CINTA NARA

CINTA NARA
2.94. JANGAN SAKIT LAGI


__ADS_3

"Polisi menemukan beberapa bukti adanya unsur kesengajaan, Pak. Tapi mereka belum menemukan titik terang tentang kemungkinan siapa pelakunya."


Yoga mendengarkan penjelasan Beno sambil memperhatikan beberapa foto yang dikirimkan asistennya tersebut melalui email.


Total ada sepuluh rumah yang terbakar dalam satu deretan di dua blok yang posisinya saling membelakangi dan berada di bagian depan perumahan. Beruntung api bisa cepat dipadamkan dan tidak menjalar ke blok yang lainnya.


"Sepertinya kita perlu melakukan penyelidikan sendiri, Pak. Setidaknya kita bisa lebih cepat menemukan siapa pelakunya dan siapa yang menyuruh untuk melakukannya."


Yoga sama sekali tidak mempunyai bayangan dan dugaan terhadap siapa pun. Perumahan tersebut adalah salah satu dari beberapa proyek awal timnya yang menandai berdirinya Raga Properland di kota ini.


"Saya rasa, ada yang tidak suka dengan keberadan Bapak di kota ini. Maksud saya, dengan masuknya perusaahaan kita bisa jadi membuat perusahaan lain merasa iri karena tersaingi."


Dalam hati Yoga membenarkan penjelasan asisten andalannya tersebut. Meskipun dia tidak merasa mempunyai saingan apalagi musuh, tapi bisa jadi ada pihak lain yang tidak menyukai keberadaannya ataupun keberadaan perusahaan yang baru saja dirintisnya di kota ini.


"Baiklah, aku ikuti saranmu. Lakukan segera dan kita lihat, apa bisa kita temukan melalui orang-orang kita."


"Siap, Pak." Beno mengambil ponselnya dan menghubungi timnya untuk melakukan penyelidikan mandiri.


"Ben, untuk smentara waktu tetaplah tinggal di sini. Aku butuh banyak bantuanmu untuk menangani masalah ini. Aku tidak ingin membuat Nara curiga lagi seperti kemarin."


Beno mengangguk dan menyanggupi permintaan sang atasan. Bagi diirinya yang masih hidup sendiri dan belum mempunyai pendamping hidup, tak masalah jika harus berpindah-pindah tempat untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab pekerjaannya.


"Saya siap dan akan selalu ada kapan pun Bapak membutuhkan saya."


"Terima kasih. Saya sangat mengandalmu, Ben!"


.


.


.


Tanpa terduga, usai melakukan pertemuan dengan beberapa konsumen perumahan yang mengalami kebakaran kemarin, Yoga dikejutkan dengan kedatangan Nara dan Raga yang sudah menunggu di ruangannya.


"Ayah ... Gaga ama Ibu ... angen Ayah ...!" Bocah yang semakin lancar berbicara itu menghambur memeluk sang ayah begitu melihat Yoga memasuki ruangan dengan wajah kagetnya.


"Lho, anak Ayah kok bisa sampai kemari?" Yoga berjongkok dan menyambut pelukan pangeran kebanggaannya lalu menciumnya dan menggendongnya seperti kebiasaan mereka.


Nara berdiri dan mengulurkan tangannya saat Yoga menghampirinya. Diciumnya punggung tangan lelaki itu yang dibalas dengan ciuman sayang di keningnya.


"Maaf kami mengganggumu, Mas. Raga tadi merengek ingin makan siang disuapi olehmu. Lihatlah matanya, dia sampai menangis seru saat aku mencoba menolak permintaannya."

__ADS_1


Yoaga memperhatikan wajah Raga yang memang benar, matanya masih sedikit merah dan sembab seperti usai menangis kelamaan.


"Hei, jagoan Ayah tidak boleh cengeng. Ingat pesan Ayah, Raga harus kuat agar kelak saat sudah besar, Raga bisa menjaga Ibu dan adiknya Raga."


Yoga menciumi pipi bocah menggemaskan itu dan mendapatkan balasan yang sama dari sang pangeran.


"Gaga ... caga Ayah ... cuga. Gaga uuat ...."


Nara dan Yoga tertawa mendengar ucapan putra sulung mereka yang beberapa bulan lagi akan menjadi seorang kakak.


"Oh iya, Raga kuat karena selalu makan yang banyak. Jadi sekarang, Ayah akan menyuapi Raga. Ayo, kita akan makan masakan Ibu yang saaangat enak!"


Yoga duduk di samping sang istri lalu mendudukkan Raga di antara mereka. Bocah itu terus tersenyum dan mulai sibuk memainkan sekotak lego yang diberikan ibunya sambil menunggu kedua orangtuanya menyiapkan makan siang untuk mereka bertiga.


