CINTA NARA

CINTA NARA
2.58. MEMBERI PELAJARAN


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, dua orang petugas kepolisian datang menemui Alya di ruang perawatannya. Setelah mendapatkan ijin dari dokter, mereka masuk dan mulai melaksanakan tugas untuk meminta keterangan dari Alya selaku korban.


Kali ini Alya tidak sendiri, dia didampingi oleh Nara yang datang bersama Yoga dan seorang pengacara. Yoga hanya berjaga-jaga saja karena belum ada yang tahu apa keputusan Alya atas adanya laporan kasus ini.


Jika Alya berubah pikiran dan menghendaki untuk melanjutkan kasusnya yang sudah telanjur masuk ke ranah penyelidikan tersebut, maka sudah ada pengacara yang akan mendampinginya untuk membantu langkah hukum selanjutnya.


Setelah hampir satu jam lamanya melakukan tanya-jawab dengan petugas guna melengkapi berkas laporan yang diperlukan, akhirnya Alya menyampaikan keputusannya atas kasus yang telanjur diproses oleh pihak yang berwajib tersebut.


"Saya akan melanjutkan kasus ini dan akan membuat laporan resmi atas tindakan Riko kepada pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti dan diproses sebagaimana prosedur yang berlaku."


Nara dan Yoga tersenyum lega begitu mendengar keputusan Alya yang sangat mereka nantikan.


Yoga pun segera mepersilakan pengacara yang sudah diajak serta olehnya untuk mulai melaksanakan tugasnya dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian guna mengikuti langkah selanjutnya.


"Dokter sudah mengambil keputusan yang tepat. Kami berada di pihak Anda dan akan selalu mendampingi ke depannya."


Nara mengusapi bahu Alya lalu memeluknya dengan erat untuk menunjukkan dukungan dan kekuatan kepada dokter berhijab anggun tersebut.


"Terima kasih, Ra. Semoga langkah yang aku ambil ini tepat dan akan membawa kebaikan untuk kita semua."


"Aamiin ...!!!"


Nara melepaskan pelukannya dan Alya mengalihkan pandangannya ke arah Yoga yang berdiri tenang di samping istri tercintanya.


"Terima kasih atas seluruh bantuannya, Pak Yoga. Saya sungguh sangat menghargainya."


Kedua tangan Alya saling menangkup di depan dada, memberikan salam hormat kepada Yoga yang membalasnya dengan anggukan kepala.


"Sama-sama, Dokter."


Lepas sudah satu beban yang dirasakan Alya di dalam hatinya. Meskipun setelah ini dia masih harus menghadapi banyak hal yang akan menguras energi dan pikirannya, namun tekadnya sudah bulat umtuk mengambil tindakan tegas kali ini.


Tentang orangtuanya dan orangtua Riko, dia akan memberikan penjelasan agar tidak ada lagi kekhawatiran dan kesalahpahaman di antara kedua keluarga mereka.


.


.

__ADS_1


.


Siang harinya, tanpa Alya ketahui sebelumnya, kedua orangtuanya dan juga orangtua Riko datang didampingi oleh Miko, kakak sulung Riko.


Banjir air mata tumpah-ruah di ruangan Alya karena wanita itu berkali-kali meminta maaf kepada Papa dan Mama, terlebih lagi kepada orangtua Riko.


"Maafkan saya, Ayah dan Ibu. Saya terpaksa mengambil keputusan ini karena Riko sudah bertindak melewati batas kesabaran saya. Sungguh saya tidak bermaksud untuk mempermalukan keluarga kita. Saya hanya ...."


Kalimat terakhir Alya terputus oleh ucapan Ayah Riko.


"Kami mengerti, Al. Kami tidak menyalahkanmu dan kami tidak marah kepadamu."


Jawaban dan sikap bijak dari Ayah justru membuat Alya menangis kian tersedu dengan wajah yang semakin merah padam dan berurai air mata.


"Maafkan saya, maaf ...." Alya masih terus meminta maaf dengan suara isakan yang semakin membuat nafasnya tersengal-sengal.


Ibu Riko menghampiri dan memeluknya dengan sikap tenang dan berusaha menenangkan putri angkat yang juga mantan menantunya tersebut.


"Ssttt ..., jangan meminta maaf lagi. Kamu tidak bersalah, Al. Kami memahami posisi dan keadaanmu." Ibu terus mengusapi punggung Alya dengan air mata tertahan di pelupuknya.


