
"Apa yang kalian bicarakan di teras tadi, Mas? Sepertinya cukup serius?"
Nara memang sempat mendengarkan lamat-lamat suara suaminya yang mulai meninggi dan bernada tegas pada Ardi, tapi dia tidak bisa mendengar apa yang menjadi topik bahasan mereka.
"Apa kamu mendengarnya?"
Yoga menarik tubuh istrinya dan membawa ke dalam dekapannya. Berdiri berpelukan dan berhadapan, pandangan mereka pun bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
"Kalau aku mendengarnya, aku tidak akan menanyakannya."
Nara tersenyum dengan hati berdebar, saat tatapan mata mereka semakin sendu dan saling mengunci dalam hening yang tercipta kemudian.
"Aku akan menjawabnya, tapi tidak sekarang, Sayang."
Suara Yoga semakin berat penuh harap. Ada sesuatu di dalam dirinya yang sudah berada di ambang penantian untuk dilepaskannya.
Nara semakin larut dalam buaian suasana romantis yang tercipta begitu saja, saat Yoga mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di seluruh bagian wajahnya.
Kakinya mulai terasa lemas dan tidak kuat lagi menopang tubuhnya, namun dia tetap bertahan dengan mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya yang kembali menatapnya semakin lekat dan penuh hasrat.
"Mas ...." Suaranya tercekat, lirih serupa bisikan yang membuat Yoga semakin kehilangan kendali.
"Sayang, aku sudah tidak bisa menahannya lagi ...."
Tubuh Nara diangkat dan dibawa oleh Yoga ke atas tempat tidur. Wanita itu telah pasrah, apa pun yang akan dilakukan suaminya.
Detik berikutnya yang terjadi adalah apa diinginkan Yoga dan diberikan oleh Nara dalam suasana penuh cinta.
Hasrat yang telah memuncak tertuntaskan sudah dengan penyatuan yang diawali dengan kelembutan sentuhan demi sentuhan Yoga yang membuai Nara untuk menyerahkan semua yang diinginkan lelaki itu dalam setiap gerakan selaras mereka menuju puncak pelepasan yang sarat nikmat.
"Terima kasih, Sayang. Maaf jika tadi aku memintanya dengan tiba-tiba."
Yoga mengakhiri pelepasannya dengan ciuman lembut di kening istrinya yang dibalas dengan senyuman tulus Nara di wajah lelahnya.
"Sama-sama, Mas." Nara masih menatap mesra wajah suaminya yang sama berpeluhnya dengan dirinya.
Karena malam belum terlalu larut, mereka memutuskan untuk membersihkan diri lebih dulu agar bisa beristirahat lebih nyaman.
Setelah berganti pakaian dan sama-sama lebih segar meskipun menjadi kedinginan, Nara pergi ke dapur dan membuat minuman hangat untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian dia sudah kembali dengan dua cangkir cokelat hangat untuk diminum bersama sang suami tercinta.
__ADS_1
Mereka duduk di sofa sambil menikmati alunan lagu-lagu merdu dalam tayangan musik di saluran televisi pilihan Nara.
"Mas, apa kalian tadi membicarakan Dokter Alya?"
Nara masih mengulangi pertanyaan sebelumnya dan menunggu jawaban dari suaminya.
"Iya, Sayang. Ardi sudah mengetahui tentang kondisi Dokter Alya dari grup perpesanan yang mereka ikuti."
Yoga meletakkan cangkirnya diikuti Nara, lalu mereka merapatkan tubuh dan saling memeluk erat.
"Aku mengkhawatirkan sikap Ardi, sehingga aku bersuara sedikit keras kepadanya." Kemudian Yoga menceritakan semuanya pada Nara.
"Kasihan Dokter Alya. Di balik kesuksesan karirnya dia menyimpan banyak luka dan duka dalam kisah cintanya."
Yoga membelai dan mencium kepala istrinya dengan pikiran kembali ke masa lalu. Dia pernah merasakan berada di posisi Alya.
Saat harus terus memendam perasaannya dan melihat orang yang dicintainya berbahagia bersama yang lain. Rasanya teramat sakit, bagai luka yang tak pernah bisa terobati, selalu terasa dan tak berkesudahan.
"Aku bersyukur kisah cinta kita yang dulu begitu rumit dan penuh air mata berakhir penuh kebahagiaan seperti ini, Sayang. Dan aku tidak akan pernah membiarkan kebahagiaan ini lepas dan pergi dariku."
