
"Kita bertiga akan tinggal bersama di sini. Aku, kamu dan Aura, juga adik-adiknya nanti. Aku sudah menepati janjiku, memberimu jawaban dan kepastian saat kita bertemu lagi."
Seketika mata Alya berkaca-kaca dengan hati yang bergetar penuh keharuan yang membuncah. Sungguh tak menyangka dalam waktu yang singkat Ardi telah mempersiapkan semua ini dengan cepat.
Saat dulu dia mempertanyakan tentang kebersamaan mereka setelah menikah, bahkan pikirannya tidak sampai sejauh ini. Namun Ardi justru telah menyiapkan semuanya tanpa dia ketahui.
"Ini ... kamu terlalu berlebihan, Di. Maksudku bukan seperti ini tapi ...." Alya tak tau harus bagaimana menjelaskan. Dia sendiri masih sangat terkejut dengan semuanya.
"Aku hanya melakukan kewajibanku untuk menyiapkan tempat tinggal yang layak untuk keluargaku. Di sinilah nanti kita akan hidup bersama dan bahagia selamanya."
Alya tak kuasa lagi menahan tangisan. Air mata mulai menetes membasahi wajah ayunya. Dia memperhatikan kunci yang dia terima dengan perasaan tak menentu.
"Bukalah sekarang. Lihat, Aura sudah tidak sabar ingin masuk." Keduanya menunduk, memperhatikan Aura yang masih memukuli pintu dengan tangan mungilnya.
"Bubu ... Yaya ... amm maa ...." Bayi lincah itu semakin riang berceloteh saat Alya mulai memasukkan kunci yang dipegangnya ke dalam lubang. Tangannya terlihat sangat gemetar saat kunci telah terpasang pada tempatnya.
Dia berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Matanya terpejam rapat seolah ingin menuntaskan tangisannya sampai di sini saja. Saat kembali terbuka, wanita sendu itu menyeka bersih air matanya lalu menampakkan senyuman bahagia.
"Bismillahirrahmanirrahim ...!"
Tangan Alya masih begitu gemetar saat mulai memutar kunci lalu menekan gagang pintu dan mendorongnya pelan. Dadanya terasa sesak dipenuhi rasa haru. Hatinya pun terus bergetar indah mendapatkan perhatian yang luar biasa dari lelaki yang dia cintai selama ini.
Pintu terbuka dan semakin dilebarkan oleh dorongan tangan Ardi yang mengetahui kegugupan wanita di sampingnya. Dia mempersilakan Alya masuk bersamanya dengan menuntun Aura yang wajahnya berbinar semakin ceria saat melihat ke dalam rumah.
Semoga kamu menyukainya, Alya." Ardi tersenyum dan memandang wanita kesayangannya penuh cinta.
Alya menggelengkan kepala dan membalasnya dengan tatapan mata sendu berlinangan air mata.
"Aku tidak pernah mengharapkan apa pun darimu, Di. Ini semua di luar dugaanku. Kamu terlalu berlebihan."
Ardi mengeluarkan saputangan dan mengulurkan ke wajah Alya yang segera menerimanya lebih dulu sebelum tangan itu menghapus tangisannya.
"Apa pun pasti akan aku lakukan untuk membahagiakan kamu dan Aura. Semampuku akan aku berikan semuanya kepada kalian berdua."
Lelaki itu membiarkan Alya terlebih dahulu memperhatikan suasana di dalam rumah, dari posisi mereka saat ini. Wajah wanita berhijab itu menampakkan senyuman seiring perasaannya yang mulai tenang dan terkendali.
__ADS_1
Aura melepaskan pegangan tangannya dari Alya lalu berlari kecil ke arah kursi ruang tamu, dan naik untuk duduk riang di sana.
Rumah yang dibeli Ardi tersebut tidak berbeda jauh dengan milik keluarga Yoga. Hanya di beberapa bagian ruangan yang sudah didesain ulang oleh Yoga setelah kelahiran putra keduanya.
Ardi juga sudah melengkapinya dengan perabotan baru yang dipesan dari toko furnitur ternama milik Alam, rekan bisnis Yoga. Sesuai rencana dia meminta Alya dan orangtuanya untuk menempati lebih dulu sembari mereka mempersiapkan pernikahan.
'
"Mengapa harus kami yang lebih dulu tinggal di sini, Di? Kita bisa memulainya bersama setelah menikah nanti. Sungguh aku masih merasa tidak nyaman dengan semua ini," tolak Alya disertai gelengan kepala.
