CINTA NARA

CINTA NARA
Kepergian Nara


__ADS_3

Jam 6. 30 pagi , Arif dengan setia mengantar Nara ke bandara Fatmawati. Dengan mobil pinjaman ayahnya ia mengantar sang kekasihnya ini ke bandara Fatmawati.


Sangat tergesa - gesa tiba di bandara Fatmawati ini. Bukan tanpa alasan, ini di karenakan di tengah perjalanan mobil ayahnya Arif ban mobilnya kempes. Sepagi ini susah mencari bengkel mobil yang buka. Untung saja Arif mempunyai saudara sepupu yang bisa ia andalkan. Mereka bertukar mobil untuk mengantar Nara.


Mobil ayahnya Arif ditinggal ditepi jalan. Sedangkan Arif meminjam mobil adik sepupunya untuk mengantar kepergian Nara. Tak apalah yang penting sampai tepat pada waktunya. Walau hampir saja ketinggalan pesawat gara - gara ban kempes.


Ada - ada saja kesialan Nara hari ini. Sudah terburu - buru berlarian untuk check in pesawat. Eh, berpapasan pula dengan Angga yang ternyata mengantar seseorang. Entah siapa yang di antarnya. Menimbulkan pertanyaan dalam benak Nara.


Kemungkinan besar Arif pasti bertemu dengan Angga. Itu sudah pasti, tebak Nara saat berjalan menaiki tangga pesawat. Tiba di dalam pesawat mata Nara mencari nomor yang tertera di dalam secarik kertas boarding passnya. "Nomor 34 F, " nomor terakhir pesawat, " batin Nara.


"Ups, maaf ya, " saat Nara melewati dan menyenggol penumpang nomor 34 E yang sedang vidio call dengan seseorang.


Penumpang nomor 34 E adalah seorang wanita cantik yang ramah. "Ah, gak apa, " katanya sambil mengambil ponselnya yang terjatuh beberap saat setelah Nara duduk di sebelahnya.


"Uda ya, makasih ya atas semuanya. Assalamualaikum, " penumpang wanita itu mengakhiri telponnya. Kemudian ia mematikan ponselnya.


Nara tak sengaja selintas melihat ponsel yang terjatuh tepat berada di samping kaki kirinya. Seseorang yang amat ia kenal. Angga.


Nara kemudian mematikan ponselnya pula. Mbak yang duduk di sebelahnya tersenyum melihat ke arah Nara. Nara juga membalas senyum wanita muda itu.


"Maaf ya mbak. Gara - gara aku ponselnya terjatuh. Sungguh aku tak sengaja, " Nara mencoba membuka percakapannya.


" Iya gak apa - apa mbak. Itu tadi kan gak sengaja, " balasnya pelan sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Tapi ngomong - ngomong mbak bukan orang Bengkulu ya, " selidik Nara.


"Iya, saya dari Palembang. Disini saya hanya bersilahturahmi mengunjungi tunangan saya, "kata wanita muda itu.


"Oh, tapi ini pesawatnya ke Jakarta lo mbak, " tanya Nara lagi.


"Iya, saya mau ke Jakarta sebentar. Setelah urusan di Jakarta selesai baru saya pulang ke Palembang, " jawab wanita muda itu lagi


"Oalah, mbak ini wanita sibuk. Makanya bolak balik begitu jadinya, " balas Nara.

__ADS_1


"Haha ... bisa aja mbak ini, " wanita muda itu terkekeh sendiri.


"Maaf ya mbak, gara - gara saya obrolan mbak dengan tunangannya terputus sebentar, " selidik Nara kembali.


Nara hanya memberi umpan obrolan kecil ini. Eh, ternyata wanita muda itu malah menceritakan sendiri tentang tunangannya.


" Ah. gak apa - apa. Tunangan saya itu orangnya baik. Ia seorang Pegawai Negeri Sipil di kota Pemda Bengkulu. Kami akan segera menikah dalam waktu dekat ini. Makanya saya kesini untuk membicarakan masalah ini. Kebetulan saya ada sedikit pekerjaan di sini , '' ucap wanita muda itu dengan berbinar - binar bahagia.


"Selamat ya mbak. Tapi ngomongn- ngomong siapa laki - laki beruntung itu, " selidik Nara kembali.


"Haha ... , bisa aja mbak ini. Saya yang justru beruntung. Laki - laki itu masih saudara jauh saya. Kami di jodohkan karena sesuatu hal, " jawab wanita muda itu.


"Di jodohkan !! zaman sekarang masih ada perjodohan kayak gitu ya mbak, " tanya Nara kembali.


"Hehe ... , tadinya saya gak mau. Namun orang yang dijodohkan dengan saya orangnya baik dan kalem. Makanya saya mau, " jawab wanita muda itu.


"Kalau boleh tahu siapa tunangannya ? maaf ya, lancang. Saya juga punya pacar yang kerja di Pemda juga , " tanya Nara.


"Namanya ... , " saat wanita muda itu mau menyebutkan nama tunangannya. Ia di colek oleh wanita muda yang duduk di sebelah kirinya.


Dengan sigap wanita muda yang dipanggil Ra oleh temannya itu mengeluarkan kantong plastik yang tersedia di depan mereka. Langsung diberikan pada temannya. Kantong plastik , majalah dan buku petunjuk selama berada dalam pesawat selalu ada di jok belakang kursi penumpang tepat di depan penumpang yang duduk di belakangnya.


