
Menjelang siang, Alya sudah menyelesaikan praktek paginya di rumah sakit. Setelah dua hari beristirahat di rumah, hari ini dia sudah mulai bertugas kembali seperti biasa.
Dokter itu bersiap untuk berangkat ke klinik. Usai merapikan berkas di atas meja, dia mengambil tas dan ponselnya lalu diletakkan di atas pangkuannya.
Menggerakkan kursi roda yang masih digunakannya, wanita ayu itu keluar dari ruangannya dan menuju lift untuk turun ke lantai dasar di mana sopir relah menunggunya.
"Kita langsung ke klinik, Bu?" tanya Pak Sopir setelah keduanya berada di dalam mobil.
"Iya, Pak. Saya ingin beristirahat dulu di sana sembari menunggu waktu praktek siang nanti." jawab Alya ramah dari kursi belakang.
Mobil pun mulai bergerak meninggalkan area rumah sakit dan melaju menembus keramaian jalan raya.
Baru sepuluh menit perjalanan, tiba-tiba mobil mendadak oleng dan terdengarlah letusan kecil. Beruntung sang sopir cukup lihai dan tidak panik sehingga masih bisa mengendalikan laju mobil.
"Ada apa, Pak?" Alya yang terkejut sempat terantuk kaca mobil di samping tempatnya duduk.
"Sepertinya salah satu ban belakang bocor, Bu," jawab Pak Sopir sembari mencari tempat kosong di tepi jalan untuk menghentikan mobil dan memeriksanya lebih dulu.
Mendapatkan tempat teduh di bagian jalan yang tidak terlalu ramai, mobil pun berhenti lalu sang sopir segera keluar dan memeriksa kondisi ban yang bocor.
Ternyata ban yang bocor ada di bagian belakang sebelah kiri, tepat di belakang tempat duduk Alya, sehingga tadi dia merasakan guncangan yang cukup keras.
Ban pengganti sudah tersedia di dalam bagasi tapi akan membutuhkan waktu yang tak sebentar untuk menggantinya.
"Tidak apa-apa, Pak. Bapak fokus untuk mengurus mobilnya saja. Saya bisa melanjutkan perjalanan dengan taksi daring."
Saat Alya baru akan membuka aplikasi transportasi daring, sebuah mobil berhenti tepat di depan mobil yang ditumpanginya. Dari dalam mobil, wanita berhijab anggun itu memperhatikannya.
Seorang lelaki bertubuh tegap dan bugar keluar dari pintu kemudi dan berjalan menghampiri Pak Sopir yang akan mengambil kunci yang masih terpasang pada tempatnya di dalam mobil.
"Rendy ...." Alya berucap lirih tatkala mengenali pengendara mobil tersebut.
Dokter tulang itu berbicara dengan sopir mobil Alya. Kemudian dia berjalan memutari mobil dan berdiri tepat di luar pintu belakang sebelah kiri, di mana Alya duduk di dalamnya.
Rendy mengetuk pelan kaca mobil sehingga mau tak mau Alya pun segera menurunkan kaca tersebut.
Lelaki itu tersenyum lembut seperti biasanya, membuat Alya merasa salah tingkah karena posisi wajah mereka yang berdekatan lantaran dari luar Rendy membungkuk dan menurunkan wajahnya hingga terlihat jelas di hadapan Alya.
"Al, ayo, aku antar kamu ke klinik."
Serta-merta Alya menggelengkan kepala dengan wajah gugup. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain untuk menghindari tatapan teduh lelaki itu.
__ADS_1
"Terima kasih atas tawaranmu, Ren. Tapi aku bisa pergi sendiri dengan taksi daring," tolak Alya dengan halus, tanpa bermaksud menyinggung perasaan dokter tulang itu dengan penolakannya.
"Jangan menolakku kali ini, Al. Sungguh aku hanya ingin mengantarmu agar lebih cepat sampai di klinik."
Alya bimbang. Hati kecilnya masih saja berontak, ingin terus menjaga jarak dengan Rendy agar tidak sampai menimbulkan kesalahpahaman.
Pak Sopir membuka bagasi dan turut berbicara dari belakang.
"Sebaiknya Ibu ikut bersama Pak Rendy saja. Saya akan merasa lebih tenang jika Ibu diantarkan oleh beliau daripada memesan taksi dan masih harus menunggu lama."
