CINTA NARA

CINTA NARA
3.47. KEINGINAN PAPA


__ADS_3

"Bisakah kami bertemu Dokter Danu sekarang, Mas?"


Setelah melawan ketakutan dan menenangkan perasaannya, Yoga meminta izin untuk masuk dan bertemu dengan dokter jantung kepercayaannya.


Dani mengangguk dan tanpa membuang waktu segera berdiri diikuti Yoga dan Nara, kemudian melangkah mendekati pintu ruangan Dokter Danu lalu membukanya dengan lebar.


"Pa, Yoga dan istrinya sudah datang." Sambil memberitahu papanya, Dani mempersilakan sepasang suami-istri itu masuk dan menghampiri Dokter Danu yang sedang duduk di atas kursi roda sembari menatap ke luar jendela di mana terdapat taman bunga peninggalan almarhumah istrinya.


Yoga dan Nara menyapa dengan hormat lalu menyalami dokter jantung tersebut. Setelab dipersilakan, mereka kemudian duduk di sofa yang tersedia. Istri Dani datang lagi dengan membawa minuman dam makanan kecil untuk tamunya.


Dibantu oleh putra sulungnya, Dokter Danu memutar kursi roda yang didudukinya menjadi berhadapan dengan Yoga dan Nara. Setelah itu, sama seperti yang diceritakan Dani, papanya meminta dia dan sang istri untuk keluar dan meninggalkan beliau hanya bersama kedua tamunya.


"Bagaimana kondisi Anda, Dok?" tanya Yoga mengawali pembicaraan mereka.


"Aku tidak apa-apa. Hanya memang raga ini sudah terlalu rapuh dan lelah untuk bertahan dan tetap di sini," ucap dokter itu dengan sikap tenang dan senyum bersahaja yang menghiasi wajah keriput yang masih menampakkan aura ketampanan masa mudanya.


Yoga dan Nara saling berpandangan dengan sendu. Mereka memilih diam dan tidak menanggapi ucapan tersebut.


"Aku memanggil kalian kemari karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan, berkaitan dengan sesuatu tentang papamu, Ga."


Dokter Danu menatap Yoga dengan keharuan yang tiba-tiba dirasakannya dalam hati, saat menatap wajah lelaki itu. Wajah Yoga merupakan perpaduan terbaik dari wajah kedua orangtuanya, Surya dan Ratna.


"Surya, dia adalah sosok yang baik dan akan selalu meninggalkan kesan baik di mata dan di hati semua orang yang mengenalnya, termasuk aku."


Pandangan Dokter Danu menerawang, membayangkan sahabat yang dikenalnya saat sama-sama merantau ke kota di mana mereka menimba ilmu dan memulai karir masing-masing dari bawah.


Persahabatan yang terus berlanjut tanpa putus hingga akhirnya mautlah yang memisahkan mereka karena ajal yang lebih dulu menjemput Surya dan Ratna istrinya, dalam kecelakaan pesawat terbang saat perjalanan pulang mereka dari sebuah acara bisnis di luar kota.


"Hal yang selalu melekat dalam ingatanku tentang dia adalah kedermawanannya. Dia sangat peduli dengan sesama dan orang-orag kurang beruntung di sekelilingnya. Dia selalu berbagi dan terus memberikan banyak hal baik dan berguna kepada siapa pun yang membutuhkan bantuannya."


Terlihat wajah dokter berusia lanjut itu terus dihiasi senyuman seiring pancaran kebahagiaan yang tampak dari sepasang netranya yang masih berpenglihatan tajam.


"Dalam suatu kesempatan, Surya pernah bercerita padaku tentang banyak impian dalam hidupnya. Salah satunya adalah melihat kamu menikah dengan wanita pilihanmu dan bahagia bersama anak-anak kalian yang akan menjadikan dirinya dipanggil kakek oleh mereka."

__ADS_1


Seketika Nara menoleh ke samping dan menatap Yoga yang wajahnya telah berubah mendung. Dia tahu apa yang tengah dìrasakan suaminya dalam hati. Semakin menggenggam erat tangan lelaki itu, dia mencoba memberikan banyak kekuatan untuknya.


"Kamu adalah lelaki hebat dan luar biasa, Mas. Papa dan Mama pasti sangat bangga kepadamu. Sama seperti aku dan anak-anak kita."


Nara memberikan semangat dengan senyuman terbaik, seraya satu tangan lainnya membersih tetesan air mata yang membasahi kedua pipi lelaki tercintanya.


Yoga mencoba membalas senyuman itu dan mengangguk. Dihelanya napas panjang guna meredam sesak yang sempat menguasai perasaannya.


