CINTA NARA

CINTA NARA
Anak Rantau


__ADS_3

Hari yang ditunggu Nara pun datang. Berkat kerja kerasnya selama ini dalam dunia penulisan. Pencapaian tertinggi seorang penulis adalah apabila naskah novelnya akan dicetak. Dan sekarang Nara membuktikannya.


Jam tangan Nara menunjuk pukul 11 siang. Nara bersama dengan Arif mendatangi kantor penerbit yang akan menerbitkan naskah Novelnya Nara.


Banyak yang harus ia pelajari.


Membaca surat perjanjian kontrak. Membaca berapa royalti dari hasil penjualan novelnya. Setelah memahami dilanjut Nara menandatangani kontraknya.


Di dalam kontrak dijelaskan juga masa terbit novel Nara kurang lebih setahun. Penerbit sangat antusias dengan novelnya Nara. Nara diminta untuk mempromosikan novelnya juga.


"Alhamdulilah ... , akhirnya ada juga penerbit yang mau mencetak novelku kak, " ucap Nara pada Arif.


"Iya, kamu harus banyak bersyukur. Jangan hanya sampai di sini. Teruslah berkarya, " ucap Arif memberi semangat.


"Iya dong, harus tetap semangat. Terus aku di sini mau ngapain ya? masih setahun lagi novelnya launching, " ucap Nara manyun.


Nara terdiam sesaat. Lalu terbesit dalam hatinya untuk mencoba melamar pekerjaan di sini. Siapa tahu ada pekerjaan yang cocok untuknya.


Lagi enak melamun.Tiba - tiba kepala Nara di sundul oleh tangan Arif. "Mikir apa nona cantik."


"Oalah ... , " ucap Nara mengalihkan perhatian.


"Ayo kita pulang yuk, " ucap Arif menggandeng tangan Nara.


"Emang mau pulang benaran ! mending kita main kemana ya ... , " ajak Nara pada Arif.


"Kita pulang aja Nara. Aku mau menyelesaikan tesis dulu. Lain kali kita jalan - jalan ya , " bujuk Arif pada Nara.


Tiba - tiba ponsel Arif berdering. Ternyata Angga yang menelpon.


"Assalamualaikum Rif ... , lagi dimana ? masuk kuliah jam 2 ya ! kelompok kita persentasi siang ini loh. Cepatan ya datangnya, " ucap Angga di ujung telepon.


"Iya masuk kok, tunggu aja. Otw lah, " jawab Arif.


"Siapa kak ? " selidik Nara.

__ADS_1


"Oh ... , teman kuliah, " jawab Arif sekenanya. Sepertinya Arif tak mau Angga sampai tahu siapa pacarnya yang selalu ditelponnya setiap malam.


Biarkanlah waktu yang akan menjawab pertanyaan yang selama ini ditanyakan Angga padanya. Padahal apa yang ditakuti Arif tidak beralasan. Jelas- jelas Arif tidak merebut Nara dari Angga. Angga sendiri yang memilih pergi meninggalkan Nara seorang diri.


Memesan grabcar untuk menuju kampus. Selang 5 menit kemudian pengemudi grabcar datang. Arif dan Nara kemudian naik abang grabcar menuju kampus.


Di depan gedung kampus Arif turun. Sementara Nara meminta abang grabcarnya menurunkannya 300 meter setelah kampus menuju tempat kosan Nara. "Lumayan menghemat tenaga, " ucap Nara pada abang grabcarnya. Hehe ....


Tiba di kosan kurang lebih jam 2 siang. Melakukan sholat zuhur, terus merebahkan diri dikasur empuknya. Lalu Nara terlelap ZzzZzx ....


"A-pa ? kamu benaran Nara ya ! mengapa kamu disini ? " ucap Angga.


Nara tak sempat mengucapkan kata - kata. Tiba - tiba saja Arif datang menggandeng tangan Nara. Lalu Nara berlalu bersama Arif. Nara berjalan menoleh kebelakang. Diamatinya wajah Angga yang tampak sedih ditinggalkan Nara dan Arif seorang diri.


Nara kemudian melempar senyum sinisnya pada Angga. Tiba - tiba Angga berlari mengejar Nara. Mencoba melepaskan genggaman tangan Arif yang kokoh.


Tak banyak bicara antara Arif dan Angga, yang terlihat mereka berdua bersitegang. Tampak raut amarah pada wajah Angga. Lalu terjadi baku hantam.


Dengan sigap Arif menangkis pukulan Angga. Hanya 2 kali pukulan Angga jatuh. Terkulai tak berdaya. Darah segar mengucur pada pelipisnya. Lalu Nara mendekati Angga yang rebah di tanah. " Sudah, hentikan. Kak ... kak Angga ... bangun ... bangun, " Nara menangis sesenggukan sambil berulang kali memanggil nama Angga.


Ups ... tiba - tiba Nara terbangun. Suara adzan magrib sayup terdengar membuyarkan mimpinya. Mengapa aku menangis, padahal ini yang aku inginkan, " gumam Nara heran pada diri sendiri.


"Astagfirullahaladzim ... , aku melewatkan sholat ashar, " ucap Nara. Hadeh ... , tapi kenapa mimpiku seolah nyata !!


"Ah ... , sudahlah. Nara mencoba menepis mimpinya. Ini cuma bunga tidur. Mending aku sholat, " gumam Nara sambil beranjak ke kamar mandi.


