
Usai menggelar ramah-tamah dan jamuan makan siang di perusahaan, menjelang sore harinya Nara dan Yoga telah bersiap-siap untuk pulang.
"Aku sudah siap, Mas."
Nara keluar dari ruang pribadi suaminya dengan tas dan ponsel yang sudah dibawanya. Yoga segera menyimpan ponselnya dan berdiri menyambut istrinya, lalu mereka pun segera melangkah bersama.
Turun dari lift dan berjalan menuju lobi depan, langkah mereka terhenti saat tiba-tiba tubuh Nara limbung dan jatuh tak sadarkan diri di samping Yoga.
"Sayang! Nara sayang, bangunlah!"
Yoga jatuh terduduk menahan agar tubuh istrinya tidak sampai menyentuh lantai. Nara terkulai lemah di pangkuannya.
"Ben, kita ke klinik Ardi sekarang!"
Beno yang semula berjalan mengikuti, segera berlari menuju mobil yang sudah disiapkan Pak Budi di luar lobi.
"Pak, kita ke klinik Dokter Ardi. Ibu Nara pingsan."
Tanpa banyak bertanya Pak Budi langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, sementara Beno sudah membuka lebar pintu bagian belakang.
Yoga yang sudah membopong tubuh istrinya yang pingsan datang dan masuk ke dalam mobil dengan hati-hati. Wajahnya tegang dan penuh kekhawatiran.
Setelah menutup pintu, Beno segera duduk di kursi depan dan mobil pun melaju cepat meninggalkan halaman gedung.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai tepat di depan pintu masuk klinik. Beno segera keluar dan membukakan pintu untuk atasannya.
Yoga keluar dan bergegas membawa istrinya ke ruangan Ardi tanpa peduli keadaan sekitarnya.
"Di, tolong periksa istriku! Tiba-tiba dia pingsan seperti ini."
Ardi yang sudah dihubungi oleh Beno dalam perjalanan tadi, telah mengosongkan ruangannya dari antrian pasien yang langsung dialihkan pemeriksaannya ke ruang pemeriksaan dokter yang lain.
Yoga menurunkan tubuh istrinya di atas pembaringan dengan sangat hati-hati. Ardi segera melakukan pemeriksaan umum untuk mengetahui penyebab pingsannya Nara.
Seorang perawat membantunya untuk memeriksa suhu tubuh dan tekanan darah Nara, sementara Ardi beberapa kali meraba bagian perut wanita itu dengan seksama.
"Apakah akhir-akhir ini dia pernah mengeluhkan sesuatu tentang kondisi tubuhnya?" tanya Ardi dengan tatapan yang tertuju ke arah sahabat kecilnya yang masih terlihat panik dan tegang.
"Tidak pernah. Entahlah, aku tidak tahu, Di."
Yoga berpikir mungkin Nara belum menceritakan kepadanya karena mereka tinggal berjauhan selama dua bulan ini, dan dia hanya pulang seminggu sekali bahkan sampai dua minggu sekali.
"Ada apa dengan istriku? Apa aku perlu membawanya ke rumah sakit?"
__ADS_1
Dokter sahabat Yoga itu menggeleng dengan cepat dengan tangannya yang mulai menyiapkan pemeriksaan ultrasonografi untuk Nara.
"Aku belum yakin dengan dugaanku. Sebaiknya kita pastikan saja segera untuk mengetahuinya."
Perawat membantu menyingkap pakaian Nara dan menyelimuti bagian bawah tubuhnya. Setelah bagian perutnya diolesi gel, Ardi mulai melakukan pemeriksaan sambil menatap layar monitor di hadapannya.
Yoga tidak banyak bicara dan tidak ingin menduga-duga. Pandangannya terus tertuju pada wajah pucat Nara yang masih belum sadarkan diri.
Ardi menghela nafas panjang dengan sedikit gusar. Dia ragu untuk menyampaikan hasil pemeriksaannya pada sang sahabat.
Yoga yang menyadari sikap Ardi semakin tak sabar dan mendesak lelaki itu.
"Katakan, Di! Bagaimana keadaan istriku?"
Ardi terdiam sejenak dan mencari kata-kata dan kalimat yang tepat untuk menyampaikannya pada Yoga.
"Nara hamil, tapi aku belum menemukan adanya janin di dalam kantong kehamilannya. Hasil sementara dari pemeriksaanku tadi, istrimu mengalami kehamilan kosong atau yang lebih dikenal dengan istilah blighted ovum."
