CINTA NARA

CINTA NARA
98 LUKA BERSEJARAH


__ADS_3

"Sayang ...."


Nara yang tengah mengawasi Raga berjalan merambat di sepanjang tepian sofa menoleh bersamaan si bayi juga melihat ke arah ayahnya. Dia tersenyum menyambut kepulangan suaminya dari kantor.


"Raga, sini ...!" Yoga berlutut di ujung sofa sambil merentangkan tangannya, menunggu sang bayi mendekat.


Benar saja, seperti biasa bayi yang sudah sangat aktif bergerak itu langsung mempercepat langkahnya, merambat sambil tangannya berpegangan pada tepian sofa.


Mulutnya terbuka lebar, memgembangkan tawa riang dengan suara khasnya yang membuat siapa pun yang mendengarnya ikut merasa gemas.


"Ah ... aah ... ah ...."


Semakin dekat dengan ayahnya, tangan mungil itu terulur ke depan berusaha menggapai lelaki itu.


"Ayo, Nak. Sedikit lagi!" Yoga masih menunggu sambil melebarkan senyumannya.


Akhirnya tangan mungil itu berhasil menggapai tubuh sang ayah yang segera mendekap tubuh gembulnya yang menggemaskan.


"Aaa ..., Raga pintar!"


Yoga duduk dan menggendong Raga seraya menghujaninya dengan ciuman sayang di seluruh wajah si bayi. Nara turut menghampiri lalu mencium tangan suaminya.


"Tidak biasanya kamu pulang lebih cepat, Mas?"


Nara mengambil tas Yoga dan meletakkannya di atas meja kerja. Kemudian dia kembali dan menbantu melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya, yang masih sibuk memangku Raga dan menimangnya.


"Iya, Sayang. Hari ini tidak ada jadwal pertemuan penting, jadi aku bisa pulang lebih dulu."


Yoga menyempatkan mendekap istrinya sebentar dan mencium keningnya dengan lembut, membuat Raga memperhatikan tingkah kedua orangtuanya dengan wajah polos tanpa dosa.


Nara membiarkan mereka berdua bermain menunggu sore hari tiba. Dia keluar kamar dan pergi ke dapur hendak membuat jus buah segar untuk suaminya.


Tak lama kemudian dia sudah kembali ke kamar dengan segelas jus buah segar untuk suaminya. Dia mengambil Raga dari pangkuan Yoga lalu mendudukkan bayi gembul itu di atas karpet agar Yoga bisa meminum dulu jus yang baru saja dibuatnya.


"Mam ... maam ... maamm ...."


Melihat ayahnya memegang gelas, bayi lucu itu merengek dengan tangan menggapai ke atas meminta minuman Yoga. Nara mengambil biskuit bayi yang ada di atas meja lalu memberikannya satu untuk dipegang dan digigit sendiri oleh Raga.

__ADS_1


Yoga menghabiskan minumannya dan memberikan gelas kosongnya pada sang istri. Nara membersihkan bibir lelaki itu dengan jemari tangannya lalu meninggalkan satu kecupan singkatnya di sana.


"Akan kusiapkan dulu air mandi untuk Raga."


Nara berdiri lalu meletakkan sementara gelas yang dibawanya di atas meja kerja Yoga, dan masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi bayinya.


"Biar aku yang memandikan Raga, Sayang. Sekalian aku juga ingin mandi. Kamu siapkan saja pakaian ganti untuknya."


Yoga menyusul ke kamar mandi bersama Raga yang sudah polos tanpa pakaian di dalam gendongannya. Sementara dia sendiri masih berpakaian lengkap.


Nara mengangguk dan mengambil Raga dari dekapannya lalu mendudukkan bayi itu di dalam ember mandinya yang sudah berisi air hangat suam-suam kuku.


Yoga menyusul setelah melepaskan pakaian kerjanya dan hanya mengenakan celana pendek dan kaos rumahan. Dia mengambil alih Raga dan bermain air bersama sang bayi seraya memandikannya. Nara tersenyum dan meninggalkan mereka untuk menyiapkan semua keperluan bayinya.


Sepuluh menit kemudian, dia mengambil Raga yang masih bermain air dan membungkus tubuhnya dengan handuk kesayangan. Dibawanya sang bayi dan didudukkan di atas mejanya untuk didandani.


