CINTA NARA

CINTA NARA
2.108. SELALU ADA UNTUKMU


__ADS_3

Ardi sangat khawatir melihat kondisi istrinya yang semakin pucat, setelah turun dari pesawat. Dia memutuskan langsung membawa Bunga ke rumah sakit meskipun sang istri terus menolaknya.


Sudah seringkali Ardi mendapati istrinya menahan sakit seperti yang dialaminya saat ini, tetapi Bunga selalu mengatakan dia hanya kelelahan dan akan baik-baik saja jika sudah berstirahat.


Namun kali ini karena mereka baru saja bepergian dari luar kota, Ardi lebih mencemaskan kondisi istrinya dan memaksa untuk memeriksakan Bunga ke rumah sakit.


"Mas, kita langsung menjemput Aura saja, ya? Sungguh aku tidak apa-apa. Hanya kecapekan saja seperti biasanya," pinta Bunga di dalam mobil yang menjemput mereka.


Sang sopir tetap melajukan mobil menuju ke rumah sakit¹à sesuai perintah yang sudah disampaikan oleh Ardi.


"Kali ini kamu harus menurut padaku, Sayang. Wajahmu sangat pucat meskipun kamu mencoba menyembunyikannya dengan senyumanmu itu."


Ardi membelai pipi Bunga yang tak semerah biasanya. Wanita itu melebarkan senyumannya lalu kembali rebah di dalam pelukan suami tercinta.


"Semoga keadaanku sudah membaik saat sampai di rumah sakit nanti, sehingga tidak perlu beristirahat di sana."


Tak lama kemudian mobil sudah berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Ardi segera keluar dan membantu Bunga yang tampak masih menahan sakit yang masih dirasakannya.


Ardi membawa istrinya ke salah satu ruang pemeriksaan di mana sang dokter sudah dihubunginya dalam perjalanan tadi.


"Maaf kami mengganggu di saat waktu pemeriksaanmu sudah usai," kata Ardi kepada dokter yang sudah cukup akrab dengannya.


Karena waktu sudah malam dan seharusnya sang dokter sudah mengakhiri jam prakteknya, mereka segera melakukan pemeriksaan terhadap Bunga.


Dengan raut wajah tegang dan cukup terkejut, dokter umum tersebut berkali-kali mengalihkan pandangannya ke arah Ardi yang belum bisa menebak hasil pemeriksaannya.


Untuk memastikan diagnosanya, dokter lelaki tersebut segera memeriksa ulang kondisi Bunga yang masih menahan sakit di bagian perutnya.


"Aku tidak yakin dengan diagnosa awal yang aku dapatkan, tapi aku sarankan kamu segera membawa istrimu ke dokter spesialis penyakit dalam. Aku akan membuatkan surat pengantar agar besok pagi istrimu segera ditangani."


Ardi tampak sangat terkejut mendengar saran dari dokter di hadapannya tersebut. Bayangan akan penyakit parah yang diderita oleh istrinya langsung menghantui pikirannya.


Dipandanginya wajah sang istri yang sejak tadi terus menghindari tatapannya. Dokter kandungan itu pun mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang selama ingin sengaja disembunyikan oleh istri tercintanya.


Sambil menunggu ruang perawatan disiapkan, Ardi terus menemani di samping Bunga. Perawat mulai bersiap untuk memasang infus di punggung tangan kiri wanita lemah lembut itu.


Ada banyak pertanyaan di dalam benaknya, namun masih ditahannya saat melihat wajah sang istri yang penuh kepasrahan akan tetapi masih menghindari kontak mata dengannya.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Sayang? Mengapa kamu harus menutupinya dariku?"


Ardi tetap menunjukkan sikap tenang di hadapan istrinya. Dia menahan banyak pertanyaan yang ingin segera dia dapatkan jawabannya, demi untuk membuat Bunga merasa tenang lebih dulu.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia terus memandangi wajah istrinya yang memilih untuk memejamkan mata dan menenangkan diri.


Saat perawat sudah menyelesaikan tugasnya dan keluar dari bilik pemeriksaan, Ardi menurunkan wajahnya dan melabuhkan ciuman hangat di kening Bunga cukup lama, hingga membuat wanita itu terisak dan meneteskan air mata.


Hiks ... hiiks ... hiiiks ....


Ardi melepaskan ciumannya dan beralih mendekap tubuh atas Bunga yang sudah lebih dulu melingkarkan kedua tangan di punggungnya.


