CINTA NARA

CINTA NARA
2.74. SATU NYAWA BARU


__ADS_3

Karena tak sabar dan penuh keingintahuan, Indra segera memeriksakan istrinya ke klinik Ardi. Dia meminta ijin untuk terlambat datang ke kantor demi bisa mengetahui kepastian kehamilan Rizka secepatnya.


Pukul delapan pagi, keduanya sudah sampai di klinik dan dipersilakan masuk ke ruang pemeriksaan.


"Selamat pagi, Dokter Ardi," sapa Indra pada sahabat kakak iparnya tersebut. Dia mengulurkan tangan yang langsung disambut dengan erat oleh Ardi.


"Ya, selamat pagi. Senang bertemu lagi dengan kalian di sini."


Rizka hanya tersenyum pada sang dokter dan menganggukkan kepalanya.


Setelah dipersilakan duduk, Indra mulai menceritakan tentang keeadaan Rizka tanpa kecuali. Dia juga menunjukkan hasil tespek subuh tadi pada Ardi.


"Baiklah, mari kita lihat apa yang terjadi di dalam rahim istrimu."


Rizka dibantu oleh perawat berbaring dan membuka perutnya untuk dilakukan pemeriksaan ultrasonografi. Sementara bagian perut hingga pinggulnya terbuka, perawat menutupi bagian bawahnya dengan selimut yang tersedia.


Setelah diolesi dengan jelly khusus, Ardi pun segera memeriksa bagian perut Rizka dengan transduser yang dipegangnya dan terhubung dengan layar monitor di samping pembaringan.


Menggerakkannya perlahan memutari permukaan perut bagian bawah, Ardi tampak serius dengan pekerjaannya dan mencari sebuah titik yang dicarinya.


"Nah, ini dia!" Gerakan transdusernya terhenti dan ditahannya pada satu tempat.


Tangan kirinya menunjuk satu titik kecil yang masih awam dilihat oleh Indra dan Rizka. Mereka hanya memperhatikan bulatan serupa titik kecil yang ada di tengah sebuah lingkaran hitam yang terlihat jelas di antara bagian lainnya yang berwarna lebih terang.


"Ini adalah janin yang dikandung oleh istrimu, Ndra."


Pasangan muda itu masih memaku tatapan pada bagian layar yang ditunjuk oleh Ardi. Raut tegang tampak jelas di wajah keduanya, membuat Ardi tersenyum melihat sikap polos Indra dan Rizka.


"Selamat! Ini artinya istrimu benar-benar hamil. Kalian akan segera memiliki buah hati."


Ketegangan di wajah mereka perlahan sirna dan berganti raut bahagia, saat mereka saling berpandangan dengan mata berkaca-kaca.


"Kak ..., aku hamil ...."


Tak ada kata yang sanggup diucapkan oleh Indra saat ini karena suaranya tercekat di tenggorokan, tertahan oleh rasa haru yang menyeruak menguasi seluruh perasaan hatinya.


Lelaki itu mengangguk dan terus beradu pandang dengan istrinya yang masih berbaring. Tampak kedua sudut mata wanita muda itu mengalirkan tangisan bahagia tanpa isakan.


Ardi yang sudah terbiasa menyaksikan suasana haru seperti itu tidak terlalu memperhatikannya. Dia hanya tersenyum dan terus melanjutkan pemeriksaannya.

__ADS_1


Transduser diarahkannya pada tempat yang paling tepat, lalu dengan bantuan alat penanda di samping papan ketik di bawab layar dia mulai mengukur beberapa hal berkenaan dengan kehamilan Rizka.


Dokter pemilik klinik itu terlebih dahulu memperbesar ukuran gambar di layar, lalu mulai menarik garis lurus di antara dua titik dalam rahim yang tadi ditunjukkannya sebagai janin kecil.


Dia mengetikkan sesuatu dan menunggu hasil yang tertera kemudian pada layar monitor.


"Berapa lama kamu terlambat menstruasi?" Ardi menatap Rizka dan menunggu wanita bertubuh mungil itu menjawabnya.


"Dua minggu lebih, hampir tiga minggu, Dok. Biasanya saya haid tepat waktu di tanggal yang sama setiap bulannya."


Ardi mengangguk dan kembali memeriksa deretan kode huruf dan angka yang tertera di samping kanan layar monitor.


"Sesuai dengan hasil pemeriksaanku. Usia kandunganmu tujuh minggu dan ukuran janinnya terbilang normal. Pembesaran rahimnya pun sesuai dengan usia kehamilan saat ini. Volume cairan amnion atau air ketuban di dalamnya juga sangat mencukupi."