"Lebih cepat lebih baik, Al. Aku tidak akan menunda lagi. Sebentar lagi kita akan menikah. Oleh karena itu aku ingin segala persiapannya dilakukan di sini. Tentang orangtuamu, aku sudah beberapa kali bicara dengan papamu. Beliau tidak keberatan dan telah memberikan izin atas semua ini.Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi."
Alya semakin terkejut mengetahui bahwa diam-diam Ardi juga telah berbicara dengan Papa dan mendapatkan izin dari beliau. Rupanya lelaki itu tidak ingin mengulur waktu. Jarak yang masih terbentang jauh tidak menyurutkan niat di hati untuk mempersiapkan segalanya.
"Jadi ... selama ini kamu dan Papa ...?" Ardi mengangguk dan tersenyum kepadanya.
Kesibukan Alya membagi tugas di dua tempat yang berbeda setiap hari memang membuat waktunya untuk berada di rumah tidak banyak. Seringkali dia kehilangan waktu kebersamaan dengan kedua orangtuanya.
Tanpa disadari, terrnyata Ardi memanfaatkan ketidakadaannya di rumah untuk menghubungi Papa dan berbicara banyak hal dengan beliau mengenai keinginannya untuk melamar dan menikahi Alya sesegera mungkin.
Setelah menggendong putri kecilnya, Ardi dan Alya menuju tangga di bagian tengah untuk naik ke atas di mana kamar yang akan mereka tempati berada.
Alya berusaha membuang jauh ketakutan yang kembali menghampiri perasaannya. Saat Ardi membuka pintu kamar utama dan memintanya masuk bersama, bayangan buruk masa lalunya seketika muncul dan membuat wajahnya pucat pasi. Sepasang mata indahnya terpejam rapat seketika seraya menggeleng pelan berulang kali.
Ardi yang masih mendekap Aura dengan tangan kiri, segera mengulurkan tangan kanannya dan meraih jemari Alya untuk digenggamnya dengan lembut. Dia bisa merasakan getaran tubuh wanita itu yang terlihat ketakutan dan semakin tegang.
"Alya, tenangkan dirimu. Kamu di sini bersamaku dan Aura. Jangan takut dan jangan pikirkan hal yang lainnya. Lepaskan dan buang jauh segala hal yang membebani hatimu. Ingatlah saja kebersamaan kita bertiga selama ini."
Ardi memberi waktu pada Alya untuk menenangkan diri. Lelaki itu membiarkan calon istrinya mengumpulkan kekuatan dan keberanian agar bisa memasuki kamar yang akan ditempati bersamanya.
"Bubu ... amm maa ... Bubu ...." Celotehan Aura dengan suaranya yang masih belum jelas membuat Alya tersadar dan mulai membuka mata. Pandangannya beralih ke samping dan beradu dengan tatapan lembut Ardi yang terus terpaku padanya sedari tadi.
Sesaat setelahnya, dia mengalihkan pandangan ke arah bayi cantik kesayangannya. Senyuman mulai terlihat lagi di wajah yang masih tampak pucat meski tak lagi setegang sebelumnya.
Alya menarik tangannya yang masih digenggam lembut oleh Ardi namun lelaki bermata teduh itu justru mempererat dan menariknya pelan untuk melangkah memasuki kamar.
__ADS_1
Wanita anggun itu menghela napas panjang sebelum mengikuti langkah calon suaminya. Mereka berhenti tepat di bagian tengah ruangan yang sudah tertata rapi dengan semua kelengkapannya.
Aura meronta ingin turun hingga akhirnya Ardi melepaskannya dan membiarkan bayi cantik itu bebas berjalan ke sana kemari di seputar kamar.
Di saat yang bersamaan Alya pun menarik tangannya dengan segera dan mengambil jarak yang lebih lebar dari tempat Ardi berdiri.
"Kamu akan menempati kamar ini lebih dulu. Buatlah dirimu senyaman mungkin di sini dan kamu bebas mengatur semuanya sesuai keinginanmu."
Alya mulai mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Setiap sudut dia perhatikan dengan saksama hingga perhatiannya tertuju pada tempat tidur besar yang berada di bagian tengah, tak jauh dari sofa set di sampingnya.
Pandangan matanya meredup dan kembali berkaca-kaca, mengingat sebuah kejadian tragis yang pernah dialaminya. Peristiwa terburuk yang masih terus membayanginya dan menjadi awal kehancuran hidupnya setelah itu.
.
.
.
FB : Aisha Bella
IG : @aishabella02
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
πAuthorπ
__ADS_1
.