
"Mas, masih lembur?"
Nara terbangun dan mendapati suaminya masih terjaga dengan laptop di pangkuannya. Dengan pandangan yang masih samar, dilihatnya petunjuk waktu di bagian bawah layar besar itu. Sudah pukul sepuluh malam dan itu artinya dia tertidur satu jam lamanya, setelah membaringkan Gana di dalam boks bayinya.
"Tidak, Sayang." Kepala Nara diusap lembut oleh Yoga dengan senyuman di bibirnya. "Tidurlah lagi, Gana masih pulas di sana," lanjutnya seraya mengalihkan pandangan ke arah boks bayi di samping tempat tidur mereka.
"Kalau bukan pekerjaan, lalu apa yang kamu lakukan, Mas?"
Nara memutar tubuhnya menghadap ke arah Yoga yang kedua tangannya kembali sibuk di atas papan ketik pada laptopnya. Ditatapnya wajah lelaki yang selalu membuatnya tersenyum dengan hanya memikirkannya, apalagi lebih dari itu.
"Mengirimkan beberapa berkas pada Ardi, Sayang. Seharian tadi aku lupa dan baru saja teringat."
Yoga tampak serius mengirimkan beberapa berkas yang perlu diberitahukan kepada sahabat kecilnya, termasuk foto-foto yang dia sertakan pula.
"Untuk siapa itu, Mas? Mengapa kamu yang membelinya?"Nara memperhatikan salah satu foto yang terlihat olehnya, setelah dia bangun dan merapatkan tubuhnya memeluk sang suami, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yoga.
"Besok kamu juga akan tahu, Sayang. Pram yang sudah mengerjakan semua itu. Aku hanya menyampaikan hasilnya pada Ardi."
Yoga menoleh dan mencium pipi Nara kemudian menutup laptop lalu meletakkannya di atas meja. Dipeluknya sang istri dengan dekapan erat dan saling menghangatkan.
Baru saja mereka saling merapatkan pelukan, terdengar tangisan Gana memecah suasana yang mulai syahdu tersebut.
Dengan sigap Yoga turun dari tempat tidur dan memeriksa keadaan putra keduanya di dalam boks bsyi. Setelah memastikan popoknya masih bersih, dia membawa bayi mungilnya kepada Nara untuk disusui lagi.
Hampir tiga puluh menit kemudian, Gsna sudah kembali terlelap. Yoga mengambilnya dsri pangkuan Nara dengan hati-gati kemudian memvaringkannya lagi di dalam.boks bayi.
Setwlah merapikan srlimut dan kelambu untuk Gana, sang ayah kembali naik ke atas tempat tidur dan merapat di hadapan Nara yang masih duduk menunggunya.
"Mari kita tidur, Sayang. Kamu butuh banyak istirahat, sebelum Gana membangunkan kita lagi dengan tangisannya."
Yoga memeluk dan mencium kening Nara sebelum keduanya merebahkan diri sambil tetap berpelukan dan menyamankan posisi satu sama lain.
"Selamat tidur, Kesayanganku. Aku mencintaimu." Yoga kembali melabuhkan ciuman di kedua pipi Nara dan mengakhirinya dengan ciuman singkat di bibir manis yang selalu menggodanya.
Nara tersenyum menerima ciuman hangat di bibirnya. Wajahnya memerah dan tersipu malu. Sangat menggemaskan di mata sang suami yang tak pernah bosan memanjakannya dengan sikap manis dan perhatian kecil yang tiada habisnya.
__ADS_1
"Selamat beristirahat, Mas. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini untuk keluarga kita. Semoga Allah meridhoi dan menjadikannya berkah untuk kita semua. Aku mencintaimu, Suamiku."
Nara membalas ciuman di kening Yoga lalu turun menyentuh bibirnya dengan penuh kelembutan. Rasanya selalu berbeda setiap kali Nara melakukannya tanpa ragu dan malu lagi, membuat lelaki itu melambungkan bahagianya hingga membumbung tinggi penuh rasa syukur.
Usai menikmati penyatuan singkat bibir mereka, sepasang suami-istri itu mulai memejamkan mata dan terlelap di alam mimpi dengan senyuman terindah menghiasi wajah bahagia keduanya.
.
.
.
Beberapa jam sebelumnya, di rumah Alya, dokter berhijab anggun tersebut baru saja turun dari taksi yang mengantarnya pulang dari rumah sakit.
