CINTA NARA

CINTA NARA
2.79. MILIKMU SEUTUHNYA


__ADS_3

"Yakinlah semuanya akan baik-baik saja. Pikiran buruk akan terus menghantuimu, tapi pikiran baik akan selalu menyemangatimu."


Ardi memberikan pengertian pada Yoga bahwa yang terbaik yang bisa dilakukannya adalah memberikan dukungan penuh pada Nara, agar apa pun yang akan terjadi nanti, wanita itu tidak akan pernah merasa sendirian menghadapi semuanya.


"Jika kamu sudah tahu bahwa dulu dia merasa sangat kehilangan dan sempat membuat dirinya terguncang, maka temanilah dia."


"Jangan pernah kamu tinggalkan dia sedetik pun, agar dia merasa aman dan nyaman, merasa terjaga dan terlindungi, serta yang pasti dia akan tetap merasa sangat dicintai dan disayangi olehmu."


,


Yoga mengangguk dengan sedikit rasa yang masih mengganjal.


"Bagaimana dengan kemungkinannya?" desak Yoga.


"Tidak perlu kamu pikirkan tentang kemungkinan itu. Dalam setiap hal apa pun, resiko itu pasti ada, kemungkinan gagal itu selalu ada."


Ardi memahami perasaan sahabatnya dan dia hanya bisa memberikan dukungan dengan meyakinkan hati Yoga.


"Jika nanti Nara hamil kembali, jalani saja dengan bahagia dan penuh syukur. Tak perlu memikirkan ini dan itu yang justru akan melemahkan pikiran kalian."


"Tetaplah yakin dan percaya bahwa semuanya sudah diatur dengan baik dan semuanya pasti akan baik-baik saja."


Yoga kembali mengangguk dan kali ini perasaannya sudah lebih baik dan jauh lebih tenang.


"Terima kasih, Di. Aku memang butuh teman bicara sepertimu. Kamu selalu bisa aku andalkan. Sekali lagi terima kasih."


.


.


.


"Mas, apa kamu sudah tahu jika Rizka hamil?"


Malam harinya di kamar, dibantu suaminya Nara berkemas untuk keberangkatan keluarga mereka besok.


"Sudah, Sayang. Ardi yang memberitahuku."


Nara berhenti sejenak dan menoleh ke arah Yoga.


"Kamu bertemu dengan Dokter Ardi?"


Yoga mengangguk. "Aku mampir ke kliniknya tadi. Dan kami berbincang sejenak."

__ADS_1


"Semoga aku bisa segera menyusul hamil juga ya, Mas. Sepertinya akan sangat menyenangkan jika mempunyai teman hamil bersama, apalagi dengan keluarga kita sendiri."


Yoga menghentikan kegiatannya. Dia juga menarik pelan tubuh Nara hingga mereka berdiri berhadapan dengan tangan yang sudah saling memeluk pinggang.


"Kamu sudah sangat menginginkannya, ya?"


Netra hitam lelaki itu menatap lekat-lekat wajah cantik istri kesayangannya. Wanita itu mengangguk dan tersenyum dengan raut penuh harapan.


"ยฐIya, Mas. Aku ingin segera hamil lagi agar Raga segera mempunyai adik yang lucu, seperti celotehannya akhir-akhir ini. Dia sudah semakin ceriwis dan selalu penuh keinginan."


Yoga mencium kening istrinya dengan lembut, penuh doa tulus di dalam hati.


"Semoga Allah segera mempercayakannya kembali pada kita, Sayang."


Nara mengangguk dan turut memejamkan mata seperti suaminya. Dia juga memanjatkan doa dan permohonan yang sama, agar di dalam rahimnya segera tumbuh calon bayi yang sangat dia dambakan.


Yoga menghalau sekelebat pikiran negatifnya lalu segera memeluk tubuh Nara dengan sangat erat.


"Ada apa, Mas?" Nara membalas pelukan erat suaminya dengan hati bertanya-tanya.


Yoga tetap diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Dia masih mencoba menenangkan hatinya, seperti saran Ardi sore tadi, agar perasaannya tidak larut kembali ke dalam ketakutan dan kegelisahan.


"Biarkan tetap seperti ini dulu, Sayang."


Yoga mengusapi punggung Nara dengan penuh kasih. Dia kian menenggelamkan kepalanya di balik bahu sang istri dan sesekali menciuminya.


