
Pagi harinya, Alya sudah tiba di rumah Yoga untuk menemani Aura pergi ke rumah sakit.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Aura sudah ceria dan siap untuk berangkat. Ardi sudah memandikan dan menyuapinya dengan lancar, ditemani boneka kelinci berwarna merah muda pemberian Alya semalam, yang terus didekapnya sepanjang malam.
.
."Bu-bu ... eeaaa ... bu-bu ...."
Melihat kedatangan Alya dari arah depan, Aura yang sedang bermain bersama Ayahnya di ruang tamu segera diberdirikan oleh Ardi agar terpancing untuk berjalan menuju pintu di mana Alya menunggunya.
Dengan riang gembira, bayi cantik itu mulai melangkahkan kakinya pelan dan hati-hati, dengan menjaga keseimbangannya yang terkadang terhuyung, hingga akhirnya berhasil menghambur ke pelukan Alya yang sudah berlutut menunggunya.
"Uumm ... anak pintar! Aura sudah berani berjalan sendiri ya, Nak."
Alya mendekap tubuh mungil Aura dan menghadiahi banyak ciuman untuk bayi kesayangannya. Ardi yang sudah berdiri tak jauh dari mereka, tersenyum bahagia melihat kedekatan dua orang terkasihnya.
Alya berdiri sambil menggendong Aura yang sudah mengalungkan kedua tangan di lehernya, tak ingin lepas sedikit pun.
"Silakan masuk, Al. Aku akan mengganti pakaianku dulu." Ardi pamit dan masuk ke kamar tamu, meninggalkan Alya bersama putri kecilnya yang sudah berceloteh lucu tanpa henti.
Alya membawa bayi cantik itu masuk ke dalam dan menemui Nara yang sedang menemani Yoga sarapan bersama Raga yang duduk sendiri di sebelah Ayahnya, sementara Gana sudah kembali terlelap di dalam dekapannya.
Alya mengucapkan salam yang dibalas oleh keluarga bahagia tersebut, terutama Raga yang bersuara paling keras dan segera turun dari kursinya lalu menghampiri Alya untuk salim dan mencium punggung tangan dokter berhijab anggun tersebut.
"Te Aya ... ayo ... mamam," ajak Raga sambil kembali ke kursinya dan melanjutkan sarapan dibantu oleh Yoga.
"Terima kasih, Sayang. Tante sudah sarapan di rumah. Raga dihabiskan mamamnya ya, supaya sehat dan kuat, bisa menjaga adek Gana," jawab Alya sambil mengusapi punggung Aura yang sudah merebahkan kepala di atas bahunya. Rupanya bayi cantik itu sudah mengantuk dan mulai memejamkan sepasang mata indahnya.
"Maga ... caga Aya ... cuga." Raga menunjuk Aura dengan jari mungilnya, membuat yang lain tersenyum dan mengiyakan ucapan bocah setampan Ayahnya tersebut.
"Oh iya, Raga pintar, pasti bisa menjaga Aura juga, Sayang." Ardi muncul dan menjawab ucapan Raga sembari mengusapi kepalanya dengan sayang.
Lelaki yang sudah berpenampilan rapi tersebut memperhatikan sang putri yang sudah mulai terlelap di pelukan Alya, membuat hatinya mendadak diliputi keharuan dan kebahagiaan yang bercampur menjadi satu.
"Melihat kedekatan kalian yang seperti ini, membuatku enggan untuk kembali berjauhan denganmu, Al. Aura pasti akan sangat merindukan dirimu di sana. Mungkin aku pun juga demikian ...."
__ADS_1
Yoga memperhatikan pandangan teduh Ardi yang tertuju pada Alya. Sementara Alya yang diperhatikan oleh dokter duda itu mengalihkan pandangannya yang baru saja beradu dengan tatapan hangat Ardi yang membuat hatinya bergetar lagi.
"Segeralah berangkat, Di. Mobil sudah disiapkan oleh Pak Budi di depan."
Suara Yoga membuyarkan angan-angan Ardi yang tengah melayang membayangkan kebersamaan bersama wanita yang berdiri di hadapannya.
Tanpa membalas ucapan Yoga, Ardi mengambil botol susu Aura yang sudah disiapkannya di meja makan, lalu dia masukkan ke dalam tas perlengkapan bayi yang akan dibawa ke rumah sakit.
"Ayo, Al. Kita berangkat sekarang. Oya, apa kamu perlu menggunakan selendang atau gendongan instan? Aku akan mengambilnya dulu di kamar."
