
Setibanya Nara di bandara Sukarno Hatta pukul 8 pagi. Perjalanan udara dari Bengkulu ke Jakarta memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Dengan bantuan petugas bandara Nara diarahkan melewati jalan menuju pintu masuk dalam bandara.
Gara - gara melihat foto Angga makanya Nara terpisah dari orang - orang yang berangkat bersamanya menuju Jakarta. Nara menggerutu nasibnya yang harus bertanya kembali, dimana tempat pengambilan tas travel bag miliknya.
Nara melangkah keluar setelah ia mendapatkan kembali tas travel miliknya yang lumayan besar. Tidak banyak yang dibawa Nara kali ini. Sebuah tas selempang wanita berukuran kecil berwarna hitam yang selalu melekat di tubuhnya.
Sebelum Nara keluar dari bandara, seorang petugas bandara meminta bukti kepemilikan tas travel bag yang didorongnya dengan mencocokan stiker yang ditempel diatas tempat pegangan tasnya.
Seharusnya Nara berbahagia bisa kembali ke Jakarta lagi. Sebuah novel baru miliknya akan segera terbit. Itu pertanda Nara harus lebih fokus pada pekerjaannya sebagai seorang penulis. Namun hatinya gundah gulana di kota ini.
Ingin rasanya Nara segera kembali ke kota asalnya, Bengkulu. "Ah, sudahlah. Aku harus fokus dulu pada pekerjaanku kali ini, " batin Nara.
Hiruk pikuk suasana bandara kedatangan. Semua orang hilir mudik, ada yang sedang menunggu jemputan dan ada juga yang menunggu antrian naik taxi blue bird. Ada juga yang bengong seperti Nara.
Nara duduk di ruang tunggu kedatangan pesawat. Iya bingung mau menginap di mana? paling tidak ia akan menginap di hotel terdekat dengan pihak penerbit.
Ada kurang lebih lima belas menit Nara duduk termenung di antara banyaknya orang - orang yang sedang menunggu jemputan. "Ups , " Nara lupa menghidupkan ponselnya.
Banyak panggilan telpon masuk di ponsel Nara. Ada tujuh kali panggilan tak terjawab dari Dina, beberapa pesan masuk melalui What's Up (WA) dari Dina , ibu, Arif dan papa.
Baru mau membalas pesan dari Dina, tiba - tiba ada panggilan telepon dari papa.
"Assalamualaikum nak ? kamu uda nyampe mana ? papa dari tadi ditelpon mulu oleh Dina, " tanya papa cemas.
"Waalaikum salam pa ... , aku baru saja tiba di bandara Sukarno Hatta, " jawab Nara kaget. Padahal ia sama sekali belum mengabari papa tentang keberangkatan ia ke Jakarta.
"Papa setengah jam lagi tiba di bandara. Kamu jangan kemana - mana ? tunggu papa ya, " pinta papa sebelum mengakhiri teleponnya.
" Iya pa, " jawab Nara. " Ah, ini pasti mbak Dina yang kasih tahu papa, " gumam Nara.
Mbak Dina ternyata sangat perhatian pada Nara. Hal - hal kecil seperti ini yang membuat Nara mulai menyayangi kakak kandungnya ini. Terbersit pikiran jahat dibenaknya, mencoba merebut kembali Angga dari sisinya. Namun sebelum direbut, justru Angga yang bermain api. Bertunangan dengan seseorang yang tanpa sengaja diketahui oleh Nara.
Nara tak habis pikir, mengapa Tuhan selalu membuka tabir tentang penghianatan Angga padanya. Bermula dari ibu tak menyetujui hubungannya yang hampir mencapai waktu sewindu. Mengapa tidak dari awal ? justru tahun kedelapan prahara itu terjadi. Itu penyesalan terdalam Nara saat ini.
Kini setelah Nara berusaha berdamai dengan hatinya. Mencoba merelakan Angga menjadi kekasih kakak kandungnya. Justru Tuhan memberitahu Nara lagi, lewat selembar foto Angga yang tak sengaja ia temukan berada di buku novel milik perempuan lain. Dan perempuan itu mengaku sebagai tunangannya.
Menjadi dilema dan bumerang bagi Nara. Tak mungkin Dina akan percaya begitu saja apa yang akan diungkapkannya. Diam saja juga tidak mungkin Nara lakukan. "Ya Allah , apa yang seharusnya aku lakukan, " batin Nara berteriak.
Gara - gara melamun karena dilandah gundah, Nara hampir saja lupa membalas beberapa pesan yang masuk di ponselnya. Kemudian ia buru - buru satu persatu pesan dari ibu, Dina dan Arif yang menanti kabar setibanya Nara di bandara sudah dibalas semua.