Sebelum Miko mengiyakan permintaan ayahnya, buru-buru Alya mencegah lelaki lanjut usia itu agar tidak menemui Cindy dalam kondisi penuh amarah.


"Ayah, saya mohon, jangan menemuinya sekarang. Tenangkan dulu diri Ayah. Kasihan Cindy jika Ayah datang hanya untuk memarahinya."


Tangisan Alya terhenti begitu saja saat dirinya mulai mencegah Ayah untuk mengurungkan niatnya menemui Cindy.


"Jangan melampiaskan kemarahan Ayah kepada Cindy. Dia sedang mengandung anaknya Riko, calon cucu Ayah."


Seketika semua mata tertuju pada Alya. Diam, hening, tanpa suara, tanpa kata.


Alya pun turut terdiam menyadari bahwa dirinya telah membuka rahasia Riko yang seharusnya bukan menjadi haknya untuk bercerita.


"Apa? Apa yang baru saja kamu katakan tadi, Al?" Ibu lebih dulu menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari tahu kebenaran dari ucapan putri angkatnya.


Mendadak Alya merasakan kepalanya sangat sakit. Mungkin karena terlalu banyak aktivitas yang dilakukannya sejak pagi tadi sehingga membuat emosi dan pikirannya terkuras untuk mengingat dan bercerita ulang kepada petugas kepolisian dan saat ini kepada keluarganya.


"Emm ..., maaf, seharusnya bukan hak saya untuk menyampaikan kabar bahagia ini. Tapi memang benar, Cindy istrinya Riko saat ini tengah mengandung dan usia kehamilannya sudah lima bulan."

__ADS_1


Alya melihat perubahan di wajah Ibu dan Ayah. Ketegangan mereka mereda dan berganti dengan gurat bahagia kendati masih tampak samar.


"Ayah dan Ibu akan mendapatkan cucu dari Riko. Jadi saya mohon, jangan memarahi Cindy karena dia juga tidak bersalah dalam masalah kami. Dia wanita yang baik dan hanya patuh menuruti kemauan Riko."


Alya akhirnya menceritakan semuanya. Tentang Cindy, tentang hubungannya dengan Riko yang sudah terjalin sejak remaja dulu, juga tentang kesetiaannya mendampingi Riko dengan segala sikap dan sifat Riko yang arogan dan keras kepala.


Bagi Alya, kesalahan Cindy hanya satu, yaitu saat wanita itu masih bersedia menerima Riko dan menjalin hubungan terlarang di saat Riko dan dirinya masih terikat tali suci pernikahan.


Alya terus meyakinkan kedua orangtua Riko bahwa Cindy adalah menantu yang baik meskipun penampilannya masih terbuka dan sering mengumbar kemolekan tubuh indahnya. Semua itu dia lakukan karena Riko menyukainya dan meminta istrinya berpenampilan demikian.


"Jadi saya mohon, jangan marah dan menyalahkan Cindy. Karena bagaimanapun juga, sekarang dia adalah menantu Ayah dan Ibu."


"Dia juga yang sebentar lagi akan menjadikan Riko seorang ayah dari bayi perempuan yang masih berada dalam kandungannya. Cucu kedua Ayah dan Ibu, setelah Mas Miko memberikan cucu pertama laki-laki."


Sebenarnya Alya pun tidak tega dan sangat berat hati saat memutuskan untuk melaporkan Riko atas perbuatannya yang menyebabkan kedua kakinya mengalami patah tulang dan harus rela menggunakan kursi roda selama masa pemulihannya nanti.


Namun dia tetap melakukannya demi memberi pelajaran dan membuat Riko jera sehingga akan berpikir ulang jika ingin melakukannya lagi kelak.


Demi menjaga nama baik kelurga mereka, Alya pun sudah meminta pihak kepolisian dan pengacaranya untuk menyelesaikan kasus tersebut secara diam-diam tanpa perlu diketahui oleh pihak luar apalagi khalayak umum.


"Bagaimanapun juga, kamu pernah singgah dalam kehidupanku dan menjadi bagian dari masa laluku. Aku tidak bermaksud buruk terhadapmu. Aku hanya ingin kamu sadar dan memperbaiki sikap dan perilakumu, terlebih sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2