"Mas, aku kira Beno sudah kembali ke Mahen. Ternyata dia masih ada di sini dan terlihat sangat sibuk bersama Pram."


Nara lebih dulu menyiapkan makanan untuk sang putra dan diberikannya pada Yoga yang akan menyuapinya.


Dengan sangat lahap Raga menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh Ayahnya tanpa lepas bermain lego kesukaannya.


"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya di sini," jawab Yoga seperlunya lalu mengalihkan perhatian Nara dengan memintanya untuk segera makan lebih dulu tanpa harus menunggunya yang masih menyuapi Raga.


Nara patuh dan mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Porsinya cukup banyak mengingat dia tengah mengandung dan sudah mulai sering merasakan lapar.


"Tadi aku lihat banyak tamu di ruang rapat, Mas. Apakah ada acara penting hari ini?"


Saat menuju ke ruangan suaminya, Nara sempat menengok ke dalam ruang rapat di mana Yoga sedang berbicara di hadapan cukup banyak orang.


"Pertemuan dengan para konsumen dari perumahan yang akan segera kita resmikan, Sayang."


Meskipun menyembunyikan perihal kebakaran beberapa hari yang lalu, Yoga tetap menjawab jujur sebagian hal lainnya agar Nara tidak menaruh kecurigaan lagi.


"Semoga semuanya dilancarkan dan selalu penuh berkah, Mas. Maaf jika aku tidak bisa membantu di kantor lagi."


Sejak tahu Nara hamil, Yoga memang sangat membatasi aktivitasnya. Termasuk melarangnya untuk bekerja di kantor lagi. Baginya, yang terutama sekarang adalah kesehatan dan keselamatan Nara dan kandungannya.


Bukan hanya Nara yang mengalami trauma setelah dua kali kehilangan calon anak mereka, tapi ternyata dirinya pun merasakan ketakutan dan kecemasan yang sama.


Oleh karenanya, kali ini dia benar-benar menjaga Nara sebaik-baiknya agar kehamilannya berjalan dengan lancar hingga saatnya persalinan nanti.


"Sekarang yang harus kamu utamakan adalah kandunganmu, Sayang. Raga dan calon adiknya." Tangan Yoga menyentuh dan mengusapi perut Nara yang membuat wanita itu merasa sangat bahagia.

__ADS_1


"Di sini masih ada Pram dan Beno yang membantuku mengurusi pekerjaan. Jangan khawatirkan aku."


Raga sudah menghabiskan makan siangnya. Bocah tampan itu turun ke lantai dan bermain dengan lebih leluasa di bawah kedua orangtuanya yang masih duduk di sofa.


Nara yang sudah menghabiskan makanannya pun segera menyiapkan makan siang untuk suaminya lalu dengan penuh perhatian mulai menyuapi Yoga yang sudah membuka mulutnya dengan senang hati.


Sesekali mereka memperhatikan Raga yang masih asyik bermain dan berceloteh sendiri dengan bahasanya yang kadang terdengar lucu dan menggemaskan.


"Mas, aku perhatikan beberapa hari ini kamu terlihat sangat tegang setiap kali pulang dari kantor. Kamu juga semakin sering melamun jika sedang berada di rumah. Apa ada masalah yang memberatkan pikiranmu?"


Yoga menyembunyikan keterkejutannya karena ternyata Nara sangat memperhatikan dirinya, sehingga perubahan sekecil apa pun darinya selalu bisa diketahui sang istri dengan sangat mudah.


"Aku baik-baik saja. Aku dan yang lainnya hanya sedang sibuk mempersiapkan peresmian proyek pertama kita di kota ini, yang akan dilaksanakan bulan depan."


Setelah Yoga menyelesaikan makan siangnya, Nara membersihkan sudut bibir suaminya itu dengan selembar tisu lalu kembali mengusapi dengan jemarinya.


"Jangan lupa untuk tetap menjaga waktu istirahatmu. Aku tidak mau melihatmu jatuh sakit lagi, Mas."


Sepasang mata bening Nara berkaca-kaca saat mengucapkannya, membuat hati Yoga melemah dan merasa bersalah.


"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu khawatir seperti ini. Maaf ...."


Serta-merta Yoga merapat dan membawa Nara ke dalam pelukannya. Diciuminya puncak kepala wanita kesayangannya itu lalu mendekapnya dengan sangat erat.


"Jangan sakit lagi, Mas. Aku tidak mau itu terjadi ..., aku takut ...." Nara membalas pelukan Yoga lebih erat.


Entah mengapa tiba-tiba ketakutan itu hadir begitu saja dan menyesakkan hati Nara. Perasaannya mendadak berubah tidak nyaman, meskipun dia tengah bersandar di tempat ternyamannya.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ

__ADS_1


.


__ADS_2