CINTA NARA

CINTA NARA
3.73. JANGAN MENOLAKKU


__ADS_3

"Aku sangat merindukanmu, Alya. Aku tak bisa menahan rasa ini lebih lama lagi. Aku selalu memikirkan dirimu dan ingin secepatnya menemuimu. Aku harus mengatakan semuanya sekarang juga."


Alya merasakan hatinya semakin berdebar. Dia menahan napas seketika saat memberanikan diri mengangkat wajah. Pandangannya beradu dengan tatapan Ardi yang telah terkunci padanya dengan wajah yang terlihat tegang dan memerah.


"Aku ingin menikahimu secepatnya, Alya. Sungguh aku tak bisa lagi hidup jauh darimu. Aku sangat membutuhkan dirimu. Aku tak mau berpisah denganmu lagi."


Pandangan Ardi mulai memburam namun tetap tertuju hanya pada Alya. Sementara sepasang mata wanita yang membalas tatapannya itu pun telah berkaca-kaca dengan perasaan haru yang menyeruak di relung kalbu.


"Aku mencintaimu, Alya. Izinkan aku menjadikan dirimu milikku seutuhnya dan selamanya. Menjadi teman hidupku, menjadi rumah yang selalu aku rindu dan aku tuju untuk pulang dan memeluk bahagia."


Ardi memajukan tubuh, semakin dekat di hadapan wanita yang sangat dicintainya. Hampir tak ada jarak di antara mereka, namun lelaki itu tetap menahan diri untuk tidak melakukan hal yang lebih intim pada Alya.


Mereka hanya berdiri terdiam dan saling menatap begitu dalam dan lekat. Menautkan perasaan yang membuncah di hati, saling menggenggam dalam rasa. Mencoba mengungkapkan cinta yang sama lewat pancaran sinar mata keduanya yang saling mengunci penuh arti.


Desiran halus mulai terasa menyisiri rongga dada mereka, beradu dengan degup jantung yang kian bertalu-talu semakin keras. Orang lain bisa saja mengatakan bahwa cinta lama itu telah bersemi kembali. Namun tidak bagi Ardi dan Alya. Walaupun terpisah sekian lama, cinta mereka selalu tersimpan di hati. Tiada pernah sirna dan layu seiring waktu.


"Tolong jangan menolakku lagi kali ini. Apa pun yang akan terjadi nanti, kita akan menghadapinya bersama-sama." Suara Ardi semakin berat dan lirih, seiring gerak tubuhnya yang mendekat, membuat Alya kian tegang.


"Selesaikan dulu tugasmu. Aku dan Aura menunggu di sini." Lelaki itu tersenyum seraya merapikan hijab wanita anggun itu. Kebiasaannya sekarang yang kadang disalahartikan oleh Alya.


Ardi tidak ingin mengganggu waktu Alya. Dia mempersilakan kekasih hatinya untuk pergi ke ruang pemeriksaan. Dokter kandungan berprestasi itu mengangguk lalu meninggalkan lelaki yang sudah telanjur membuat konsentrasinya buyar dan terus memikirkan pembicaraan mereka barusan.


Ardi kembali duduk dan menyelesaikan makan siangnya. Tak lama kemudian ponselnya berdering menandakan ada panggilan suara baru. Dengan segera Ardi menerima setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.


Dokter kandungan yang sudah memiliki klinik sendiri tersebut berbicara serius dan cukup lama. Pembicaraan mereka terkesan sangat penting dan berhubungan dengan masalah pekerjaan.


Setelah panggilan penting itu ditutup, Ardi membuka beberapa berkas yang tersimpan di laman pribadinya. Beberapa kali dia terlihat mengirimkan surat elektronik kepada seseorang yang baru saja menghubunginya.


Usai menutup laman pekerjaannya, Ardi beralih menghubungi Yoga yang belum sempat ditemuinya sejak tiba beberapa jam yang lalu.


Bersama sahabat kecilnya, Ardi juga melakukan pembicaraan serius yang berhubungan dengan aktivitas yang baru saja dilakukan sebelumnya. Lelaki berperawakan tak jauh beda dengan Yoga tersebut terlihat sangat sibuk dan sedikit panik dengan beberapa hal yang dilakukannya dengan cepat seolah mengejar waktu yang kian terbatas.


