CINTA NARA

CINTA NARA
Upaya Pembebasan Ayah


__ADS_3

Kantor Polda pukul dua siang. Cuaca hari ini memang cukup panas. Seperti itulah yang dirasakan Angga saat ini. Hati dan pikirannya juga panas. Ia tampak tergesa gesa mendatangi kantor polda ini seorang diri.


Angga tampak gugup saat motornya masuk ke dalam gerbang kantor polda. Ia lalu memarkirkan motor pada tempat parkir motor yang telah di sediakan. Ini pertama kali Angga menjejaki kakinya di gedung polda ini.


Sebelum Angga melangkah, ia ingat siapa sosok bapak jendral bintang dua polda ini. Ia tak lain adalah pamannya Arif. Angga lalu menghentikan langkah kakinya. Ia putar haluan dan kembali duduk di atas motornya, lalu menelpon Arif.


"Assalamualaikum Rif ."


"Waalaikum salam Ga' , ada apa?


"Rif, bantuin aku yo. Aku ado di Polda, ayahku di tahan. Ditunggu yo, " pinta Angga dengan dialek fasih bahasa Bengkulu.


"Iyo tunggu, paling idak setengah jam aku ke sano, " jawab Arif dengan bahasa yang sama dengan Angga.


" Yo, mokasih yo, " jawab Angga lalu mematikan ponselnya. Ponsel itu kemudian di taruhnya di dalam saku celana penjangnya.


Angga sadar ia butuh Arif yang bisa mendampinginya membantu permasalahan ayahnya. Angga pernah selentingan mendengar bahwa Arif adalah keponakan kandung dari inspektur jenderal bintang dua. Jabatan tertinggi sebagai seorang kapolda.


Dari pada menunggu Arif setengah jam di parkiran motor. Angga mencoba masuk kedalam gedung polda ini sendiri. Semoga ia bisa mengatasinya. Toh , Arif juga akan kesini setengah jam lagi.


Angga yang tadinya begitu menggebu untuk membebaskan ayahnya. Sekarang nyalinya menjadi ciut. Angga kemudian menarik nafas panjang sebelum ia benar - benar melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung polda itu.


Suasana di dalam polda ternyata ramai juga. Didalamnya banyak ruangan - ruangan yang tak dimengerti oleh Angga. Untung saja ada bagian informasi sebagai tempat ia bertanya dimanakah ayahnya berada saat ini.


Sebelum ia bertemu ayahnya. Angga di arahkan untuk ke ruangan tempat polisi yang telah menangkap ayahnya.


Angga mengetuk pintu yang tertutup. Lalu ada suara yang menyuruhnya masuk. Dengan gugup Angga membuka pintu itu.

__ADS_1


" Selamat ... siang Pak, " sapa Angga.


" Siang, silahkan duduk. Ada apa ya? " tanya Pak polisi.


Di dalam ruangan ini ada beberapa polisi di dalamnya. Membuat Angga menjadi ciut kembali dibuatnya. Namun ia berusaha memberanikan dirinya, demi Ayahnya. Lelaki yang sangat ia sayangi. Sosok figur ayah yang baik di matanya dan keluarganya.


" Ayo ... duduk, " sapa ramah sang polisi.


Ternyata Pak Polisi yang dihadapannya tidak seperti yang Angga bayangkan. Ia bersikap ramah dan sopan. Apa mungkin karena Angga datang dengan pakaian ASN yang ia gunakan.


Angga lalu duduk di kursi yang tersedia di depan meja Pak Polisi. Semua polisi yang ada di ruangan itu kemudian mengalihkan pandangan ke arah Angga.


" Begini Pak, saya ingin bertanya perihal penangkapan Pak Bambang Syaifullah. "


" Maaf, anda siapa kalau saya boleh tahu, " tanya Pak Polisi menyelidik.


Pak polisi yang diminta klarifikasi oleh Angga itu bernama Pak Nurdin. Ia lalu mengambil surat perintah penangkapan yang berada di meja temannya. Lalu ia kembali duduk di kursinya. Secarik kertas bukti surat perintah penangkapan itu diserahkannya langsung pada Angga.


Angga mengambil surat perintah penangkapan itu dengan tangan gemetar. Ia lalu membaca nama yang tertera dalam isi surat itu, Bambang Syaifullah. Alasan penangkapan atas kasus pemerasan dan pengancaman atas nama Ny. Dewi Anjani dengan alamat berada di Jakarta.


