
Usai mengadakan pengajian empat bulanan kehamilan Nara di rumah mereka, Yoga dan sang istri disibukkan dengan persiapan untuk pulang ke kota lama, kota kelahiran mereka. Di sana, orangtua Nara juga akan mengadakan acara yang sama esok hari.
Bulan sebelumnya, pengajian juga sudah digelar untuk Rizka yang usia kehamilannya satu bulan lebih tua dari kakak iparnya.
"Sayang, kita akan berada di sana selama dua minggu karena aku harus menyelesaikan beberapa urusan terlebih dahulu."
Nara mengangguk sambil merebahkan diri di atas tempat tidurnya. Setelah beberapa jam sibuk di bawah dan menjadi tuan rumah acara sore tadi, dia mulai merasakan tubuhnya sangat lelah dan ingin beristirahat lebih awal.
"Iya, Mas. Raga pasti senang bisa bersama kakek dan neneknya lebih lama."
Yoga menghampiri dan duduk bersila di samping tubuh istrinya. Dia mulai mengusapi perut sang istri lalu memijat kedua kaki Nara yang tadi dikeluhkannya cukup pegal.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu di sini, Mas?" tanya Nara sambil memperhatikan wajah suaminya yang selama kehamilannya kali ini selalu ingin dipandanginya setiap saat.
"Aku sudah menyelesaikan semua urusan penting yang membutuhkan kehadiranku. Selanjutnya Beno yang akan menggantikan aku untuk sementara waktu di sini sekaligus mengawasi beberapa proyek yang akan segera selesai."
Yoga sudah mempersiapkan semuanya dengan matang sejak mereka berencana untuk pulang. Bahkan dari awal dia mengetahui kehamilan Nara, segala hal sudah mulai dipersiapkannya dengan runtut agar dia mempunyai lebih banyak waktu untuk menemani dan menjaga sang istri yang sangat dicintainya.
Ponsel Yoga yang tergeletak di atas meja berdering menandakan adanya panggilan masuk. Yoga turun dari tempat tidur dan menerimanya agak menjauh dari Nara, setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Ya? Ada apa?" Suara lelaki itu berubah dingin dan datar seperti biasanya, bahkan kali ini terdengar lebih tegas dan sangat serius.
Sambil mendengarkan lawan bicaranya di seberang, Yoga menengok ke belakang untuk memastikan jika Nara tidak mendengarkan apa yang akan dikatakannya.
Dilihatnya Nara sudah mulai tertidur dengan kedua tangan memeluk perutnya yang terlihat sedikit lebih besar dengan tonjolan kecil di bagian tengah.
Dengan wajah yang terlihat menahan amarah, lelaki itu berjalan menjauh ke sudut depan dan berbicara dengan pelan namun penuh penekanan, berusaha agar tidak sampai membangunkan sang istri yang tampak kelelahan.
"Kapan? Di mana?" Dada lelaki itu bergemuruh mendengar kabar yang baru saja diterimanya.
Dia telah melupakan sesuatu. Beruntung beberapa orang yang bekerja untuknya tetap mengingat hal tersebut dan melaporkannya tanpa menunda waktu lagi.
"Awasi dia selama dua puluh empat jam penuh tanpa henti. Pastikan dia tidak akan bisa mendekati keluargaku sama sekali!"
Tangan kanan lelaki itu mengepal hingga turut mengeraskan wajahnya yang mulai terlihat tegang.
__ADS_1
"Ikuti seluruh pergerakannya tanpa kecuali. Laporkan padaku setiap saat dengan rinci dan ingat baik-baik, lakukan tanpa kesalahan!"
Sebelum mengakhiri pembicaraan, Yoga kembali memberikan perintah yang harus segera dilaksanakan dengan cepat, tak ingin sampai ada yang mendahuluinya.
"Utamakan keselamatan istri dan anakku. Lindungi mereka dalam jarak aman dan dahulukan apa pun yang berhubungan dengan keduanya. Ingat sekali lagi, istriku sedang mengandung!"
Yoga menutup lebih dulu panggilan itu dengan hati yang tidak tenang. Kabar yang baru saja didengarnya membuat ketakutan menguasai dirinya seketika.
Dia melemparkan ponselnya ke atas sofa lalu bergegas naik kembali ke atas tempat tidur. Dia duduk di samping tubuh Nara yang terbaring lelap dengan kepalanya yang telah lunglai ke samping.