Tanpa menunggu jawaban Alya, Ardi kembali ke kamar untuk mengambil dua macam gendongan yang dimaksud olehnya tadi.
Nara memberikan Gana pada suaminya, lalu dia berdiri dan membantu Alya memakaikan gendongan instan yang lebih praktis digunakan dengan cepat. Ardi kemudian memasukkan selendang di tangannya ke dalam tas untuk berjaga-jaga apabila dibutuhkan nantinya.
"Terima kasih, Ra," ucap Alya sambil menyamankan posisi Aura di dalam gendongannya kemudian merapikan bagian hijabnya yang tertarik dan sedikit berantakan.
Diam-diam Ardi kembali menatap Alya dengan pandangan kagum akan sikap lembut dan keibuan wanita anggun itu.
"Semoga aku masih mempunyai kesempatan untuk memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupmu, Al."
"Ga, Ra, kami berangkat dulu. Daaa ... Raga."
Ardi mencium kepala bocah tampan yang masih asyik menghabiskan sarapannya, lalu berjalan mendahului Alya yang masih berpamitan pada pasangan yang selalu penuh cinta dan kemesraan sepanjang waktu.
Sampai di ruang tamu, tak lupa dia mengambil boneka pemberian Alya untuk dibawa serta, kalau-kalau Aura mencarinya nanti.
Perjalanan pagi mereka terasa hening sebab Alya terus terdiam dan hanya memperhatikan Aura yang semakin pulas di dalam gendongannya.
Sesekali Ardi hanya bisa menoleh sekilas, sekedar memastikan bahwa Alya tetap merasa nyaman bersama Aura yang wajahnya terlihat begitu tenang dan damai dengan senyum kecil yang sesekali tampak menghiasi wajah cantiknya.
"Seandainya aku bisa menikmati pemandangan seindah ini setiap hari ...."
Tiba-tiba lelaki bermata teduh itu teringat sesuatu yang selalu terlupakan olehnya sejak kemarin.
"Al, bolehkah aku menyimpan nomor ponselmu?" tanyanya sebelum melupakannya lagi.
__ADS_1
Alya tampak bingung dengan pertanyaan Ardi.
"Apa selama ini dia juga belum menyimpan nomorku?"
Ardi yang melihat kebingungan di wajah Alya segera menambahkan alasannya untuk menjelaskan kepada wanita anggun di sampingnya.
"Mmm ... kesepakatan kita waktu itu, Al. Sampai sekarang aku belum berani menyimpan nomormu secara pribadi. Oleh karena itu aku ingin meminta ijinmu dulu sebelum aku benar-benar menyimpannya di dalam kontak ponselku."
Alya merasa serba salah mendengar penjelasan Ardi. Ternyata mereka masih sama-sama mengingat kesepakatan yang mereka buat pada saat pertemuan terakhir, tepat sebelum perpisahan di antara mereka terjadi kala itu.
"Haruskah kita mengakhiri kesepakatan itu sekarang, Di? Dan apakah itu artinya kamu juga sudah mengetahui tentang kesendirianku kini? Bagaimana aku harus menjawabnya ...?"
Alya masih terdiam, belum bisa memutuskan. Dia masih ragu dan takut untuk memulainya, jika benar Ardi sudah mengetahui kebenaran tentang kehidupannya selama ini.
"Tapi mengapa dia tetap bersikap tenang dan seolah tidak mengerti apa-apa? Mengapa dia diam saja jika sudah mengetahui semuanya? Apakah dia memang sudah tidak peduli lagi dengan diriku? Ah ... tidak, apa yang aku pikirkan? Mengapa aku malah mengharapkan perhatian darinya? Ada apa denganku ...?"
Ardi tahu apa yang dipikirkan Alya, tapi dia tetap bertahan dengan langkah yang diambilnya. Dia tidak akan berterus-terang pada wanita itu jika dirinya sudah mengetahui semuanya. Dia benar-bebar ingin menjaga perasaan Alya, berkenaan dengan trauma yang dialaminya.
"Maafkan aku, Al. Aku hanya ingin menjagamu dengan caraku. Aku akan membuatmu lebih dulu merasa nyaman dengan keberadaanku bersamamu. Aku tidak akan memaksamu apalagi memaksakan perasaanmu. Aku akan menunggu saat itu tiba. Saat di mana kamu telah membuka hati sepenuhnya untuk kembali menerima kehadiranku bersama dengan Aura."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1