Angga tak kuasa membaca isi surat itu. Bulir - bulir air mata pun menetes dari kedua sudut matanya. Lalu ia menggelengkan kepalanya dan merapatkan bibirnya dan berkata, "Ini tidak mungkin ... tidak mungkin." Angga tak bisa begitu saja percaya atas apa yang dibacanya. Ayah bagi Angga adalah segalanya. Seorang ayah yang baik, seorang ayah yang menjadi panutan tidak hanya untuk dirinya dan orang lain.


"Bagaimana tidak mungkin ... , kita punya bukti yang mendukung. Bukti fisik berupa rekening koran pengiriman uang dan rekaman telepon. Jadi ayah anda tidak bisa menghindari lagi dari perbuatannya yang ia lakukan. "


Merasa tersudut dari apa yang baru saja ia dengar. Angga lalu berkata, " Pak ... izinkan saya bertemu ayah saya, " pinta Angga dengan tatapan nanar.


Dalam hati Angga berpikir. Siapakah Dewi Anjani? Ia tak pernah mendengar nama itu. Apa yang dilakukan ayah terhadap perempuan itu. Semua berkecamuk dalam alam pikirannya. Menerawang entah kemana tanpa bisa berbuat banyak demi upaya pembebasan ayah.

__ADS_1


" Baiklah saya akan mempertemukan anda dengan ayah anda, " ujar Pak Polisi.


Pak polisi yang bernama pak Nurdin itu membawa langsung Angga untuk menjumpai ayahnya.


Ayah Angga di taruh di dalam sel yang ada di dalam gedung ini. Pak polisi itu kemudian mengeluarkan sementara Pak Bambang.


Ada sebuah meja dan dua buah kursi yang saling berhadapan, persis di depan sel tahanan. Ayah Angga duduk dengan raut wajah sedih. Ia tampak tidak terima dirinya di tahan gara - gara pengaduan Ny. Dewi Anjani. Seseorang yang berkomplot padanya dalam memperebutkan suami temannya dikala itu.


"Ayah ... bagaimana bisa aku membebaskanmu. Tolong kasih aku petunjuk. Siapakah wanita itu yang merasa terancam karena perbuatan ayah ? " mohon Angga dengan terus menggenggam kedua tangan Ayah yang ia taruh di atas meja. Tampak kedua tangan ayah gemetar, mungkin ia masih shock atas penangkapan dirinya.


" Ayah salah. Maafkan ayah. Wanita itu adalah istri jenderal bintang empat negeri ini. Mana bisa kau membebaskan ayah dengan mudah Angga, " ujar ayah yang pesimis Angga akan bisa melakukannya.


Angga kemudian tertunduk lesu. Ia lemas mendengar nama orang besar yang akan ia hadapi. Semoga sang jenderal yang notabene adalah papanya Dina dan Nara mau membantalkan tuntutannya.


"Ayah ... bagaimana bisa aku membantumu, sedangkan aku tidak tahu permasalahan yang terjadi diantara kalian, " pinta Angga.


Dengan terbata - bata, Pak Bambang kemudian menceritakan semuanya pada Angga. Keterlibatan ayah dan Ny. Dewi Anjani dalam menjebak mantan istri sang jenderal duapuluh lima tahun yang lalu. Dan selama itu, Pak Bambang menerima uang tutup mulut itu selama bertahun - tahun.


Uang tutup mulut yang sempat terhenti itulah yang menyebabkan Pak Bambang mengancam akan membocorkan rahasia ini langsung ke publik dan suami Ny. Dewi Anjani.


Nyonya Dewi Anjani terpaksa melaporkan Pak Bambang Syaifullah, dikarenakan ia tidak tahan lagi dirinya diperas bertahun - tahun lamanya. Puncaknya saat ia memutuskan untuk melakukan percobaan bunuh diri yang gagal ia lakukan.


Nyonya Dewi Anjani akhirnya mengakui sendiri perbuatannya di hadapan suaminya. Makanya gerak cepat sang jenderal yang mengantar Pak Bambang masuk ke dalam rumah Predeo.


Angga sekarang tahu bagaimana caranya ia membebaskan ayahnya. Seorang teman pengacara Angga akan diminta bantuannya sebagai pembela ayahnya.


Jalan satu - satunya yang akan di tempuh Angga adalah memohon pada Dina dan Nara sebagai anak kandung sang jenderal bintang empat. Semoga mereka berdua mampu menggoyahkan hati papa mereka untuk membebaskan ayah yang sangat disayanginya. Angga rela berkorban segalanya demi sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2