
"Sudah selesai, Al?"
Alya terkejut karena tiba-tiba Rendy sudah masuk dan berdiri di seberang meja, saat dirinya baru saja menyelesaikan pemeriksaan pada pasien terakhir malam ini.
"Maaf aku tidak mengetuk pintu lebih dulu." Rendy mendahului minta maaf sebelum Alya berpikiran buruk tentangnya.
"Ayo, aku antar kamu pulang."
Alya ingin menolaknya tapi tak kuasa berucap apa pun saat mata teduh itu menatapnya dengan senyuman lembut seperti biasanya. Tidak tega rasanya jika harus terus menghindari lelaki baik tersebut.
Tanpa kata Alya hanya bisa mengangguk dan segera merapikan mejanya kemudian berdiri dan mengambil tasnya.
Rendy keluar lebih dulu setelah merasa yakin bahwa wanita itu akan ikut bersamanya. Alya berjalan di belakangnya, diam dan terus melangkah menuju lift.
"Kamu masih marah padaku, Al?" tanya Rendy sambil menoleh ke arah Nara yang berdiri menunggu di sampingnya.
Alya menggelengkan kepala dengan cepat tanpa menatap wajah Rendy.
"Aku tidak pernah marah padamu. Maaf jika sikapku membuatmu salah paham. Sudah kukatakan sebelumnya, aku hanya tidak ingin memberimu harapan yang sia-sia dan membuang waktumu saja." Alya mencoba untuk menjelaskan kembali pada Rendy yang sepertinya masih salah paham dengan sikapnya.
"Tapi bagaimanapun juga, aku sangat berterima kasih atas kebaikan hatimu selama ini, yang selalu meluangkan banyak waktu untukku dan memberikan perhatian yang tak terhitung jumlahnya. Entah dengan apa aku bisa membalasnya, karena aku tidak bisa membalasnya dengan perasaan yang sama untukmu. Maaf ...."
Rendy kembali menatap Alya yang semakin menunduk. Dia tidak tega melihat wanita itu begitu merasa bersalah karena dirinya.
"Aku ...." Ucapan lelaki itu terputus saat lampu penanda menyala kemudian lift sudah terbuka. Mereka masuk dan sama-sama diam hingga lift terbuka lagi karena sudah sampai di lantai bawah.
Rendy berjalan pelan agar Alya tidak ketinggalan. Mereka sampai di halaman parkir dan segera masuk ke dalam mobil dokter tulang bersahaja itu.
"Al, aku tidak meminta balasan apa pun dari kamu, karena aku sendiri sudah tahu perasaanku tidak akan pernah bersambut hal yang sama. Aku hanya berharap satu hal saja darimu, dan semoga kamu bisa memenuhinya. Bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri."
Rendy belum menyalakan mesin mobilnya dan masih membuka kaca di kedua sisi mereka, agar tidak menimbulkan kecurigaan dari luar.
"Apa?" Akhirnya Alya bersuara untuk mengetahui permintaan dari Rendy.
Rendy menyampingkan tubuhnya dan mengunci tatapannya pada wajah lembut Alya yang terus tertunduk sedari tadi.
Sejenak dia menikmati keindahan yang terpampang nyata di hadapannya tanpa berkedip hingga sepasang netra teduh itu memerah dan berair.
"Aku mencintaimu, Al. Entah sampai kapan aku pun tidak tahu. Aku tidak akan mendahului takdir Allah. Tetapi jika masih bisa meminta, aku akan memohon pada-Nya agar aku bisa mencintaimu seumur hidupku, meskipun hanya di dalam kesendirianku tanpa memilikimu selamanya ...."
__ADS_1
Rendy tersenyum setelah menguatkan hatinya sendiri yang sesungguhnya tengah perih serasa diiris sembilu.
"Balaslah perasaanku dengan hidup bahagia bersama orang yang kamu cintai, lelaki yang selama ini selalu kamu cintai tanpa henti. Berbahagialah bersamanya. Karena dengan melihatmu bahagia, maka aku pun akan merasakan kebahagiaan."
.
.
.
Di dalam kamar, Ardi tersenyum lega karena sudah berhasil menidurkan Aura yang semula sedikit rewel karena terus memanggil Alya yang disebutnya bubu.
