CINTA NARA

CINTA NARA
3.77. AKU TELAH SIAP


__ADS_3

"Alya, kamu tidak apa-apa?"


Ardi mengetuk pintu kamar mandi di dalam kamar mereka. Sudah hampir tiga puluh menit istrinya di sana dan belum keluar juga. Dia mencemaskan Alya, takut sesuatu yang buruk terjadi tanpa sepengetahuannya.


Tak berapa lama kemudian pintu di depannya terbuka. Alya keluar dengan pakaian ganti yang tadi dibawa masuk, lengkap dengan jilban instan yang menutupi bagian kepalanya. Sekilas tak ada yang aneh dari gelagat wanita itu, tapi Ardi tahu apa yang dipikirkan oleh sang istri.


"Maaf, aku membuatmu cemas." Tanpa berani membalas tatapan suaminya, Alya terus menunduk dan berjalan. Dia menghindari Ardi yang masih berdiri di ambang pintu.


"Alya ...."


Langkah wanita itu terhenti saat Ardi menahan satu tangannya. Lelaki yang sudah menjadi suaminya tersebut menyusul langkahnya dan berdiri tepat di hadapan Alya.


"Aku tahu kamu masih merasa takut. Aku mohon, izinkan aku menghilangkan ketakutan itu agar kamu bisa segera pulih, Al. Kamu percaya padaku, bukan?"


Kini kedua tangan Ardi telah menyatu dalam genggaman sebelumnya, mencoba untuk lebih meyakinkan sang istri. Dia pun tak ingin memaksa, hanya berusaha untuk menguatkan Alya agar berani melawan ketakutan dan bayang-bayang masa lalu yang masih menghalangi kesembuhan luka batinnya.


Ucapan lembut Ardi membuat Alya mengangkat wajah dan mengunci pandangannya ke arah sang suami. Dia sangat percaya pada lelaki di hadapannya. Hanya saja, kondisinya sekarang tak seperti dulu kala mereka menjalin ikatan sebagai pasangan kekasih.


"Aku selalu mempercayaimu, lebih dari yang kamu kira. Maaf jika aku masih mengecewakan dirimu dengan sikapku. Mulai sekarang kamulah yang paling berhak atas diriku. Aku tidak akan pernah melawan atau menghindarinya. Tapi tolong, beri aku waktu untuk menyesuaikan diri dengan hubungan baru ini, hingga aku bisa menyerahkan diriku sepenuhnya kepadamu."


Ardi mengangguk dengan pasti. Tak pernah sedikit pun terlintas dalam benaknya, untuk memaksakan kehendak. Dia bukan lelaki pemaksa apalagi pemikir nafsu. Dia mencintai Alya setulus hati. Baginya, kesembuhan Alya adalah yang terutama saat ini, bukan yang lainnya.


"Aku akan menunggumu, Alya. Sampai kamu sendiri yang menyatakan siap dan ikhlas, aku akan menjaga batasan sementaraku. Berjuanglah untuk sembuh. Aku selalu ada bersamamu."


Perasaan Alya menghangat seketika. Desiran halus kembali terasa mennyisiri rongga dada dan menciptakan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya. Pandangannya kian sayu, menatap Ardi yang tetap bersikap tenang di hadapannya.


"Terima kasih," ucapnya dengan wajah yang kian merona. Dia menarik tangannya dan meninggalkan Ardi yang tersenyum seraya menghela napas panjang.


"Aku akan keluar sebentar. Ada yang harus aku hubungi di klinik," pamit lelaki itu sambil meraih ponsel yang ada di atas meja.


Alya mengangguk dari atas tempat tidur. Dia duduk menunggui Aura yang tertidur sangat lelap setelah meminum obatnya.


Menatap punggung lelaki yang telah menjadi suaminya, diam-diam wanita itu tersenyum. Hingga sosok Ardi menghilang di balik pintu yang kembali tertutup, Alya masih bertahan dengan senyuman yang membuat hatinya terasa berbunga-bunga.


Ya Allah, berilah aku keberanian untuk mulai berbakti kepadanya. Sekarang dia adalah suamiku dan aku harus bisa menjadi istri sholehah yang melayaninya dengan baik.

__ADS_1


Alya mencium kening Aura, merapikan selimutnya lalu turun dan menuju meja rias. Duduk terpaku menatap bayangan dirinya di cermin, wanita itu perlahan melepaskan jilbabnya. Dia mengurai rambut hitamnya yang sedikit ikal lalu mulai menyisir dan merapikan, setelah seharian terikat dan tertutup hijab.


