
"Doakan yang terbaik untuknya. Aku tahu kamu pasti terkejut dan merasa sangat kehilangan, karena kedekatan kalian selama ini. Semoga di sana dia juga bisa menemukan kebahagiaannya."
Ardi menenangkan Alya yang masih meneteskan air mata. Wanita yang sudah menjadi istrinya itu terlihat begitu sedih saat menatap kepergian Rendy, hingga sosoknya menghilang dari jangkauan pandangan mereka.
Lelaki itu memang sengaja pamit di saat semua tamu sudah pulang. Setidaknya di saat Alya menjadi sedih seperti ini, sudah tidak ada lagi tamu yang melihatnya. Hanya keluarga Yoga saja yang masih terlihat berbaur bersama keluarga Ardi dan Alya.
Ardi menuntun istrinya untuk duduk kembali dan memberinya segelas air putih. Alya menghabiskan separuh isinya lalu meletakkan gelasnya di atas meja kecil di tepi pelaminan.
"Maafkan aku, Di. Maaf jika aku melukai hatimu dengan kesedihanku ini. Tapi ...." Ardi menggeleng dan menghentikan ucapan sang istri.
"Ssttt ...! Aku bisa memahaminya, Al. Jangan merasa bersalah karena semua ini," ucapnya seraya menyeka air mata Alya dengan ujumg jemarinya.
Alya memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut itu di wajahnya. Kesedihan bercampur ketakutan, karena sentuhan Ardi lagi-lagi masih membuatnya teringat akan sesuatu yang buruk yang sering dia alami dari Riko. Namun dia terus berusaha untuk menepis bayangan buuruk itu.
"Dia pasti pergi karena aku. Aku mengenalnya. Sejak dulu tawaran seperti itu selalu ditolaknya karena dia tidak ingin pergi jauh dariku. Sekarang tiba-tiba dia memutuskan untuk mengambil pilihan itu. Dia pasti kecewa dan sangat terluka karena aku ...."
Ardi memikirkan hal yang sama dengan Alya. Mencintai tanpa balasan memang menyakitkan. Namun tetap berada di dekatnya dan melihat orang yang dicintai bahagia bersama yang lain, pasti jauh lebih menyakitkan dan menambah perihnya luka di hati.
"Dia pasti akan baik-baik saja di sana, Al. Seiring berjalannya waktu, lambat-laun dia pasti bisa menyembuhkan diri. Dia adalah lelaki yang baik. Allah pasti akan memberikan banyak hal baik pula kepadanya."
Alya mengangguk dan mulai bisa tersenyum lagi. Dia tidak ingin berlama-lama larut dalam kesedihan. Terlebih di hari bahagia pernikahannya dengan Ardi, satu-satunya lelaki yang dia cintai selama ini.
Melihat Alya sudah terlihat tenang, Yoga mengajak seluruh keluarga besarnya untuk mendatangi pelaminan. Bersama mereka ada Bapak, Ibu, Indra dan Rizka juga Inka bayi cantik mereka.
Sementara Gana digendong oleh Yoga, Raga dan Aura berjalan sendiri dalam pengawasan Nara. Kedua bocah kecil yang terpaut usia dua tahun tersebut, sedari tadi terus berlarian dan bermain bersama dengan riang.
Usai mengucapkan selamat, mereka bergantian melakukan pemotretan bersama pengantin yang tengah diliputi kebahagiaan. Setelah orangtua dan adiknya kembali ke tempat duduk, Yoga dan keluarga kecilnya memposisikan diri di samping Ardi dan Alya untuk diambil gambarnya oleh beberapa fotografer.
Raga dan Aura berdiri di bagian depan dengan gaya sesuka hati. Mereka bergandengan tangan dengan riang. Bahkan sesekali Raga merangkul Aura dengan sayang. Tingkah lucu dan polos keduanya membuat orangtua mereka tertawa lepas bersama-sama.
.
__ADS_1
.
.
"Sayang, lusa aku harus pergi ke Mahen Land. Ada pertemuan tahunan dengan beberapa perusahaan yang sudah lama bekerja sama dengan kita." Yoga keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah yang sebelumnya telah disiapkan oleh sang istri.
