CINTA NARA

CINTA NARA
BONUS KISAH 3 : MAGA & AYA


__ADS_3

(Ada beberapa dialog dari episode 2.118.)


Bonus Kisah tidak terlalu panjang ya, tapi akan ada banyak dan ter- ter- ter- selalu!


"Ibu, Maga mau main ke lumah Aya." Suara cadel nan lantang Raga menggema di dalam kamar orang tuanya.


Nara yang sedang memakaikan baju ganti Gana di atas tempat tidur menoleh arah pintu. Dilihatnya si sulung sudah berdiri dengan senyuman lebar di bibir bocah tampan itu. Mata beningnya menatap lurus ke arah Nara, seolah tak sabar ingin segera mendapatkan izin dari sang ibu.


"Mas sudah habiskan sarapannya?" tanya Nara sebelum memberikan jawabannya.


"Sudah! Maga juga bawa kentang goleng banyak untuk Aya." Raga menunjukkan boks makanan yang dibawanya.


"Baiklah, Raga boleh main ke rumah Aura, tapi ditemani Bibi Indah. Ingat, tidak boleh nakal di sana dan tidak boleh merepotkan Om Ardi dan Tante Alya!" pesan Nara dengan senyuman lembutnya.


Dengan cepat Raga berjalan menghampiri wanita yang sudah selesai merapikan baju si adik. Tangan kanannya terulur untuk meraih tangan sang ibu lalu menciumnya dengan hormat. Nara membalasnya dengan mencium kening Raga dan mengusap kepala bocah berambut hitam lebat tersebut.


"Hati-hati, Sayang."


Raga mengangguk dengan penuh semangat. Sebelum kedua kakinya melangkah keluar dari kamar, bocah penyayang itu mencium kedua pipi adiknya seraya berpamitan dengan bahasa bocahnya.


Tak lama setelah si sulung pergi, Yoga keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan beraroma wewangian maskulin. Senyumnya mengembang begitu melihat Gana yang berdiri dengan bantuan sang ibu, seraya melompat-lompat di atas tempat tidur.


Segera lelaki bertubuh tinggi tegap itu menghampiri si bungsu yang sudah mengulurkan kedua tangan mungilnya, tak sabar ingin digendong oleh sang ayah. Dia mengambil alih Gana dari tangan istrinya dan berputar pelan sambil mengangkat tubuh sang putra tinggi-tinggi. Gana terkekeh riang tanpa rasa takut, sebab sudah terbiasa dengan perlakuan sang ayah sebagai tanda sayang dan gemasnya itu.


Nara tidak tinggal diam. Wanita itu berdiri dan memeluk tubuh Yoga dari belakang, sehingga pandangannya bisa ikut memperhatikan mimik lucu sang buah hati. Untuk sesaat Yoga merasakan desiran halus di hatinya saat tubuh hangat itu menempel erat tanpa sekat pada punggungnya.


Namun, mengingat ada sang putra dalam dekapannya kini, lelaki itu mengabaikan getaran indah yang sebenarnya masih terus mengganggu konsentrasinya tersebut. Dia mengalihkan perhatian dengan berceloteh bersama Gana dan membiarkan Nara tetap bermanja padanya di belakang.

__ADS_1


"Raga pamit untuk pergi bermain bersama Aura." Nara memberitahu tentang keberadaan putra sulung mereka.


"Iya, Sayang. Aku mendengarnya dari dalam kamar mandi tadi." Sekilas Yoga menoleh ke samping, di mana kepala sang istri sudah rebah di bahunya. Diciumnya pipi ranum Nara lalu kembali menimang Gana dengan wajah bahagia.


"Aku merasa sejak keluarga Dokter Ardi pindah rumah di sini, Raga dan Aura semakin dekat dan tak terpisahkan. Aku jadi teringat dengan pesan terakhir Bunga waktu itu, Mas." Tatapan Nara mulai menerawang, mengingat percakapan terakhirnya dengan istri pertama Ardi, sebelum wanita itu menghembuskan napas terakhir.


Mbak, aku titip Aura. Nantinya, sering-seringlah menengoknya bersama Raga.


Aku berharap anak-anak kita bisa selalu bersama hingga mereka dewasa kelak.


"Setidaknya, saat ini keinginan Bunga telah terpenuhi, Mas. Raga dan Aura bisa sedekat sekarang dengan apa-adanya tanpa harus kita paksakan." Nara tersenyum masih dengan wajah bersandar di bahu suaminya.


