
Tepat tiga minggu setelah kelahiran putra yang kedua, Yoga dan Nara menggelar acara aqiqah sekaligus syukuran kecil memperingati empat tahun usia pernikahan mereka.
Kedua orangtua Nara sudah menginap beberapa hari yang lalu, sedangkan Indra dan Rizka tidak bisa datang lantaran sama-sama tengah disibukkan dengan bayi pertama mereka yang lahir satu bulan lebih dulu dari bayi Nara. Pasangan muda itu dikaruniai putri cantik yang diberi nama Inka Alifia Danindra.
Acara yang digelar sore hari itu hanya dihadiri perwakilan dari sejumlah panti asuhan, beberapa sahabat Yoga dan Nara serta tetangga sekitar.
Saat ustad yang memimpin acara akan memulai doa bersama, Yoga dipersilakan memperkenalkan nama putra kedua mereka.
"Nama putra kedua kami adalah Gana, masih merupakan paduan dari nama kami berdua, sebagaimana halnya nama sang kakak, Raga."
Lelaki itu menoleh ke arah Nara yang mendampingi di sampingnya, lalu tersenyum bersama dengan tatapan mata penuh cinta.
"Gana memiliki arti kekayaan, yang kami maksudkan sebagai harta kami yang paling berharga, yang tidak akan pernah tergantikan oleh apa pun juga."
Yoga menatap bayi mungil yang terlelap di dalam dekapannya dan mencium keningnya dengan lembut.
"Gana Putra Mahendra."
Setelah mengetahui nama sang bayi, ustad kembali melanjutkan acara doa bersama hingga selesai dan ditutup dengan bacaan hamdalah dari seluruh tamu yang hadir.
Usai acara inti tersebut dan diteruskan dengan tausiyah singkat, acara pun diakhiri dengan menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah sambil beramah-tamah dan saling menyapa.
Gana yang masih tertidur pulas sudah dibaringkan di dalam kotak ayunannya dan diletakkan di sudut ruangan.
"Selamat, Mas Yoga dan Mbak Nara. Semoga keluarga kalian semakin bahagia dengan bertambahnya anggota keluarga yang baru," ucap Alam yang diangguki oleh sang istri di sisinya.
"Selamat juga atas usia pernikahan kalian yang telah bertambah. Semoga semakin mesra dan romantis lebih dari selama ini." Embun memberikan ucapan yang lain kepada pasangan tuan rumah tersebut.
"Aamiin. Terima kasih atas kedatangannya dan doa yang teriring untuk keluarga kami. Doa yang sama kami sertakan untuk keluarga Mas Alam dan Mbak Embun."
Alam dan Embun datang memenuhi undangan dari rekan bisnis sekaligus sahabatnya tersebut. Mereka berbincang akrab sebelum Yoga pamit untuk menyapa tamu yang lain.
"Selamat, Ayah dan Ibu Gana. Maaf aku datang terlambat karena ada jadwal operasi yang harus aku selesaikan terlebih dahulu "
Alya baru saja tiba tepat di saat tausiyah berakhir. Dokter berhijab anggun itu datang seorang diri menggunakan taksi daring.
Rendy yang sebenarnya ingin menemani terpaksa membiarkan Alya pergi sendiri, karena dirinya masih memiliki tanggung jawab untuk melakukan operasi yang akan memakan waktu cukup lama.
"Tidak apa-apa, Dokter. Terima kasih sudah menyempatkan diri hadir dan memberikan doa untuk Gana. Silakan beristirahat dulu sembari menikmati hidangan yang ada."
__ADS_1
Alya mengangguk dan segera bergabung bersama Embun dan suaminya di sekitar meja hidangan. Sementara Yoga dan Nara masih terus berkeliling untuk mengucapkan terima kasih kepada para tamu.
Kurang dari satu jam kemudian, tamu mulai berpamitan satu per satu dan meninggalkan rumah Yoga. Hanya beberapa tetangga dan kerabat yang masih tinggal dan berbincang bersama, salah satunya adalah Alya yang diminta oleh Nara tetap di sana karena memang baru saja datang.
Nara mengajak Alya berbincang di kamar tamu karena harus menyusui Gana yang terbangun karena haus. Sementara itu Yoga dan Raga tetap berada di luar dan berkumpul bersama Beno dan Pram yang juga hadir untuk memenuhi permintaan sang atasan.
Saat tengah berbicara tentang urusan pekerjaan sambil mengawasi Raga yang bermain di lantai, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kehadiran seseorang yang tidak disangka kedatangannya.
"Selamat sore, maaf kami datang terlambat."
Yoga serta-merta berdiri dan segera menghampiri karena memang tidak meminta kehadiran lelaki tersebut supaya tidak merepotkan, mengingat keadaannya yang tidak lagi sama seperti dulu.
