
"Ardi ...."
Alya terbangun karena mendengar suara ketukan pintu, tapi baru bisa membuka matanya beberapa saat kemudian.
Dan yang pertama kali dilihatnya adalah sosok lelaki yang dia cintai tengah berdiri menatapnya di samping pembaringan.
"Di, kenapa kamu ada di sini? Bagaimana keadaan istrimu sekarang? Dia baik-baik saja, kan?"
Pertanyaan bertubi-tubi meluncur dari bibir wanita yang sebenarnya masih merasa sangat lemas di sekujur tubuhnya. Sedangkan Ardi masih terdiam dan terus menatapnya.
"Di ...?" Alya berusaha bangun sendiri untuk duduk karena merasa tidak nyaman jika terus berbaring di hadapan Ardi.
Namun baru saja dia bergerak mengangkat tubuhnya dengan bertumpu pada kedua tangan, tubuhnya sudah limbung dan terjatuh ke belakang.
"Awas, Al! Hati-hati ...." Ardi menangkap tubuh Alya dan menahannya agar tidak sampai terjatuh begitu saja.
Kedua tangannya merengkuh tubuh Alya dari depan dan belakang, sementara tangan Alya pun refleks berpegangan pada bahu lelaki itu.
Meskipun samar-samar karena pusing dan rasa melayang hendak pingsan, Alya masih bisa menangkap tatapan sendu lelaki itu kepadanya dalam jarak wajah yang sangat dekat di antara mereka.
Demikian pula dengan Ardi, saat spontan menangkap tubuh Alya tatapannya terkunci begitu saja pada paras ayu nan lembut mantan kekasihnya tersebut.
Meskipun merasa sangat kepayahan, Alya berusaha melepaskan diri dan duduk sendiri sekuat tenaganya. Ardi yang mulai menguasai dirinya pun paham dan segera menjauhkan tangannya.
"Maaf."
Dia menekan tombol di bagian tepi untuk mengatur posisi pembaringan agar Alya bisa duduk bersandar dengan nyaman.
"Terima kasih." Alya lebih dulu menyandarkan tubuhnya dan merapikan selimut hingga setinggi pinggang, sebelum lelaki itu kembali membantunya.
Ardi melangkah mundur untuk menjauh dari wanita masa lalunya itu. Dia sendiri bisa merasakan jika sejak mereka bertemu di hotel kemarin, Alya selalu menjaga jarak bahkan lebih sering menghindarinya.
"Bagaimana keadaan istrimu?" Pertanyaannya masih sama karena Ardi belum menjawabnya.
"Dia sudah sadar dan sekarang sedang beristirahat."
Alya tersenyum lega. Tulus dia bersyukur atas pulihnya kondisi Bunga saat ini.
"Alya ...." Wanita itu tertegun mendengar panggilan Ardi kepadanya.
Dulu, lelaki itu selalu memanggilnya demikian saat mereka sedang berdua. Tanpa sadar hatinya kembali bergetar indah, seperti waktu lalu.
Alya hanya menatap Ardi tanpa membuka suara.
"Terima kasih." Ardi membalas tatapan mata wanita di hadapannya.
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Terima kasih karena darahmu telah menyelamatkan nyawa Bunga. Terima kasih juga atas bantuanmu sehingga putri kami lahir dengan sehat dan selamat."
Alya kembali tersenyum, samar namun masih terlihat oleh Ardi.
"Tidak perlu berterima kasih padaku. Aku hanya melaksanakan tugasku dan sudah menjadi kewajibanku pula untuk membantu siapa pun yang bisa aku bantu semampuku."
Ardi merasa berhutang nyawa pada Alya, kendati wanita itu tidak pernah memikirkan hal tersebut. Bagi Alya, dia hanya melakukan hal yang memang seharusnya dia lakukan, itu saja.
Terlebih, dia juga menyimpan alasan lain mengapa dia bersikeras untuk menyumbangkan darahnya sebanyak yang Bunga butuhkan.
"Demi bahagiamu aku rela melakukan apa pun, Di. Bahkan jika aku harus berkorban nyawa sekalipun, aku akan memberikannya asal aku bisa memastikan bahwa dirimu akan selalu bahagia bersama dia yang kini kamu cintai dan kamu pilih menjadi belahan jiwamu untuk selamanya."