Semoga semua bisa diselesaikan tepat waktu sesuai harapanku. Tak sabar rasanya ingin segera melihat hasil yang ada. Aku harap segala sesuatunya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti. Aamiin.

__ADS_1


.


.


.


Kedatangan Ardi dan Aura kali ini dipenuhi banyak sekali kegiatan. Ardi ingin menyelesaikan semuanya sebelum kembali pulang untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Alya bersama seluruh keluarga.


Hari kedua dimulai dengan membawa Aura ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin dan transfusi darah. Dua hari kemudian dia ikut mengurus kepindahan Alya dan keluarganya ke rumah baru yang dia beli untuk mereka tinggal bersama nanti.


Hingga sehari sebelum kepulangannya, Ardi kembali menemui kedua orangtua Alya secara khusus dan menyampaikan rencana lamaran dan pernikahan mereka. Alya masih terlihat gugup dan tegang meskipun sudah mengetahui rencana Ardi sebelumnya.


"Kami menyerahkan semua keputusan kepada kalian berdua. Kami hanya bisa mendukung dengan doa restu kami sepenuhnya."


Papa tampak terharu dan berkaca-kaca. Demikian pula Mama. Alya yang melihatnya pun ikut berlinangan air mata sembari memangku Aura yang sudah tertidur pulas usai meminum obatnya.


Ardi mengangguk takdzim kepada calon mertuanya lalu menatap wajah Alya yang duduk di sampingnya. Pandangan berubah sendu melihat calon istrinya mulai menitikkan air mata.


Alya tidak bisa berkata apa-apa lagi karena dia tidak ingin mengecewakan Ardi yang sudah lebih dulu mempersiapkan segalanya. Dia mengangguk tanpa menoleh ke arah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Sepenuhnya aku percaya padamu, Di. Apa pun keputusanmu pasti yang terbaik untuk kita," lirih Alya akhirnya. Dia mencoba memantapkan hati meski bayang-bayang buruk masa lalu masih mengusik ketenangan yang mulai dirasakannya.


Setelah pembicaraan mengenai persiapan pernikahan selesai, Ardi meminta izin untuk menyampaikan sesuatu kepada Alya di hadapan kedua orangtuanya. Sebelumnya dia sudah mengambil sebuah dokumen di dalam map dari dalam mobil.


"Ini aku kembalikan padamu, Al. Simpanlah baik-baik."


Alya mengeluarkan isi map tersebut dan terkejut bukan main. Untuk sesaat ingatannya melayang ke masa lalu. Namun rasa penasaran lebih menguasinya kali ini sehingga tatapannya segera tertuju pada Ardi.


"Di ... ini? Bagaimana kamu bisa tahu? Dari mana kamu mendapatkannya? Ini ..., bahkan aku sudah melupakan dan mengikhlaskannya." Alya kembali menunduk, menatap Aura sejenak lalu memastikan penglihatannya pada dokumen yang dia pegang dengan tangan gemetar.


"Sudah aku katakan, aku mengetahui segala hal tentang dirimu, Alya. Dengan bantuan Yoga, akhirnya aku bisa menemukan pemegang sertifikat rumah keluargamu dan mendapatkannya kembali."


Alya memaku pandangannya pada sertifikat rumah di tangannya. Satu-satunya harta berharga yang dimiliki orangtuanya dan telah dialihkan kepemilikannya saat dia menikah dengan Riko.

__ADS_1


Sayangnya, dalam pernikahan yang menjadi awal kehidupan kelamnya, Riko merampas sertifikat itu dan menggadaikannya pada seseorang yang tidak pernah bisa ditemukan oleh Alya.


Sekarang, tiba-tiba saja Ardi sudah membawa dan menyerahkan dokumen penting itu kepadanya. Masih tak percaya rasanya jika dirinya bisa memiliki kembali harta kenangan keluarganya.


"Terima kasih, Nak. Kami semakin yakin, kamu pasti bisa menjaga dan melindungi Alya dengan baik dan tidak akan pernah mengecewakan kepercayaan kami." Papa yang terharu segera menanggapi jawaban Ardi sebelumnya.


"Saya pasti akan melakukannya dengan seluruh cinta dan kasih sayang saya pada Alya. Saya akan membahagiakan dia selamanya!"


.


.


.


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2