Setengah jam telah berlalu, akhirnya sebuah mobil pajero hitam melintas berhenti tepat di depan di terminal 1 B kedatangan dalam negeri. Sebelumnya Nara terlebih dahulu diberitahu papanya agar siap - siap berdiri di tepi jalan.
Papa langsung turun sendiri dari mobil pajeronya. Setelah bertemu papa, Nara terlebih dahulu mencium punggung tangan papa yang baru beberapa bulan diketahuinya sebagai ayah kandungnya.
__ADS_1
Papa tidak sungkan membawa tas travel bag milik Nara dan memasukannya ke dalam pintu bagasi belakang. Begitu besar perhatian Pak Donnie pada Nara, anak kandungnya. Sebenarnya kalau mau, papa bisa saja menyuruh supir pribadinya melakukan itu semua. Namun semua dilakukan papa demi Nara.
Nara terkesima melihat aksi sang papa. Papa masih terlihat tampan di usianya hampir setengah abad. Berbeda dengan ayah yang selama ini diyakini Nara sebagai ayah kandungnya. Ayah tampak tua di usianya. Mungkin karena perbedaan nasib diantara mereka berdua. Ayah hanyalah seorang supir bis antar kota. Berbeda dengan papa, seorang jendral polisi yang hidupnya berkecukupan.
Pantas saja papa walau sudah beristri papa masih menjadi rebutan semua orang. Terbukti ibu tersingkir dari sisi papa karena perbuatan keji seseorang dimasa lalunya.
Namun semua yang terjadi adalah atas kehendak ilahi. Kita berencana dan tangan Tuhan jualah yang menentukan semuanya. Semua telah di gariskan, kita hanya berusaha dan berdoa.
Papa kemudian masuk kedalam mobil, duduk di sebelah sang supir. " Ayo ... masuk Nara, " pinta papa melihat Nara yang bengong.
Nara akhirnya masuk ke dalam mobil papanya, duduk persis di belakang supir. Pak supir pun tersenyum menatap anak sang majikannya yang masih terlihat kikuk di mobil milik papanya itu.
Mobil pajero hitam itu melaju kencang menuju kediaman rumah kawasan pondok indah. Rumah milik sang jendral, rumah kawasan elite ibu kota Jakarta.
Persis di depan sebuah rumah mewah bertingkat bercat putih dengan pintu pagar besi yang menjulang tinggi, mobil pajero itu berhenti. Pak supir lalu membunyikan klaksonnya. Hanya beberapa menit kemudian seorang polisi muda yang berjaga membuka pintu gerbang garasi.
Sesampainya di rumah kediaman papa. Tampak istrinya telah berdiri di teras untuk menyambut anak suaminya. Nara kemudian mencium punggung tangan ibu tirinya itu.
"Nara... kamu tinggal di sini jangan sungkan ya . Kamu sama seperti mbakmu Dina. Anggaplah rumah sendiri ya, " pinta istrinya papa sambil menggandeng tangan kanan Nara.
"Iya , tante, " jawab Nara sambil berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti ibu tirinya itu.
"Eits, jangan bilang tante. Panggil aku mama, seperti yang biasa dipanggil Dina ya."
"Iya ma, " timpal Nara.
Mereka berdua menaiki tangga menuju kamar yang diperuntukan buat Nara yang ada di lantai dua. Berhadapan dengan kamar sang kakak, Dina.
Seorang satpam lalu membawa travel bag milik Nara. Ia membawanya masuk sesuai kamar yang di beritahu oleh istri majikannya itu. Kemudian tampak papanya Nara ikut menyusul ke dalam kamar Nara juga.
"Kamu istirahat aja dulu ya Nara, kalau butuh apa - apa ada bik Ijah di rumah. Mau makan tinggal makan saja. Mama mau pergi keluar sebentar bersama papamu, " tutur ibu tiri Nara.
"Iya Nara ... , papa pergi hanya sebentar saja. Anggap saja seperti rumahmu di Bengkulu, " timpal papa.
"Pa ... , tapi aku jam dua siang ada janji dengan pihak penerbit. Aku minta ijin terlebih dahulu andai papa dan mama belum pulang, " pinta Nara.
"Papa pasti pulang cepat kok, nanti papa antar kamu ke penerbitnya, " tawar papa.
"Papa ... jangan, nanti merepotkan papa, " tolak halus papa.
"Gak lah, papa kan selama hidupmu tidak pernah mengajakmu jalan - jalan. Mumpung papa masih diberi kesempatan Nara, " pinta papa memohon pada Nara.
Mama yang berdiri di samping papa merasa tersentil dengan kata - kata papa. Ia merasa amat bersalah karenanya seorang anak tidak pernah merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya. Mengapa penyesalan baru dirasakannya saat ini. " Kemana selama ini hatinya, " batin mama dengan pandangan iba pada Nara.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu pa, aku tunggu di rumah, " jawab Nara setuju apa yang diinginkan papanya.
