
"Yoga sakit parah."
Seketika Nara menatap ke arah Ardi untuk memastikan pendengarannya.
A-Apa ...?!"
Ardi hanya bisa mengangguk untuk menjawab keraguan Nara atas ucapannya.
"Dia mempunyai penyakit jantung bawaan."
Ardi sangat berhati-hati dalam bercerita dan disampaikannya satu per satu agar tidak sampai mengguncang jiwa Nara yang saat ini sudah cukup rapuh menerima kenyataan sebelumnya, bahwa Yoga sekarat seorang diri di dalam mobil setelah melepasnya masuk ke dalam rumah semalam.
Tidak hanya Nara, Bapak pun sama terkejutnya saat mendengar jika ternyata selama ini menantunya menyembunyikan penyakit parah yang dideritanya.
"Tapi ... selama ini dia tidak pernah sakit kecuali hanya beberapa kali kelelahan yang segera sembuh kembali?"
Nara bahkan bisa menghitungnya dengan jari satu tangan, berapa kali Yoga pernah sakit karena kelelahan saja.
"Karena saat rasa sakit itu datang, dia selalu menyembunyikannya dari siapa pun. Aku sendiri juga baru mengetahuinya beberapa bulan yang lalu, saat dia mengantarmu memeriksakan kandungan di bulan kelima."
"Saat itu, dia baru saja pulang setelah satu bulan pergi ke luar kota. Kamu tahu, mengapa dia pergi begitu lama saat itu?" tanya Ardi untuk memulai ceritanya. Nara menggelengkan kepala.
"Dia menjalani operasi besar, agar jantungnya bisa bertahan lebih lama sembari menunggu donor yang cocok untuknya."
Nara menangis lagi sambil menutupi wajahnya. Betapa tidak pedulinya dia pada Yoga selama ini, sampai-sampai dia tidak bisa mengetahui jika Yoga menutupi sesuatu.
"Dia akan sembuh kan, Dok?" Nara bertanya dengan perasaan takut. Takut akan jawaban Ardi yang tidak sesuai harapannya.
Benar saja, Ardi menggelengkan kepala dengan pandangan mata yang redup, membuat Nara langsung menumpahkan tangisan untuk kesekian kalinya.
"Dokter Danu dan tim dokter yang menanganinya sudah tidak bisa melakukan tindakan apa-apa lagi." Ardi melanjutkan ceritanya meskipun Nara terus terisak.
"Satu-satu cara yang masih bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya adalah dengan menjalani operasi transplantasi jantung. Sayangnya, sampai detik ini kami belum bisa mendapatkan pendonor untuk Yoga."
"Jadi ... maksud Dokter, Yoga akan ....?"
Tanpa harus melanjutkan pertanyaannya, Ardi sudah mengangguk untuk menjawab Nara.
"Seperti apa yang tadi baru saja disampaikan oleh Dokter Danu padaku, waktunya tidak panjang lagi dan kita tidak tahu kapan jantungnya akan berdetak untuk yang terakhir kalinya ...."
__ADS_1
Pecah sudah tangisan Nara yang paling keras dan deras. Dia menumpahkannya dalam pelukan Bapak yang juga sudah meneteskan air mata.
Ardi pun sama, matanya yang sedari awal berkaca-kaca, sekarang sudah mengalirkan tangisan tanpa suara.
Membiarkan Nara terus menangis melepaskan kesedihannya yang paling dalam, Ardi dan Bapak hanya diam dan menunggu hingga tangisan wanita itu mulai mereda dan dirinya lebih tenang.
"Sebenarnya, Yoga mempunyai saudara kembar."
Nara dan Bapak menatap penuh kebingungan. Ada banyak kenyataan yang mereka dengar hari ini, tentang kehidupan seorang Yoga.
"Kembar??" tanya Nara.
"Iya, mereka lahir identik. Yoga dan Yogi. Akan tetapi karena keduanya mengalami cacat jantung bawaan sejak dalam kandungan, akhirnya Yogi yang kondisi jantungnya lebih parah dari Yoga, hanya bisa bertahan hidup sampai usianya hampir menginjak satu tahun."
Ternyata, ada banyak cerita tentang Yoga yang belum Nara ketahui. Yoga memang sudah pernah bercerita tentang keluarganya dan tentang masa kecilnya. Foto-foto masa lalunya pun Nara melihatnya.
Tetapi dia tidak pernah mengetahui tentang kelahiran kembar Yoga dan tentang Yogi yang sudah tiada.
"Yoga beruntung, jantungnya masih bisa bertahan dalam kondisi baik dan selanjutnya menjalani beberapa operasi secara bertahap untuk memulihkannya, sampai akhirnya dia dinyatakan sembuh sepenuhnya oleh Dokter Danu pada usia lima tahun."
"Yang aku ingat, Yoga menjalani operasi terakhirnya pada saat kami sudah bersekolah di Taman Kanak-Kanak. Dan setelah itu, dia sudah sembuh dan bisa beraktivitas normal seperti aku dan teman-teman kami lainnya."
