CINTA NARA

CINTA NARA
3.31. MERASA DIHARGAI


__ADS_3

"Tapi aku tidak pantas untukmu, Ardi ...."


Alya memberanikan diri menatap mantan kekasihnya, yang tidak pernah bisa dia lupakan selama ini. Sendu dan pilu terlihat jelas dalam sorot mata nan redup wanita anggun tersebut.


"Mengapa tidak pantas? Bagiku kamu tetap Alya yang dulu. Alya Annisa yang aku kenal sejak pertama kita bertemu di kampus waktu itu."


Ardi tidak ingin mengungkit masa lalu Alya yang akan membuka luka hati wanita yang penuh kelembutan di hadapannya. Tapi Alya tetap saja mengingatnya dan merasa rendah diri di hadapan lelaki yang dicintainya.


"Aku kotor, Di. Aku hina ..., aku lemah dan tak berdaya. Aku sama sekali tidak pantas lagi untukmu."


Air mata Alya menetes lagi dan Ardi pun segera menghapusnya dengan lembaran tisu yang baru diambilnya. Tapi kali ini, Alya langsung menahannya dan menghapus sendiri setelah mengambil tisu yang dipegang oleh dokter duda itu.


"Maaf jika sikapku tadi melewati batas. Aku hanya tidak bisa melihat air mata dan kesedihanmu, karena itu membuat hatiku melemah, Al," jujur Ardi tanpa malu mengakuinya.


"Dengarkan aku. Dia yang tidak pantas untuk wanita sebaik kamu. Apa pun alasannya, dia tidak berhak melakukan semua itu padamu, sekalipun kamu masih menjadi istrinya dulu!"


"Kamu terlalu baik untuk disakiti. Kamu terlalu istimewa untuk tidak dianggap seperti perlakuannya padamu selama ini. Dia tidak tahu siapa dirimu, dia tidak bisa mengenalimu, dia buta hati sehingga tidak bisa melihat dan merasakan kelembutan dan ketulusan hati yang kamu miliki."


Ucapan Ardi bagai siraman air dingin yang menyejukkan hati Alya yang tengah dirundung gelisah dan ketakutan. Dirinya merasa tersanjung dan dihargai sebagai seorang wanita, hanya dengan sebuah kalimat penenang seperti yang baru saja diucapkan oleh Ardi dengan sepenuh hati.


Terima kasih, Di. Dari dulu hanya kamu yang selalu mengerti aku dan bisa menenangkan aku di saat kelemahan mulai melanda hatiku.


"Mulai sekarang, biasakanlah untuk menyampaikan apa pun yang kamu rasakan, apa pun yang kamu inginkan. Jangan pernah lagi kamu simpan dan kamu pendam sendiri di dalam hati." Ardi terus memberikan dukungan untuk wanita yang masih menunduk dan menghapus beberapa butir air mata yang sempat membasahi wajahnya.


"Jika kamu membutuhkan seseorang sebagai tempatmu untuk bercerita dan berkeluh-kesah, aku siap mendengarkannya, Al. Kapan pun kamu ingin aku menjadi pendengar kisahmu, hubungi saja aku, aku pasti akan selalu ada dan meluangkan waktu untukmu."


Tanpa sadar Alya tersenyum. Kali ini dia merasa sangat dihargai dan dianggap ada oleh orang lain. Dan yang lebih membuatnya bahagia adalah seseorang itu adalah lelaki yang sangat berarti dalam hidupnya. Seseorang yang sangat dicintainya setulus hati dan sepanjang waktu.


"Berjanjilah untuk mulai menghargai dirimu sendiri dengan membahagiakan hatimu dan menyamankan hidupmu sendiri. Berbahagialah dengan caramu dan dengan ekspresi kebahagiaanmu sendiri. Kamu berhak bahagia, Alya. Kamu harus bahagia." Ardi meyakinkan Alya dan berusaha untuk menumbuhkan keyakinan dan rasa percaya diri pada sosok yang telanjur rapuh di hadapannya.


"Terima kasih, Ardi ...." Hanya itu yang bisa Alya ucapkan kali ini. Hatinya masih dipenuhi rasa haru yang tak ada habisnya.


Malam ini, semuanya tak lagi sama seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini, semuanya berubah menjadi hangat dan penuh kasih. Malam ini, Alya tidak lagi merasa sendiri. Dia menemukan kembali jiwanya yang telah lama serasa terpisah dari raganya. Malam ini, wanita lemah-lembut itu telah menemukan lagi kebahagiaan yang telah lama hilang dari hidupnya.


.


.


.

__ADS_1


"Bagaimana kabar orangtuamu, Al? Apakah beliau berdua sehat selalu?" tanya Ardi yang sudah mengetahui jika papa dan mama Alya tinggal bersama putri tunggal kebanggaan mereka.


"Ya, mereka sehat. Terima kasih sudah menanyakan mereka. Mereka sekarang tinggal bersamaku," jawab Alya sambil terus memberikan petunjuk arah untuk menuju ke rumah kontrakannya.


Ardi senang karena Alya mulai menjawab pertanyaannya dengan tenang dan terbuka, dari yang sebelumnya masih terkesan tertutup dan terus menghindar.


"Alya ...." Ada yang ingin ditanyakan lagi oleh Ardi tentang sesuatu yang sedari tadi masih mengganggu pikirannya.