Air mata Nara pun luruh jatuh membasahi wajah sendunya. Sama halnya dengan sang suami, dirinya pun tengah mengingat kisah cinta mereka.
Cinta luar biasa yang penuh aral dan berliku dalam perjalanannya, hingga akhirnya mencapai bahagia di akhir perjuangannya.
Nara menarik wajahnya dan menatap wajah Yoga yang ternyata telah basah oleh tangisan tanpa suara, sama seperti dirinya.
"Apa pun yang terjadi ke depannya nanti, aku mohon jangan pernah menyerah untuk tetap bersama seperti saat ini. Kita sudah pernah mengalami peristiwa yang paling menyedihkan dalam kisah kita, jadikan itu sebagai kekuatan kita untuk tetap bersama menggenggam cinta kita lebih erat dan semakin kuat."
Wanita itu menghapus air mata di wajah lelaki terkasihnya dengan kelembutan jemari tangannya. Dia bisa merasakan cinta yang begitu besar di dalam hati Yoga untuknya.
Tangisan yang sering kali terlihat membasahi wajah tampan itu adalah bukti betapa dalamnya rasa cinta yang dimiliki Yoga untuk Nara seorang.
"Aku sudah hampir sampai pada titik akhir kehidupanku saat akhirnya bisa mendapatkan balasan cinta dan kasih sayangmu yang begitu tulus kepadaku, Sayang. Tak akan kubiarkan perjuangan itu berakhir sia-sia. Selamanya aku akan bertanggung jawab atas dirimu dan kebahagiaanmu sepanjang waktu bersamaku."
Nara memejamkan mata saat merasakan kedua tangan Yoga menyentuh wajahnya kemudian membersihkan sisa tangisan yang masih menggenang di pelupuk mata dengan bibirnya.
Dikecup dan disesapnya butiran bening yang masih menggantung di sana, lalu terakhir dibersihkannya dengan ujung jemarinya.
"Aku mencintaimu, Bidadariku!" Yoga menatap istrinya penuh cinta yang tiada akhir.
"Aku juga sangat mencintaimu, Imamku!" Nara membalas tatapan mata suaminya dengan segenap rasa hati yang membuncah penuh cinta yang terindah.
__ADS_1
.
.
.
Pagi harinya, Yoga mengajak Nara mengunjungi makam kedua orangtuanya yang sudah beberapa waktu belum sempat mereka datangi lagi.
Di depan pusara kedua orangtuanya, Yoga bersimpuh menumpahkan segenap kerinduannya. Tangisannya bahkan tumpah saat mengingat peristiwa tragis masa lalunya.
Peristiwa kelam yang merenggut kebahagiaannya seketika dan membuatnya harus melanjutkan hidup sebatang kara tanpa satu pun keluarga yang menjadi penuntun dan penguat langkahnya menapaki jalan takdir yang telah digariskan untuknya.
"Pa, Ma, aku selalu merindukan kalian berdua. Sampai kapan pun, rasa rindu ini tidak akan pernah berkesudahan."
Nara mendekap tubuh suaminya dan mengusapi punggungnya dengan penuh kasih hingga air matanya pun turut mengalir membasahi wajah sendunya.
Sejenak Yoga menoleh ke arah Nara di sampingnya dan menatapnya penuh cinta. Diciumnya kening sang istri diiringi tangisan yang masih terus ditumpahkannya.
"Aku bersyukur karena Allah memberiku anugerah terindah ini sebagai pengganti kalian untuk menemani hidupku selamanya."
Dipeluknya Nara dan ditatapnya sejenak dengan penuh haru.
"Dia adalah bidadariku, wanita terbaik yag telah membuat kediaman kita kembali menjadi penuh warna keceriaan dan kebahagiaan. Dia adalah teman hidupku, kekasih terhebat yang selalu setia mendampingiku dalam suka dan dukaku, dalam sakit dan sehatku, dalam setiap helaan dan hembusan nafasku."
"Dialah yang selalu ada bersamaku, dalam setiap detik waktu yang kulalui. Dialah yang telah menyempurnakan hidupku, memberiku seorang buah hati yang selama ini aku idamkan, cucu untuk Papa dan Mama."
Yoga kembali menatap Nara dengan segenap rasa, kali ini begitu dalam dan lekat.
"Dialah cinta pertamaku dan juga cinta terakhirku, satu-satunya cinta dalam hatiku."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.ππ
Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
__ADS_1
πAuthorπ
.