CINTA NARA

CINTA NARA
2.105. BERBAGI CERITA


__ADS_3

"Lihat aku sekarang. Aku tidak akan pernah menangis lagi sampai kamu membuka matamu untukku, Mas."


Nara memandangi wajah suaminya yang masih tetap bergeming di atas pembaringan. Wajah tampan itu mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di sekelilingnya, yang selalu dibersihkan oleh Nara secara rutin beberapa hari sekali.


Hanya rambutnya saja yang masih dibiarkan tetap lebat dan mulai melebihi panjang biasanya, namun tidak sedikit pun mengurangi pesona rupawan yang dimiliki lelaki itu.


Di hidungnya terpasang selang oksigen untuk menjaga laju pernapasannya. Selain itu, terpasang pula selang makanan untuk menyalurkan makanan ke tubuhnya selama menjalani perawatan.


Selain selang infus yang terhubung dengan jarum yang tertancap di punggung tangan kirinya, sejumlah peralatan medis juga masih terpasang di beberapa bagian tubuhnya.


"Jangan lama-lama meninggalkan aku dan anak-anak, Mas. Kami sudah sangat merindukan kehadiranmu di tengah keluarga kita."


Nara tersenyum sambil membelai lembut wajah Yoga yang terus dipandanginya dari jarak dekat. Ada rindu yang teramat dalam dirasakannya di lubuk sanubari. Rindu akan semua hal yang ada di dalam diri suami tercintanya.


Akibat luka tembak di perut yang meyerangnya dalam jarak dekat, Yoga mengalami perdarahan internal yang parah yang menyebabkan terjadinya syok berat, dan pada akhirnya membuat dirinya dinyatakan koma oleh tim dokter yang menanganinya.


Saat itu, di tempat kejadian, Yoga tengah bergulat dengan Marcell dan berusaha merebut pistol di tangan lelaki blasteran itu. Tak lama kemudian, Marcell melepaskan satu tembakan ke arah Yoga yang roboh seketika di hadapannya, namun setelah itu dia pun memilih mengakhiri hidup dengan menembak dirinya sendiri.


Marcell akhirnya meninggal dunia setelah tim dokter yang menangani tidak berhasil menyelamatkan nyawanya karena salah satu tembakan yang dilepaskannya mengenai bagian jantung.


Peristiwa tragis itulah yang membuat Nara sangat terpukul dan hampir lepas kendali saat pertama kali menerima kabar tentang kondisi Yoga yang mengalami koma.


Butuh waktu beberapa hari baginya untuk bisa menerima kenyataan tersebut dan mulai bangkit dari rasa keterpurukannya.


Atas saran dokter yang diwakili oleh Alya, Nara terus didampingi oleh seorang psikolog untuk membantunya mengatasi rasa trauma yang semakin dalam dirasakannya, setelah dihadapkan pada kenyataan pilu tentang kondisi Yoga yang belum bisa diprediksi kesembuhannya.


Perlahan namun penuh keyakinan, Nara mulai bisa menerima semua yang terjadi. Meskipun kenyataan tersebut sama sekali tak pernah diharapkannya, tapi mau tak mau dia harus bisa menerimanya dengan ikhlas.


Demi Yoga dan kesembuhannya, Nara mencoba bangkit dan berdiri tegak untuk kembali menghadapi hari-hari yang harus terus dilaluinya walaupun tanpa Yoga di sisinya.


Di rumah, Nara harus menjadi ibu yang hebat untuk Raga, juga ibu yang kuat untuk calon anak di dalam kandungannya.


Beruntung selama ini, baik Nara maupun Yoga telah membiasakan Raga tumbuh menjadi anak yang mandiri dan jauh dari kata manja, sehingga saat Nara harus membagi waktu untuk banyak hal, Raga selalu bersikap manis dan penuh pengertian.

__ADS_1


"Raga juga sangat merindukanmu, Mas. Setiap aku pamit padanya untuk mengunjungimu, dia selalu menitipkan salam kangennya untukmu. Dan setiap kali aku pulang, dia juga menanyakan apakah kamu menitipkan salam rindumu untuknya."


Nara memanfaatkan setiap waktu berkunjungnya untuk berbagi cerita hariannya pada Yoga. Tak ada satu pun yang dia sembunyikan, semua dia ceritakan dengan terbuka pada sang suami tercinta.


Wanita yang terasah pengalaman untuk tegar dan tangguh itu juga mulai memantaskan diri untuk menggantikan posisi Yoga di kantor.


