
Ternyata Dokter Ardi sudah melangkah cepat dan memenangkan hati Alya. Bahkan tanpa harus melakukan apa pun, memang sejak dulu hanya dia yang ada di hati Alya.
Mencoba tersenyum di balik getir yang dirasanya, Rendy menunjukkan sikap tegar di hadapan wanita tercinta yang tak akan bisa dimiliki olehnya.
"Selamat ya, Al. Aku turut bahagia atas kebahagiaanmu." Meski tulus, tetap saja hatinya teriris perih bagai disayat sembilu.
"Terima kasih, Ren. Maaf, aku masuk dulu. Selamat bertugas untukmu." Alya segera menutup perbincangan mereka. Tak ingin lebih lama membahasnya karena dia tahu bagaimana perasaan lelaki itu yang sebenarnya.
Rendy hanya bisa mengangguk dan langsung pamit. Kemudian dia berjalan menuju ke ruangannya dengan hati yang masih dipenuhi kekecewaan.
Sebelum membuka pintu, Alya menatap punggung tegap lelaki yang selama ini selalu berada di dekatnya dan memberikan perhatian lebih kepadanya.
Maafkan aku, Ren. Aku harus mulai membatasi diri karena ada hati yang harus selalu aku jaga meskipun kami terpisah jarak. Maaf karena untuk kesekian kalinya aku kembali menyakiti hatimu. Semoga kamu mengerti akan keadaan ini.
Dokter berhijab anggun itu memasuki ruangan dan menyapa perawat yang sudah berada di dalam untuk menyiapkan segala keperluan pemeriksaan pasien.
Diambilnya jas putih yang masih terlipat rapi di dalam laci lalu dikenakan. Kemudian dia menyimpan tasnya setelah mengeluarkan ponsel dan meletakkan di atas meja.
Pandangan Alya langsung tertuju pada vas bunga pemberian Ardi. Bunga di dalamnya sudah diganti dengan bunga segar yang baru dipetik. Biasanya tiga hari sekali seorang karyawan dari toko bunga di seberang rumah sakit akan datang dan menggantinya, sebagaimana permintaan Ardi selaku pemesannya.
"Suster, siapa yang memesan makanan ini?" tanya Alya pada perawat. Dia melihat di samping vas bunga terdapat satu kotak makanan yang masih dikemas rapi di dalam kantong plastik bening.
"Tadi ada kurir makanan yang mengantarkan ke sini. Katanya pesanan dari Dokter Ardi untuk sarapan Anda, Dok." Sang perawat menjawab apa yang dia ketahui lalu pamit keluar untuk mengambil sesuatu di ruang jaga.
Ternyata kamu sudah memikirkan dan menyiapkannya untukku, Di. Terima kasih.
Alya tersenyum lalu duduk dan mengeluarkan makanan tersebut dari dalam kantong. Dokter ramah itu membuka kemasan dan mendapati satu porsi nasi goreng kesukaannya siap untuk disantap.
Masih ada waktu sepuluh menit sebelum dia mulai melakukan pemeriksaan. Segera dia menikmati sarapannya agar tidak terlambat memulai tugasnya pagi ini. Hatinya begitu bahagia setelah mendapatkan perhatian sederhana namun terasa luar biasa dari lelaki tercintanya.
Ponselnya berdering menandakan ada pesan baru yang masuk. Sambil terus menghabiskan sarapan, Alya membuka pesan yang dikirimkan oleh Ardi.
"Jangan melupakan sarapanmu sebelum bertugas. Aku mencintaimu, Alya Annisa."
Alya tersenyum bahagia dan tanpa ragu segera membalas pesan tersebut.
"Terima kasih sudah menyiapkannya untukku. Aku sedang menikmatinya. Jaga dirimu dan Aura di sana."
__ADS_1
.
.
.
Di ruangan yang berbeda, Rendy duduk bersandar dengan mata terpejam rapat. Dadanya masah terasa sesak dan penuh kecewa. Jawaban dari Alya terus terngiang-ngiang di telinganya, semakin menghancurkan hatinya yang telah patah dan kian lemah.