Papa dan mama akhirnya pergi meninggalkan Nara. Mereka hanya pergi berdua saja, tidak mengajak supir pribadinya untuk ikut serta. Entah kemana perginya, Nara tidak dikasih tahu kemana mereka berdua hendak pergi
Nara ditinggalkan papa dan mamanya seorang diri di dalam kamar. Sebuah kamar yang luas. Nara senyum - senyum sendiri bisa berada dalam kamar layaknya kamar hotel. Spring bed nyaman dan empuk. "Sepertinya ini adalah spring bed mewah, " gumam Nara.
Perabotan mahal tertata rapi di dalam kamarnya Nara. Sebuah meja rias dan lemari kayu yang senada dengan tempat tidur berwarna krem terlihat menawan di mata Nara. Sungguh takjub mata Nara dibuatnya.
Kemudian Nara beranjak masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi ia juga sangat terpana. Kamar mandi yang elegan, seperti kamar mandi hotel mewah. Sebuah bathtub berwarna putih senada dengan keramik, kloset dan dindingnya yang berwarna putih juga. "Begini rupanya kamar mandi orang kaya, " decak kagum Nara.
Jam di pergelangan tangan Nara menunjuk pukul sebelas siang. Sepertinya belum ada tanda - tanda papa dan mama pulang. Nara kemudian keluar dari kamar yang ia tempati.
Saat Nara keluar kamar, ia melihat pintu kamar Dina sedikit terbuka. Nara lalu mencoba masuk, didalam ada seorang pembantu perempuan yang sedang merapikan ruangan.
Pintu kamar Dina dibuka oleh Nara. Menimbulkan suara berderit dari pintu yang dibuka Nara. Sontak saja si pembantu menoleh ke arah sumber suara.
"Eh, maaf. Ini pasti neng Nara ya, " tanya si pembantu perempuan itu.
Pembantu perempuan yang tampak menua, ditaksir Nara pembantu itu berusia kurang lebih 50 tahun. Rambutnya yang memutih dan raut wajah banyak keriput di wajahnya.
" Iya, ini pasti bik Ijah ya. Lagi ngapain bik ? " tanya Nara sekedarnya saja.
"Iya, saya bik Ijah, " jawabnya sambil memegang kain lap yang sedari tadi digunakannya untuk mengelap perabotan yang berdebu.
Bik ijah lalu menghampiri Nara, lalu berkata, " Neng Nara kalau ada apa - apa bilang sama bik Ijah ya. "
" Iya bik, teruskan saja mengelapnya, " jawab Nara.
" Ah, ini udah selesai kok, ayo neng ... , " bik Ijah lalu membawa ember berukuran sedang keluar dari kamar.
"I-ya, " jawab Nara sambil bengong melihat bik Ijah membawa ember berisi air keluar dari kamar. Padahal kalau dipikir oleh Nara, buang airnya di dalam kamar mandi saja yang ada di dalam kamar.
Setelah bik Ijah berlalu, Nara pun duduk di depan meja rias Dina. Tampak foto Dina dan Angga berseragam putih biru terpajang di depan mata Nara.
Air mata Nara tak kuasa melihatnya. Gadis remaja dan kekasihnya yang berseragam putih biru itu sedang berada di lapangan basket sekolah SMP-nya. Mereka tersenyum manis di depan kamera.
Sebuah masa lalu yang kini terulang lagi, kembali menjalin cinta. Membuat hati Nara menjadi remuk melihatnya. Nara berusaha menyeka air mata dengan tangan kanannya. Namun air mata itu terus mengalir.
Sebuah diary mungil tersembul di antara tumpukan buku - buku yang tersusun rapi di meja rias. Nara tertarik melihat isi diarynya.
Dibuka pelan - pelan lembaran dalam buku diary itu.
Lembar demi lembar buku diary itu dibaca oleh Nara. Nara baru mengetahui begitu dalam cinta Dina pada Angga. Sebuah kisah cinta yang kini terajut kembali. Namun harus pasrah karena sang kekasih sudah bertunangan dengan perempuan lain.
__ADS_1
Hati kecil Nara berteriak. Ingin rasanya ia pergi pulang ke Bengkulu secepatnya. Ia ingin membuat perhitungan dengan Angga. Biar saja Nara saja yang tersakiti, tapi jangan kakak kandungnya.
Hati Nara sangat gundah, tak bisa berbuat apa - apa. Ia harus bagaimana, harus membuat perhitungan dengan Angga. Sudah banyak yang dikorbankan Nara untuk Dina, dan ia tak ingin pengorbanan itu sia - sia ....