CINTA NARA

CINTA NARA
67 MERASA TERABAIKAN


__ADS_3

Nara mendekatkan wajahnya ke wajah Yoga dan berbisik lirih di telinganya.


"Aku di sini, Ga. Bangun dan lihatlah aku."


Ditarik lagi wajahnya sedikit menjauh, hingga dia bisa leluasa menatap wajah tampan nan pucat pasi di hadapannya.


"Mengapa kamu tidur lama sekali? Aku menunggumu, selalu menunggumu ...."


Air mata Nara terus mengalir membasahi wajah cantiknya yang tengah diselimuti kesedihan. Beberapa butiran bening itu menetes jatuh di permukaan wajah Yoga, seolah ingin menyapa, memintanya bangun dan membuka mata.


Nara membiarkan butiran air matanya menempel di wajah Yoga. Dia ingin lelaki itu merasakan kehadirannya.


Dirapikannya anak rambut yang menutupi keningnya, lalu disentuhnya bulu-bulu halus yang mulai tampak di tepian wajah, juga di atas bibirnya.


Sudah satu minggu wajah itu tak terawat dengan baik, namun tetap saja tak mengurangi pesona ketampanannya.


Nara kembali duduk dengan tetap menggenggam tangan lemah nan dingin milik Yoga. Sesekali dia menciumi punggung tangan suaminya dengan segenap perasaan, entah apa namanya perasaan itu.


Hal yang baru kali pertama ini berani dilakukannya terhadap Yoga, karena biasanya lelaki itulah yang selalu lebih dulu menyentuhnya, memeluk dan menciuminya dengan penuh kasih sayang.


"Apa kamu juga tidak ingin bertemu dengan anakmu? Benih yang dulu pernah kau tanam paksa di rahimku, kini telah lahir dan menjadi pewarismu. Apa kamu tidak ingin bertanggung jawab atas kelahirannya?"


Nara mencoba memancing respon Yoga dengan mengingat peristiwa yang terjadi di antara mereka dulu, yang akhirnya membuka pintu takdir bersatunya mereka hingga detik ini.


"Semua orang mengatakan bahwa kamu baik, bahkan sangat baik. Lantas, mengapa kamu melakukan hal buruk padaku dan sekarang akan meninggalkan aku begitu saja? Seperti itukah yang dinamakan baik?"


Nara terus mencurahkan isi hatinya, kekecewaannya, kesedihannya, semua dikeluarkannya. Dia berharap semua itu bisa menggugah perasaan Yoga, membuatnya sadar dan membuka mata kembali.


"Mereka mengatakan jika kamu sangat mencintaiku dan ingin selalu membahagiakan aku. Lalu, mengapa kamu hendak pergi dan membuatku bersedih seperti saat ini? Seperti inikah caramu mencintaiku? Dengan meninggalkan aku sendiri bersama anak kita?"


Yoga tetap bergeming, tak sedikit pun menunjukkan gerakan atau jawaban, membuat Nara semakin kencang menangis tanpa henti.


"Bangun, Ga! Lihat aku! Kamu harus bangun, kamu tidak boleh pergi! Aku di sini, aku akan terus bersamamu!"


Tersedu sedan Nara menangis meluapkan perasaannya. Entah mengapa hatinya begitu terluka melihat kondisi suaminya, seolah dirinya sendiri juga merasakan kesakitan yang diderita Yoga.

__ADS_1


Tiba-tiba dia teringat pada sang putra, yang tadi ditinggalkannya di kamar bersama Ibu dan Bapak. Dia memandangi wajah Yoga dengan seksama hingga terbersit kekaguman dalam hatinya akan paras rupawan sang suami walaupun saat ini terlihat begitu pucat.


Dia mulai mengatur nafasnya, meredakan isakannya dan berusaha untuk berucap dengan tenang.


"Kamu harus cepat kembali, Ga. Kamu harus segera melihat anak kita. Kamu belum mengadzaninya. Kamu belum memberinya nama. Kamu bahkan belum memeluk dan menciumnya."


"Dia sangat tampan. Dia sepertimu, sangat mirip denganmu. Dia darah dagingmu, dia keturunanmu, dia penerusmu. Dan dia adalah anak kita, Ga."


"Berapa lama lagi dia masih bisa bertahan, Dok?"


Ardi kalut memikirkan kondisi kesehatan sahabat kecilnya. Dia sudah berusaha dengan berbagai cara. Meminta bantuan kesana kemari, mencari informasi ke seluruh rumah sakit yang bisa dihubunginya, bahkan sampai ke luar negeri dengan mengandalkan beberapa rekan dokter kenalannya di sana.


"Selama kondisinya stabil dan tidak terjadi trauma lanjutan, kita masih punya sedikit harapan dan bisa terus berusaha."