"Iya, Sayang. Aku juga berpikir demikian. Kita tidak tahu bagaimana hubungan mereka ke depannya. Aku rasa, akan sama seperti aku dan Ardi yang sudah terbiasa bersama sejak kami masih sangat kecil dulu."


Yoga mendekap Gana dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya beralih menyentuh dan mengelus-elus tangan Nara yang melingkari pinggangnya.


Terlihat Gana mulai menguap dengan sinar matanya yang mulai sayu. Bayi tampan itu sudah mengantuk dan ingin tidur dengan menyusu pada ibunya. Yoga meminta Nara untuk menidurkan sang putra lebih dulu, sebelum mereka sarapan.


Nara melepaskan pelukannya lalu duduk di sofa diikuti Yoga yang meletakkan Gana di pangkuan sang istri. Nara melepaskan dua kancing teratas dari pakaiannya lalu menyusui Gana dengan penuh kasih.


Yoga ikut duduk di sampingnya dengan satu tangan memeluk wanita kesayangannya dari belakang. Nara menatap lelaki itu dengan senyum terindahnya. Dia selalu merasa terharu setiap kali Yoga mendampinginya saat menyusui sang putra maupun di saat-saat lain ketika dirinya tengah sibuk mengurusi kedua buah cinta mereka.


Yoga mencium kening Nara dan merapatkan pelukannya. Dia berusaha agar sang istri tetap merasa nyaman meski sedang memangku Gana yang mulai memejamkan mata. Sementara mulut kecil bayi itu masih terus bergerak menghisap minuman terbaiknya.


Di rumah Ardi, Raga sudah asyik bermain bersama Aura yang semakin lincah berjalan dan berlarian ke sana kemari. Seperti seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, bocah tampan yang sudah bersekolah di bangku taman kanak-kanak itu mengikuti si cantik yang tak kenal lelah itu.


Meskipun demikian, Alya yang terus memantau putri kecilnya tetap menghentikan aktivitas Aura jika dirasa sudah cukup menguras energi. Dia tidak ingin Aura jatuh sakit dan bisa memperparah kondisi kesehatannya.

__ADS_1


"Aura sayang, ayo istirahat dulu, Nak." Alya membawa sang putri ke pangkuannya. Dengan sayang dibersihkan wajah Aura yang penuh keringat meski bocah mungil itu sama sekali tidak merasa lelah.


Si cantik justru tertawa kian tergelak saat Raga duduk di hadapan Alya dan terus menghiburnya dengan bahasa yang kadang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Alya yang melihat pun hanya bisa tersenyum melihat kedekatan dua bocah berselang usia dua tahun tersebut.


"Aya no sakit lagi, ya! Kalau Aya sakit ... Maga sedih. Maga temani Aya minum obat dan bobok, yuk!"


Melihat Mbak Mia datang membawa obat sirup yang hatus diminum Aura, Raga sudah lebih dulu membujuknya untuk minum obatnya tanpa harus rewel.


Benar saja, Aura patuh setelah mendengar ucapan lembut Raga disertai ciuman sayang di pipinya. Tanpa menghindar lagi gadis cilik itu membuka mulutnya dan menelan dua jenis obat yang diminumkan oleh Alya kepadanya.


"Anak pintar! Sekarang Aura bobok dulu, nanti main-main lagi sama Mas Raga." Alya mengajak kefua bocah itu masuk ke kamar depan, di mana biasanya mereka beristirahat di tengah waktu bermain.


Alya membaringkan Aura di tengah tempat tidur. Sementara itu, Raga yang didampingi Mbak Indah menyusul naik dan ikut berbaring di samping teman kesayangannya.


Sebelum memejamkan sepasang mata beningnya, bocah tampan nan penyayang itu mencium kening Aura, seperti yang sering dilihat dan dirasakannya ketika sang ayah mencium ibu dan juga dirinya dan Gana setiap hari.


"Maga sayang Aya. Maga jagain Aya di sini."


Masih ada banyak Bonus Kisah terindah di sini. Tetap favoritkan dan tunggu kisah tersimpan yang belum terungkapkan sebelumnya...👍🙏


Mohon doanya selalu, agar proses revisi naskah untuk penerbitan buku cetak CINTA NARA dimudahkan dan selesai tepat waktu, terima kasih...🙏💜


Cek postingan di FB dan IG kami. Ada info karya terbaru di sana 🙏💜


FB : Aisha Bella


IG : @aishabella02

__ADS_1



__ADS_2