CINTA NARA

CINTA NARA
2.29. MENYELAMATKAN BUNGA


__ADS_3

Ardi keluar dari bandara dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menjemputnya. Alya ikut menemaninya dan duduk bersama di kursi belakang.


"Pak, lebih cepat ya, Pak! Bagaimana kondisi istriku sekarang?"


Kepanikan dan ketakutan terlihat jelas di wajah pucat Ardi yang tak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini dan penuh ujian.


"Ya, Mas Ardi. Dokter mengatakan Mbak Bunga harus segera menjalani operasi tetapi dia tidak mau dan bersikeras untuk melahirkan normal dan ditunggui oleh Mas Ardi."


Ardi berkali-kali mengusap kasar wajahnya dan menyugar rambutnya dengan acak.


"Tenangkan dirimu, Di. Istrimu membutuhkan kamu, jadi kamu harus kuat dan memberikan semangat kepadanya nanti."


Alya mencoba menenangkan Ardi dengan suara lembut dan penuh kesabaran. Tak terlihat lagi wibawa seorang dokter yang biasanya melekat pada diri lelaki itu.


Saat ini keadaan Ardi tak jauh berbeda dengan para suami pada umumnya yang selalu panik dan kalut saat sang istri akan melahirkan buah hati mereka.


Pagi saat acara seminar hari kedua baru saja dilaksanakan dengan kuliah umum yang telah disampaikan oleh Ardi, lelaki itu mendapatkan telepon dari orangtuanya yang mengabarkan jika Bunga mengalami perdarahan akibat terjatuh dari tangga teras rumah mereka saat akan keluar untuk melakukan jalan pagi.


Alya yang duduk di sebelah Ardi dan mendengarkan saat lelaki itu menerima telepon, langsung berinisiatif untuk ikut serta bersamanya dan urung pulang ke kotanya.


Dia yang semula terus berusaha menjauhi Ardi tergerak hatinya saat melihat kepanikan di wajah mantan kekasihnya itu.


Akhirnya dengan sedikit memaksa disertai alasan ingin membantu proses persalinan istrinya, Ardi membiarkan Alya turut pulang bersamanya.


Mobil sampai di teras klinik ibu dan anak milik Ardi. Tanpa peduli apa pun lagi dokter pemilik klinik tersebut turun dari mobil dan berlari cepat menuju ruang persalinan diikuti Alya yang mengejar di belakangnya.


Sebelum mengikuti Ardi masuk ke dalam ruangan di mana Bunga terus berteriak kesakitan, terlebih dahulu Alya menyalami kedua orangtua Ardi yang dikenalnya dengan baik.


Terlihat pula di sana Nara dan Yoga yang segera datang setelah mendapat kabar dari mamanya Ardi. Setelah menyapa mereka berdua, Alya bergegas masuk ke dalam ruang persalinan untuk melaksanakan tugasnya.


Di dalam ruangan, Alya melihat perhatian Ardi yang begitu besar pada istrinya. Lelaki itu terus memeluk dan menenangkan sang istri.


Ardi berusaha membujuk dan meyakinkan wanita yang terbaring lemah dan teramat kesakitan itu agar bersedia melakukan operasi sesar untuk mengeluarkan bayi mereka dengan segera.


Tanpa diminta, Alya menyapa dokter lain yang sudah lebih dulu menangani Bunga sebelum mereka datang. Dia menanyakan kondisi Bunga dan memperhatikan catatan medisnya dengan seksama.

__ADS_1


"Di, istrimu harus segera dioperasi! Kondisi bayi kalian kian melemah di dalam sana. Sementara istrimu sudah sangat kepayahan seperti itu. Dia tidak memiliki cukup tenaga untuk bisa melahirkan dengan normal dalam kondisi darurat seperti ini."


Ardi semakin bingung dan tak bisa lagi berpikir dengan baik. Dia terdiam dan terpaku melihat Bunga yang terus merintih dan mulai kehilangan kesadarannya.


Otaknya tak bisa lagi berpikir jernih apalagi untuk melakukan tindakan sebagai dokter seperti biasanya.


Merasakan genggaman tangan Bunga yang kian mengendur dan akhirnya terlepas, akhirnya dia menatap Alya dengan sorot mata penuh kesedihan dan kepasrahan.


"Tolong selamatkan istri dan anakku, Al."


Begitu mendengar ijin yang terucap dari bibir Ardi, Alya mengangguk dengan cepat dan segera berkoordinasi dengan dokter dan para perawat untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


Setengah jam kemudian, Alya sudah memimpin operasi sesar yang dijalani Bunga dengan Ardi yang terus berada di samping istrinya, yang sudah kehilangan kesadaran karena kondisinya yang terlampau lemah.