Batinnya terus berperang dalam gamang. Beradu antara ketakutan dan keberanian untuk membuka diri dan sepenuhnya menerima kehadiran Ardi dalam hidupnya mulai saat ini.


Dia mengusir cepat bayangan peristiwa kelam yang masih mengganggu pikirannya. Dia terus berdoa dan meyakinkan diri sendiri, bahwa yang terutama baginya sekarang adalah Ardi sang suami dan Aura putri kecil kesayangan mereka.


Aku harus segera sembuh. Mereka berdua adalah yang terpenting bagiku. Aku harus bisa menjadi istri dan ibu yang baik bagi Ardi dan Aura. Jangan sampai aku mengecewakan keduanya. Kami bertiga harus selalu bahagia, selamanya.


.Alya mengikat lagi rambutnya lalu kembali memakai jilbab yang sama. Tanpa polesan riasan di wajahnya, wanita itu keluar kamar setelah memastikan Aura aman di tengah tempat tidur.


Berniat untuk membuatkan suaminya minuman hangat, Alya menuruni tangga dan menuju dapur. Dilihatnya Ardi duduk sendiri di ruang keluarga sambil memegang ponsel yang menempel di telinga. Lelaki itu masih sibuk dengan pembicaraan seputar pekerjaan di klinik, dengan salah satu dokter di sana.


Orangtua Alya sudah beristirahat di dalam kamar, sementara keluarga besar Ardi memilih untuk menginap di salah satu hotel terdekat. Mbak Mia juga sudah berada di kamarnya setelah seharian penuh membantu kesibukan di rumah tersebut.


Alya segera membuat dua cangkir minuman hangat lalu membawanya ke kamar. Dia tak ingin meninggalkan Aura terlalu lama sendirian di dalam kamar yang masih asing baginya.


Tak lama setelah Alya kembali dan meletakkan minuman di atas meja, Ardi menyusul masuk dan menutup pintu tanpa menguncinya. Sengaja dia melakukannya agar sang istri tidak merasa takut dan berpikiran macam-macam.


"Aku buatkan minuman untukmu, Di. Minumlah selagi hangat." Alya masih berdiri menunggu di depan meja.


Senyuman yang tampak di bibirnya, membuat Ardi bernapas lega dan melangkah mendekati Alya. Keduanya segera duduk bersama di sofa dan menikmati minuman buatan wanita ayu nan lembut itu.


"Sebaiknya kita segera beristirahat setelah ini."


Alya mengangguk dan mengiyakan ucapan suaminya. Dia meletakkan cangkirnya di samping cangkir Ardi yang telah lebih dulu kosong.


Ardi beranjak dari duduknya dan hendak menuju tempat tidur, diikuti Alya yang berdiri dengan ragu di sampingnya.


"Ardi ...," panggilnya lirih yang membuat sang suami mengurungkan langkah, kemudian menatapnya dengan hangat.


"Ada apa, Al? Kamu butuh sesuatu?" tanya Ardi pelan-pelan.


Alya terdiam dan memejamkan mata, mengumpulkan seluruh kekuatan dan keberanian untuk melawan rasa traumanya. Setelah ketenangan mulai melingkupi perasaannya, wanita itu membuka mata dan menatap Ardi dengan pandangan sendu.


"Aku telah siap jika kamu ingin membukanya."

__ADS_1


Meski ragu dan diselimuti rasa cemas, Alya berusaha menepis segala pikiran buruk yang terus mengganggunya. Dia akan semakin merasa bersalah jika terus mengabaikan Ardi yang selalu mengalah demi dirinya.


Ardi terkesiap mendengar pernyataan Alya. Tak menyangka akan secepat ini Alya mengambil sikap dan membuka diri untuknya sedikit demi sedikit.


Posisi mereka telah berhadapan dan saling mengunci pandangan. Terlihat jelas oleh Ardi bagaimana wajah tegang Alya dan sikap tidak tenangnya. Namun wanita itu tetap bertahan dengan keputusannya, demi membahagiakan sang suami tercinta.


Ardi memajukan tubuhnya, semakin dekat dan merapat dengan tubuh Alya yang kian tegang. Lelaki itu pun sama gugupnya dengan sang istri.


Sudah sekian lama sejak terakhir kali dia melihat Alya dengan penampilan sebelumnya. Dulu, saat mereka masih bersama dan mengikat cinta. Sekarang, setelah menjadi istrinya, lelaki itu akan melihat kembali semuanya. Apa yang selama ini telah dijaga dan dilindungi Alya sebagai bagian dari kehormatannya sebagai wanita.


"Bismillahirrahmanirrahim ...!"


.


.


.


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana πŸ™πŸ’œ


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_2