CINTA NARA

CINTA NARA
90 MEMULAI DARI AWAL


__ADS_3

"Ga ...."


Di tengah suasana yang semakin syahdu, Nara mulai tersadar akan sesuatu dam memanggil nama suaminya.


Namun Yoga yang telah terhanyut dalam cumbuan pertamanya pada sang istri, salah kira dengan suara lirih Nara yang memanggilnya.


Dia terus menyusuri wajah Nara dengan ciuman lembut di bibir, dagu dan telinga. Kemudian mulai turun ke leher dan bahu terbuka istrinya.


"Ga ...!"


Suara Nara yang bernada tinggi dan lebih keras dari sebelumnya membuat Yoga menghentikan cumbuannya. Dia menarik wajahnya yang sudah memerah dan menatap mata bening Nara dengan nafas yang masih memburu.


"Jangan sekarang ...." Suara Nara tertahan seolah ragu untuk mengatakannya. Dia takut Yoga akan marah dengan penolakannya.


Roman muka lelaki itu berubah seketika. Bukan karena kekecewaan atau kemarahan atas sikap istrinya, akan tetapi sadar akan sikapnya yang melewati batas, meskipun itu bukan suatu kesalahan.


"Maaf, Sayang. Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan diri hingga aku melewati batasanku ...."


Yoga mencium kening Nara lalu memindahkan tubuhnya dari atas sang istri dan duduk di sampingnya. Berulang kali dia mengusap wajahnya dan membuang nafas dengan kasar.


"Bukan maksudku menolakmu, Ga. Tapi ...." Nara masih bimbang tapi berusaha untuk berani menyampaikan keinginannya.


Dia bangun dan duduk di samping Yoga yang masih terlihat menyesali perbuatannya. Dipegangnya lengan Yoga dengan kedua tangan, lalu memaku tatapannya pada wajah rupawan itu.


"Aku hanya ingin kita memulai semuanya dari awal. Aku ingin membuka hatiku dengan lembaran baru bersamamu. Sebab itu, aku ingin kita melakukan semuanya secara bertahap, sebagaimana layaknya pasangan biasa pada umumnya."


Yoga terpana dengan semua yang diungkapkan istrinya. Antara kagum dan bahagia karena ternyata dia mencintai wanita yang sangat luar biasa seperti Nara.


Setelah semua yang pernah dilakukannya pada Nara, ternyata dia masih mempunyai kesempatan untuk memiliki wanita itu seutuhnya.


"Sayang ..., kamu sungguh-sungguh dengan ucapanmu itu? Kamu ingin kita memulainya dari awal? Kita? Aku dan kamu?"


Nara tersenyum dan mengangguk dengan semburat malu di wajahnya. Tanpa bepikir lagi, Yoga langsung merengkuh tubuh Nara dan mendekapnya dengan sangat erat. Hatinya dipenuhi kebahagiaan karena telah membuka hati untuk dirinya.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih! Aku akan memenuhi semua permintaanmu agar kamu bersedia menerimaku seutuhnya di dalam hati dan kehidupanmu."


Merenggangkan pelukan dan mengatur jarak pandang di antara mereka, Yoga lantas menangkup wajah kesayangannya tersebut lalu kembali mencium lembut kening Nara dengan penuh syukur di dalam kalbu.


Raga seolah mengerti jika kedua orangtuanya tengah berbicara serius berdua, sehingga bayi montok itu terus tertidur pulas tanpa sering terbangun seperti biasanya.


Malam terasa berlalu lambat hingga mereka melewatinya dengan terus berbicara dari hati ke hati. Saling jujur dan terbuka, seperti apa yang Nara inginkan untuk memulai hubungan baru mereka.

__ADS_1


Tanpa kebohongan sekecil apa pun. Itu yang diinginkan Nara dalam hubungan mereka, dan itu pula yang disampaikannya pada Yoga sekarang.


"Aku tidak ingin ada kebohongan sekecil apa pun dalam hubungan kita. Jangan pernah menutupi hal apa pun, baik atau pun buruk."


Nara menyampaikan permintaannya, segala apa yang ingin dia wujudkan dalam hubungannya bersama Yoga.


"Kita harus selalu jujur dan terbuka satu sama lain. Terus menjaga dan mengutamakan komunikasi dan kepercayaan, kapan pun dan di mana pun kita berada."


Yoga menerima semua persyaratan dari Nara. Dia akan menunjukkan ketulusan perasaannya pada wanita yang sangat dicintainya itu. Bukan hanya keinginan untuk memilikinya semata, tapi dia harus bisa membahagiakan Nara dan tidak akan lagi membuatnya bersedih dan menangis.