Alya dan timnya melaksanakan tugas mereka dengan cermat dan cekatan. Kondisi Bunga telanjur lemah akibat bersikeras menunggu Ardi datang dan menolak ditangani sebelum sang suami berada di sisinya.


Sedangkan Ardi, lelaki itu bahkan tak terlihat lagi sebagai seorang dokter kandungan handal yang biasanya menangani hal serupa seperti yang tengah dijalani istrinya tersebut.


Dua puluh menit berlalu, terdengarlah suara lengkingan tangis pertama bayi Ardi dan Bunga. Dengan kedua tangannya Alya memegang sang bayi merah dan menunjukannya sejenak pada Ardi.


"Alhamdulillah, putri pertama kalian sudah lahir dengan sehat dan tak kurang suatu apa pun. Selamat, Di!"


"Alhamdulillah! Terima kasih, Ya Allah!"


Ardi menengadah dan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya yang mulai dihiasi dengan senyuman bahagia.


Kemudian dia mencium kening dan seluruh wajah Bunga yang masih tak sadarkan diri, membuat hati Alya teriris perih untuk sesaat. Wanita itu tersenyum getir dan segera menghela nafas panjang untuk menenangkan diri.


Alya memberikan bayi mungil itu pada perawat untuk dibersihkan dan dilakukan pemeriksaan awal oleh dokter spesialis anak. Kemudian dia kembali berkonsentrasi menyelesaikan tugasnya.


Satu jam berlalu, Ardi sudah keluar meninggalkan Bunga untuk menengok bayi mungilnya di ruang bayi yang berada satu lantai dengan ruang persalinan dan ruang operasi.


Alya masih terus memantau kondisi istri dari mantan kekasihnya itu dengan penuh tanggung jawab. Tak dihiraukannya letih yang mendera seluruh tubuh lantaran tak memiliki jeda waktu istirahat sejak melakukan perjalanan kemari dan langsung menangani Bunga yang kondisinya sangat darurat.


Dokter berprestasi tersebut sudah membersihkan diri dan berganti pakaian namun tetap siaga berjaga di ruang pemulihan pasca operasi, yang masih berada di sudut lain di dalam ruang operasi yang besar tersebut.

__ADS_1


Seorang perawat mendatangi Alya dan mengantarkan secangkir teh hangat untuk Alya yang langsung diterima dan diminumnya sampai habis.


Sepiring kue juga diletakkan sang perawat di atas meja beserta air mineral kemasan yang selalu tersedia di sana.


"Suster, tolong sampaikan pada Dokter Ardi untuk menemui dokter anak di ruangannya, agar dia mendapatkan penjelasan lengkap tentang kondisi putrinya yang baru saja lahir."


Perawat yang masih berdiri di hadapan Alya itu mengangguk dan segera pergi untuk melaksanakan permintaan dokter anggun tersebut.


Nara duduk bersandar dan memperhatikan Bunga yang masih tak sadarkan diri dari kejauhan. Dua orang perawat menunggui di dalam ruangan yang terbuka tanpa pintu tersebut.


"Bunga, kamu sangat beruntung memiliki Ardi. Kamu telah berhasil menyembuhkan luka hatinya yang tergores sangat dalam karena perpisahan kami dulu."


Sudut bibir Alya melengkungkan senyuman penuh arti. Dalam hatinya dia bersyukur, Ardi mampu bangkit dari keterpurukannya dan bisa membuang rasa patah hatinya karena keputusan mereka untuk mengakhiri hubungan dengan terpaksa, tanpa ada yang menginginkan itu terjadi.


"Terima kasih karena telah membahagiakan lelaki yang aku sayangi ... dan aku cintai. Tetaplah bersamanya dan berbahagialah kalian selamanya."


Alya menyeka air matanya lalu mengalihkan pandangannya dari wanita yang baru saja memberikan putri kecil untuk Ardi, lelaki yang dicintainya.


Dibukanya gawai yang sudah tergenggam di tangannya lalu mulai membuka laman berita untuk mengetahui kelanjutan acara seminar yang telah ditinggalkannya bersama Ardi pagi tadi.


Baru beberapa saat membaca berita yang dicarinya, tiba-tiba seorang perawat keluar dari ruangan Bunga dan menghampirinya dengan terburu-buru.


"Dok, Ibu Bunga kembali mengalami perdarahan dan tekanan darahnya menurun drastis!"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2