Alya menoleh sesaat menandakan bahwa dirinya tengah mendengarkan lelaki itu. Ardi menghela napas panjang sebelum berucap dengan pelan dan hati-hati.


"Apa ... lelaki itu mengetahui tempat tinggalmu yang sekarang?" Ardi enggan menyebutkan nama Riko karena bisa membuat hatinya memanas seketika dan teringat akan perlakuan lelaki itu pada Alya.


Alya menatap ke arah luar, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mendadak murung dan mencemaskan sesuatu.


"Maafkan aku karena membahas tentang dia lagi. Tapi perlu bagiku menanyakannya padamu untuk memastikan keselamatanmu. Aku tidak mau dia mendekatimu lagi walau pun hanya selangkah maju."


Ada rasa haru dan bahagia yang diam-diam kembali menelusup masuk dan menenangkan hati Alya. Perhatian Ardi membuatnya merasa lebih nyaman meskipun sedang membicarakan tentang Riko.


"Aku tidak tahu. Mungkin saja sudah, karena sebelumnya dia pun selalu bisa mengejar di mana pun aku tinggal."


Alya menarik napas sedalam mungkin untuk menahan sesak yang mulai mendera, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan perasaan.


Alya tersenyum tanpa sadar. Hatinya merasa lebih tenang setelah mendengar kata-kata Ardi yang diucapkannya penuh keyakinan.


Tak lama berselang, Ardi sudah menghentikan mobil tepat di halaman rumah Alya yang tidak terlalu luas. Terlihat papa Alya duduk sendiri di teras depan menikmati secangkir kopi yang dipegang di tangannya.


"Bolehkan aku ikut turun dan menyapa papamu, Al? Tidak sopan rasanya jika aku mengantarkan putrinya tanpa menemui beliau lebih dulu."


Ardi masih menunggu jawaban Alya karena dia juga tidak ingin memaksakan keinginannya jika wanita itu masih belum mengizinkannya.


Anggukan kepala Alya setelahnya, membuat Ardi tersenyum kemudia mematikan mesin mobil.


"Terima kasih," ucapnya lalu seperti biasa keluar lebih dulu dan membukakan pintu untuk wanita ayu tersebut.


Alya menahan senyuman malu bercampur bahagianya. Dari dalam mobil, diam-diam dia memberanikan diri untuk menatap wajah lelaki yang tengah berjalan melintasi bagian depan mobil.


Terima kasih, Di. Terima kasih untuk semuanya.


Ardi membuka pintu dari luar dan mempersilakan Alya keluar dengan hati-hati, tak ingin kejadian hari sebelumnya terulang lagi.

__ADS_1


Setelah menutup pintu, Ardi mengikuti langkah Alya berjalan menuju teras dan bertemu dengan papanya. Mereka mengucapkan salam hampir bersamaan yang kemudian dijawab oleh Papa dengan ramah sembari meletakkan cangkir kopinya di atas meja.


"Pa, ini Dokter Ardi." Alya memperkenalkan Ardi tanpa penjelasan lebih lanjut. Namun Papa yang pernah beberapa kali mendengar nama itu saat Alya bercerita pada mamanya, sudah bisa mengetahui siapa lelaki tersebut.


"Selamat malam, Om. Mohon maaf jika saya terlambat mengantarkan Alya pulang. Tadi saya mengajaknya makan malam terlebih dahulu." Ardi mengulurkan tangannya yang disambut dengan hangat oleh Papa. Dia berkata jujur sebelum ada kesalahpahaman, sebab nyatanya dia memang tidak langsung mengantarkan Alya pulang usai dari rumah sakit tadi.


Papa hanya mengangguk dan tetap melemparkan senyum ramahnya kepada Ardi, membuat lelaki itu bernapas lega karenanya.


Saat Papa mempersilakannya duduk, Ardi menolak dengan halus mengingat dia sudah meninggalkan Aura cukup lama. Dia khawatir jika sang putri terbangun dan mencarinya.


"Saya permisi dulu, Om. Al, tolong sampai salamku untuk Tante di dalam," pamit Ardi setelah sedikit berbasa-basi dengan orangtua dari wanita yang dikasihinya tersebut.


Alya mengangguk dan setelah Ardi mengucapkan salam pamit pada papanya, dia mengantarkan lelaki itu sampai di samping mobil.


"Terima kasih Di, dan maaf jika sudah merepotkanmu. Semoga Aura tidak terbangun saat kamu tinggalkan dan tidak rewel semalaman nanti." Alya menatap sekilas ke arah Ardi yang ternyata lelaki itu sudah lebih dulu memaku pandangan ke arahnya. Dalam dan teduh, penuh kasih sayang.


"Aku pulang dulu, Al. Besok pagi aku akan menjemput dan mengantarmu ke rumah sakit. Selamat beristirahat dan jangan pikirkan apa pun yang tidak baik."


Pikirkan saja aku dan bermimpilah tentang diriku, Alya ....


Alya mengangguk tanpa membalas ucapan Ardi. Hatinya masih bergetar setelah pandangan mereka bertemu dan saling mengunci beberapa saat yang lalu.


Ardi masuk ke dalam mobil dan menyiapkan diri. Sebelum memundurkan mobil lantaran halaman yang tidak cukup untuk memutar mobil, Ardi kembali menatap Alya lekat-lekat.


Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk saat sekarang, Al. Terus meyakinkanmu dan membuatmu nyaman terlebih dahulu selama bersamaku.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2