CINTA NARA

CINTA NARA
Upaya yang gagal


__ADS_3

Arif datang dengan tergesa - gesa. Lebih dari setengah jam ia sampai di Polda. Arif lalu menelpon Angga. Hanya satu menit Angga sudah menjemput Arif di depan pintu utama polda.


Angga lalu bercerita pada Arif perihal penangkapan yang terjadi pada ayahnya. Arif memahami posisi yang dialami Angga. Ia turut prihain pada masalah yang terjadi.


Arif lalu menelpon seseorang yang mungkin bisa membantu Angga. Setidaknya memberikan titik terang harus bagaimana bersikap dan mengambil langkah selanjutnya.


"Assalamualaikum mang Rizal, ini Arif."


"Waalaikum salam Rif, ada apa ? "


"Mang Rizal, aku sekarang berada di dalam kantor mamang. Mamang ada di kantor atau tidak, " tanya Arif sambil berdiri di depan pintu utama polda.


"Ada di dalam kantor, silahkan masuk. Mamang tunggu di dalam ya, " ujar mang Rizal.


"Ayo Ga' , kita temui pamanku. Semoga ia sedikitnya bisa membantu, " ajak Arif pada Angga.

__ADS_1


Sang paman tak lain adalah jenderal bintang dua berpangkat inspektur jenderal. Posisi tertinggi jajaran polisi di kota ini.


Sebelum masuk ke ruangan Pak Rizal, Arif dan Angga di tanya oleh Pak Polisi bawahan Pak Rizal. Bapak polisi itu terlebih duluan masuk untuk kemudian memperbolehkan Arif dan Angga masuk ke dalam ruangan jenderal bintang dua itu.


Suasana nyaman dan tenang dalam ruangan Pak Rizal. Ruangan ber AC memiliki seperangkat kursi tamu dan kulkas mini yang ditaruh dalam lemari kayu.


" Ayo , silahkan duduk, " sapa ramah Pak Rizal menyambut keponakannya itu.


Pak Rizal kemudian beranjak dari kursi kerjanya dan duduk bersama Arif dan temannya.


Arif yang tadi duduk kemudian berdiri mengampiri sang paman dan mencium punggung tangan kanan pamannya yang diikuti oleh Angga juga.


" Ayo, ada apa ini , " sapa ramah mang Rizal


" Begini mang Rizal, ini teman kantorku. Angga. Telah terjadi penangkapan langsung pada Ayahnya Angga jam setengah satu siang hari ini. "

__ADS_1


"Siapa nama ayahnya Angga, " tanya mang Rizal.


"Bambang Syaifullah namanya mang, di tangkap karena alasan pemerasan dan pengancaman terhadap seseorang , " terang Arif pada sang paman.


Pak Rizal yang tadinya biasa saja. Sontak memasang wajah serius. Ia tampak berpikir keras pada kasus yang dialami Ayahnya Angga.


"Mamang tidak bisa bantu Rif. Kau tahu ayahnya Angga berhadapan dengan orang besar jajaran kepolisian, " jawab mang Rizal pasrah.


Angga langsung lemas mendengar pamannya Arif berkata begitu. Ia tak punya pilihan lain untuk meminta bantuan Dina ataupun Nara. Kalau Nara tidak mungkin bisa membantunya. Nara masih menyimpan dendam padanya. Satu - satunya adalah Dina, seorang kekasih yang mungkin bisa ia andalkan.


" Semalam mamang mendapat telepon langsung dari Pak Donnie. Ia minta dibuatkan segera surat perintah penangkapan atas nama Pak Bambang Syaifullah, " tutur mang Rizal.


"Susah Rif, yang akan dilawan ini adalah orang besar. Penangkapan ini juga ada bukti yang mendasar. Makanya pembuatan surat perintah penangkapan dibuat cepat. Pak Donnie juga telah memberikan bukti - bukti yang menguatkan penangkapan ayahnya Angga, " tutur mang Rizal.


" Ya uda mang kalau tidak bisa membantu, yang penting kami berdua tahu siapa yang melaporkan ayahnya Angga, " jawab Arif kecewa.

__ADS_1


Arif dan Angga lalu undur diri pada sosok pamannya Arif. Mereka kemudian melangkah keluar dengan langkah gontai. Angga dan Arif berjalan menuju tempat parkiran motor yang sama.


Angga dan Arif masih saja diam sejak keluar dari ruangan pamannya Arif. Mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing - masing. Namun mereka memiliki pemikiran yang sama. Dina. Satu nama yang mungkin bisa membantu pembebasan ayahnya Angga ....


__ADS_2