
Sore hari di pemakaman Dina. Jam di pergelangan tangan Nara menunjukan pukul lima sore. Langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung. Kemudian rinai hujan datang membasahi bumi, membasahi tanah tempat Dina di makamkan. Membasahi tanah kubur yang masih basah.
Semesta seakan turut merasakan kesedihan orang - orang yang di tinggalkan Dina. Mereka satu persatu meninggalkan kuburan Dina. Kepergian mereka di iringi air hujan yang tadinya hanya gerimis lambat laun menjadi deras. Kepergian orang terkasih, kepergian orang baik. Orang baik yang di sayang Allah, orang baik yang cepat di panggil Allah ....
Prosesi penguburan jenazah telah usai. Setelah pulang dari pemakaman. Nara sekeluarga menginap di rumah papanya. Begitu juga dengan Angga. Ia ikut menginap.
Nara dan ibu sengaja tidur di kamarnya Dina. Mereka berdua ingin merasakan kehadiran Dina di kamarnya. Sedangkan Angga tidur bersama Ayah Nara tidur di kamar yang diperuntukan buat Nara.
Selesai sholat magrib. Pak Donnie mengajak para tamunya untuk makan bersama. Makan di meja makan berukuran besar. Tamunya yang menginap adalah keluarga dekat semua.
Keluarga inti yang terdiri dari Pak Donnie dan istri. Ditambah oleh kedua orang tua Pak Donnie dan istrinya. Ada Nara sekeluarga dan Angga beserta tiga orang paman dan bibi Nara yang belum sepenunya ia kenal.
Mereka yang hadir begitu terperangah saat Nara duduk di meja Makan. Mereka merasakan sosok Dina kembali hadir pada diri Nara.
Saat makan sedang berlangsung, Angga memberanikan diri berbicara sambil berdiri di hadapan mereka semua.
" Maaf semua, mungkin belum saatnya saya berbicara di sini. Saya tahu kita masih merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian Dina, " tutur Angga dengan semua mata tertuju padanya.
Nara begitu kesal melihat aksi yang dilakukan oleh Angga. " Apa maunya Angga kali ini, " gumamnya.
"Mmm ... baiklah, sebelumnya sa-ya ... mohon maaf pada om Donnie dan tante. Pada kesempatan ini saya ... mohon. Tolong bebaskan Pak Bambang Syaifullah. Pak Bambang Syaifullah adalah ... ayah saya, " tutur Angga dengan suara terbata - bata lalu duduk pada kursinya semula.
"Aa ... pa ? " Pak Donnie begitu terkejut mendengar pernyataan dari Angga. Kekasih Dina yang selama ini ia kenal baik ternyata anak dari seorang lelaki ******** yang telah membuat istrinya menderita bertahun - tahun.
Mata istri Pak Donnie terbelalak mendengar apa yang baru saja ia dengar. Ia lalu menunjuk Angga dengan jarinya sambil berucap pelan, " Kau ... rupanya. "
__ADS_1
"Iya tante, saya anak Pak Bambang Syaifullah yang om dan tante jebloskan ke penjara, " terang Angga dengan mata berkaca - kaca.
Semua yang mendengar pada bengong mendengar apa yang mereka dengar. Semua tidak tahu kalau Pak Donnie telah menangkap seseorang dan anak orang itu ada di depan mereka.
Hanya ibu Nara dan suaminya yang tahu siapa Bambang Syaifullah. Mereka sudah tahu siapa dalang yang telah menjebak mereka selama 25 tahun. Untuk itulah ibu Nara memutuskan sepihak hubungan Nara dan Angga di kala itu.
"Dia Pa ... , pantesan aku selalu teringat seseorang bila melihat Angga. Aku gak rela lelaki itu bisa bebas dengan mudah, " ucap istri Pak Donnie dengan begitu emosional.
"Kau dengar sendiri Angga. Istri om tak rela jika orang yang selama ini memeras dan mengancam dirinya bertahun - tahun bisa dengan mudah bebas begitu saja, " tutur Pak Donnie emosional juga.
Kemudian Angga lalu berdiri dan menghampiri istri Pak Donnie. Ia lalu berlutut persis di belakang kursinya dan memohon padanya.