Dari tempatnya duduk, Dokter Danu juga tersenyum menyaksikan kasih sayang di antara Yoga dan istrinya. Sedikit terbatuk karena sesak yang tiba-tiba mendera, beliau berusaha tetap tersenyum demi menyembunyikan kesakitannya dari kedua tamu istimewa tersebut.


"Surya dan Ratna pasti bahagia dan tenang karena harapan mereka sudah terwujud. Saat ini aku menyaksikan sendiri bagaimana bahagianya kalian."


Yoga kembali menatap haru ke arah dokter yang sudah dianggap seperti orangtuanya. Pandangannya menangkap hal yang berbeda di wajah Dokter Danu. Semakin pucat walau tetap terlihat senyumannya.


"Dokter, apakah perlu saya panggilkan Mas Dani?" panik lelaki itu dengan wajah sangat khawatir. Bayangan hal-hal buruk kembali menghantui pikirannya.


Dokter Danu menggeleng dengan satu tangan memberi tanda agar Yoga tidak perlu memanggil Dani atau yang lainnya.


"Tolong ambilkan saja obatku di atas meja sana." Beliau menunjuk ke arah meja kecil di samping tempat tidur.


"Terima kasih," ucap Dokter Danu saat dengan telaten Nara menyerahkan air putih dan obat kepadanya. Wanita itu tetap berdiri menunggu dia selesai dan menerima kembali gelas yang telah kosong darinya.


Yoga memperhatikan sang istri dari tempat duduknya dan menunggu Nara kembali ke sampingnya setelah mengembalikan gelas pada tempatya semula.


Bagaimana aku tidak semakin jatuh cinta padamu dari waktu ke waktu, jika kamu saja selalu sebaik ini dan penuh perhatian kepada semua orang. Aku bangga memiliki, Sayang.


Bergenggaman tangan seperti sebelumnya, mereka menunggu Dokter Danu membaik dan melanjutkan ceritanya.


"Dulu, Surya juga pernah bercerita kepadaku jika dia mempunyai satu keinginan terpendam, yang belum pernah disampaikannya kepadamu." Yoga kembali menenangkan diri ketika sang dokter menyinggung cerita tentang orangtuanya.


"Saat itu, kamu bahkan belum menyelesaikan kuliah, jadi dia menyimpan keinginannya hanya di dalam hati. Surya membaginya kepadaku saat mengetahui jika Dani mengikuti jejak profesiku"


Yoga mulai bertanya-tanya dalam hati tentang apa keinginan papanya yang belum sempat diketahuinya, apalagi diwujudkannya.

__ADS_1


"Surya mempunyai keinginan agar salah satu cucunya kelak bisa menjadi seorang dokter spesialis jantung sepertiku."


Lagi-lagi Yoga dan Nara saling berpandangan. Terkejut karena tidak menyangka ada harapan seperti itu dari orangtua mereka, sementara mereka sendiri sama sekali belum pernah memikirkannya. Baik itu untuk Raga maupun Gana yang baru saja lahir.


"Kehilangan salah satu putra kembarnya karena penyakit jantung, membuat papamu ingin mewujudkan keinginan tersebut. Dan aku harap, meskipun mereka sudah tiada kamu masih bisa menjadikannya kenyataan, agar papamu dan juga mamamu semakin tenang di sana."


Dokter Danu mulai terbatuk-batuk. Untuk meredam sesak yang semakin menyulitkan pernapasannya, segera dipakainya kembali selang oksigen di hidung, yang terhubung dengan regulator medis berukuran kecil yang selalu dibawa bersamanya.


Tanpa meminta izin lebih dulu, Yoga segera keluar untuk memanggil pihak keluarga. Beberapa detik berikutnya, lelaki itu sudah masuk lagi bersama Dani yang memang menunggu tak jauh dari ruangan tersebut.


Setelah meneriksa papanya dan dirasa kondisi beliau sangat mengkhawatirkan, dokter jantung penerus orangtuanya itu meminta meminta Yoga dan Nara untuk menunggu di luar, sementara dia akan menangani Dokter Danu.


Menunggu dengan hati berdebar dan penuh ketakutan, ayah dua putra itu terus ditenangkan oleh Nara yang setia memberinya kekuatan sepenuh hati.


"Aku sangat takut, Sayang. Aku takut beliau ...." Yoga tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Nara segera memeluk suaminya dan membiarkan lelaki itu menenangkan diri dengan membalas pelukannya dengan dekapan yang tak kalah erat dan tanpa ada sekat.


Tiga puluh menit kemudian, Dani akhirnya keluar bersama sang istri yang sebelumnya ikut mendampingi di dalam ruangan.


Yoga melepaskan pelukannya dan bersama Nara menatap lurus ke arah Dani penuh keingintahuan.


"Mas, bagaimana keadaan Dokter Danu?"


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


.


__ADS_2