"Ardi!"
Dokter kandungan yang juga sahabat kecil Yoga itu berdiri di ambang pintu dengan menggendong Aura, putri kesayangannya. Sebuah koper kecil terlihat di samping tubuh lelaki itu, berikut tas perlengkapan bayi yang tersampir di bahunya.
"Di, mengapa tidak mengabariku jika kalian akan datang? Jika memberitahu, Pak Budi bisa menjemput di bandara."
Kedua sahabat itu berpelukan dengan Aura yang digendong ayahnya memperhatikan dengan wajah yang masih suntuk karena baru saja terbangun saat taksi tiba di halaman rumah Yoga.
"Halo, anak cantik!" Yoga mengusap kepala Aura dan mencium kening bayi berusia satu tahun lebih itu seperti yang sering dilakukannya pada Raga.
" Ya-ya ...." Sedikit merengek, bayi itu menatap ayahnya seolah bertanya.
Yoga memanggil Raga yang segera datang menyusul ayahnya lalu digendong oleh Yoga sama seperti Aura. Bocah yang sudah semakin pintar itu segera mencium tangan Ardi lalu menatap Aura dengan senyuman di wajahnya.
"Anak pinter tidak lupa dengan kami, bukan? Om Yoga dan Mas Raga?" tanya Yoga sambil meminta putra sulungnya bersalaman dengan Aura yang disambut oleh putri cantik itu, lalu tangan Raga ditarik ke wajahnya untuk dicium, seperti yang tadi dilakukannya pada Yoga.
"Aya ... bobok cini, Yah?" tanya Raga dengan polosnya yang disambut tawa oleh Yoga dan Ardi, kemudian diikuti oleh Aura yang tidak memahaminya namun ikut tertawa menirukan.
"Iya, Nak. Aura dan Om Ardi akan menginap di sini. Ayo, kita ajak masuk dan kita antarkan mereka ke kamar tamu!"
Masih dengan menggendong Raga, Yoga membawakan koper dan tas Ardi ke kamar tamu, diikuti ayah dan anak yang baru saja tiba bertamu tersebut. Melewati Beno dan Pram, dokter duda itu mendapatkan sapaan hangat yang turut dibalasnya dengan ramah seperti biasanya.
Tok ... tokk ... tokkk ....!!!
Yoga mengetuk pintu kamar tamu yang kemudian dibukakan oleh Nara. Yoga terlebih dahulu melihat ke dalam di mana Gana sudah terlelap lagi di atas tempat tidur dengan Alya yang duduk menunggui di tepian.
"Sayang, ada tamu istimewa yang akan menginap di sini."
__ADS_1
Nara sama terkejutnya saat melihat keberadaan Ardi dan Aura di belakang sang suami yang menggendong si sulung.
"Ibu ... Om ama Aya ... datang ...."
Suara Raga yang terdengar oleh Alya membuat wanita itu segera berdiri lalu merapikan hijabnya dan melangkah ke arah pintu menyusul Nara.
Nara menepi dan membiarkan suaminya untuk masuk lalu meletakkan koper dan tas milik Ardi juga menurunkan Raga dari gendongannya.
Bocah yang semakin terlihat tampan itu naik ke atas tempat tidur dan mendekati Gana yang sedang tidur diikuti oleh ayahnya yang berjaga agar sang kakak tidak mengganggu adiknya.
"Selamat datang, Dokter. Hai, anak cantik!" Nara menyapa kedua tamunya yang dijawab senyuman dan anggukan kepala oleh Ardi yang membawa tangan putrinya untuk mencium tangan Nara.
"Ardi ...." suara Alya yang lirih terdengar oleh Ardi seiring kemunculannya di ambang pintu dan terlihat oleh dokter duda tersebut.
"Alya ...." Ardi terpana melihat keberadaan Alya di sana. Wanita berhijab anggun itu lantas tersenyum dan menangkupkan kedua tangannya di atas dada.
"Selamat datang. Bagaimana kabarmu?"
Ardi menampakkan senyuman di bibirnya, sementara Aura yang melihat Alya entah mengapa langsung memperlihatkan wajah bahagianya dan mengucapkan sebuah kata yang mengejutkan semua orang.
"Bu-bu ...." Mata indah bayi cantik itu berpijar menatap Alya dengan senyumannya yang ceria.
Meskipun terkejut dengan tingkah sang putri, Ardi tetap membimbing Aura untuk mencium tangan Alya.
"Kabarku baik, Al. Bagaimana denganmu, apa kabar?" Ardi menjawab sapaan Alya dengan pertanyaan yang sama.
"Kabarku juga baik, Di."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.