
Menjelang subuh Indra terbangun. Dilihatnya sang istri masih tertidur pulas dalam posisi yang tidak berubah sejak awal, memeluk tubuhnya dan berbantalkan lengannya.
Rasa kebas di lengan atasnya terabaikan saat menatap wajah tenang Rizka yang dihiasi seulas senyum tipis di sudut bibirnya.
"Aku mencintaimu apa-adanya, Sayang. Jangan pernah berubah dan tetaplah menjadi istri kesayanganku yang selalu menggemaskan."
Pelan-pelan Indra mencium puncak kepala istrinya dengan senyum bahagia yang mengembang sempurna di bibirnya.
Masih terbayang indah dalam ingatannya, saat semalam mereka memulai kedekatan fisik yang lebih dari sebelumnya.
Pelukan erat yang seolah tak ingin saling dilepaskan, menambah hangatnya suasana penyatuan bibir mereka yang penuh kelembutan dan kasih sayang.
Tak ada lagi yang mereka lakukan semalam selain terus berpelukan dan berciuman mesra untuk menikmati malam pertama mereka sebagai pasangan pengantin baru.
Setelah itu, mereka beristirahat dan tidur bersama untuk pertama kalinya, tanpa melakukan ritual malam pertama sebagaimana lazimnya.
Indra dan Rizka sepakat untuk melakukannya di saat mereka telah siap sepenuhnya lahir dan batin. Tanpa tekanan, tanpa keterpaksaan, tanpa rasa takut dan cemas lagi.
Rizka yang merasakan sentuhan hangat di keningnya, perlahan membuka mata dan menyadari jika suaminya pun telah terbangun lebih dulu.
"Kak ...."
Suara lirihnya terdengar berat karena baru saja terbangun dari tidurnya. Tidur nyamannya di pelukan lelaki yang teramat dicintai, yang telah resmi menjadi suaminya kini.
Kepalanya terangkat ke atas, menatap wajah Indra yang dihiasi senyuman bahagia, menyambut istrinya yang telah terbangun di pagi pertama mereka sebagai suami-istri.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati, lelaki itu menarik tangannya dari bawah kepala sang istri dan menggantinya dengan bantal yang ada di atasnya.
Tubuhnya sedikit terangkat denga posisi miring menghadap ke arah tubuh Rizka yang sudah telentang di sampingnya.
Tangan Rizka memeluk pinggang suaminya, dengan tangan kiri Indra yang juga melingkar di atas perutnya. Sementara tangan kanan lelaki itu membelai wajahnya dengan sentuhan ujung jemarinya.
"Selamat pagi, Sayang." Satu ciuman pembuka pagi berlabuh di kening Rizka dan dilanjutkan dengan kecupan singkat di bibirmya.
"Selamat pagi, Kak." Rizka menjawab dengan wajah meronanya.
"Maaf aku jadi membangunkanmu. Padahal tidurmu masih sangat pulas tadi."
Indra menepikan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya dan merapikannya di belakang telinga. Diciumnya kedua pipi ranum Rizka bergantian, membuat seluruh wajah wanita muda itu semakin memerah dan menghangat.
"Aku sudah terbiasa bangun sepagi ini, Kak. Lagi pula sekarang aku sudah menjadi istrimu. Aku harus belajar menjadi istri yang baik dan menyiapkan seluruh keperluan harianmu."
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertian dan perhatianmu." Sekali lagi Indra mencium kening istrinya dengan setulus hati.
Kemudian dia menarik tubuhnya menjadi duduk, diikuti oleh Rizka di sampingnya.
"Kita bersiap-siap untuk jamaah Subuh dulu, Sayang."
Rizka mengangguk lalu menggeser tubuhnya sampai ke tepi tempat tidur untuk kemudian berdiri. Dari sisi yang berlawanan Indra pun telah berdiri untuk bergantian menyucikan diri di kamar mandi.
Setelah keduanya siap dan waktunya telah tiba, mereka segera menunaikan Subuh pertama mereka dengan hati yang diliputi ketenangan dan kebahagiaan.
.
.
.
Di kota lain, di dalam kamarnya, Alya melipat sajadah dan mukenanya lalu diletakkan di atas bangku kecil di dekatnya.
Akhirnya dia bisa tidur nyenyak di dalam kamar yang sudah ditinggalkannya selama hampir satu minggu.
