
Nara tersenyum kecut. Sekali - kali ia melihat ke arah Angga dan Dina. Tampak kedua pasangan ini tampak serasi. Terkadang mata mereka saling beradu. Ada rasa rindu Nara dibalik tatapan mata itu.
Buat apa memikirkan Angga yang tak setia. Sudah ada Arif yang tak diragukan cintanya dengan Nara. Dipandanginya wajah Arif yang ada disebelahnya. Sungguh beruntung Nara memiliki kekasih tampan dan bertubuh tinggi dan atletis seperti Arif.
Ternyata tak hanya Nara yang memikirkan Angga. Ternyata Angga pun memikirkan Nara. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Nara yang duduk berdekatan dengan mama Dina.Jarak keduanya pun tak begitu jauh. Hanya dibatasi papa dan mama Dina. Angga dan Dina duduk disebelah papa Dina.
Ada rasa cemburu yang dirasakan Angga pada hubungan Nara dan Arif. Mengapa harus Arif. Teman sekantornya di Bengkulu.
Bukan tak ada alasan Angga meninggalkan Nara di Bengkulu tanpa pesan. Angga sangat mencintai Nara. Nara yang ceria memiliki wajah yang mirip dengan Dina.
Tanpa Nara akan jadi apa Angga sekarang. Ia sangat terpuruk atas kepindahan Dina ke Jakarta. Waktu itu Angga masih kelas 3 SMP.
Baru mengenal namanya cinta. Ya, cinta monyet. Cinta pertama Angga.
Angga tak habis pikir dengan ibunya Nara. Sudah 7 tahun lamanya ia pacaran dengan Nara. Kenapa satu bulan sebelum keberangkatannya ke Jakarta untuk tugas belajar, ibunya Nara malah melarang Angga berhubungan dengan Nara. Aneh ... ! alasan yang dibuat - buat.
Tapi kenapa aku begitu mudah menurutinya. Tak bisakah waktu itu aku mempertahankannya. Mempertahankan cinta yang seharusnya aku perjuangkan. Ini malah aku meninggalkan Nara tanpa pesan dan tanpa kata putus dariku.
Tapi rencana Tuhan itu pasti ada. Saat kegalauan melanda diri Angga. Dina tiba - tiba muncul kembali dalam hidupnya. Menawarkan cinta yang dulu sempat singgah.
Tapi kenapa aku harus mengalami dilema ini. Sang mantan menjadi kekasih temanku sendiri. Dan sang mantan berteman dekat dengan kekasihnya saat ini.
"Hei sayang, kok aku lihat kamu melamun mulu dari tadi sayang, " ucap Dina membuyarkan lamunan Angga.
"Ah, enggak kok. Aku hanya sedikit pusing, " sanggah Angga.
"Mau minum obat gak, " ucap Dina.
"Aku hanya perlu istirahat, " jawab Angga.
"Iya sih , lagian ini sudah larut malam. Sudah jam 11, " ucap Dina sambil melihat jam tangannya.
Papa dan mama Dina juga terlihat sudah mengantuk. Papa Dina izin pada pembawa acara untuk istirahat di kamarnya. Acara boleh terus dilanjutkan dan mereka sekeluarga pamit duluan.
__ADS_1
Orang tua Dina akhirnya hengkang dari perhelatan aniversery pernikahannya. Diikuti oleh Dina dan Angga. Eh ... , ternyata Nara dan Arif juga mengikuti mereka pulang kembali ke kamar.
Setelah sampai di villanya. Papa dan mama Dina sudah duluan masuk kekamarnya. Di ikuti oleh Nara dan Dina masuk ke kamarnya juga. Begitu pula Angga dan Arif.
Suasana malam yang dingin di puncak, membuat semua orang enggan meninggalkan peraduannya. Diiringi gerimis hujan tengah malam. Menambah nyenyak insan manusia yang terlelap tidurnya.
Tapi tidak dengan Angga. Dia tak bisa tidur. Rasa bersalah dan cintanya pada Nara ternyata jauh lebih besar. Pergolakan batin yang dirasakannya saat ini. Nara dan Dina.
Dilihatnya Arif tampak tertidur pulas disampingnya. Dia teramat lelah, atau mungkin dia sedang mimpi indah bersama Nara.
Mengapa harus lelaki ini yang menjadi rivalnya. Arif sangat baik kepada semua orang termasuk dirinya. Mengapa masalahnya jadi teramat rumit.
Mata Angga tak terpejam juga. Diliriknya jam di dinding kamar. Menunjukan pukul 3 pagi.
Akhirnya dengan sangat malas ia beranjak menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu lalu menunaikan sholat tahajud.
Setelah selesai sholat dan bermunajat pada Allah. Angga lalu berzikir sampai ia tertidur diatas sajadah.
Berdua dengan Arif. Ada perasaan canggung yang dirasakan oleh Angga. Keluar kamar berdua dan menemui sang kekasih dan sang mantan secara bersamaan. Membuat Angga terjebak dalam dilemanya sendiri.