Dokter yang menangani Yoga secara intensif menyampaikan jawabannya.


"Akibat kecelakaan yang dialami, kondisinya menjadi semakin lemah. Kita harus secepatnya melakukan opsi yang terakhir, sebelum semuanya terlambat dan percuma."


Ardi tak putus harapan. Meskipun kecil kemungkinannya, tapi dia percaya mukjizat Allah selalu ada bersama mereka yang pantang menyerah hingga titik terakhir.


"Semoga Nara bisa membuatnya bertahan lebih lama, sambil kita terus mengupayakan langkah terakhir. Nara adalah semangat hidupnya selama ini."


"Ditambah dengan kehadiran anak mereka, saya yakin dia akan semakin terpacu untuk sembuh. Demi mereka berdua, dia pasti akan terus bertahan dan berjuang."


Sementara itu di tempat lain, Alan terus memikirkan Nara dan Yoga. Tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini perhatiannya lebih tercurah untuk Nara daripada Sasha. Dan itu dirasakan pula oleh Sasha.


Wanita itu merasa terabaikan dan membuatnya berpikir jika Alan belum sepenuhnya menganggap dirinya berarti untuk dimiliki. Dia mulai merasa bahwa Alan hanya menjadikan kehadirannya sebagai pelarian atas kegagalan cinta masa lalunya.


"Apakah dia masih lebih penting daripada aku, Lan?"


Malam hari di ruang tengah rumah Alan, Sasha menumpahkan isi hatinya pada sang kekasih.


"Bukan seperti itu, Sha. Aku hanya ...." Sasha memotong ucapannya dengan cepat.


"Kamu hanya terus memikirkannya tanpa mempedulikan perasaanku!" Sasha meluapkan perasaan yang sudah ditahannya selama beberapa hari ini.

__ADS_1


Alan merapatkan tubuhnya ke tubuh Sasha lalu memeluknya dengan erat. Terbersit penyesalan di sudut hatinya karena telah mengabaikan kekasihnya sendiri demi memikirkan keadaan wanita lain yang bukan lagi menjadi siapa-siapanya.


Dirasakannya bahu Sasha bergerak pelan disertai dengan isakan lirih yang terdengar olehnya. Rupanya wanita itu benar-benar merasakan hatinya terluka oleh sikap Alan.


"Maafkan aku, Sha ...."


Alan menciumi puncak kepala Sasha dan terus membelai lembut rambutnya yang terurai. Diusapinya punggung sang kekasih untuk meredakan tangisannya yang telah tumpah tak terhenti.


"Sungguh aku tak bermaksud seperti apa yang kamu pikirkan itu. Aku mencintaimu, Sha. Kamulah yang paling utama bagiku."


Sasha semakin terisak dan menumpahkan air matanya hingga membasahi dada bidang Alan yang dijadikannya tempat bersandar.


"Bibirmu mengatakan mencintaiku, tapi hati dan pikiranmu hanya tertuju pada dirinya. Itukah yang kamu sebut cinta? Benarkah kamu mencintaiku?"


Sasha menarik kepalanya dan menegakkan wajahnya, lalu menatap Alan dengan wajah yang masih basah dan memerah. Tatapan mereka bertemu, dengan perasaan sendu yang menyelimuti keduanya.


"Dengarkan aku, Sha. Aku bukan hanya memikirkannya, tapi aku juga memikirkan Yoga, suaminya yang masih kritis dan tak sadarkan diri. Aku juga memikirkan anak mereka yang baru saja lahir di tengah suasana sedih keluarganya seperti ini."


"Dan bukan hanya aku saja yang bersikap demikian. Ardi pun sama sepertiku. Beno juga. Semuanya memikirkan mereka, Sha."


Dengan kedua tangannya, Alan menangkup wajah Sasha sehingga pandangan mereka saling mengunci dalam diam.


Untuk beberapa saat hening tercipta. Suasana pun berubah menjadi syahdu. Alan merasakan dadanya berdebar keras, terasa sesak namun menciptakan kehangatan di hatinya.


"Tolong maafkan aku jika sikapku tanpa sadar telah membuatmu merasa terabaikan dan terlupakan olehku."


Sasha terdiam mendengarkan seluruh penjelasan Alan. Hatinya sedikit lebih tenang karenanya, namun tetap ada yang masih mengganjal dan membuat hatinya meragu.


"Katakan padaku, Sha. Dengan cara apa aku harus membuktikan ucapanku? Agar kamu percaya sepenuhnya dengan diriku dan perasaanku padamu?"


Jangan lupa untuk selalu menyemangati kami dengan Like, Komentar, Bintang 5, Favorit dan Share / bagikan juga kepada yang lain.


Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.

__ADS_1


💜Author💜


__ADS_2