CINTA NARA

CINTA NARA
63 IKATAN BATIN


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang dari dalam ruang operasi Nara. Putra yang sangat dinantikan kehadirannya oleh Yoga dan Nara telah lahir ke dunia.


Kedua orangtua Nara saling berpelukan haru begitu mendengar tangisan cucu pertama mereka menyapa semesta.


Beno bernafas lega, satu beban telah sirna berganti bahagia atas kelahiran sang pewaris tahta Mahendra.


Di dalam ruang operasi, Ardi tak kuasa menahan air mata yang telah menetes membasahi wajahnya yang penuh peluh. Satu tugas telah berhasil ditunaikannya, membantu proses kelahiran buah hati sang sahabat dengan sehat dan selamat.


Masih ada satu tugas lagi yang harus diselesaikannya, yakni memastikan Nara pulih dan baik-baik saja, setelah proses operasi darurat yang dilakukannya, demi keselamatan ibu dan sang bayi.


Kondisi Nara masih belum stabil. Wanita itu masih tak sadarkan diri meskipun secara medis kondisinya baik-baik saja. Sepertinya dia mengalami syok yang cukup berat akibat dari kecelakaan yang dialaminya bersama Yoga.


Hampir satu jam berkutat dengan tugas profesinya, akhirnya selesai sudah proses operasi yang dilakukan Ardi dan timnya untuk menyelamatkan Nara dan anaknya.


Raut lega dan penuh syukur terlihat di wajah lelah Ardi. Dipandanginya Nara yang masih belum sadar. Ada rasa khawatir yang membebani pikirannya.


Dia takut kondisi Nara justru akan melemah saat sadar nanti, ketika mengetahui kondisi Yoga yang sampai saat ini masih berjuang di atas meja operasi di ruang sebelah.


"Kamu wanita yang hebat, Ra. Apa pun yang terjadi nanti, jangan putus asa pada keadaan. Kami semua bersamamu untuk mendukung kesembuhan Yoga."


Ardi menatap trenyuh ke arah Nara yang masih tergolek lemah dan pucat di atas meja operasi. Mengingat apa yang sudah dialami Nara selama sembilan bulan terakhir, Ardi merasa iba sekaligus kagum dengan ketegaran dan kekuatan yang dimiliki oleh istri sahabat kecilnya itu.


"Aku harap, saat kamu mengetahui semua kebenarannya nanti, kamu bisa membuka hatimu untuk Yoga sepenuhnya. Dia lelaki yang kuat dan hebat sama sepertimu. Dan dia juga sangat mencintaimu!"


Nara dibawa ke ruang pemulihan sebelum dipindahkan ke ruang perawatan nanti. Dokter dan perawat akan memantau perkembangannya lebih dulu dan menunggu wanita itu sadar kembali.


Setelah memastikan kondisi Nara aman dalam pengawasan tim dokter yang bekerja sama dengannya, Ardi pergi ke ruang operasi Yoga melalui pintu penghubung khusus di dalam ruangan.


Ardi telah mengganti pakaian operasinya dengan pakaian steril yang baru, agar bisa memantau kondisi Yoga di atas meja operasi.


Tanpa sadar wajahnya kembali basah oleh air mata, begitu melihat Yoga yang terbaring penuh luka di tubuhnya. Hatinya terasa semakin teriris saat melihat luka di bagian dada yang selama ini selalu disembunyikan lelaki itu dari siapa pun. Hanya Ardi yang mengetahuinya.

__ADS_1


Ardi tidak berani mengeluarkan suara, hanya mengawasi tim dokter yamg masih berjuang menyelamatkan nyawa sahabat kecilnya tersebut.


Berbagai alat medis terpasang di tubuh Yoga. Beragam suntikan pun telah berkali-kali diberikan padanya untuk mengembalikan kondisinya yang masih berada di titik terburuk, antara ada dan tiada.


Seorang dokter yang melihat keberadaan Ardi memberi kode padanya untuk mendekat. Ada yang perlu disampaikannya pada Ardi perihal keselamatan nyawa pasien yang sedang ditanganinya saat ini.


Ardi mendekat tanpa ingin mengganggu gerak tugas para dokter dan seluruh tim di sana.


"Waktunya tidak banyak. Kecelakaan yang dia alami membuat kondisi jantungnya semakin parah dan hampir tak berfungsi lagi."