Nara memang seorang pemain peran yang baik. Tak ada rasa canggung saat bertatap dan berbincang dengan Angga. Hal itulah yang membuat Angga salah tingkah.
Padahal jauh dilubuk hati Nara. Ia ingin sekali meminta penjelasan Angga. Kenapa tak mau mempertahankannya disisinya. "Dasar laki - laki cemen, " batinnya dalam hati.
Bukan tanpa sebab, Nara berpura - pura hatinya membatu. Tak lain dan tak bukan untuk mengelabui Angga. Nara ingin melihat langsung bagaimana rasa sakit yang dirasakan Angga saat orang yang sangat kita sayangin pergi meninggalkan luka.
Pagi yang cerah didaerah puncak. Hawa dingin masih merasuki jiwa - jiwa yang ingin terlelap dalam tidur. Sebenarnya jauh dilubuk hati yang paling dalam Nara enggan keluar kamar. Tapi amat disayangkan jauh - jauh ke puncak hanya untuk tidur saja.
Mereka berempat. Dina dan Angga jalan mengitari perkebunan teh yang berada dibawah villa. Diikuti oleh Nara dan Arif yang juga merasakan sejuknya hawa pegunungan daerah puncak.
Terlihat Arif sangat bahagia menghabiskan waktu bersama Nara. Bercengkrama dengan santai sesekali melakukan selfi berdua.
Setelah asyik merasakan sensasi menginap didaerah villa kawasan puncak. Setelah ba'da zuhur rombongan keluarga ini pulang menuju Jakarta.
__ADS_1
Merasa kasihan dengan papanya Dina. Maka Angga menawarkan diri untuk membawa kendali mobil. Didampingi Dina sebagai navigatornya.
Papa dan mama Dina duduk ditengah dalam mobil. Sedangkan Nara dan Arif menduduki posisi belakang.
Perjalanan ini membuat hubungan Dina dan kedua orang tuanya menjadi dekat kembali. Papa Dina yang selalu sibuk dengan urusan kantornya.
Papa Dina sangat menyukai Nara. Itu yang ia rasakan saat ini. Nara yang ceria. Selalu membuat suasana menjadi ramai. Papa Dina merasakan ada getaran aneh yang ia rasakan saat memandang gadis yang mirip dengan anaknya itu.
Senyum diwajah Nara mengingatkan papa Dina pada seseorang di masa lalunya. "Ah ... , apa aku terlalu lebay saja, " ucapnya menepis rasa itu.
Perjalanan yang menyenangkan bagi Arif. Cinta yang ia impikan ada dihadapannya. Menuai rasa bersama. Berharap ini adalah cinta pertama dan terakhir baginya.
Hal lain yang dirasakan Dina. Mengapa ia merasa ada sesuatu yang Angga sembunyikan darinya. Sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak awal keberangkatannya. "Nanti setelah berada di Jakarta akan aku tanyakan, " batin Dina.
Jalanan Puncak menuju Jakarta tetap saja macet. Butuh kesabaran untuk tiba di Jakarta. Mobil pajero putih ini melaju kurang lebih 3 jam setengah untuk membawa mereka pulang ke rumah Dina.
Awalnya Angga minta diturunkan di sebuah stasiun kereta. Dia bermaksud ingin langsung pulang kekosannya. Tapi papa Dina yang menawarkan Angga dan yang lainnya untuk istirahat sesaat di rumah megahnya. Baru keesokkan harinya pulang kekosan masing - masing.
Arif dan Nara menyetujui usul papa Dina. Sedangkan Angga hanya manyun saja terpaksa ikut tawaran papa Dina.
Sebuah rumah megah dikawasan pondok indah ini terlihat lengang. Hanya bik Inah dan seorang tukang kebun yang menjaga rumah ini. Kemudian mobil pajero ini membunyikan klakson. Tampak mang Ujang berlari - lari untuk membuka pagarnya. Sang empunya mobil akhirnya tiba juga.
Ya, papa dan mama Dina beserta Dina dan teman - temannya tiba juga dirumahnya.
Nara dan Arif berdecak kagum melihat kemegahan rumah sang jendral polisi, papa Dina.
Baru memasuki ruang tamu saja hawa dingin dari AC sudah menyambut kedatangan mereka. Ini pertama kali Nara masuk ke rumah orang yang semua ruangan difasilitasi pendingin ruangan. " Benar - benar rumah orang kaya, " gumam Nara.
Mereka semua beristirahat sejenak. Melepaskan semua lelah perjalanan. Waktu itu pukul 7 malam. Nara terbangun dan ia keluar kamar menuju teras. Ternyata Angga sudah ada disana. Duduk melamun seorang diri. Tak ingin hilang kesempatan. Nara memberondong pertanyaan kepada Angga.
Sebelum sempat menjawab. Tiba -tiba Dina muncul. Dina bingung apa yang terjadi. Nara hanya berkilah semua kau tanyakan pada Angga. Semoga ia mau jujur. Tak membohongi semua orang.
Akhirnya jebakan Nara berhasil juga. Sebenarnya bukan jebakan tapi kesempatan yang harus digunakan. Semoga kedok Angga terbuka semua ....
__ADS_1