
Nara mengawali aktivitas paginya dengan kegiatan rutin di dapur. Setelah selesai membuat sarapan sederhana yang cepat namun tetap lezat, dia kembali ke kamar guna mengantarkan jus jeruk yang baru saja dia buat untuk suami tercintanya.
"Mas, ini jusmu. Minumlah dulu."
Nara menghampiri Yoga yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terlihat segar dan bugar. Diberikan gelas di tangannya dan menunggu lelaki itu menghabiskan dalam sekali waktu seperti biasanya.
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu." Yoga menyerahkan gelas kosong di tangannya pada Nara lalu memberikan ciuman sayang di kening wanita kesayangannya.
"Raga sudah bangun?" tanya Yoga sembari mengenakan pakaian kerja yang sudah disiapkan Nara sebelumnya.
"Sudah, Mas. Dia sedang mandi bersama Mbak Indah. Pasti sebentar lagi dia akan menyusul kemari untuk menemuimu dan adiknya." Pandangan wanita itu beralih ke boks bayi di samping tempat tidur dan memastikan sang putra masih nyenyak dan nyaman tidur di sana.
Nara meletakkan gelas kosong di atas meja lalu membantu sang suami mengancingkan kemejanya dengan rapi. Yoga melanjutkannya dengan memakai celana panjang dan ikat pinggang yang semuanya sudah siap di ujung tempat tidur.
Nara mengambil sisir yang disimpan di laci meja rias lalu bersiap untuk merapikan rambut Yoga yang masih berantakan namun tidak mengurangi pesona ketampanan alami yang telah diturunkan kepada kedua putra kebanggaannya.
"Duduklah, Mas. Biar aku yang merapikan rambutmu." Nara menarik pelan tangan suaminya dan memintanya duduk di kursi yang biasa dipakainya untuk merias diri di depan cermin.
Yoga menurut dan duduk menghadap istrinya yang berdiri di antara kedua kakinya yang terbuka. Dia menatap ke atas, melihat Nara yang sudah siap dengan sisir di tangannya.
Mereka saling melepaskan senyuman penuh cinta saat bertemu pandang dengan getaran indah yang masih selalu terasa di hati keduanya.
"Aku mencintaimu, Mas. Menunduklah dulu, biar aku selesaikan tugasku." Nara memberikan ciuman hangat nan lembut di kening Yoga, kemudian mengarahkan kepala suaminya agar kembali tegak untuk mulai dia sisiri.
Yoga mengulum senyuman bahagia dan mengikuti titah sang istri, sembari kedua tangannya bergerak pelan menyentuh pinggang istrinya yang telah mulai mengecil setelah melahirkan Gana satu bulan yang lalu.
Dipeluknya tubuh yang selalu dirindukannya itu, dengan melingkarkan kedua tangan dan bertemu serta menguncinya di bagian belakang.
__ADS_1
Nara mulai menyisir rambut hitam dan lebat suaminya yang juga menurun kepada Raga dan Gana. Dia lebih suka Yoga berpenampilan sederhana termasuk juga gaya rambutnya. Baginya sang suami sudah mempunyai banyak kelebihan tanpa harus ditambahi lagi dengan penampilan yang lainnya.
Oleh karena itu Nara selalu meminta lelaki itu agar membiarkan rambutnya terlihat kering dan sedikit teracak setelahnya, asalkan sering-sering dirapikan saat akan pergi atau bertemu dengan orang lain.
Sambil pasrah menunggu sang istri merapikan rambutnya, pandangan Yoga beralih pada bagian perut Nara yang berada tepat di hadapannya. Mendadak hatinya tersentuh hanya dengan melihat bagian tubuh sang istri yang penuh kenangan tersebut.
Perlahan tangannya melepas kuncian di balik tubuh Nara dan mulai berpindah menuju perut yang masih menyimpan sedikit lemak sisa kehamilannya kemarin. Meski demikian, hal itu tidak pernah mengurangi rasa cinta dan sayangnya pada Ibu dari kedua putra tampan mereka.
