CINTA NARA

CINTA NARA
Terkuak


__ADS_3

Pukul delapan malam di Rumah Sakit Nasional University Singapura. Semua belum tertidur kecuali Dina. Nara terlihat sedang duduk santai sambil bermain dengan gadjetnya. Sedangkan ibu posisinya berbaring diatas sofa bed.


Terdengar isak tangis yang berasal dari tempat tidur Dina. Gadis itu ternyata sedang tidur. Suara itu tambah lama tambah kencang. Akhirnya Nara beranjak dari kursinya untuk membangunkan Dina.


"Mbak ... , bangun, " ucap Nara sambil menepuk pundak Dina.


Lama juga Nara membangunkan Dina. Ada dua menit Nara membangunkan kakak perempuannya ini.


Nara tampaknya sudah ikhlas kalau Angga lebih memilih Dina dari pada dirinya. Ia tak boleh memperebutkan lelaki yang di cintai oleh kakak kandungnya itu. Apalagi sekarang Nara telah memiliki Arif yang selalu setia padanya. Rasanya tak mungkin ia harus mengkhianati Arif dengan lelaki manapun juga termasuk Angga.


"Mimpi apa mbak ? " tanya Nara pelan saat Dina mulai terbangun. Lalu Nara duduk di kursi kosong yang ada di disisi kanan tempat tidur.


Dina kemudian berusaha duduk dengan dibantu oleh Nara. Tempat tidur pasien yang ditempati Dina ini dilengkapi dengan remote kontrol. Dengan remote ini Nara mengatur posisi dina menjadi setengah duduk. Setelah Dina tampak nyaman. Nara lalu mengambil tisue basah yang langsung di berikan pada Dina.


Dina kemudian mengelap mukanya dengan tisue basah pemberian adiknya. Lalu ia mulai mengernyitkan dahi. Berusaha mengingat mimpi apa yang membuatnya menangis dalam mimpi.


Sembari Dina mengingat mimpinya. Nara mengambil segelas air putih dan di serahkannya pada Dina. Lalu ia duduk kembali.


Dina terlihat amat dahaga. Saat ia menyeruput segelas air pemberian adiknya. Lalu ia menyerahkan gelas kosong itu pada Nara. Nara hanya tersenyum memegang gelas kosong itu. Ternyata dalam mimpi Dina amat kelelahan.


Entah apa yang dirasakan Dina. Tubuhnya memang sakit tapi kenapa hatinya seperti ikut merasakannya. Sesuatu sepertinya telah terjadi. Mimpi yang dialaminya seperti nyata.


Kata orang mimpi adalah bunga tidur. Tapi mimpinya kali ini berbeda. Saat tidur Dina sesunggukan menangis. Menangis teramat sedih.


Saat kejadian Dina menangis dalam tidurnya. Ibu tak bergeming tiduran diatas sofa. Ia membiarkan Nara menjaga kakaknya. Ia Ingin melihat sebesar apa rasa sayang Nara pada kakak kandung yang baru ia ketahui.

__ADS_1


"Ayolah mbak ... , mimpi apa, " tanya Nara penasaran.


Ibu masih pura - pura tidak mendengar apa yang akan di sampaikan Dina. Tapi telinganya sudah siaga ingin mendengar langsung mimpi yang dialami anaknya.


"Nara ... , aku bermimpi dengan Angga, dalam mimpi aku memanggil - manggil namanya. Ia hanya menoleh, padahal jarak kami tidak jauh. Lalu ia berlalu, tidak menghiraukan panggilanku. Aku menangis, tapi tangisku tidak membuatnya menghampiriku."


Lalu Dina menghela nafas. Kemudian ia menambahkan ceritanya kembali.


"Dalam mimpi aku sangat sedih. Sedih sekali seperti akan kehilangan Angga untuk kedua kalinya. Seperti itulah yang pernah aku rasakan dulu. Sakitnya di sini, " ungkap hati Dina sambil menepuk dada dengan tangan kanannya.


Dina tak tahu harus berbuat apa. Ia lalu bangkit dari tempat tidur lalu memeluk erat Dina yang terisak tangisnya saat menceritakan perihal mimpinya.


Saat nama Angga di sebut. Ibu langsung terbangun dari pura - pura tertidurnya.


" Apa ? Angga siapa ? " tanya Ibu spontan dan langsung mendekati Dina.


"Angga ... pacar Di-na bu. Dulu Angga pernah bercerita. Ia dulu pacaran dengan Nara. Selama tujuh tahun pacaran ibu merestui hubungan mereka. Tapi menginjak tahun kedelapan ibu melarang hubungan mereka, " jawab Dina minta penjelasan.


