CINTA NARA

CINTA NARA
2.119. INGAT BAIK-BAIK


__ADS_3

"Hanya Dokter Alya yang aku ijinkan untuk menjadi istrimu dan ibu untuk Aura."


Ardi semakin tercengang dan bingung dengan sikap Bunga yang berulang kali memintanya untuk kembali pada Alya, selepas kepergiaannya nanti.


"Bagaimana dia sampai mempunyai pikiran seperti itu? Apa dia pikir akan mudah bagiku untuk berubah dan melupakan semuanya? Dan lagi, bagaimana bisa dia memintaku untuk menjadi perusak rumah tangga orang lain? Ataukah ini adalah efek dari kondisi tubuhnya yang kian menurun, sehingga pikirannya menjadi tak terkendali?"


Ardi terus menggeleng dan menolak permintaan Bunga. Jika memang pikiran Bunga sudah mulai labil, setidaknya dialah yang masih bisa berpikir jernih dan menyikapinya dengan kepala dingin.


"Sayang, lebih baik sekarang kamu beristirahat lagi. Sudah cukup lama kamu bangun dan bertemu dengan banyak orang. Aku tidak mau kondisimu menjadi semakin lemah karena terlalu lelah."


Ardi hendak menurunkan kembali posisi pembaringan ke semula, tapi Bunga segera menahannya dengan memegang tangan sang suami.


"Jangan mengalihkan pembicaraan kita, Mas. Kali ini saja, dengarkan aku dan ingat baik-baik semua ucapanku," pinta Bunga dengan tatapan mata yang lekat seolah memohon dengan sangat.


Ardi tak berkutik setiap kali Bunga menatapnya sedalam dan selekat itu. Hatinya luluh dan hanya bisa tunduk pada apa saja yang istrinya inginkan.


Dengan napas yang terhela panjang dan berat, akhirnya Ardi menuruti kemauan Bunga. Dia kembali duduk menghadap ke arah istrinya dan siap mendengarkan.


Baru saja Bunga akan memulai kalimatnya, tiba-tiba wajahnya memerah dan berkeringat dingin. Dia mulai merasa kesakitan lagi dan sepertinya lebih parah dari sebelumnya tadi.


"Jangan sekarang, Ya Allah! Ijinkan aku menyampaikan semuanya lebih dulu. Aku ingin memastikan suami dan anakku bersama orang yang tepat dan aku percayai."


Ardi menekan tombol darurat agar Bunga segera ditangani. Bersamaan dengan itu, untuk yang kesekian kalinya, Bunga kembali memuntahkan darah berwarna merah terang yang cukup banyak.


"Mas ..., aku hanya ingin bicara denganmu .... Tolong ..., Mas ...."


Kali ini Ardi tidak mengindahkan permintaan Bunga. Saat dokter dan perawat masuk, dia menyerahkan Bunga sepenuhnya kepada mereka yang sudah menanganinya selama satu bulan terakhir ini.


Beberapa waktu berlalu, dokter yang sudah menangani Bunga menatap Ardi yang menunggu di ujung pembaringan dan memberikan tanda dengan gelengan kepala yang pelan.


Ardi lemas dan hampir roboh jika tidak segera berpegangan pada tepian pembaringan. Dokter yang melihatnya segera menghampiri dan mengajaknya berbicara di luar ruangan. Sementara Bunga sudah mulai tenang setelah diberi suntikan seperti biasanya dan dijaga oleh para perawat.


"Maaf, Dokter Ardi. Ini sudah terjadi berulang kali dan pendarahan pada organ dalamnya sudah terlalu kompleks dan tidak bisa dihentikan lagi."


"Bagaimana dengan transfusi darah, Dok? Kami siap jika harus mendonorkan darah saat ini juga."


Alya angkat bicara dan menginterupsi perbincangan Ardi dan Dokter yang menangani Bunga.

__ADS_1


""Saya juga siap, Dok. Golongan darah kami berdua sama dengan Bunga." Nara pun ikut menyatakan kesiapannya. Dia lupa jika tengah hamil besar dan ibu hamil tidak dianjurkan untuk melakukan donor darah.


Akan tetapi Dokter tetap menggelengkan kepalanya dengan berat hati.


"Sejauh ini kami pun sudah melakukannya berulang kali. Transfusi tidak bisa menghentikan pendarahan yang sudah telanjur parah di dalam tubuh pasien. Kami melakukannya hanya atas permintaan Dokter Ardi selaku yang bertanggung jawab atas keputusannya terhadap pasien."