Indra dan Rizka hanya mrnyimak semua penjelasan Ardi. Mereka belum terlalu banyak mengenal istilah dalam kehamilan sehingga memilih untuk percaya saja dengan semua ucapan Ardi yang mengatakan bahwa semuanya dalam kondisi normal dan baik-baik saja.


"Sekarang persiapkan diri kalian untuk kejutan istimewa ini!"


Ardi kembali mengutak-atik peralatannya, lalu tampilan dalam layar monitor pun berubah menjadi gambar grafik naik-turun yang terus bergerak berubah-ubah.


"Dengarkan baik-baik!"


Terdengarlah detak jantung janin yang tak hanya mengejutkan Indra dan Rizka tetapi juga menggetarkan hati keduanya hingga kulit tangan mereka merinding karena rasa takjub yang luar biasa.


"Inilah denyut jantung janin kalian, pertanda kehidupannya telah dimulai di dalam rahim sang ibu. Sekali lagi selamat!"


Ardi memberi waktu untuk pasangan tersebut mendengarkan detak jantung calon bayi mereka untuk pertama kalinya, sebelum mengakhiri pemeriksaannya.


Rizka mempererat gengaman tangannya pada tangan Indra yang juga membalasnya dengan hal yang sama.


Mereka saling melemparkan senyuman, sembari terus mendengarkan alunan nada terindah yang merupakan bukti nyata kehidupan satu nyawa baru yang akan tumbuh dan berkembang di dalam rahim Rizka.


Ardi menyudahi pemeriksaan pertamanya pada Rizka dengan memberikan hasil yang membahagiakan pasangan muda itu.


Beberapa saran dan pesan disampaikannnya pada Rizka, tentang apa yang boleh dilakukannya dan apa yang sebaiknya dihindarinya lebih dulu demi kesehatannya dan kelancaran proses kehamilannya.


"Aku berikan resep obat dan beberapa vitamin untuk menguatkan kandunganmu, karena di usia yang masih sangat awal ini hingga berakhirnya trimester pertama nanti, kondisi kehamilan masih cukup rentan pada umumnya. Semoga janin kalian kuat dan terus berkembang dengan baik."


"Aamiin, Ya Allah. Aamiin ...!!" Indra mengamini ucapan sang dokter diikuti sang istri yang sudah menyusulnya duduk di hadapan Ardi yang masih menulis resep dan menyelesaikan catatan pada buku riwayat pasien atas nama Rizka yang baru sekali ini diisinya.

__ADS_1


"Ini resepnya. Banyaklah beristirahat dan kurangi dulu aktivitas yang berlebihan. Termasuk hubungan suami-istri. Kita lihat dulu perkembangannya bulan depan. Jika janin kalian semakin kuat, kalian boleh melakukannya kembali dengan perlahan dan hati-hati."


Indra tersenyum dan menganggukkan kepala seraya menerima secarik resep dari Ardi. Sementara itu, wajah sang istri di sampingnya telah merona mendengar pesan Ardi tentang aktivitas seksual mereka.


"Baiklah, aku rasa cukup untuk pemeriksan pertama kali ini. Jika ada keluhan atau pertanyaan yang ingin kalian sampaikan, jangan sungkan untuk menghubungi nomorku kapan saja."


Indra kembali mengangguk diikuti Rizka, lalu lelaki itu menyalami sang dokter dan berpamitan.


"Terima kasih banyak atas bantuannya, Dokter Ardi. Kami permisi pulang dulu."


Ardi turut berdiri dan melepaskan kepergian pasangan muda yang tengah dipenuhi kebahagiaan tersebut.


Sampai di dalam mobil, serta-merta Indra memeluk erat Rizka lalu menciumi wajah istrinya tiada henti.


"Kak ...!" Rizka menahan tubuh suaminya agar tidak lagi menyerang wajahnya dengan ciuman bertubi-tubi.


"Maafkan aku, Sayang. Aku terlampau bahagia saat ini. Aku ingin terus memelukmu dan menciumimu."


Tak peduli tangan Rizka yang menahan dadanya, Indra kembali mencium kening sang istri dengan lebih lembut lalu diakhiri dengan sekilas ciuman di bibir manis kesayangannya.


"Terima kasih, Sayang. Aku sangat bahagia dan bersyukur atas kehamilanmu ini. Akun akan selalu menjadi suami siaga untukmu. Aku sangat mencintaimu, mencintai kalian berdua."


Tangan lelaki itu membelai pipi ranum istrinya lalu turun ke bawah dan mengusapi perut yang masih rata itu dengan rasa haru yang memenuhi ruang hati.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.

__ADS_1


__ADS_2