Perlahan dibaringkannya sang putri kecil di atas tempat tidur yang oleh Nara sudah dilengkapi dengan seperangkat kasur bayi lengkap agar Aura bisa beristirahat dengan pulas dan nyaman.
Setelah merapikan selimut putrinya, Ardi melepaskan penat dengan membaringkan tubuhnya telentang dengan mata tertutup rapat. Lelah menderanya dengan sangat, namun tak kunjung bisa terlelap seperti Aura.
Bayangan wajah seseorang justru terus memenuhi pikiran, membuatnya kembali membuka mata dengan hati penuh debaran.
"Ada apa denganku? Mengapa pikiranku kini dipenuhi segala hal tentang dirinya?" Ardi menghela nafas pelan dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Benarkah aku telah kembali terpikat padanya? Tapi ... secepat inikah?" Ardi bangun dan turun dari tempat tidur.
Namun saat melewati ruang tengah, dia melihat Yoga menuruni tangga dan memanggilnya sehingga dia menghentikan langkah dan menunggu sahabat kecilnya datang menghampiri.
"Apa ada?" tanya Ardi sembari menyesap teh buatannya yang masih terasa sangat panas.
Yoga mengajaknya duduk di ruang tamu agar bisa tetap memantau Aura di dalam kamar.
"Baru saja Dokter Alya menghubungi Nara dan menanyakan tentang keadaan Aura." Yoga melihat penanda waktu yang tertera di layar ponselnya.
"Sepertinya dia baru saja pulang dari rumah sakit. Dan dia langsung mengkhawatirkan kondisi putrimu sehingga menghubungi Nara dengan segera."
Ardi tersenyum mendengar ucapan Yoga lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
"Entah mengapa mereka berdua bisa mempunyai ikatan batin yang sangat kuat. Apalagi Aura, dia seperti menemukan kembali sentuhan kasih sayang yang selama ini dirindukannya."
"Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Yoga dengan tatapan mata yang tajam menunggu jawaban sang sahabat.
Ardi menggeleng lemah dan merebahkan tubuhnya bersandar ke belakang.
__ADS_1
"Aku belum tahu. Aku masih ragu untuk mengartikan perasaan yang mulai mengganggu pikiranku ini. Bagiku semuanya masih terlalu cepat dan aku takut salah langkah dalam menyikapinya."
Ardi mengusap kasar wajahnya, mencoba menghapus bayangan wajah Alya yang kembali hadir saat dia mulai membicarakan tentangnya.
"Tapi aku mulai menaruh kecurigaan kepadanya. Benar katamu, ada sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikannya dariku."
Dokter duda itu menceritakan sikap Alya saat dirinya menanyakan tentang keberadaan suaminya. Sikap Alya yang diam dan tidak menjawab pertanyaan tersebut, membuat Ardi meyakini adanya sesuatu yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga wanita masa lalunya itu.
"Apakah kamu juga sudah mengetahuinya?" tanya Ardi pada Yoga yang masih terus menatapnya tanpa henti.
"Aku akan mengatakan semua hal tentang Doter Alya, jika kamu sudah mengetahui kebenaran pokoknya."
Yoga tidak menjawabnya justru mengulang kembali ucapannya dan mendukung Ardi untuk terus berusaha mencari tahu kebenarannya.
"Percayalah padaku. Aku tidak mungkin menjerumuskan sahabatku sendiri pada hal yang salah dan di luar akal sehat."
Ardi pasrah dan kembali membayangkan kebersamaannya dengan Alya sore tadi. Entah mengapa dia merasa bahagia mengingatnya dan membayangkan wajah Alya yang terus-menerus bersemu merah dan selalu menghindari tatapannya.
Kecuali saat terakhir di depan ruang pemeriksaan, dokter berhijab anggun itu tanpa sadar menatapnya dan tersenyum manis ke arahnya.
Walaupun hanya sesaat karena wanita itu segera menyadari dan mengakhirinya, namun sampai sekarang tatapan mata dan senyuman di bibirnya itu terus terbayang dan membuat perasaan Ardi menjadi tidak tenang dan tak bisa berhenti memikirkannya.
"Aku seperti melihat Alya-ku yang dulu. Yang selalu membuatku bahagia dengan tatapan lembut dan senyuman terindahnya ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1