
"Di, aku pamit pulang dulu. Maaf tidak bisa lebih lama lagi di sini, karena besok pagi aku ada jadwal operasi."
Didampingi Rendy, Alya pamit pada Ardi yang masih terlihat sangat murung dan pilu. Lelaki itu hanya menganggukkan kepala untuk menjawab ucapan Alya yang berdiri di hadapannya.
"Terima kasih." Hanya itu yang bisa dikatakannya tanpa merubah sedikit pun raut mukanya.
Alya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai salam perpisahan. Rendy mengikuti setelahnya, bersama Yoga yang akan mengantarkan Nara pulang untuk beristirahat setelah seharian berada di rumah Ardi.
Setelah memberi hormat kepada orangtua dan mertua Ardi, mereka beriringan keluar menuju pintu depan.
Namun saat menginjak lantai beranda, terdengar tangisan keras Aura yang terbangun dari tidur sorenya usai dimandikan tadi.
"Aaa ... bu-bu ... aaaa ...."
Berulang kali tangisan itu terdengar seolah sedang mencari keberadaan sang bunda yang telah pergi dan tak akan kembali lagi.
"Bu-bu ... aaaa ... bu-bu ...."
Ardi yang semula turut mengantarkan tamunya keluar, seketika menghentikan langkah dan berbalik ke belakang. Dilihatnya Aura yang masih menangis dengan suara yang semakin kencang dalam gendongan neneknya.
Yoga dan yang lain turut berhenti dan menyaksikan usaha Ardi untuk menenangkan putri kecil yang sudah berada dalam dekapannya.
"Ssttt ..., ada apa, Sayang? Aura haus, ya? Minum susu sama Ayah, Nak"
Lelaki itu menerima botol susu dari ibunya dan mencoba memasukkan ujung dotnya ke dalam mulut mungil sang bayi. Namun Aura tetap meraung dan menampik botol susu itu dengan tangannya hingga hampir saja terjatuh ke lantai.
Ardi menghela napas panjang dan terus berusaha membujuk Aura, tapi bayi yang sedang rewel itu tetap menangis sesegukan.
Nara melepaskan pegangan tangannya dari Yoga dan menghampiri Ardi yang sudah terduduk lantaran kewalahan menenangkan putrinya.
"Biar aku yang mencobanya, Dokter."
Ardi menyerahkan Aura pada Nara yang ikut duduk, sementara Ardi segera berdiri dari samping Nara.
"Aura anak yang baik, jangan menangis terus, Sayang. Nanti Ayah bersedih, Bunda juga. Jadi sekarang, Aura minum susunya dulu, ya."
Di luar dugaan, Aura yang biasanya tenang setiap bersama Nara, kali ini bersikap sebaliknya. Bayi mungil itu tetap menangis dan terus merengek dengan bahasa yang masih sulit dipahami. Hanya sesekali terdengar dia memanggil bubu, salah satu kata yang sudah lebih jelas diucapkannya.
Yoga sedikit was-was karena Aura mulai meronta di pangkuan sang istri dan menendangi perut besarnya. Lain halnya Nara yang tidak peduli dan tetap berusaha membujuk bayi itu dengan menimangnya dalam posisi dijunjung ke atas.
Melihat Nara sama kesulitannya dengan Ardi, ditambah takut terjadi sesuatu pada kandungannya, dengan sigap Alya segera menghampiri sahabatnya dan membawa Aura ke dalam pelukannya.
"Ssstt ..., Aura jangan rewel, Sayang. Aura anak yang baik, anak yang cantik, anak yang pinter, anak sholehanya Ayah dan Bunda. Minum susunya dulu, Nak ...."
__ADS_1
Semua langsung terkesiap, tatkala menyaksikan bayi mungil itu menghentikan tangisannya dan menatap Alya dengan pandangan mengamati.
Pelan-pelan Alya duduk di samping Nara, memangku Aura dengan posisi senyaman mungkin lalu memberikan botol susu yang sudah dipegangnya untuk diminum Aura.
Bayi itu bersikap manis dengan duduk diam di pangkuan Alya, menghabiskan susu di botolnya seraya terus menatap wajah wanita berhijab di hadapannya.
Sesekali terlihat senyuman di wajah Aura yang mulai tenang dan luluh oleh sentuhan Alya. Lambat laun bayi cantik itu mulai memejamkan sepasang mata bulat indahnya.
"Jadilah anak yang baik dan tidak merepotkan ayahmu, Nak. Kami semua akan selalu mendoakanmu dari jauh. Kalian berdua pasti bisa melalui masa-masa sulit ini dan menciptakan kebahagiaan baru setelahnya."
