CINTA NARA

CINTA NARA
3.11. PAGI YANG INDAH


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Alya sudah sampai di rumah sakit. Di tangannya kanannya, dia menjinjing kantong makanan yang berisi sarapan dan minuman hangat untuk Ardi dan Yoga.


Untuk kedua kalinya dia sengaja menghindar dari kebiasaan Rendy beberapa bulan terakhir, yang selalu menjemputnya berangkat ke rumah sakit.


Bukan bermaksud untuk benar-benar menghindar, akan tetapi dia tidak mau lebih merepotkan Rendy karena dirinya memang harus berangkat lebih awal untuk menemani Aura lebih dulu, sebelum menjalankan tugasnya pada jadwal pemeriksaan pagi.


Sampai di depan ruangan, pintu terlihat sedikit terbuka dan menampakkan pemandangan yang membuat perasaannya diliputi rasa haru.


Ardi, lelaki yang dicintainya selalu, tengah tertidur pulas di atas sofa dengan tubuh berbaring miring dengan kedua kaki ditekuk menyesuaikan panjang sofa. Gurat lelah tampak jelas di wajah dokter duda itu, yang baginya tetap menawan walaupun sedang kusut tak terurus.


Tanpa mengetuk pintu dan menjaga langkah hati-hati, Alya masuk dan mendapati Yoga yang duduk di sisi sofa yang lain, yang sebelumnya tak terlihat olehnya. Ayah siaga dan penyayang istri itu sedang berbalas pesan dengan Nara di rumah.


Alya mengangguk untuk memberi salam tanpa suara, agar tidak sampai membangunkan Ardi. Diletakkannya tas dan bawannya di atas meja, lalu hendak segera menuju ke pembaringan di mana terlihat Aura yang masih terlelap.


"Sepertinya dia sangat kelelahan, sehingga tertidur lagi usai berjamaah Subuh denganku." Yoga berbicara lirih sebelum Alya menjauh.


Sejenak wanita itu menatap kembali Ardi yang tetap terlelap tanpa terganggu oleh suara Yoga.


"Apakah semalam Aura rewel?" tanya Alya sambil terus memperhatikan lelaki yang tertidur itu.


"Beberapa kali terbangun dan menangis, tapi tidak terlalu lama dan masih bisa kami tenangkan, kemudian tertidur lagi," jelas Yoga dengan singkat.


Lelaki itu menyimpan ponselnya dan bersiap hendak pulang karena Alya sudah datang, sementara dia juga harus membantu Nara di rumah dengan kesibukan pagi bersama dua putra kesayangan mereka.


"Saya membawakan sarapan dan minuman hangat untuk kalian. Sebelum pulang silakan dinikmati dulu, Pak Yoga."


Lantaran sungkan karena sudah disiapkan dan dibawakan dari rumah, Yoga pun mengangguk dan mendahului Ardi untuk menghabiskan sarapannya sebelum pulang.


Alya meninggalkan Yoga dan menghampiri Aura yang mulai menggeliatkan tubuhnya lalu perlahan membuka mata. Bibirnya sudah terlihat maju dan hampir menangis kalau saja Alya tak segera menyapa dan mengangkatnya bangun.


"Anak pintar sudah bangun, Nak. Ssttt ... jangan menangis, Ayah masih tidur. Aura sama Tante dulu, ya."


Bayi lucu itu mengerjapkan mata indahnya berkali-kali lalu mulai menampakkan senyuman saat menatap wajah Alya dan mengenalinya.

__ADS_1


Alay duduk di tepi pembaringan lalu memangku bayi cantik yang masih terus menatapnya dengan sepasang mata indah yang sudah terbuka lebar.


"Bu-bu ... bu-bu ...." Tangan mungilnya mulai terangkat menyentuh wajah Alya dan membelainya secara acak, membuat wanita itu gemas lalu menciumi wajah bulat menggemaskan di pangkuannya.


"Iya, Sayang. Tante sudah datang lagi untuk Aura. Aura mau minum?"


Alya mengambil botol susu yang sudah terisi penuh dan terasa hangat saat dipegangnya, menandakan belum lama disiapkan.


Setelah membuka tutupnya, Aura memposisikan tubuh Aura senyaman mungkin di pangkuannya, lalu memberikan botol susu yang langsung diminumnya dengan lahap sembari terus menatap wajah Alya.