Ardi menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban klise Alya. Ada rasa lain yang menyesaki dadanya. Bukan itu yang dia harapkan keluar dari bibir wanita tersebut.
"Ada apa denganmu, Al? Mengapa sejak kemarin aku merasakan ada hal lain yang kamu sembunyikan dariku dengan sengaja?"
Ingin rasanya segera mengetahui yang sebenarnya langsung dari wanita itu, tapi sepertinya saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Alya memejamkan mata untuk menghindari pandangan Ardi yang masih tertuju padanya dengan tatapan sendu.
"Mengapa kamu memaksakan diri jika akhirnya kondisimu menjadi seperti ini?" Ardi berucap dengan rasa perih di sanubari.
Ada yang serasa tergores di hatinya saat melihat wanita masa lalunya itu terbaring tak berdaya selemah ini. Apalagi masih ada jarum infus yang tertancap di punggung tangan kiri Alya.
Sepasang mata Alya terbuka seketika begitu mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Ardi. Terkejut dan tak percaya, hanya itu yang terlintas di pikirannya.
"Dari dulu sifatmu tidak pernah berubah. Kamu selalu mementingkan orang lain dibandingkan diri sendiri. Meskipun pada akhirnya kamu yang akan terluka seperti ini, kamu tidak mempedulikannya."
Ada rasa haru dan tersanjung di hati Alya kala mendengar lelaki itu masih mengingat sesuatu tentang dirinya.
Seulas senyuman terukir di bibirnya seiring tatapan mata mereka yang kembali beradu dalam diam.
"Tatapan matamu masih seteduh dulu, Di. Selalu menenangkan dan menghangatkan hatiku."
.
.
.
"Apa kepalamu masih pusing, Sayang?"
Malam harinya, di atas tempat tidur Yoga terus memeluk Nara sembari memijiti kepala istrinya dengan pelan dan teratur.
__ADS_1
Mengingat pagi tadi Nara juga mendonorkan darahnya untuk Bunga, tubuh istrinya juga belum sepenuhnya pulih seperti sedia kala.
"Tidak, Mas. Hanya masih sedikit lemas saja, besok pagi pasti sudah segar kembali."
Nara mengambil tangan Yoga yang masih berada di atas kepalanya lalu mendekapnya di pinggang hingga pelukan mereka kian merapat satu sama lain.
"Bagaimana menurutmu kalau Dokter Alya sudah pulih besok, kita tawari untuk tetap tinggal? Pernikahan Indra akan berlangsung tiga hari lagi, jika bolak-balik tentu akan lebih melelahkan baginya."
"Bagaimana dengan keluarganya? Suaminya?" tanya Nara begitu mendengar ucapan Yoga.
"Dia tinggal sendiri. Lebih tepatnya sudah tidak bersuami."
Nara menarik wajahnya dari atas dada Yoga dan menatapnya dalam-dalam. Dia terkejut dengan jawaban suaminya tentang status Alya.
"Benarkah? Dari mana kamu tahu, Mas?"
"Dari Mas Alam. Kebetulan Embun juga menjadi pasien Dokter Alya. Lebih dari itu aku juga sudah mencari informasi tentang kebenarannya."
Nara masih menatap suaminya. Dia sudah terbiasa dengan kebiasaan Yoga yang selalu mengumpulkan informasi tentang orang-orang baru di sekeliling mereka, guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan ke depannya.
"Selain itu, Alya dan Ardi juga menyimpan cerita masa lalu semasa kuliah dulu."
Kemudian Yoga menceritakan hasil pencarian informasi tentang dokter kandungan istrinya tersebut. Dari keluarganya hingga kehidupan rumah tangganya yang kandas dan menyisakan masalah dengan mantan suaminya.
"Jadi, ada kemungkinan jika Dokter Ardi dan Dokter Alya masih menyimpan perasaan lama mereka?"
Yoga mengangkat bahu, dia sendiri tidak yakin karena kenyataannya mereka telah menjalani kehidupan masing-masing.
"Kalau pun mereka masih saling menyayangi, aku rasa Alya tidak akan pernah mengakuinya dan tidak akan menceritakan pada Ardi tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya."
Nara bisa merasakan bagaimana perasaan dan penderitaan Alya selama ini. Dokter itu menanggung semuanya seorang diri dan tidak pernah berkeluh-kesah tentang masalah pribadinya kepada siapa pun.
"Kasihan Dokter Alya ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.