Lima belas menit kemudian, bayi yang semula rewel dan tidak tenang itu telah kembali terlelap dalam dekapan Alya. Semua bernapas lega sebab suasana kembali terkondisikan dengan baik, setidaknya untuk sementara waktu.
Alya meminta ijin untuk membaringkan Aura di kamarnya. Diantarkan oleh mamanya Ardi, Alya masuk dan membaringkan bayi cantik itu di atas tempat tidur.
"Selamat tinggal, anak baik. Kami semua menyayangimu."
Alya tersenyum dan memberikan ciuman terakhir di kedua pipi dan kening Aura. Diusapinya kepala bayi yang berambut sedikit ikal itu seraya melantunkan doa-doa yang tulus di dalam hati.
Setelah berbincang sejenak sekaligus mengulangi pamitan dengan mamanya Ardi, Alya keluar untuk segera berangkat ke bandara, mengejar jadwal keberangkatan pesawat yang telah dipesan tiketnya.
"Al ...." panggil Ardi sebelum Alya dan Rendy masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan oleh Yoga untuk mengantarkan keduanya.
Alya menoleh dan menatap ke arah Ardi.
Alya mengangguk dan buru-buru menunduk lalu masuk ke dalam mobil diikuti Rendy. Wanita itu tak kuasa membalas tatapan pilu Ardi yang masih sarat kesedihan.
"Semoga kamu baik-baik saja, Di. Kalian berdua pasti akan baik-baik saja!" Alya meyakinkan dirinya sendiri untuk mengusir kekhawatirannya tentang kondisi Ardi dan putri kecilnya.
Bukan hanya dirinya, semua orang pasti akan memiliki perasaan yang sama ketika melihat bagaimana kehilangannya lelaki itu sehingga dia tampak sangat terpukul dan lemah tak berdaya.
Menyusul kepergian Alya dan Rendy, Yoga mengajak Nara masuk ke dalam mobil yang akan dikemudikan oleh Pak Budi, setelah menyampaikan kepada Ardi bahwa dirinya akan kembali saat acara doa bersama malam nanti.
"Mas, apa Dokter Ardi dan Aura akan baik-baik saja? Aku tidak tega melihat mereka ...."
Nara merebahkan diri dalam pelukan hangat suaminya. Kepalanya bersandar nyaman di atas dada Yoga yang selalu menenangkan hati. Sesekali berkelebat bayangan Aura, bayi mungil nan cantik yang kini telah menyandang status sebagai piatu.
"Mereka pasti baik-baik saja, Sayang. Kita akan selalu mendoakan dan menemani mereka melewati masa berkabung ini."
Yoga mencium kepala sang istri seraya mempererat pelukannya tanpa mengabaikan perut buncit Nara yang semakin terlihat besar.
Dengan satu tangannya yang lepas, dia menyentuh dan mengelusi permukaan perut itu dengan sayang dan memanjatkan doa keselamatan serta kebaikan untuk calon anak keduanya.
"Siapa yang bisa menyangka, Bunga akan pergi secepat ini. Hanya dalam waktu satu bulan saja, kehidupan bahagia keluarga kecil Ardi mendadak berubah dan dipenuhi kesedihan yang berbanding terbalik dengan kondisi sebelumnya."
__ADS_1
Nara memejamkan mata beningnya yang terasa sangat lelah setelah seharian mengeluarkan air mata terus menerus. Wanita itu mulai terantuk-kantuk sambil mendengarkan cerita sang suami.
"Takdir manusia tidak ada seorang pun yang tahu. Sama seperti aku, yang semula hampir putus asa dengan penyakit yang tiba-tiba datang menyerangku kembali."
Yoga mengingat masa-masa terburuknya dulu yang nyaris merenggut nyawanya seperti yang dialami oleh Bunga.
"Aku sangat bersyukur, Allah masih memberiku kesempatan untuk hidup lebih lama dan menikmati kebahagiaan bersama wanita yang sangat aku cintai, yaitu dirimu, Sayang ...."
Yoga menatap ke bawah dan tersenyum melihat Nara yang sudah tertidur di dalam pelukannya.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang. Selamanya ...."
.
.
.
-----S E L E S A I-----
.
.
.
MULAI EPISODE BERIKUTNYA, KISAH MUSIM KETIGA AKAN DIAWALI
Semua cerita akan mencapai titik akhirnya. Kebahagiaan atau kesedihan? Bersatu atau berpisah? Tetap ikuti dan baca kisahnya di sini. Terima kasih...πππ
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.