Setelah mandi dan menunaikan sholat. Nara mencoba mengirim email lowongan pekerjaaan yang didapatnya melalui loker pada akun instagram. Nara berharap semoga ada yang memanggilnya. Tak mungkin bertahan di Jakarta dengan mengandalkan kiriman uang dari ibunya.


Lagi asyik mengirim email. Tiba - tiba ibunya Nara menelpon. " Assaalamualaikum ... apa kabarnya nak ? bagaimana kabar novelmu ? " ucap ibu Nara pada anak semata wayangnya.


"Ternyata masih lama dicetaknya bu, hampir setahun. Aku mending tinggal aja dulu di Jakarta, " jawab Nara seraya memohon pada ibunya.


"Ya sudah, hati- hati di Jakarta. Jangan pernah tinggalkan sholat. Assalamualaikum ," pesan ibu sebelum mengakhiri teleponnya.


" Ah ... yusiapppp. Waalaikum salam."

__ADS_1


'''"''''


Keesokan harinya. Selagi menunggu jawaban email dan telepon pemanggilan kerja. Nara mencoba mengikuti lowongan pekerjaan pada stand job fair yang diadakan dalam gedung GBK. Sebelum pergi Nara pamit terlebih dahulu pada Arif.


Hingar bingar ibukota di pagi hari. Mobil motor lalu lalang di jalanan. Seperti tak ada matinya. Untung fasilitas umum di Jakarta sudah memadai. Mau naik bis atau pun kereta.


Nara mencoba naik busway transjakarta menuju GBK. Tinggal bertanya pada petugas busway bagaimana jalan menuju GBK.


Ini pertama kali dalam hidup Nara ia merantau, menjadi anak rantau. Mencoba peruntungan di ibukota. Apakah ia mampu mendapatkan pekerjaan di sini. Mimpi semua orang yang berada di kota kecil seperti dirinya.


Ibukota Jakarta memiliki daya pikat sendiri. Ibukota bagaikan magnet. Mampu menarik minat pendatang untuk bekerja di ibukota. Begitu harum dan enak terdengar kata Jakarta di telinga Nara. Bagaiamana tidak semenjak Nara duduk di bangku SD saudara - saudara jauhnya banyak yang mengadu nasib di Jakarta. Semua tampak wah yang terlihat dan terdengar di telinga Nara kecil.


Indah dilihat tapi tidak demikian bila sudah berada di sini. Banyak copet diantara kerumunan orang yang naik pada fasilitas umum kebanggaan DKI Jakarta.


Semenjak datang ke Jakarta. Ini pertama kalinya Nara naik busway. Berdiri diantara kerumunan orang yang mau ke Blok M. Naik busway menuju GBK (Gelora Bung Karno).


Tiba - tiba seorang ibu muda berusia kurang lebih 25 tahun dengan membawa anak kecil berusia 3 tahun bersamanya. Bersuara pelan dan kaget . " Duh ... , ponselku gak ada ya, " ucapnya kaget dengan ekspresi sedih seperti mau menangis sambil membuka tasnya yang entah kapan sudah terbuka.


Semua mata tertuju pada ibu muda itu. Termasuk petugas busway yang berdiri di depan pintu busway.


Deg ... , jantung Nara ikut berpacu lebih cepat. Terbawa suasana panik dan bercampur takut. Tak pernah Nara mengalami kejadian begini di kota kecil tempat kelahirannya.


"Kupegang erat tas ransel di pundakku. Semoga tidak ada yang mengusikku.Aku berdoa semoga perjalananku menuju GBK selamat sampai tujuan, " gumam Nara dalam hati.


Tara ... sampai juga di halte GBK. Semua penumpang yang keluar diperiksa oleh petugas busway. Untuk memastikan si pencopet ponsel masih berada di antara kita. Rencananya semua penumpang akan diperiksa di perhentian terakhir ( blok M).


Nara berdiri di pelataran lapangan gedung GBK. Tampak banyak orang berjalan menuju gedung GBK. Tempat stand job fair dilaksanakan.


Melakukan pembayaran untuk masuk ke dalam gedung itu. Lalu dengan tiket yang sudah ditangan. Nara mulai memasuki satu persatu stand - stand perusahaan yang menawarkan lowongan pekerjaan.


Hampir 3 jam Nara berkutat di dalam gedung GBK. Tak terasa langkah kaki Nara menjadi goyah. Lemas di selimuti perasaan mual dan ingin muntah. Pandangan matanya mulai gelap. Dan ... bruk ... Nara terjatuh di kerumunan orang - orang pemburu pekerjaan.


"Ada orang pingsan nih ... , " sayup terdengar di telinga Nara. Kemudian Nara mencoba untuk bangun. Beberapa orang membantu menduduki Nara di lantai mencoba memberikan minum teh botol sosro pada Nara.


"Makasih ya ... , " ucap Nara pelan pada orang di sekeliling yang membantunya. Pandangan mata Nara tampak sayu. Telapak kaki dan tangan masih terasa dingin. Aduh ... beratnya hidup di ibukota. Menyesal pagi tadi belum sarapan. Biasanya kalau di rumah semua sudah disiapkan oleh ibunya. Huhu .... Hadeh ... , nasib anak rantau.

__ADS_1


__ADS_2