .... No ... no anis ...."
Alya mendekap putri kecil kesayangannya dengan rasa haru yang kian menyelimuti kalbu. Dia sama sekali tidak menyangka bila impian terbesarnya selama ini akan terwujud dengan cepat melalui sang suami.
"Semua izin dan perekrutan karyawan sudah lengkap terpenuhi sesuai prosedur pendirian klinik ibu dan anak. Selain kita berdua, ada beberapa dokter lain yang ikut bekerja sama dan membuka praktek di sini. Insyaallah, bulan depan, klinik ini sudah bisa beroperasi penuh."
Ardi merangkul bahu Alya, sama-sama memandangi gedung dua lantai di hadapan mereka dengan perasaan bangga dan bahagia.
"Sejak kapan kamu menyiapkan semua ini, Di?"
"Setelah aku melamarmu, aku menghubungi Dokter Hanan dan meminta bantuan beliau. Beliau sangat senang karena bisa membantu mewujudkan impianmu untuk memiliki klinik sendiri."
Alya tak bisa menahan tangisannya. Dia menangis lagi meski Aura terus menatapnya dengan kebingungan.
"Aku juga sudah mengurus kepindahan izin praktekku di sini. Tanggung jawab pada klinikku di sana sudah aku serahkan pada salah seorang sahabat dokterku. Aku akan mendukung dan membantu untuk mengelola klinik milikmu ini."
"Terima kasih. Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Kamu ... kamu terlalu baik, sangat baik dan penuh kejutan."
__ADS_1
Suara Alya bergetar mengucapkannya. Seluruh wajahnya sudah basah oleh air mata. Air mata bahagia yang tak terkira.
"Aku tidak menginginkan balasan apa pun, Sayang. Aku hanya butuh kamu tetap bersamaku selamanya. Menjadi istri dan ibu dari anak-anak kita. Hanya itu!"
"Aku mencintaimu, Ardi. Sangat mencintaimu."
.
.
Alhamdulillah, bisa melanjutkan bonus kisah yang tertunda. Masih ada beberapa lagi lho, tetap tunggu update terbarunya. ππ
Oya, ada kabar baik bagi penggemar setia Mbak Nara dan Mas Yoga. Versi cetak dari novel CINTA NARA sudah masuk proses terbit, lho.
Bisa nabung dari sekarang untuk ikutan pra-pesan nanti. Yang pasti harganya ramah di kantong, karena versi cetak ini hanya untuk musim pertama dan ceritanya sudah dilakukan pemadatan alur supaya bacaannya bisa dinikmati dengan lebih nyaman.
Info lengkapnya menyusul kalau sudah siap dari penerbit.π
.
.
Satu lagi, mohon dukungannya untuk novel sekuel dari CINTA NARA yaitu Raga untuk Aura, yang merupakan kisah cinta anak-anak Yoga-Nara dan Ardi-Alya. Favoritkan di rak buku dan baca sampai tamat seperti kisah orang tuanya, ya. Terima kasih banyak. πππ
.
.
.
Terima kasih atas segala dukungan yang selalu ada untuk penulis melalui Like dan Komentar setianyaππ
Silakan menyimpan cerita ini di rak Favorit, agar bisa menjadi yang pertama untuk membaca kelanjutan kisahnyaππ€
Salam cinta selalu.
#menulisdenganhati π
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
__ADS_1
.
.