Nara hanya bengong saja. Saat Dina menyeret namanya dalam ceritanya. Ia pernah mendengar alasan Angga pergi meninggalkan Nara tanpa pesan. Tapi itu semua di tepis oleh Nara. Mana mungkin ibu tidak merestui hubungan yang terjalin tujuh tahun lamanya.


Tapi hari ini malam ini Nara mendengar langsung dari Dina. Ia tak pernah menyangka ada hal yang tidak ia ketahui. Dan sekarang Dina mempertanyakan mengapa hal itu terjadi.


Seseorang yang telah meninggalkannya. Berdalih alasan yang tidak masuk akal oleh Nara. Justru terkuak di sini. Sebuah rahasia yang ibu harus ungkapkan kebenarannya.


Kebenaran hal yang ingin Nara dengar langsung. Ia pernah berpikir itu hanya alasan Angga saat ia meminta penjelasan. Angga hanya mengada - ngada. Tidak mungkin ibu menjegal hubungannya dengan Angga.

__ADS_1


Kalaupun ibu tidak menyetujuinya. Seharusnya dari awal ibu melarang hubungan mereka. Nyatanya hubungan itu terbina selama tujuh tahun. Dan selama ini ibu tidak pernah mengatakan langsung padanya.


Ibu yang sedari tadi berdiri di dekat Dina. Kini duduk di kursi yang di tempati Nara. Sedangkan Nara duduk di ujung kaki Dina persis di pinggir tempat tidur.


"Baiklah , ibu akan menambahkan sebuah cerita. Cerita yang sebenarnya tak ingin ibu buka. Kejadiannya ... sore hari. Kira - kira jam empat sore. Saat Nara sedang tidur. Angga mau berpamitan pada Nara. Karena Nara tidur ibu yang bertemu dengannya. Waktu itu Angga meminta ijin ke kamar mandi. Saat ke kamar mandi, selembar foto jatuh persis di depan ibu. Dan foto itu ada sosok yang ibu benci. Dialah yang menjebak ibu dengan ayahmu Nara. Dan ... laki - laki itu adalah ayahnya Angga, " ungkap ibu dengan raut marah.


"Maksud ibu apa, " tanya Nara dalam kegamangan.


"Maafkan ibu nak. Waktu itu ibu benar - benar marah. Angga ibu usir saat ia mengaku kalau sosok dalam foto itu adalah ayah kandungnya."


"Lantas ... Angga marah gak bu ! Saat ibu mengusirnya, " tanya Nara lagi.


"Iya, dia marah. Makanya ia tak mengabarimu saat ia mau melanjutkan kuliah di Jakarta."


"Jadi ... Angga gak bisa di salahkan juga Nara. Tapi ... ibu, sekarang Angga berpacaran denganku. Apa ibu juga tak menyetujui hubungan kami ? " tanya Dina sambil melirik Nara.


"Ibu tidak ingin pilih kasih. Ibu tetap tak menyetujuinya Di-na. Rasa sakit di dada ibu masih membekas. Bertahun - tahun ibu berusaha melupakan perbuatan orang itu. Tapi tetap tidak bisa Maafkan ibu, ibu berpisah dengan papamu karena ayahnya Angga berperan besar dalam penjebakan ibu dan ayahnya Nara sekarang, " pinta ibu.


"Ibu ... apakah ibu juga tega menghalangi hubungan aku dan Angga ? hidupku sudah tak lama lagi bu. Kebahagianku adalah bila bisa bersama Angga, " pinta Dina sambil berurai air mata.


Nara kaget apa yang ia dengar dari ibu. Selama ini ia merasa orang yang tak dianggap oleh Angga. Justru pengakuan ibu yang membuka tabir bahwa Angga tak bisa di salahkan karena ibu yang membuat Angga tak sempat meminta ijin pada Nara untuk kepergiannya.


Ada rasa sesal. Tapi sesal tak ada gunanya. Toh ... justru kepergian Angga ke Jakarta membuatnya kembali pada cinta pertamanya.


Cinta itu bukan miliknya Nara. Tapi cinta justru datang dengan sendirinya. Tapi tahukah Angga bahwa Angga adalah cinta pertama Nara.

__ADS_1


Sulit bagi Nara untuk berdamai dengan hatinya. Sampai seseorang datang mencoba membuka hati Nara yang terluka. Padahal luka itu masih belum sembuh.


__ADS_2