CINTA NARA

CINTA NARA
2.109. HADIAH PALING ISTIMEWA


__ADS_3

Bermacam pikiran buruk yang sempat menghampirinya beberapa saat yang lalu sirna seketika begitu melihat keberadaan seseorang yang dicarinya dan membuatnya sangat ketakutan.


"Selamat ulang tahun, Nara Sayang ...."


Di ambang pintu yang telah terbuka lebar, Yoga duduk di atas kursi roda dengan pandangan mata lurus hanya menatap ke arah wajah Nara yang masih berdiri terpaku di samping pembaringan yang kosong.


Di tangannya terdapat serangkai bunga mawar putih dengan satu tangkai bunga berwarna merah di bagian tengahnya.


Sebelum Nara menyadari bahwa yang dilihatnya bukanlah mimpi, perawat mendorong kursi roda Yoga masuk ke dalam ruangan, lalu meninggalkan sang pasien berdua hanya dengan istri tercintanya.


Setelah terdengar suara pintu ditutup dari luar, sepasang mata bening Nara mengerjap dan barulah dia menyadari bahwa yang berada di hadapannya saat ini adalah benar-benar Yoga.


"Mas Yoga ...?" Tatapannya masih dipenuhi ketidakpercayaan akan kenyataan indah di depan matanya.


Yoga mengangguk lalu mengembangkan seulas senyuman terindah yang selama ini sangat dirindukan oleh Nara.


"Iya. Ini aku, Sayang."


Butiran serupa kristal mulai menggenangi pelupuk mata Nara, membuat pandangannya terhalang buram. Dengan segera diusapi matanya dengan jemari, untuk menjernihkan pandangannya.


"Mas ..., kamu ...??" Kedua kaki Nara seolah melekat erat pada lantai sehingga sulit untuknya bergerak mendekati sosok yang teramat sangat dirindukannya tersebut.


"Aku sudah bangun, Sayang. Aku sudah kembali padamu. Seperti permintaanmu padaku setiap hari. Sekarang aku sudah ada di sini, bersamamamu selamanya."


Nara tak bisa berkata-kata lagi. Perlahan kakinya mulai terasa ringan, terangkat dan terayun ke depan satu demi satu bergantian.


Dia mulai melangkah mendekati Yoga yang masih menunggu dengan seikat bunga yang sama yang selalu diberikannya pada sang istri di saat-saat tertentu yang penuh kebahagiaan, seperti saat ini.


"Selamat ulang tahun, Sayang."


Yoga menyerahkan bunga kesayangan Nara itu. Dengan perasaan yang masih bercampur-aduk, wanita berparas cantik itu menerima bunga itu lalu mencium wanginya yang semerbak, kemudian kembali menatap Yoga dari jarak yang lebih dekat.


Tangan kanan Yoga terulur meraih bagian belakang kepala Nara dan menariknya pelan untuk lebih mendekat kepadanya.


Cuppp!!! Dicium kening istri tercintanya dengan lembut dan lama. Nara yang masih menegang tak percaya, memejamkan kedua matanya rapat-rapat, meresapi ciuman yang sangat dirindukannya tersebut.


Sama halnya dengan sang istri, sepasang netra tajam Yoga pun terpejam rapat dan tetap menahan ciumannya semakin lama. Hatinya begitu bahagia menikmati kebersamaan mereka saat ini.


Tubuh Nara terasa semakin lemas dan tak berdaya karena kejutan bahagia yang diterimanya. Dan sebelum wanita itu benar-benar terjatuh, Yoga menyudahi ciumannya lalu tiba-tiba berdiri dengan gerakan yang sangat cepat.


Kedua tangannya segera mendekap tubuh Nara dan membawa ke dalam pelukan yang hangat dan sangat erat.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang."


Diciuminya puncak kepala Nara dengan hati yang dipenuhi debaran keras yang terasa sangat menyesakkan namun juga membahagiakan.

__ADS_1


Seketika Nara membalasnya, memeluk sangat erat tubuh yang telah memberinya kehangatan yang sangat nyata tersebut.


Hatinya bergetar begitu hebat namun terasa sangat indah, membuatnya kian merapatkan pelukan yang semakin menyatu rapat tanpa sekat di antara mereka.


"Aku juga sangat merindukanmu, Mas. Sangat rindu!"


.


.


.


Setelah Yoga memeluk dan menciumi perut besar sang istri untuk menyapa calon buah hati keduanya, Nara memaksa suaminya itu untuk kembali beristirahat di atas pembaringan.


Dia masih sangat mengkhawatirkan kondisi Yoga yang tiba-tiba sudah bangun dan membuka mata, bahkan sanggup berdiri untuk memberikan pelukan yang sangat dirindukannya.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku ingin duduk saja bersamamu."