"Kehamilan seperti ini akan berakhir dengan keguguran, karena memamg tidak ada janin yang berkembang di dalam rahim."
Yoga merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Dia menguatkan diri dengan berpegangan pada tepian pembaringan.
Sorot matanya meredup dan berubah sendu, menatap sang istri yang masih terkulai lemah di sampingnya.
"Selain itu, aku juga menemukan sebuah kista di sekitar rahimnya."
"Tidak. Sepertinya itu adalah kista kehamilan yang tidak berbahaya. Nanti kita akan melakukan pemeriksaan ulang setelah kondisi Nara membaik."
Saat perawat tengah merapikan kembali pakaian Nara, wanita itu mulai siuman dan membuka matanya. Yoga segera mendekat dan menundukkan wajahnya di hadapan wajah sang istri.
"Mas ..., aku di mana? Aku kenapa?" Nara menatap wajah suaminya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Dia melihat keberadaan Ardi dan seorang perawat di samping pembaringannya dan mulai menyadari keberadaannya saat ini.
"Aku kenapa, Mas? Ada apa, Dok?"
Dengan pandangan yang sudah terang dan jelas sepenuhnya, Nara menatap Yoga dan Ardi bergantian. Namun tiba-tiba dia meringis kesakitan dan memegangi perutnya.
"Mas ..., perutku sakit. Rasanya nyeri seperti kram ...."
Yoga kembali panik dan menatap Ardi dengan tajam, seolah meminta sang dokter segera mengambil tindakan untuk menghilangkan kesakitan istrinya.
Ardi meminta perawat untuk menyiapkan sejumlah obat dari bagian apotik, sementara dia menyiapkan sebuah suntikan untuk meredakan rasa sakit di perut Nara.
__ADS_1
Dengan cermat disuntikkannya cairan injeksi melalui lengan Nara yang masih kesakitan dan berpegangan pada lengan suaminya.
"Jangan khawatir, kamu akan baik-baik saja, Ra." Ardi mencoba tersenyum dan menenangkan istri dari sahabat kecilnya itu.
"Tenangkan dirimu, Sayang. Ada aku di sini yang akan selalu bersamamu."
Yoga mencium kening istrinya dengan hati berkecamuk. Di satu sisi dia mencoba untuk tetap terlihat tenang di hadapan Nara, sementara di hatinya rasa gelisah dan ketakutan itu sudah mulai melemahkannya.
Penjelasan dari Ardi yang baru saja didengarkan, tak pelak membuatnya dirundung kesedihan. Dan dia masih belum tahu, harus bagaimana cara menyampaikannya pada Nara.
"Mas ...." Suara lirih Nara menyadarkan Yoga yang segera melepaskan ciumannya dan menarik wajahnya. Dia kembali menampakkan senyumannya meskipun di dalam hati didera perasaan serba salah.
Perawat sudah kembali dan membawa sejumlah obat yang diminta oleh Ardi. Bersama sang perawat, Ardi memilah-milahnya dan dibungkus terpisah dengan label aturan pakainya masing-masing.
"Ini obat yang harus diminum Nara sampai habis. Setelah itu, kalian bisa kembali kemari untuk pemeriksaan selanjutnya."
Yoga menerima kantong yang berisi obat-obatan untuk istrinya. Masih ada yang mengganjal di hatinya sebab pembicaraan mereka tadi belum selesai.
"Bagaimana dengan ...?" Yoga tak melanjutkan ucapannya saat dilihatnya Ardi sudah menganggukkan kepala.
"Kita tunggu minggu depan, setelah obat itu habis. Barulah nanti aku bisa menentukan langkah yang harus kita ambil selanjutnya."
Nara turut mendengarkan dengan wajah bingung dan sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh kedua sahabat kecil tersebut.
Meskipun merasa tidak puas dengan jawaban Ardi, Yoga memilih untuk mengikuti apa yang diminta oleh dokter itu.
"Setelah kondisinya membaik dan perutnya tidak terasa sakit lagi, kalian bisa pulang dan Nara harus terus beristirahat dan jangan banyak bergerak dulu!"
Yoga memandangi istrinya dengan rasa pilu. Diusapinya kepala Nara dengan haru seraya menahan sesak di dalam dadanya.
"Maafkan aku, Sayang. Mungkin apa yang aku katakan nanti akan membuatmu kembali merasakan kesedihan dan kehilangan seperti dulu lagi ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.