Tanpa bermaksud dan berpikiran lain, Yoga menarik ke atas ujung piyama yang dikenakan sang istri, juga sedikit menurunkan celana panjangnya hingga terpampang nyata perut Nara tanpa penghalang sama sekali.
"Mas ...!" Nara mengingatkan, takut suaminya lupa diri saat sudah waktunya berangkat ke kantor.
"Aku hanya teringat saat-saat dulu, Sayang. Saat sedekat ini denganmu masih menjadi impian terbesarku. Saat pertama kali mencium perut hamilmu sudah mejadi kebahagiaan terindahku." Yoga menjawab tanpa mengalihkan pandangannya ke atas.
Dia terus memperhatikan perut Nara dan mulai mengusapinya dengan lembut dan sepenuh kasih. Rasa haru mulai menguasai hati Yoga.
Dia meraba bagian itu, sama seperti yang sering Nara lakukan ketika hendak melakukan ritual pada luka bersejarah bekas operasi di bagian dadanya.
"Masih sakitkah?" tanya Yoga khawatir seraya melihat ke atas, menatap Nara yang sudah memperhatikannya sedari tadi, masih dengan sisir di tangannya.
Dia tahu operasi itu sudah lama berlalu. Tapi dia juga tahu dari beberapa artikel kesehatan yang dibacanya, bahwa operasi sesar selain akan meninggalkan bekas luka sayatan, juga berefek samping pada timbulnya rasa sakit dan nyeri di bagian dalam tubuh, sebagai reaksi jangka panjang dari tindakan pembedahan tersebut.
"Tidak jika hanya diraba seperti itu. Tapi masih sering terasa nyeri di bagian dalam. Mungkin lebih tepatnya pada lapisan di mana jahitan bagian dalamnya berada. Memang seperti itu, Mas. Jangan khawatir." Nara tersenyum untuk menenangkan suaminya yang tengah diliputi kekhawatiran.
"Lalu, bagaimana dengan luka yang sekarang? Apakah lebih sakit?" tanyanya lagi. Nara menggeleng masih dengan senyuman lembut di bibirnya.
"Persalinan normal hanya terasa sangat sakit saat proses melahirkannya. Luka yang timbul karenanya pun akan lebih cepat kering dan sembuh, sehingga bisa segera beraktivitas normal kembali. Seperti aku sekarang ini, Mas."
__ADS_1
Yoga mengangguk tanda mengerti. Dia jarang bertanya tentang hal-hal yang lebih mendalam seperti itu pada istrinya, apalagi pada Alya atau Ardi sekalipun. Dia hanya mencoba mencari tahu melalui artikel dan beberapa buku yang dulu sempat dibelinya selama masa kehamilan Nara.
Sebelum menutup perut istrinya dan merapikan setelan piyama yang dikenakan Nara, Yoga meninggalkan beberapa ciuman kecil di perut itu dan melabuhkan satu ciuman yang cukup lama tepat di atas bekas luka operasi istri tercintanya.
Terima kasih, Sayang. Terima kasih atas pengorbananmu untuk melahirkan kedua putra kesayangan kita. Apa pun jalannya dan bagaimana pun prosesnya, aku sangat bangga kepadamu. Kamu adalah wanita, istri dan Ibu yang kuat dan luar biasa bagi keluarga ini, keluarga terbaik milik kita."
Yoga berdiri dan merapatkan tubuh mereka. Pandangan mata nan sendu keduanya telah sama-sama mengunci satu sama lain, dihiasi senyuman terindah di kedua bibir manis sepasang susmi-istri itu.
"Maaf jika aku tidak bisa menggantikan rasa sakitmu demi melahirkan Raga dan Gana ke dunia ini dan menjadi menyejuk hati serta penerang jiwa kita berdua. Aku sangat mencintaimu, Dinara Larasati!"
Satu ciuman penuh cinta dilabuhkan Yoga di kening istrinya, diiringi lantunan doa-doa terbaik untuk kebahagiaan keluarga mereka.
"Aku juga mencintai, Mas. Terima kasih sudah menjadi lelaki terbaik, suami siaga dan ayah penyayang yang selalu mengutamakan keluarga kita. Aku sangat mencintai, Yoga Mahendra!"
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.