Usai menidurkan Raga dan Gana yang kelelahan usai seharian berada di rumah Ardi dan Alya, Yoga dan Nara pun membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Adakah yang bisa aku bantu untuk mempersiapkan keperluan ynag harus kamu bawa, Mas?" tanya Nara dengan pandangan yang masih tertuju pada cermin meja rias di hadapannya. Wanita itu tengah membersihkan sisa riasan di wajah cantiknya.
"Tidak, Sayang. Di sana Beno sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Aku hanya perlu datang dan menemui para tamu yang akan hadir."
Yoga menghampiri lalu membungkuk dan memeluk istrinya dari belakang. Dia melabuhkan ciuman hangat di ujung kepala dan turun di pipi Nara, hingga memunculkan semburat merah pada bagian wajah yang telah polos tanpa riasan tersebut.
Nara masih melanjutkan kesibukan sementara Yoga sudah melepaskan pelukan singkatnya. Dia mengambil sisir lalu dengan penuh perhatian mengurai rambut panjang Nara yang masih tergelung di bagian belakang. Perlahan dan hati-hati, lelaki penyayang keluarga itu mulai menyisir mahkota hitam legam milik Nara dan merapikannya dengan penuh kasih sayang.
Dari pantulan bayangan di cermin, Nara tampak tersenyum bahagia memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh sang suami. Sesekali pandangan mereka bertemu saat sama-sama menatap cermin, kemudian melepaskan senyuman penuh cinta.
Nara mengangkat tangan kanan dan meraih wajah Yoga untuk dibelainya dengan sayang. Terlihat olehnya, lelaki itu memejamkan mata lalu sedikit berpaling untuk mencium telapak tangan sang istri yang masih menyentuh permukaan wajahnya. Seketika hati Nara pun dipenuhi keharuan.
"Cara sederhanamu nyatanya justru membuatku semakin luluh dalam kenyamanan dan akhirnya hati ini tak bisa lagi berpaling darimu. Kamu segalanya bagiku, Mas. Aku sangat mencintaimu."
Nara mengambil sisir dari tangan Yoga dan meletakkan di atas meja. Kemudian dia berdiri dan berbalik badan lalu menghambur ke dalam pelukan lelaki tercintanya. Meskipun terkejut, lelaki itu segera membalasnya.
Dipeluk dengan erat tubuh wanita kesayangannya. Yoga mengusapi kepala Nara dengan banyak doa yang terpanjat begitu saja setiap kali mereka berpelukan. Entah mengapa terselip rasa ragu untuk pergi ke kota kelahirannya dan meninggalkan Nara bersama kedua putra kebanggaan mereka.
"Sayang, ada apa?" tanya Yoga. Tangannya semakin erat memeluk sang istri kala merasakan tubuh wanita itu bergerak pelan, menangis terisak.
"Aku tidak tahu, Mas. Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Biarkan seperti ini dulu sampai hatiku merasa lebih baik lagi." pinta Nara dengan suara lirih, seraya menyamankan dekapannya. Dia masih berusaha untuk meredakan tangisan agar tidak membuat suaminya kian cemas.
Yoga semakin bimbang saat mendengar ucapan Nara yang seolah mengamini perasaan yang baru saja menyisip di relung sanubarinya. Semakin erat pelukannya, semakin rasa itu hinggap di hatinya. Ada sesuatu yang seolah bertentangan dengan keharusannya untuk berangkat dua hari lagi.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin aku pergi? Kalau kamu memintanya, aku akan membatalkan rencana lusa. Aku akan tetap di sini jika itu bisa membuatmu tenang, Sayang."
Nara tak ingin mengatakan apa pun, hanya semakin mengeratkan pelukan. Apa yang sebenarnya dia rasakan, wanita itu pun tak mengerti. Akhirnya dia memilih diam, tanpa menjawab pertanyaan sang suami.
"Sebaiknya kita beristirahat dulu bersama anak-anak. Mungkin kita sama lelahnya dengan mereka, sehingga pikiran juga menjadi tidak tenang," ucap Yoga seraya merenggangkan pelukan mereka.
Nara mengangguk dan menampakkan senyuman kecil di bibir manisnya. Yoga mencium kening sang istri sebelum mereka beranjak ke atas tempat tidur, dan sejenak melelapkan diri bersama kedua buah hati.
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.