Dia belajar dan berusaha agar perusahaan yang mereka miliki tetap terkendali dengan baik dan terus berjalan sesuai rencana awal yang telah mereka rancang dengan rapi demi masa depan anak-anak mereka nanti.


"Hari ini ada dua perusahaan yang akan menandatangani kontrak baru dengan perusahaan kita, Mas. Mereka merasa puas dengan hasil kerjasama yang pertama sehingga meminta kita untuk kembali menjalin kerjasama dalam proyek terbaru mereka."


Nara terus bercerita tentang pekerjaannya di kantor dan beberapa pertemuannya dengan orang-orang baru, yang menjadi pengalaman pertamanya untuk mewakili nama besar sang suami di hadapan banyak orang.


"Aku tidak tahu apakah mereka puas atau kecewa dengan hasil kerjaku. Tapi aku selalu berusaha memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan demi Raga Properland dan juga Mahen Land."


Nara menatap wajah suaminya yang belum juga menunjukkan sedikit pun reaksi. Meskipun dalam hatinya ada kesedihan yang terus bergelayut, namun wanita itu tidak pernah menampakkannya di hadapan Yoga.


"Aku akan terus melakukan semuanya dengan segenap hati dan seluruh kemampuanku, karena aku yakin kamu pasti akan kembali dan menilai hasil pekerjaanku. Jadi aku tidak ingin mengecewakanmu nanti. Aku pasti bisa membuatmu bangga kepadaku, Mas."


.


.


.


Setiap kali datang, dokter kandungan itu selalu mengajak serta Bunga dan sesekali mengajak Aura agar bisa menjadi teman bermain Raga di rumah.


"Bagaimana perkembangannya, Dok? Adakah kemungkinan dia akan segera bangun dan pulih kembali secepatnya?"


Ardi menemui salah satu dokter yang menangani sahabat kecilnya. Sementara Bunga memilih untuk menunggunya di kantin rumah sakit.


"Secara medis kondisinya cukup baik dan fungsi organ dalamnya tidak mengalami penurunan. Kita hanya bisa menunggu respon positif dari pasien untuk sadar dan membuka mata."


Beberapa kali Ardi meminta dokter melakukan pemeriksaan ulang secara menyeluruh terhadap kondisi Yoga, dan hasil yang sama selalu didapatkannya. Hanya menunggu kesadarannya kembali secara bertahap.

__ADS_1


"Kemarin siang sebelum Ibu Nara datang, perawat kami melihat respon kecil pasien berupa gerakan jari tangannya saat perawat menyuntikkan obat melalui saluran infus."


Wajah Ardi berubah cerah seketika saat mendengar informasi dari dokter. Itu artinya Yoga sudah mulai menunjukkan respon positifnya.


"Tapi kami belum bisa memberitahukan kepada Ibu Nara karena ingin memastikan dulu perkembangan pasien selanjutnya. Kami tidak ingin memberikan harapan di saat semua belum bisa dipastikan kebenarannya."


Ardi mengerti maksud dari dokter tersebut. Tapi dirinya tetap bersyukur sebab setidaknya Yoga sudah menunjukkan satu kemajuan meskipun baru setitik kecil.


Setelah berkonsultasi dengan dokter, Ardi mengunjungi Yoga di ruang perawatannya. Sekilas keadaannya masih sama seperti satu minggu yang lalu, saat terakhir kali dia menemui sahabatnya.


"Aku datang lagi, Ga. Tapi mengapa kamu masih tidur saja seperti ini? Lihatlah, betapa malasnya dirimu sekarang. Apa kamu tidak ingin bangun dan memeluk sahabatmu ini?"


Ardi selalu melontarkan pernyataan yang diharapkannya bisa menggugah hati Yoga untuk memberikan respon positif. Dia berharap sang sahabat bisa secepatnya bangun dan sembuh seperti sedia kala.


"Ayo, Ga! Kamu adalah lelaki yang kuat dan tidak mudah menyerah. Ingat Nara, Ga. Dia sangat membutuhkan kehadiranmu di sampingnya. Dia benar-benar wanita yang kuat dan hebat. Jangan biarkan dia menyerah karena kehilangan separuh nyawa hidupnya, yaitu dirimu!"


Ardi menepuki bahu Yoga dengan pelan seolah ingin memberikan kekuatan dan semangat agar lelaki itu bangkit dan berjuang untuk kembali.


"Segeralah pulang karena kamu harus menjaga keluargamu. Mereka sudah terlalu lama menunggumu dalam ketidakpastian. Kamu harus secepatnya kembali bersama Nara dan anak-anak kalian!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2