Yoga merajuk manja namun usahanya sia-sia. Nara justru menekan tombol darurat di atas pembaringan untuk memanggil dokter dan perawat ke ruangan suaminya.


Beberapa menit kemudian, pintu telah diketuk dan dibuka dari luar. Salah satu dokter yang selama ini turut menangani Yoga masuk diikuti seorang perawat yang membawa berkas kesehatan pasien.


Sang perawat segera melaksanakan tugasnya, memeriksa kondisi umum Yoga sebagai laporan harian pasien. Sementara itu, dokter yang dulu menerima kedatangan Ardi dan membahas beberapa hal bersamanya, hanya tersenyum dan memberikan ucapan selamat kepada Nara.


"Akhirnya doa-doa Ibu terkabul di saat yang terbaik. Pak Yoga mulai menunjukkan responnya satu minggu yang lalu dan berangsur sadar, lalu mulai melakukan terapi penunjang kesembuhannya selama beberapa hari ini."


"Mas, kamu ...?"


Wanita itu tak lagi melanjutkan kalimatnya saat melihat Yoga mengangguk lalu meraih tangannya dan menggenggamnya di hadapan dokter dan perawat yang masih berada di sana. Bahkan dia juga mencium tangan istrinya dengan mesra tanpa ragu sedikit pun.


Seketika wajah Nara bersemburat merah menahan malu karena Yoga menunjukkan sikap mesranya tanpa mempedulikan keberadaan orang lain yang masih ada bersama mereka.


Menundukkan wajahnya, Nara merasakan getaran indah di hatinya serasa sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya pada lelaki yang masih terus mengenggam tangannya dengan erat.


Saat perawat sudah selesai melakukan pemeriksaan rutinnya, dokter segera pamit keluar untuk memeriksa pasien yang lain, diikuti oleh sang perawat yang mendampingi tugasnya.


Setelah mereka hanya berdua di dalam ruangan, Yoga menarik tubuhnya dan duduk di atas pembaringan. Nara segera membantunya mengatur posisi sandaran agar Yoga tetap merasa nyaman dan tidak mudah lelah.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."


Lelaki itu menarik pelan tubuh istrinya agar ikut duduk di sampingnya. Nara pun menurut dan segera menyamankan posisinya di sebelah Yoga.


Wajah mereka sama-sama menoleh ke samping dan saling berhadapan hampir tak berjarak. Lamanya perpisahan yang terpaksa harus mereka jalani dalam sepi kemarin, membuat kerinduan keduanya memuncak dan penuh sesak.


"Mas ...?"

__ADS_1


"Ya?" Tangan yang sekarang terlihat lebih kecil itu membelai wajah sang istri dengan hati bergetar.


"Terima kasih sudah berjuang untuk kembali. Terima kasih karena tidak melupakan kami semua yang setia menunggumu di sini."


Yoga menyibakkan helaian rambut yang menutupi tepian wajah sang istri lalu menyimpannya di belakang telinga.


"Aku yang seharusnya mengatakan semua itu, Sayang."


Yoga menahan napasnya yang mulai sesak dan tak beraturan karena rasa haru yang menyelimuti hati.


"Terima kasih atas kesetiaanmu menungguku kembali. Terima kasih atas pengorbananmu menjalani semuanya seorang diri, di saat aku tidak bisa menjadi penjaga dan pelindung kalian, kamu dan anak-anak kita."


Nara tak kuasa lagi menahan tangisan yang sudah mengambang di pelupuknya. Dalam satu kali kedipan, air matanya tumpah mengalir membasahi kedua pipi yang kini ditangkup oleh kedua tangan suaminya.


"Selamat ulang tahun. Maaf aku belum bisa memberimu hadiah seperti tahun-tahun sebelumnya."


Air mata Yoga pun mulai luruh, meski tak sebanyak tangisan Nara akan tetapi cukup membuktikan dalamnya perasaan lelaki itu kepada wanita di hadapannya.


Satu-satunya wanita yang dicintainya sepanjang waktu. Wanita yang sangat disayanginya dan ingin selalu dia bahagiakan selamanya.


Nara mengikuti sang suami, menangkupkan kedua tangannya di wajah rupawan yang selalu membayangi setiap detik hari-harinya.


"Aku sudah mendapatkan hadiahku, Mas. Hadiah paling istimewa yang kamu berikan tepat di hari istimewaku."


"Apa?"


"Kehadiranmu, Mas. Kembalinya dirimu adalah hadiah paling istimewa yang selama ini aku harapkan dan selalu aku mohonkan dalam setiap sujudku. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Mendapatkan dirimu kembali seutuhnya."


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain. Dukungan dari para pembaca sangat berarti bagi kami selaku penulis.πŸ™πŸ˜˜


Terima kasih banyak untuk semua yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.


Salam cinta selalu.


πŸ’œAuthorπŸ’œ


.


__ADS_1


l


__ADS_2