Pendirian Alya semakin goyah. Dia juga merasa sungkan jika harus menolak bantuan dari teman baiknya itu, sementara kondisinya saat ini memang sedang berhalangan di tengah perjalanan.
"Kamu percaya padaku, bukan?" Terdengar lagi suara lelaki itu membuat Alya semakin tak tega untuk menolak tawaran kebaikannya kali ini.
Akhirnya dengan hati yang belum sepenuhnya lapang, Alya menganggukkan kepala dan menatap sekilas ke arah Rendy yang masih menunggu dengan posisi yang belum berubah sejak tadi.
"Aku akan ikut denganmu," ucap Alya dengan lirih tanpa menatap lagi wajah lega dan bahagia lelaki itu.
"Baiklah. Aku akan memindahkan kursi rodamu dulu ke dalam bagasi mobilku. Tunggulah sebentar."
Dengan sigap lelaki itu segera menuju ke bagian belakang, mengambil kursi roda Alya dari bagasi yang masih terbuka.
Memasukkan kembali ponsel yang urung dipakainya ke dalam tas, Alya menyampirkan tali panjangnya di atas bahu kanan dan menyiapkan tongkatnya di tangan kiri.
Rendy datang dan membukakan pintu untuk Alya. Dengan mandiri wanita itu segera menurunkan tongkatnya diikuti kedua kaki yang berdiri tegak menopang tubuhnya, dengan bantuan satu tongkat penyangga.
Alya bergeser agar Rendy bisa kembali menutup pintu mobil. Setelah pamit pada Pak Sopir, keduanya berjalan bersama menuju mobil Rendy.
Dokter bersenyuman lembut itu membuka pintu depan sebelah kiri dan mempersilakan Alya masuk.
"Hati-hati, Al." Satu tangannya menjaga di atas kepala Alya untuk melindunginya agar tidak terantuk tepian atap mobil.
"Terima kasih." Alya menyamankan duduknya dan menyimpan tongkat penyangga di sampingnya.
Tak ingin membuang waktu, Rendy menutup pintu penumpang dan segera memutari bagian depan mobil lalu masuk dan duduk di di belakang kemudi.
Sambil menyalakan mesin mobilnya, Rendy menatap sekilas wajah wanita berhijab anggun di sebelahnya kemudian tersenyum ke arah Alya, barulah dia mulai melajukan mobilnya menuju klinik yang dikelola oleh teman baiknya.
Hening tercipta pada menit-menit pertama perjalanan mereka. Alya terus menatap ke luar jendela, sementara Rendy pun masih fokus dengan kemudinya.
"Kamu sudah makan siang, Al?" tanya Rendy akhirnya, memecah keheningan di dalam mobil.
__ADS_1
Alya hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Obat siangmu juga belum kamu minum?"
Wanita itu menggeleng lagi. "Aku biasa makan siang di klinik, sambil beristirahat menunggu waktu praktekku tiba."
Rendy tak bertanya lagi. Tapi justru Alya yang membuka pertanyaan tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Kamu juga baru selesai praktek. Pasti belum makan siang juga, bukan?"
Rendy tersenyum dan mengangguk.
"Ya, Al. Aku biasanya makan siang di perjalanan pulang seperti ini. Tapi untuk sekarang, aku tidak berani mengajakmu menemaniku, karena aku tahu pasti kamu akan menolaknya."
Alya merasa tidak enak dan tersindir oleh ucapan Rendy. Dia membenarkan pernyataan lelaki itu tentang sikapnya. Dia memang selalu menolak dan menghindar setiap kali Rendy menawarinya untuk makan bersama atau sekedar minum kopi bersama di kantin rumah sakit.
"Maaf, jika aku selalu mengecewakanmu," ucap Alya lirih dengan menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
Rendy mengalihkan pandangannya ke samping, saat mobil berhenti karena lampu lalu-lintas menyala merah.
"Jangan merasa bersalah, Al. Aku bisa mengerti dan aku menghormati sikap dan keputusanmu."
Rendy memanfaatkan waktu untuk berlama-lama menatap wajah ayu wanita di sampingnya. Masih belum menyangka jika akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk bersama dengan wanita itu sedekat ini.
"Terima kasih atas momen luar biasa ini, Al. Aku akan menyimpan kenangan kebersamaan kita ini di dalam hatiku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
.
__ADS_1