Memasuki halaman rumah, pandangannya tertuju pada sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di sana. Dia berpikir ada tamu yang datang untuk menemui orangtuanya, tapi dilihatnya pintu rumah tertutup rapat seperti saat biasanya dia pulang bekerja.
Membuka pintu yang belum terkunci dan menutupnya kembali, Alya disambut oleh Papa yang menunggunya di ruang tengah sambil menyimak tayangan berita di televisi, ditemani Mama yang baru saja keluar dari kamar.
"Pa, Ma, mobil siapa yang ada di luar? Aku kira ada tamu tapi ternyata tidak ada." Alya duduk bergabung setelah mencuci tangan dan membawa satu gelas air putih yang diteguknya pelan-pelan.
Alya hampir saja tersedak saat mendengar penuturan Papa yang menyebutkan nama lelaki yang dicintainya.
"Dia juga menyampaikan pesan bahwa Dokter Ardi sudah mempercayakan seseorang yang merupakan teman Pak Budi tersebut, untuk menjadi sopir yang siap mengantarkan kamu dalam beraktivitas sehari-hari."
Papa menunjukkan kunci mobil yang tergeletak di atas meja dan beberapa lembar kertas yang sepertinya berkas jual-beli dari mobil tersebut.
"Kata Pak Budi, surat-suratnya masih dalam proses dan akan diantarkan beberapa hari lagi. Sopirnya juga tidak menginap di sini karena kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh."
Alya masih belum mengerti dengan semua yang dituturkan oleh Papa. Baru tadi pagi mereka berpisah di bandara dan Ardi tidak mengatakan apa-apa tentang semua ini.
Apa maksud dari semua ini? Mengapa Ardi melakukannya?
Setelah mengembalikan gelas kosongnya ke dapur, Alya pamit pada orangtuanya untuk masuk ke kamar. Dia merasa perlu untuk segera meminta penjelasan pada Ardi mengenai hal ini.
Duduk di tepi tempat tidur, Alya segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ardi. Dia butuh penjelasan langsung dari lelaki yang mulai menyemai benih cinta lama di hatinya.
__ADS_1
"Ardi ...?" panggil Alya setelah panggilan tersambung dan diterima oleh lelaki yang dicarinya.
"Ya, Alya. Kamu sudah pulang?" jawab Ardi dengan pertanyaan yang berbalik kepadanya.
"Sudah, baru saja. Bagaimana Aura, dia baik-baik saja?" Wanita itu menanyakan bayi kesayangannya sebelum menuju pada pertanyaan utama yang ingin disampaikannya.
"Dia sudah tidur di sampingku. Nanti aku kirim fotonya bila kamu merindukan dia." Terdengar suara Ardi sedikit lirih sejak awal, mungkin sengaja dilakukannya supaya tidak mengganggu putri kecilnya yang sudah tidur dengan nyenyak.
"Di ... apa maksudmu dengan mengirimkan mobil berikut sopir ke rumahku? Maaf, aku baru menanyakannya sekarang karena baru saja pulang dan diberi tahu oleh Papa."
"Oh, itu. Itu untuk kamu, Al. Supaya mobilitas harian kamu lebih cepat dan lebih aman. Aku merasa tidak tega membiarkanmu ke mana-mana seorang diri menggunakan taksi daring," jawab Ardi dari seberang telepon.
Alya menghela napas pelan dan mencoba meredakan gejolak yang mulai terasa di hatinya.
"Kamu terlalu berlebihan. Seharusnya kamu tidak perlu melakukannya. Aku sudah terbiasa sendiri dan melakukan semuanya sendiri. Tolong jangan bersikap seperti ini, Di."
Alya menahan tangisannya pecah, agar tidak sampai terdengar oleh Ardi di seberang sambungan. Baru kali ini dia merasa diistimewakan oleh orang lain dan dia adalah lelaki pemilik utuh hati dan cintanya.
Perhatian lelaki itu tidak pernah berubah. Masih sama seperti masa yang lalu. Apa pun akan dia lakukan hanya demi membuat wanita cinta pertamanya itu tersenyum bahagia dan merasa teristimewa.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan, Al. Kamu berhak mendapatkannya karena kamu adalah wanita yang istimewa. Kamu selalu istimewa di mataku ... dan di hatiku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.