Bagai disambar petir yang sangat dahsyat, tubuh Ardi lunglai lemah seketika hingga hampir terjatuh ke belakang.


Sekuat tenaga dia berusaha menguatkan dirinya dan tetap berdiri di sana, memandangi wajah Yoga yang pucat pasi tanpa daya.


"Aku sudah menghubungi dokter yang selama ini menanganinya di luar kota. Beliau akan segera datang dan membantu kita di sini," kata Ardi pada mereka yang masih mengelilingi tubuh Yoga dan terus bekerja keras menyelamatkannya.


Tiba-tiba seorang perawat datang dari ruang operasi Nara dengan panik.


"Dokter Ardi, pasien mulai sadar dan terus memanggil nama suaminya dengan histeris ...."


Ardi berjalan cepat kembali ke ruang operasi Nara, meninggalkan Yoga tepat di saat bibir lelaki itu bergerak, mengucapkan sepatah kata dengan sangat lirih.


"Naraaa ...."


Di alam bawah sadar, batin mereka terikat satu sama lain. Saling mencari, saling memanggil dan ingin bertemu.


Kesadaran Nara telah kembali, namun dia tetap belum ingin bangun dan membuka mata. Sebagian dari dirinya masih berkelana mencari keberadaan Yoga yang tak terihat oleh mata batinnya saat ini.


Sama halnya dengan Yoga. Tubuhnya bereaksi cepat saat lamat-lamat mendengar nama Nara disebut. Jiwanya meronta ingin menemui wanita tercintanya itu, namun raganya tak berdaya, hanya bisa terus memanggil sang istri melalui suara hatinya.


Tanpa melepaskan baju steril yang dikenakannya, Ardi keluar dari ruang operasi untuk menemui keluarga Nara dan Yoga.

__ADS_1


Tidak hanya itu, di luar ternyata sudah ikut menunggu Bunga kekasihnya, Bibi Asih dan Pak Budi, serta Alan yang baru saja datang ditemani oleh Sasha.


Bapak dan Ibu diikuti Beno berdiri dan menghampiri Ardi. Mereka gelisah karena lampu di atas pintu ruang operasi Nara sudah padam sedari tadi, namun tak ada satu pun dokter atau perawat yang keluar dan memberikan kabar tentang kondisi Nara dan bayi yang telah dilahirkannya.


"Operasi Nara berjalan lancar. Bayinya telah lahir dengan sehat dan selamat. Sesuai hasil pemeriksaan, cucu Bapak dan Ibu berjenis kelamin laki-laki."


Ucapan syukur terus terdengar, menggema di depan ruang operasi. Ardi ingin segera menyampaikan tentang kondisi Nara dan Yoga saat ini, namun kegugupan menyerangnya tiba-tiba. Dia harus menguatkan dirinya sendiri sebelum menyampaikan kabar yang tidak baik tersebut.


"Bagaimana dengan mereka berdua? Yoga dan ... Nara?"


Alan terlihat ragu untuk mengucapkan nama Nara sementara ada Sasha di sampingnya. Tapi kekasihnya itu terlihat tidak mempermasalahkannya, karena dia pun mencemaskan kondisi sepasang suami-istri tersebut. Mereka berdua bergenggaman tangan sangat erat.


Ardi memejamkan mata dan mengumpulkan sisa kekuatan yang masih dimilikinya untuk menyampaikan apa yang harus mereka semua ketahui dengan segera.


"Yoga dan Nara .... Mereka sama-sama kritis ...."


Hening tercipta untuk beberapa detik setelah Ardi mengucapkannya. Tidak ada reaksi suara maupun reaksi tubuh dari mereka semua, membuat Ardi kembali berbicara.


"Nara baru saja mengalami perdarahan pasca persalinan karena syok yang dialaminya. Dan Yoga ..., dia masih ditangani di ruang operasi dengan kondisi yang parah dan mengeluarkan banyak darah."


Ardi tidak menyampaikan perihal kondisi sakit parah yang diderita Yoga sebelum kecelakaan terjadi. Dia akan membicarakannya terlebih dahulu dengan dokter yang selama ini menangani Yoga, yang saat ini tengah dalam perjalanan menuju kemari.


"Kami membutuhkan donor darah untuk mereka secepatnya, guna mencegah terjadinya kemungkinan terburuk yang tidak kita inginkan!"


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


__ADS_2