"Tapi, Dok. Bukankah dia sudah dinyatakan sembuh saat kecil dulu? Lantas mengapa sekarang kondisinya justru menjadi separah dan sefatal ini?" tanya Nara yang masih belum bisa memahami hal tersebut.
"Ya, setahuku pun demikian. Kami menjalani masa kecil hingga dewasa bersama-sama. Dan aku memang tidak pernah melihat Yoga sakit lagi."
"Dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan juga kuat, meskipun kepribadiannya sedikit tertutup dan hanya bisa dekat dengan beberapa teman saja. Dari dulu sampai sekarang, sifat dasarnya juga tidak pernah berubah. Yoga adalah seorang lelaki penyayang keluarga."
Nara tidak memungkiri itu. Sejak dinikahi oleh Yoga, dari awal pernikahan sampai sekarang telah lahir Raga buah hati mereka, Yoga memang selalu menunjukkan kasih sayang dan perhatian yang terbaik baginya dan anak mereka.
"Menurut Dokter Danu, Yoga mulai menemuinya kembali kurang lebih satu tahun yang lalu. Dan saat itu, kondisinya sudah buruk dan beliau pun langsung menyatakan bahwa secepatnya Yoga harus menjalani operasi transplantasi jantung karena fungsi jantungnya sudah tidak stabil lagi dan cenderung menurun dari waktu ke waktu."
Ardi menatap ke arah Bapak dan meminta ijin untuk bisa bicara berdua saja dengan Nara, karena ada cerita yang sangat pribadi yang ingin disampaikannya pada Nara tentang hubungan Yoga dan istrinya tersebut."
Setelah memastikan bahwa Nara akan baik-baik saja, Bapak berdiri dan meningglkan mereka berdua untuk membicarakan sesuatu yang dikatakan Ardi bersifat sangat pribadi, karena Yoga pun sebenarnya tidak ingin Nara mengetahuinya.
"Apa lagi yang Yoga sembunyikan dari saya, Dok?" tanya Nara setelah dirinya merasa lebih tenang dan bisa meredakan tangisannya.
"Sebelumnya aku minta maaf jika aku terlalu lancang membicarakan ranah yang sangat intim tentang kalian berdua. Tapi ini harus aku sampaikan, agar kamu tidak lagi salah paham dengan perbuatan buruk Yoga kepadamu dulu.
__ADS_1
Jantung Nara berdegup kencang saat Ardi menyinggung tentang kejadian buruk yang terjadi antara Yoga dan dirinya dulu.
Wajahnya sudah memerah dan salah tingkah karena harus membicarakan peristiwa kelam tersebut bersama lelaki lain yang bukan suaminya.
Bahkan dengan suaminya pun dia tidak pernah membicarakannya, kecuali pada saat awal pernikahan mereka yang masih diwarnai kebenciannya pada Yoga dan sikap kasar Yoga kepadanya.
Nara memilih menundukkan kepala dan diam, menunggu Ardi memulai ceritanya.
"Beberapa waktu sebelum kejadian itu, Yoga baru saja menerima kenyataan yang tidak pernah disangkanya sama sekali. Dokter Danu menyatakan bahwa kesempatan hidupnya tidak akan lama lagi, kecuali mereka bisa melakukan tindakan transplantasi jantung secepatnya."
Nara masih diam dan menyimak cerita Ardi dengan hati berdebar-debar dan dengan perasaan yang penuh ketakutan. Ketakutan akan kehilangan Yoga untuk selamanya.
"Meskipun mereka dan juga aku sudah mengupayakan berbagai cara dan melakukan permohonan di seluruh rumah sakit, bahkan di dalam dan di luar negeri, sampai detik ini kami tetap belum mendapatkan donor jantung yang kami harapkan tersebut."
"Operasi yang dilakukan Dokter Danu pada Yoga hanya bersifat sementara dan tidak bisa menjamin keselamatan nyawanya sama sekali."
"Di tengah kekalutan dan ketakutannya akan hidupnya yang tidak akan lama lagi, Yoga memikirkan sesuatu tentang dirimu hingga akhirnya, terjadilah ... maaf, perbuatan nekat Yoga untuk merenggut kesucianmu waktu itu ...."
Ardi melihat Nara yang tidak tenang dalam diamnya. Tapi dia harus melanjutkan ceritanya dan mengatakan semuanya pada Nara.
"Aku sama sekali tidak membenarkan tindakan Yoga kepadamu, tapi ada satu alasan kuat yang dimiliki Yoga sehingga dia tetap melakukan hal itu kepadamu, meskipun dia menyadari hal tersebut adalah sebuah dosa yang sangat besar dan tak termaafkan."
Perlahan ingatan Nara tentang hari itu mulai terbayang kembali dalam pikirannya.
"Yoga melakukannya karena dia ingin ...."
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung kami dengan Like, Komentar, Favorit, Bintang 5 dan Bagikan juga kepada yang lain.
Terima kasih banyak untuk semua pembaca yang telah berkenan membaca dan menikmati novel kami.
Salam cinta selalu.
💜Author💜
__ADS_1
.