"Tante ... aku mohon. Tolong bebaskan ayah saya. Ayah segalanya bagi kami. Tolong tante ....
Semua menjadi tegang, suasana makan yang tadinya tenang menjadi terganggu dibuatnya.
Membuat Pak Donnie dan istrinya tidak berselera untuk makan. Lalu istri Pak Donnie meninggalkan ruang makan.
"Tante ... jangan pergi, " sambil mencoba meraih tangan istri Pak Donnie.
Tetap saja permintaan Angga tidak digubris sama sekali oleh istri sang jenderal itu. Ia lalu menepis tangan Angga. Dan berlalu meninggakannya begitu saja.
Pak Donnie pun demikian. Sebelum ia meninggalkan ruang makan dan menyusul istrinya ke kamar. Ia lalu berkata keras pada Angga.
"Kau dengar sendiri Angga. Perbuatan ayahmu memberikan trauma pada istriku. Aku tak bisa mencabut tuntutan yang telah terucap. Sebaiknya kau harus tabah, terima saja nasib ayahmu dan tak usah berusaha membebaskan ayahmu. Percuma saja, tak akan bisa kau lakukan, " hardik Pak Donnie.
__ADS_1
Semua orang satu persatu meninggalkan ruang makan. Hanya Angga saja yang masih tak bergeming berlutut di depan kursi kosong istri Pak Donnie.
Air mata Angga bercucuran. Kesedihannya begitu dalam. Ia tak pernah melakukan hal bodoh dalam hidupnya. Dan demi ayahnya ia akan lakukan semua. "Andai saja Dina masih hidup, mungkin saja ia bisa membantu ayahnya, " gumam Angga pilu.
Nara orang terakhir yang meninggalkan ruang makan itu. Sebelum ia benar - benar meninggalkan Angga. Nara sedari tadi memperhatikan semua apa yang dilakukan oleh Angga. Ekor matanya selalu tertuju pada sosok Angga. Sosok lelaki yang dulu amat di cinta, dipuja lalu dibencinya.
Dalam hati kecil Nara, ia iba melihat apa yang telah dilakukan oleh Angga. Lelaki yang ia tahu meninggalkannya karena terhalang restu ibunya.
Dahulu ... , Nara yang tak tahu mengapa Angga meninggalkannya. Melakukan aksi balas dendam dengan memacari teman kantor Angga. Dan berharap suatu hari Angga akan berlutut meminta maaf di depannya.
Angga kemudian berdiri dan berlutut di depan Nara yang sedang bengong.
"Nara ... aku mohon padamu. Tolong bebaskan Ayahku. Aku mohon Nara ... " sambil memegang tangan kanan Nara.
Angga benar - benar berlutut di depan Nara. Walau dengan niat yang berbeda. Nara bingung harus bagaimana. Ia tak tahu dengan hatinya. Pandangan mata dari Angga yang mengiba padanya, memohon uluran tangannya
Nara yang bengong, bingung harus berbuat apa. Memilih meninggalkan Angga seorang diri di ruang makan. Membiarkan dirinya berlalu lalu menyusul ibunya masuk ke dalam kamar mendiang Dina.
Nara meninggalkan Angga seorang diri. Meninggalkan Angga yang masih terus berusaha memohon demi pembebasan ayahnya. Meninggalkan Angga dengan seribu nestapa diwajahnya.
Di tinggal sendiri seperti ini. Membuat hati Angga hancur. Dalam benak Angga masih berharap agar Nara membantunya kali ini. Namun percuma, hati Nara telah membatu.
Angga menyadari bahwa Nara sudah benar - benar berubah, melupakannya. Nara yang ia kenal baik, selalu membantunya selama menjadi kekasihnya.
Apa daya .... , Angga tak punya punya pilihan. Tidak mengapa merendahkan diri demi ayah tercinta. Ia sangat menyayangi ayahnya. Ayah yang sangat baik. Ayah yang selalu mengutamakan keluarga. Tak pernah terbesit di hatinya dan keluarganya ayah akan melakukan hal yang melawan hukum.
__ADS_1