Semuanya mengalihkan pandangan ke arah Ardi, di mana lelaki itu hanya bisa membalas mereka dengan tatapan mata yang kosong tanpa harapan.


"Aku belum siap. Aku masih ingin bersamanya."


Pada akhirnya semua menghela napas panjang tanpa ada yang berani bersuara. Mereka tidak bisa menyalahkan Ardi meskipun tindakan yang diambilnya hanya akan membuat Bunga tersiksa lebih lama.


.


.


.


Ardi masih berbicara berdua dengan Bunga di dalam ruangan. Aura yang sudah datang bersama keluarga Ardi yang disusul oleh kedatangan orangtua Bunga.


"Mas, aku sudah tidak punya banyak waktu lagi. Tolong biarkan aku bicara karena ini sangat penting bagiku dan harus kamu ketahui."


Ardi berdiri di di samping Bunga yang terbaring lemah di ujung waktunya. Tidak ada lagi keinginan untuk menolak permintaan istrinya kali ini.


Hanya satu anggukan kepala darinya, telah membuat Bunga bahagia karena pada akhirnya sang suami bersedia mendengarkan apa yang akan disampaikannya.


"Maafkan aku yang tidak bisa lebih lama lagi menemanimu dan menjaga putri kita. Mungkin ini memang salahku karena dulu terlalu mengabaikan kondisi tubuhku sendiri. Tapi aku juga tidak pernah menyangka jika akan seperti ini akhirnya, Mas."


Bunga berucap perlahan seraya mengatur napasnya agar tidak sampai tersengal yangmana akan membuat tubuhnya bergejolak lagi.


Ardi hanya diam dan memperhatikan setiap kata yang keluar dari bibir mungil istri tercintanya.


"Aku minta maaf atas semua kesalahan dan kekuranganku selama kita bersama. Aku hanya berusaha untuk selalu menjadi istri dan ibu yang baik sesuai kemampuanku."


"Terima kasih atas semua cintamu, kasih sayangmu dan ketulusanmu untukku. Aku merasa sangat tersanjung, terhormat dan selalu bahagia selama kita bersama."


Bunga tersenyum dengan wajah yang tampak cerah membuat Ardi turut membalasnya dengan senyuman yang sama.

__ADS_1


"Setelah ini, jika aku pergi aku mohon jangan larut dalam kesedihan karena aku tidak ingin suamiku mengiringi kepergianku dengan air mata."


"Antarkan saja kepergianku dengan lantunan doa terbaikmu, agar perjalananku lapang menuju ke sisi Sang Maha Pencipta."


Ardi mulai berkaca-kaca dengan wajah memerah menahan kesedihan yang teramat sangat. Entah apa namanya perasaan di hatinya saat ini. Lebih dari sedih dan tak sekedar akan ditinggal pergi.


"Seperti inikah rasanya saat akan ditinggalkan selamanya, tanpa bisa kembali lagi? Mengapa rasanya begitu hampa dan sepi?"


"Mas, sebelum aku pergi, aku titipkan satu pesan penting untukmu dan Aura. Tolong penuhi permintaanku ini dan teruslah merajut kebahagiaan bersama seseorang yang terbaik, berhati tulus dan pantas untuk hidup bersama dirimu dan Aura."


Dokter kandungan handal itu menggeleng dengan cepat seolah memberi tanda bahwa dia tidak bisa melakukannya.


"Dokter Alya adalah wanita yang paling tepat untukmu, Mas. Bukan hanya untukmu, tetapi juga untuk Aura putri kecil kita. Percayalah padaku, kalian berdua akan selalu bahagia selama bersama Dokter Alya. Ingatlah ucapanku ini baik-baik."


Lagi-lagi Ardi menggeleng semakin lemah seraya menundukkan kepala dan semakin erat menggenggam tangan istrinya.


"Mungkin saat ini kamu menganggap pikiranku sedang kacau sehingga mengutarakan hal-hal yang tidak mungkin bagimu. Tapi percayalah, sebentar lagi kamu akan memahami maksud dari semua ucapanku ini."


Lelaki itu tetap memilih diam dan terus mendengarkan kalimat demi kalimat yang terus diucapkan oleh istrinya. Dia berusaha mengingat semuanya dengan baik di dalam hati dan pikirannya.


"Apa pun itu, aku akan mendengarkan semua permintaanmu yang bagiku tidak masuk akal. Namun untuk melakukannya, aku tidak ingin memikirkannya sama sekali. "


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2