Lama dipandanginya wajah menawan sang istri yang terlihat tenang dan damai dalam tidurnya. Tangannya mulai membelai pipi ranum yang semakin bulat menggemaskan itu.
"Aku akan selalu melindungimu dengan segenap jiwaku, Sayang. Jika sampai keselamatanmu terancam, maka nyawaku pun akan kupertaruhkan untuk memastikan kamu dan kandunganmu juga Raga kita selalu terjaga dan baik-baik saja!"
Satu tangannya yang lain, menggenggam lembut tangan sang istri yang masih memeluk perutnya sendiri. Kemudian diturunkan tangannya langsung ke permukaan perut Nara yang bergerak pelan naik-turun seirama hembusan napasnya.
Dilantunkannya rangkaian doa panjang nan khusyuk dari dalam hati, memohon segala kebaikan dan kebahagiaan untuk keluarganya.
Dia juga meminta kekuatan untuk bisa terus menjaga dan melindungi istri dan anaknya juga calon anak yang masih berada di dalam kandungan sang istri.
"Ada apa denganmu, Sayang? Apakah kamu bermimpi buruk?" gumam Yoga lirih sembari membersihkan peluh di seluruh wajah istrinya yang memucat namun tetap terlelap.
"Jangan .... Jangan pergi .... Aku takut ...."
Rintihan mulai terdengar dari alam bawah sadar Nara. Sepertinya dia memang sedang bermimpi buruk.
"Aku di sini, Sayang. Aku selalu bersamamu." Yoga berbisik lembut di telinga istrinya yang mulai terlihat gelisah dalam tidurnya.
Kepalanya bergerak pelan, menoleh ke kiri dan ke kanan bergantian seolah menghindari sesuatu yang ditakutinya.
"Tidak ...! Aku tidak mau .... Pergi .... Pergi ...." Napas Nara semakin tidak teratur seiring tubuhnya yang turut bergerak tidak nyaman.
"Kamu jahat ...! Jangan ganggu aku .... Jangan sentuh aku ...." Nara semakin terengah tanpa sadar.
Yoga menghentikan Nara dengan mencium keningnya lagi. Kali ini, dia melakukannya lebih dalam dan tak dilepaskan. Dipanjatkannya doa untuk menenangkan sang istri yang mungkin sedang bermimpi buruk dan merasa sangat ketakutan.
__ADS_1
Lambat-laun Nara mulai tenang kembali meskipun rintihannya masih terdengar pilu menyayat hati Yoga. Lelaki itu sedih melihat kondisi istrinya yang ternyata masih menyimpan trauma kelam dati kejadian setahun silam.
"Maafkan aku yang kurang memperhatikanmu sehingga tak mengetahui jika dirimu masih memiliki ketakutan akan peristiwa yang hampir saja menodai kehormatanmu. Maafkan aku, Sayang." Yoga menatap pilu wajah pucat istrinya.
"Mas .... Aku milikmu .... Hanya milikmu, Mas ...."
Hati Yoga bergetar hebat mendengar suara lirih Nara yang seolah memanggilnya. Dia begitu terharu mengetahui betapa wanita itu sangat mencintainya dan selalu menjaga kehormatan demi sang suami yang tak lain adalah dirinya.
"Iya, Sayang. Kamu adalah milikku. Hanya milikku seorang. Tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku."
Dibisikkannya kalimat penenang di telinga sang istri, agar Nara dapat melanjutkan tidurnya tanpa gangguan mimpi buruk lagi.
Setelah memastikan Nara sudah kembali terlelap, Yoga membaringkan tubuhnya di samping wanita kesayangannya. Pelan-pelan dia merapatkan tubuh mereka dan membawa Nara ke dalam pelukannya.
Secara naluriah tubuh wanita itu bereaksi dengan menyamankan posisinya sendiri di dalam pelukan hangat suaminya. Wajahnya rebah di atas dada Yoga, membuat tidurnya semakin tenang dengan senyuman yang terulas di bibir manisnya.
"Aku mencintaimu, Sayang. Kamu aman bersamaku."
Yoga mempererat pelukannya dan mencium puncak kepala Nara dengan penuh kasih, lalu turut memejamkan matanya untuk beristirahat bersama.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1