Dibenamkan kepala di samping wajah istrinya seraya membisikkan kalimat sederhana yang nyatanya mampu membuat Bunga semakin menumpahkan tangisannya.


"Aku mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu!"


Bunga semakin terisak di dalam pelukan suaminya. Hatinya mulai diliputi rasa bersalah yang besar karena telah menyembunyikan semuanya dari Ardi.


"Maafkan aku, Mas. Bukan maksudku tidak menghargai posisimu dan mengabaikan keberadaanmu. Tapi selama ini aku takut ..., aku takut akan membuatmu bersedih setelah mengetahui semua kebenarannya."


Setelah Bunga dipindahkan ke ruang perawatan, Ardi menghubungi kedua keluarga mereka dan memberitahukan tentang kondisi Bunga yang harus dirawat di rumah sakit sambil menunggu pemeriksaan lebih lanjut esok hari.


Lelaki itu juga menyempatkan diri untuk melakukan panggilan video agar bisa melihat Aura yang ternyata sudah terlelap dalam tidurnya. Dia menunjukkannya pada Bunga untuk mengobati rasa rindu wanita itu kepada putri kesayangannya.


"Sudah semakin malam, Sayang. Tidurlah dulu!"


Dirinya sengaja tidak membahas apa pun tentang kondisi Bunga dan hasil pemeriksaan sementara yang disampaikan oleh dokter.


Lelaki itu menahan rasa keingintahuannya dan membiarkan istrinya beristirahat dengan perasaan tenang malam ini, sebelum esok hari menjalani serangkain pemeriksaan yang tadi sudah direncanakan.


"Apa pun yang terjadi nanti, jangan takut untuk menghadapinya, karena ada aku akan selalu ada untukmu, menemanimu dan tetap berada di sisimu, Sayang."


.


.


.


Satu minggu berlalu, Nara selalu mengunjungi Yoga setiap kali pulang dari kantor. Saat bersama suaminya, dia bisa bebas bercerita tentang kegiatan hariannya dan semua perasaan yang ada di hatinya.


Membuka pintu perlahan tanpa menimbulkan suara, Nara berjalan masuk dan menutup kembali pintunya. Perasaannya mendadak tidak tenang karena lampu ruangan yang biasanya menyala kali ini pejam dan membatasi pandangannya.


"Mas, aku datang."


Nara merabakan tangannya pada dinding di samping pintu, mencari-cari letak saklar lampu untuk menyalakan penerangan.

__ADS_1


Klik ...!!! Klik ...!!! Dua lampu besar menyala bersamaan, yaitu lampu utama yang terpasang di langit kamar dan satu lampu lagi di atas pembaringan Yoga.


"Mas?"


Wajah yang semula sudah lega dengan menyalanya lampu kamar, kembali terkejut dan panik manakala tidak mendapati keberadaan suaminya di atas pembaringan.


"Mas? Kamu di mana, Mas?"


Suara Nara bergetar memanggil suaminya. Diedarkannya pandangan ke seluruh ruangan dan di setiap sudutnya, akan tetapi tetap tidak menemukan sosok yang dicarinya.


Dadanya mulai terasa sesak dan hatinya semakin merasakan ketakutan yang sangat besar. Di mana Yoga? Ada apa dengan suaminya?


Segera Nara berjalan cepat ke arah pembaringan yang telah kosong tanpa tubuh sang suami yang biasanya terlelap tenang di atasnya.


Dengan tangan yang bergetar semakin takut, Nara menekan tombol darurat yang terhubung dengan ruang jaga perawat di ujung koridor.


Wanita itu menunggu dengan hati yang semakin resah. Tak sabar menunggu, dia menekan kembali tombol darurat itu berulang kali.


Dengan pandangan yang sayu dia menatap pembaringan kosong itu dan meletakkan tangannya di sana, mengusapi sprei putih itu dengan bermacam pikiran buruk yang muncul bergantian di dalam pikirannya.


Ceklek ...!!! Terdengar suara gagang pintu yang ditekan keras lalu didorong, membuat Nara dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


Terlihat seorang perawat membuka pintu dan melebarkannya. Berbagai pertanyaan siap terlontar dari bibir manis Nara. Tapi semua tertahan seketika begitu melihat seseorang yang muncul di hadapannya kemudian.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.🙏😘


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


💜Author💜


.


__ADS_1


__ADS_2