Wanita muda yang di panggil Ra adalah Tiara. Ia dan temannya Ana sengaja datang ke Bengkulu dikarenakan ada seminar kedokteran yang mereka ikuti. Seminar yang tadinya dijadwalkan satu minggu di pangkas menjadi empat hari. Untuk itulah sisa tiga hari mereka berdua pergi ke Jakarta untuk sekedar menikmati kehidupan di ibu kota.


Ana yang diberikan kantong plastik oleh Tiara. langsung menyambut kantong plastik itu. "Wek ... uwek ... , " Ana hanya mual saja. Tidak ada yang ia muntahkan. Hanya muntah air yang keluar dari mulutnya.


Kemudian Tiara memanggil seorang pramugari. Pramugari dengan sigap datang menghampiri. Setelah tahu apa yang terjadi, sang pramugari itu lalu mengambil kotak sampah dan di taruh di dekat Ana.


Ada - ada saja Ana ini. Padahal pesawat belum terbang. Bisa - bisanya ia malah muntah begitu saja. Usut punya usut ternyata Ana sedang hamil muda, hal ini dirahasikannya karena ia mau naik pesawat.


Hanya beberapa menit kejadian Ana. Seorang pramugari lain berdiri paling depan dan pramugari yang membantu Ana mengambil posisi di tengah awak penumpang.


Sang pramugari pun memperagakan protokuler saat berada di dalam pesawat. Ia mengikuti petunjuk suara sang pramugara yang keluar lewat pengeras suara.

__ADS_1


Tak lama kemudian pesawat itu mengudara di cakrawala nan luas. Nara yang sedari tadi memejamkan mata saat pesawat mulai naik ke angkasa. Mulai perlahan membuka matanya. Tampak awan - awan seputih kapas bergulung - gulung terlihat dari jendela pesawat. Awan - awan itu sangat cantik. Mereka bergerombol sangat menawan. Sungguh indah cakrawala ciptaan sang Khalik.


Lama - lama Nara pun tertidur. Ia terbangun lantaran suara sang pramugara yang berbicara melalui pengeras suara.


On behalf of The Airlines and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!


(“Atas nama The Airlines dan seluruh kru, saya ingin berterima kasih kepada Anda atas ikut sertanya dalam perjalanan ini. Kami berharap bisa berjumpa dengan anda lagi dalam penerbangan dalam kesempatan yang akan datang. Semoga hari Anda menyenangkan!”)


"Ha ... , " Nara kaget. Ia bisa - bisanya tertidur pulas. Sementara itu wanita muda di sebelahnya hanya tersenyum memandangnya.


Nara membalas senyuman wanita muda di sampingnya. Lalu sang wanita itu berkata, " Maaf, aku baru ngeh kalau aku duduk di sebelah sang penulis muda. Ara dilla. '" Lalu ia menyodorkan sebuah buku novel itu pada Nara.


"Aku minta tanda tanganmu. Tolong di tanda tangan di sini, " pintanya pada Nara.


Nara kemudian membubuhkan tanda tangan sesuai permintaan si empunya buku. Novel perdana Nara yang di minati semua orang ada dalam genggaman wanita muda itu. Nara akhirnya tahu, nama yang tertera di sudut buku setelah cover novel. Tiara namanya.


Saat Nara mau memberikan novel pada Tiara. Sebuah foto tersembul dari dalam buku novel itu. Sebuah foto yang tergambar jelas siapa orang yang ada di dalam foto itu, Angga.


Nara begitu syok melihat foto yang di ada di tangannya. Mengapa sampai ada foto itu dalam novelnya Tiara. Ada apa gerangan ? Nara tampak lemas dibuatnya. Sedikit gugup ia menanyakan siapa sosok foto yang ia pegang.


"Ma-af mbak ... , ini si-apa ya, " tanya Nara pelan mencoba bersikap wajar.


"'Ah, maaf. Ini foto tunangan saya. Terima kasih banyak ya, " jawab Tiara buru - buru sambil mengambil foto dan novelnya.


Semua penumpang tampak berdesak - desakan berdiri di tengah - tengah diantara tempat duduk mereka. Lalu dua orang pramugari membuka pintu pesawat yang berada di depan dan di belakang. Satu persatu penumpang bagian depan keluar lewat pintu depan, sedangkan penumpang tengah dan belakang ikut antrian pintu keluar bagian belakang.


Tiara dan temannya Ana lebih duluan turun. Dikarenakan posisi duduk mereka ada di belakang. Jadi memudahkan mereka untuk keluar lebih duluan.


Namun tidak dengan Nara. Ia masih bengong melihat apa yang baru saja ia lihat. Ia tak pernah menyangka kalau Angga bisa setega itu mengkhianati Dina. "Apa yang seharusnya aku lakukan ? berdiam diri !! tidak mungkin !! " semua berkecamuk dalam pikiran Nara.


" Maaf mbak, penumpangnya hanya mbak seorang, " sapa ramah sang pramugari.


"Oh, maaf mbak, " Nara langsung beranjak dari kursinya. Tampak di dalam pesawat hanya Nara, dua orang pramugari dan satu orang pramugara. Semua penumpang sudah tidak ada lagi. Hanya Nara seorang diri.

__ADS_1


Dengan tergopoh - gopoh akhirnya Nara keluar lewat pintu belakang pesawat. Seorang pramugari tersenyum melihat Nara berlalu keluar dari pintu belakang sambil mengatupkan kedua telapak tangan di dadanya. Nara pun berjalan tertatih - tatih turun dari tangga pesawat. Separuh hatinya hancur, seperti merasakan kembali, saat Angga meninggalkannya, sedih .... teramat sakit.


__ADS_2