.


.


.


Malam yang sama, di kamar dan kota yang berbeda, sepasang pengantin baru sudah beristirahat setelah menjadi raja dan ratu sehari.


Tidak seperti pengantin baru yang lain yang ingin segera menikmati malam pertama, Alan terpaksa mengikuti kemauan Sasha untuk tidak melakukannya malam ini.


Masih banyaknya keluarga besar yang menginap di rumah orangtua mereka menjadi salah satu alasan Sasha ingin menundanya, meskipun sebenarnya mereka bisa saja menikmati privasi berdua di hotel. Namun wanita itu enggan melakukannya dan Alan hanya bisa menuruti permintaan Sasha.


Akhirnya keduanya memilih untuk menghabiskan malam pertama dengan bertukar cerita dan bernostalgia tentang perjalanan cinta mereka yang sempat terpisah sepuluh tahun lamanya, tapi akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dan menyatukannya dalam ikatan suci pernikahan.


"Apa?" Alan memeluk tubuh istrinya dalam posisi duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Malam ini mereka menginap di rumah orangtua Sasha dan besok bergantian di rumah orangtua Alan.


"Mengapa dulu kamu tidak pernah menyatakan cintamu kepadaku?" Sasha tidak malu lagi bermanja pada suaminya. Dia membalas pelukan Alan dan memainkan jemarinya di dada lelaki itu.


Alan tersenyum lalu mencium kepala istrinya dengan sayang. Dia menautkan jemarinya dengan jemari Sasha yang masih berada di atas tubuhnya.


"Aku belum yakin dengan perasaanku. Apakah benar-benar cinta atau hanya ssbatas rasa suka karena persahabatan saja." Lelaki itu mempererat pelukannya.


"Setelah kamu pindah ke luar kota dan melanjutkan kuliah jauh dariku, barulah aku menyadari bahwa aku mencintaimu dan merasa sangat kehilangan dirimu waktu itu."


"Semua perasaan itu akhirnya hanya kupendam sendiri tanpa seorang pun yang mengetahuinya, hingga aku bertemu lagi denganmu dan kembali merasakan getaran indah itu di dalam hatiku."


Sasha mengangkat wajahnya dan menatap suaminya dengan pandangan penuh cinta.


"Itu pula yang aku rasakan, Lan. Dan saat mengetahui bila ternyata dirimu masih sendiri, aku berjanji pada diriku untuk berjuang mendapatkan dirimu."


"Sekarang kamu sudah mendapatkanku, Sha. Sepenuhnya aku telah menjadi milikmu, selamanya."

__ADS_1


Alan melabuhkan ciuman lembut di bibir istrinya yang disambut dengan hangat oleh Sasha. Ciuman pertama mereka sebagai suami-istri.


"Sha, ada satu hal yang masih membuatku penasaran tentang sesuatu ...."


"Apa?"


"Apa yang kamu lakukan untuk membantuku saat aku harus pelepasan waktu itu, sehingga aku tidak sampai menodaimu?"


Seketika wajah Sasha merah‐padam mendengar pertanyaan suaminya. Ingatannya langsung tertuju pada kejadian siang itu yang membuatnya hampir saja kehilangan kesuciannya.


Menundukkan kepala dalam-dalam, wanita itu menghindari tatapan Alan yang menunggu jawabannya. Alan pantang menyerah, dia memang penasaran namun dulu tidak berani menanyakannya pada Sasha.


Berbeda dengan sekarang, seharusnya mereka tidak perlu malu lagi untuk membicarakannya. Bahkan jika harus melakukannya pun, sudah tidak menjadi masalah karena mereka sudah menikah.


"Kamu laki-laki, kamu pasti lebih tahu tentang hal seperti itu." Sasha mengalihkan jawabannya kembali ke Alan.


"Baiklah, aku ganti pertanyaanku. Apa kamu sudah melihat semuanya?"


Sasha semakin malu dengan wajah yang kian memerah.


"Bisakah kamu tidak menanyakannya lagi?"


Alan tersenyum penuh kemenangan. Pertanyaannya yang terus berputar-putar membuat Sasha terjerat umpan darinya.


"Kalau begitu mari kita ulang lagi dan kita lakukan yang lebih dari itu ...."


Terkejut, Sasha menatap Alan tanpa bisa berkata-kata lagi. Alan mengunci pandangan mereka lalu perlahan menurunkan tubuh hingga keduanya berbaring bersama dan akhirnya ... malam pertama yang hampir tertunda itu terjadilah sudah.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜

__ADS_1


.


__ADS_2