Hari ini dia masuk kerja siang hari, sehingga dia memilih untuk membaringkan kembali tubuhnya di atas tempat tidur.
Beberapa berita terbaru muncul di beranda akunnya, termasuk berita dan foto kegiatan seminar yang diikutinya kemarin.
Saat jari telunjukkan bergerak di atas layar untuk melihat-lihat berita yang lainnya, mata indahnya terpaku menatap sebuah foto yang langsung menyita perhatiannya di antara beberapa foto yang lainnya.
"Ardi ...." Bibirnya bergumam menyebut lirih nama mantan kekasihnya.
Alya menepikan jarinya lalu memperhatikan foto itu dengan lebih seksama. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Ardi yang dengan cepat segera disimpannya ke dalam galeri ponsel.
Foto itu diambil saat Ardi berada di atas panggung dan tengah menyampaikan materinya di hadapan ratusan dokter muda berprestasi yamg menjadi peserta seminar profesi nasional tersebut.
"Aku sengaja tidak memotretmu di sana agar tidak lagi mengingatmu setelah pulang. Tapi sekarang, aku justru mendapatkan fotomu yang sangat menawan ini."
Alya tahu, tidak seharusnya dia menyimpan foto lelaki yang sudah menjadi suami dari wanita lain, meskipun tak pernah ada niatan sedikit pun di hatinya untuk mengambil Ardi dari istrinya.
"Maafkan aku, Di. Sungguh aku tak punya maksud apa-apa. Aku berharap setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi, agar hatiku tenang kembali dalam kesendirian ini, dan dirimu pun tetap menggenggam kebahagiaanmu bersama keluarga kecilmu di sana."
Alya tersenyum memandangi senyum Ardi di foto itu. Senyuman yang dulu selalu ada untuknya, senyuman yang selalu menenangkan hatinya setiap kali mereka bersama.
Kini senyuman itu bukan lagi untuknya, bukan lagi miliknya. Senyuman itu telah tertuju untuk wanita lain yang telah dicintai lelaki itu sekarang dan selamanya.
__ADS_1
"Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu, Di. Setulus hatiku, hanya itu yang aku harapkan darimu setelah perpisahan kita dulu. Bahagiamu adalah bahagiaku juga."
Sementara itu, Ardi yang tengah berkumpul bahagia bersama Bunga dan Aura di kamar mereka, tiba-tiba teringat akan Alya dalam selintas pikirannya baru saja.
Lelaki itu seperti merasakan jika dirinya juga tengah diingat oleh Alya. Kepekaan perasaannya tak pernah salah, jika itu tentang mantan kekasihnya.
"Ada apa denganmu di sana, Al? Apakah kamu juga sedang memikirkan diriku?"
Ardi menghela nafas panjang untuk menghalau pikiran yang tak semestinya tersebut. Lelaki itu sadar sepenuhnya, kehidupannya sekarang adalah Bunga dan Aura, bukan lagi Alya.
"Apakah perasaanku benar, jika ada sesuatu yang selalu kamu sembunyikan dari aku selama ini? Tapi tentang apa?Hal burukkah itu, Al?"
Dengan terus menimang Aura dalam dekapan tangannya, Ardi berusaha menepis kegalauan hatinya tentang wanita yang seharusnya tak pernah dia pikirkan lagi.
"Meskipun aku tidak tahu apakah perasaanku ini benar atau salah, tapi aku harap kamu selalu baik-baik saja di sana, Al. Semoga Allah selalu menjagamu dalam kebaikan dan kebahagiaan selamanya."
Ardi tersenyum saat istrinya merapatkan tubuhnya dari belakang. Disingkirkannya jauh-jauh kekhawatiran dan pikiran buruk tentang Alya.
"Ada apa, Sayang? Mengapa memelukku seerat ini? Apakah kamu cemburu pada putri cantik kita, yang selalu aku dekap, aku peluk dan aku ciumi setiap waktu?"
Tangan kanannya terangkat ke atas lalu mengusapi kepala Bunga yang bersandar di bahunya.
"Mana mungkin aku cemburu pada anakku sendiri, Mas. Kalaupun aku cemburu, pastinya aku akan cemburu pada wanita lain yang mungkin saja sedang kamu pikirkan."
Deggg...!!! Jantung Ardinya berdegup kencang mendengar ucapan istrinya yang sebenarnya hanya bermaksud candaan semata, tanpa tahu apa yang sebenarnya tengah dipikirkannya.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1