Sesekali dilihatnya ke arah sofa, Ardi masih belum berubah posisi dan tetap terlelap, sementara Yoga sudah menyelesaikan sarapannya.


Kembali menatap bayi di atas pangkuannya, Alya tersenyum dan mengajaknya berbicara pelan-pelan. Sesekali bayi cantik itu tertawa di sela-sela meminum susunya.


"Dokter Alya, saya pulang dulu. Karena pagi ini masih ada pertemuan penting di kantor seperti kemarin."


Yoga menghampiri Alya di tepi pembaringan dan mengusap sayang kepala Aura sebelum pergi.


"Om Yoga pulang dulu, Sayang. Cepat sembuh, nanti kita bermain bersama Mas Raga dan Dik Gana di rumah."


Alya kembali memusatkan perhatiannya pada Aura yang sudah menghabiskan minumannya dan mulai berceloteh dan terkadang berteriak kecil. Demamnya sudah reda dan sepertinya dia mulai aktif dan ceria kembali.


Berdiri di atas pangkuan Alya, bayi cantik itu berjinjit dan menjejak-jejakkan kakinya dengan riang seolah ingin kembali belajar berjalan seperti kebiasaannya di rumah akhir-akhir ini, sebelum datang mengunjungi keluarga Yoga.


"Aura sudah ingin jalan-jalan, ya? Sudah kuat pijakannya, sudah pintar berdirinya. Anak pintar! Nanti belajar berjalan bersama Tante ya, Nak. Uuummhh ...!!"


Alya mencium lama kening Aura dengan rasa sayangnya yang sangat tulus seolah bayi mungil itu adalah darah dagingnya sendiri.


Dari atas sofa, Ardi yang sudah membuka mata karena mendengar celotehan riang putrinya, kembali tertegun haru menyaksikan ciuman sayang Alya utuk putri kecilnya.


Pagi yang indah dengan pemandangan yang sangat menyentuh hatinya. Tanpa ingin bangkit dari posisinya yang masih seperti semula, lelaki itu menyunggingkan senyuman bahagia di bibirnya, disertai getaran indah yang kembali mengalun di sudut sanubari.


"Ya Allah, perasaan apa lagi ini? Mengapa setiap kali melihatnya bersama Aura, mendadak hatiku dipenuhi rasa haru dan bahagia seperti ini? Terasa begitu indah dan membuatku ingin terus merasakannya. Tapi ...."

__ADS_1


Ardi mengusap wajahnya dan membuyarkan pikirannya yang mulai berkelana. Dia kembali sadar bahwa Alya sudah memiliki kehidupan bahagia sendiri.


Kehadiran wanita anggun itu di sini hanyalah sebatas kasih sayang kepada putri kecilnya yang sedang sakit dan membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang-orang di sekelilingnya. Dan kebetulan Alya berhasil membuat Aura dekat dan bahagia setiap kali mereka bersama.


"Seandainya saja ...."


"Ya-ya ... ya-ya ... ehhee ...." Khayalannya terhenti saat mendengar panggilan sang putri kesayangan.


Duduk sejenak dan menata hatinya yang masih berdebar, lelaki itu kemudian tersenyum dan merapikan pakaiannya sebelum bangkit dan melangkah menghampiri sang putri.


"Anak Ayah sudah bangun, ya? Sini, peluk Ayah dulu ...!"


Sesampainya di hadapan Alya yang masih duduk memangku Aura di tepi pembaringan, Ardi mencoba mengulurkan kedua tangannya untuk mengajak sang putri agar ikut bersamanya. Namun bayi yang sudah bisa tertawa riang itu menolaknya.


Berdiri menghadap sang ayah dengan posisi dan masih dipegang erat oleh Alya, Aura justru tertawa lalu berbalik dan menghambur ke pelukan Alya dan menyembunyikan wajahnya di balik bahu dokter berhijab anggun tersebut.


"Bu-bu ... aaaa ... bu-bu ...," celoteh bayi itu dari arah belakang.


Lagi-lagi, kedua wajah mereka berhadapan dan beradu pandang tanpa sengaja. Dekat dan saling mengunci untuk beberapa detik lamanya, sebelum Alya lebih dulu mengakhiri dan memalingkan wajahnya ke samping, kemudian mengusapi kepala Aura yang bersandar manja di bahunya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2