Selesai berpakaian rapi dan wangi, bayi itu menangis kehausan dan Nara segera duduk di sofa untuk memberinya ASI. Beberapa menit kemudian, bayi itu sudah terlelap dalam tidurnya dengan sangat mudah.


Yoga keluar dari kamar mandi, mendapati Nara baru saja meletakkan Raga di atas tempat tidurnya dan tengah menyelimuti sang bayi. Dipeluknya tubuh itu dari belakang dan bermanja sejenak di bahunya.


Yoga mencium bahu Nara yang membuat wanita itu merasa geli dan membalikkan tubuhnya menghadap sang suami.


"Aku juga mencintaimu, Mas." Nara memperhatikan wajah rupawan itu tanpa berkedip.


Ada yang membuatnya tertegun seketika, saat melihat suaminya masih belum mengenakan pakaian atasnya. Sesuatu yang menarik perhatiannya dan baru dlihatnya lagi setelah berbulan-bulan lamanya.


Ada bekas sayatan memanjang di sana, membuat dadanya sendiri berdesir halus dan berdebar kemudian. Dia teringat pada hari tak terlupakan itu. Hari di mana dia nyaris kehilangan Yoga untuk selamanya.


"Ada apa?" Suara berat Yoga terdengar membuat Nara menatap lekat-lekat wajah lelaki yang dicintainya tersebut.


Matanya berkaca-kaca dan hampir meneteskan air mata. Senyumnya tertahan dengan bibir yang bergetar ingin segera menumpahkan tangisan.


"Ini. Aku mengingat peristiwa ini." Jemari tangan Nara menyentuh lembut bagian yang dimaksudnya.


Hati-hati dia meraba permukaan kulit di sepanjang bekas luka sayatan itu. Hal yang belum pernah dilakukannya sama sekali dan saat sekarang melakukannya, hatinya terus berdesir halus karenanya.


Selama ini setiap kali usai mandi, Yoga selalu keluar dengan pakaian rapi yang sudah disiapkan Nara. Luka itu tidak pernah ingin ditampakkannya meskipun Nara sudah mengetahuinya. Dia tidak ingin membuat istrinya bersedih jika melihatnya.

__ADS_1


"Maaf, aku belum sempat menyiapkan pakaianmu," ucap Nara tanpa mengalihkan pandangannya dari bagian luka bersejarah tersebut.


"Tidak apa-apa, Sayang. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti."


Yoga menekan tangan sang istri dengan tangannya, sehingga telapak tangan Nara menempel sempurna di atas dada bidang suaminya. Dengan sangat jelas dia bisa merasakan detak jantung Yoga yang teratur dan menenangkan hatinya.


"Aku sudah sembuh, Sayang. Aku sudah kembali untukmu dan anak kita."


Mengangguk dan meneteskan air mata, hanya itu yang bisa dilakukan Nara tanpa sepatah kata pun yang mampu terucap dari bibirnya. Hatinya terlampau haru sehingga dia memilih diam dan meresapi seluruh perasaannya saat ini.


Menarik tangannya menjauh, Nara lalu memeluk tubuh Yoga dan merebahkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Sebelah wajahnya menempel sempurna termasuk telinganya yang langsung mendengar dengan jelas detakan lembut yang mendebarkan hatinya.


Matanya terpejam di tempat ternyamannya, tempat yang selalu membuatnya merasa tenang, dan sekarang tempat itulah yang akan selalu membuatnya terharu dan mengingat saat-saat penuh air mata yang dialaminya bersama Yoga.


Perlahan Nara menciumi bagian luka itu, diurutkannya dari atas hingga bawah, diciumnya dengan lembut dan penuh perasaan. Ingatannya kembali pada saat di mana perpisahan hampir saja terjadi di antara mereka.


Nara menghentikan ciumannya lalu kembali memeluk erat tubuh suami tercintanya. Emosinya tak bisa dikendalikan lagi. Tangisannya tumpah di sana, di tempat yang menyimpan banyak cerita awal mula kisah cinta mereka.


Kisah cinta rumit yang terjadi di antara mereka, yang tak jelas arahnya di awal pernikahan dulu. Cinta yang awalnya hanya sepihak dan dibalas dengan kebencian di hati Nara untuk suaminya.


Cinta yang dipenuhi air mata kesedihan pada mulanya, namun akhirnya berubah menjadi tangisan kebahagiaan yang sekarang mereka rasakan bersama, dengan cinta terindah yang telah saling terikat erat dan tak akan pernah terpisahkan untuk selamanya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2