Nara pun sama, dia menciumi dada Yoga dengan lembut seraya membayangkan luka bersejarah yang menetap di balik pakaian yang dikenakan suaminya.


Perlahan ditariknya tangan kanan ke atas dan mulai meraba dan menyusuri bagian penuh kenangan segala rasa itu dengan lembut. Dia mulai larut dalam permainan tangannya sendiri.


"Aku mencintaimu, Mas. Sangat mencintaimu"


Suara lirih Nara membuat tubuh Yoga menghangat dan dipenuhi kebahagiaan.


"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Selalu mencintaimu."


Tangan Nara kembali bergerak, kali ini menelusup di balik pakaian suaminya, sehingga sentuhannya terasa langsung pada permukaan tubuh Yoga.


Yoga tak ingin tinggal diam. Tubuhnya yang sudah menghangat kini semakin memanas akibat sentuhan tangan Nara yang penuh kelembutan.


Dengan satu gerakan cepat lelaki itu melepaskan kaosnya dan kembali memeluk istrinya dan memberikan ciuman hangat di puncak kepala Nara.


Sepasang mata bening Nara seolah dimanjakan dengan pemandangan yang membuatnya tak bisa lagi mengendalikan diri.

__ADS_1


Kenangan kebersaman intim mereka selama dua hari berbulan madu, masih menyisakan hasrat yang terus menggelora di dalam hatinya dan ingin segera melakukannya lagi dan lagi.


"Mas ...." Suara Nara semakin lirih penuh damba, menatap ke atas dan bertemu pandang dengan sepasang netra yang juga telah dipenuhi kabut gairah yang sama.


Yoga mencium kening istrinya penuh perasaan dan memanjatkan doa sarat harapan untuk terwujudnya apa yang dimohonkan oleh mereka berdua.


"Lakukan apa yang kamu mau dan semua yang kamu inginkan, Sayang. Malam ini aku milikmu seutuhnya."


Suara berat Yoga membuat tubuh Nara kian memanas di dalam dekapan suaminya. Meskipun hasrat di dalam dirinya sama menggebunya, namun lelaki itu terus menahan sekuat hati dan memberikan kesempatan penuh pada sang istri untuk memulai dan memimpin perjalanan malam panjang mereka yang dipenuhi gelora cinta yang terindah.


Nara menundukkan kembali wajahnya setelah mendapatkan ijin dari sang suami. Dia memulai ritualnya pada tubuh depan Yoga di mana luka bersejarah itu terlihat nyata dan selalu ingin disentuh dan diciuminya dengan penuh cinta.


Yoga memejamkan mata menikmati setiap sentuhan hangat dari bibir manis istrinya yang dengan penuh kelembutan memberikan ciuman-ciuman kecil tiada henti pada luka bekas operasi yang menandai dimulainya kehidupan baru dirinya dua tahun yang lalu.


Nara memeluk erat tubuh tanpa pakaian itu dan bersandar manja di dada bidang Yoga. Ditutupnya kedua mata dan mulai meresapi kenyamanan yang menyeruak masuk memenuhi relung sanubarinya. Dia selalu merasa sangat tenang dan damai setiap kali berada dalam posisinya saat ini.


Cukup lama berada dalam posisi ternyamannya, Nara mulai merenggangkan pelukannya dan menatap suaminya yang juga telah membuka mata beningnya.


Dalam hitungan detik berikutnya, wanita yang telah terbuai hasrat cinta sisa suasana bulan madu mereka, tanpa ragu mulai menyentuh bibir Yoga dengan kelembutan bibir manisnya.


Dia terus memulai dengan pelan disertai gerakan tangan yang menggoda di permukaan tubuh suami tercintanya.


Yoga terbawa permainan sang istri yang penuh perasaan dan dilakukan secara perlahan, sehingga keduanya merasakan sensasi yang luar biasa saat hasrat mulai meninggi dan ingin segera diselesaikan bersama-sama.


Nara menoleh sekilas ke arah tempat tidur, lalu kembali menatap Yoga yang sudah mengerti keinginan wanita kesayangannya.


"Bawa aku ke sana dan manjakan aku dengan cintamu, Mas ...."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.๐Ÿ™๐Ÿ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


๐Ÿ’œAuthor๐Ÿ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2