Akhirnya inilah yang benar-benar terjadi. Wanita yang dia cintai kembali pada lelaki yang dicintainya. Kekuatan cinta mereka terlalu kuat untuk bisa dia lawan dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku telah kalah dalam perjuanganku sendiri. Aku memang bukan pilihannya. Hatinya tak pernah sekali pun berpaling padaku. Dia hanya mencintai lelaki itu. Cinta pertama dan cinta terakhirnya. Cinta sejati satu-satunya dan selamanya.
Rendy membuka mata dan kembali duduk tegak. Dia mengusap butiran air bening yang terlihat di sudut matanya. Perawat yang akan mendampingi menanyakan kesiapannya untuk bertugas.
"Dok, apakah kita bisa memulai pemeriksaannya sekarang?"
Rendy menyadari keadaannya. Dia menghela napas dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Beri saya waktu lima belas menit lagi dan tolong keluarlah. Saya ingin sendiri dulu di sini," pinta Rendy dengan penuh wibawa dan mencoba tersenyum semampunya. Sang perawat pun mengangguk patuh dan segera keluar dari ruangan.
Rendy berdiri dan melangkah menuju wastafel di sudut belakang. Usai mencuci muka guna menyegarkan wajahnya, lelaki itu berkali-kali mengatur napasnya yang masih terasa sesak dan berat.
Dia mengeringkan wajah dengan handuk kecil miliknya yang selalu disiapkan di laci meja. Setelah merapikan penampilan, dia berusaha mengesampingkan perasaannya dan bersiap untuk memulai tugas paginya.
Dirasa dirinya sudah tampil layak seperti biasa, Rendy segera memanggil perawat pendamping melalui sambungan telepon di atas meja kerjanya. Dengan senyum yang masih bisa ditampakkan, lelaki itu mengenakan jas putihnya lalu menghabiskan satu botol air mineral yang disediakan untuknya.
Perawat masuk dengan membawa sebuah surat berlabel resmi rumah sakit. Dengan hormat diserahkannya surat tersebut langsung kepada Rendy.
"Maaf, Dok. Ini ada surat pemberitahuan dari bagian administrasi. Dokter diminta untuk segera membacanya lebih dulu."
Rendy menerimanya seraya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sesuai permintaan yang disampaikan, dia segera membuka dan membacanya. Tidak ada perubahan pada raut wajah dokter tulang itu usai mengetahui isi surat tersebut. Dia melipat dan memasukkannya kembali ke dalam sampulnya, lalu disimpan di dalam laci teratas.
Selanjutnya, Rendy mulai menyibukkan diri dengan tugasnya. Dia mulai membuka berkas riwayat pasien pertama yang baru dipanggil masuk oleh perawat.
.
.
__ADS_1
.
Di klinik, Ardi pun telah memulai kesibukan rutinnya. Setelah memperpanjang cuti selama Alya ada bersamanya, dokter baik hati itu kembali dangan banyak laporan yang sudah menunggu untuk dia periksa dan selesaikan.
Pesan balasan dari Alya yang dibacanya tadi, membuatnya kian bahagia dan bertambah semangat untuk memulai pekerjaannya.
Sesekali dia tersenyum membayangkan kenangan mereka di bandara selepas subuh tadi. Meskipun diliputi kesedihan tapi sikap Alya yang terlihat begitu berat untuk berpisah membuatnya semakin yakin bahwa wanita itu masih Alya kekasihnya yang dulu. Alya yang sangat mencintainya dan selalu bergantung padanya dalam hal apa pun.
Tekadnya semakin bulat untuk segera memiliki wanita itu seutuhnya agar dia bisa menebus waktu yang telah memisahkan mereka sekian lama. Dia ingin membantu Alya memulihkan traumanya dan kembali menjadi wanita yang penuh dengan kebahagiaan bersamanya.
Aku akan segera mewujudkan harapan kita berdua, Al. Kita pasti bisa hidup bertiga bersama-sama dan tidak akan pernah terpisahkan lagi. Selamanya kita akan selalu bersama dan bahagia. Aku, kamu, Aura dan adik-adiknya nanti.
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1